Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-37


__ADS_3

Xingli menusuk Xika dengan pedangnya. Xika memutar tubuhnya untuk menghindar tapi karena jarak yang terlalu dekat, Xika tidak dapat menghindar dengan sempurna dan pedang Xilngli menyerempet perutnya.


Begitu Xika mengarahkan pandangannya pada Xingli, pedang Xingli kembali mengincar perutnya.


Itu bukan tindakan adil tentu saja. Menyerang kelemahan lawan. Tapi kita tidak membicarakan keadilan saat ini. Xika mengerahkan seluruh kekuatannya jadi Xingli juga begitu.


Justru Xika akan merasa terhina bila Xingli tidak menyerangnya. Itu seolah berkata 'tanpa perlu menyerang kelemahanmu pun aku bisa menang'.


Dan kali ini pedang Xingli menembus perut kanan Xika dengan sempurna.


Tapi Xika tersenyum dan menahan pedang yang ada di tubuhnya itu. Ia sengaja membiarkan pedang Xingli menusuk tubuhnya agar ia dapat menahan gerakan Xingli.


Setelah bertarung beberapa kali, Xika sadar bahwa konsentrasi Xingli pada jarum tidak sebaik permainan pedangnya. Jadi bila ia ingin menang, ia harus membuat Xingli tidak bisa menggunakan pedangnya. Dan ia berhasil.


Atau mungkin tidak. Xingli langsung melompat mundur ketika Xika memegang pedangnya. Hal yang cukup mengejutkan bagi Xika yang tidak menduga tindakan itu.


Xika mencabut pedang di tubuhnya kemudian ia melihat Xingli yang kini sedang merentangkan kedua tangannya.


Dan sekitar lima belas lubang putih yang sama yang menyerang Xika sebelumnya muncul di sekitar Xika.


'Sial!'


Kini jelas sudah bahwa lubang-lubang putih itu merupakan kemampuan Xingli. Inilah kemampuan yang Xingli sembunyikan ketika melawan Xika sebelumnya.


Dibandingkan elemen Xika, nampaknya lubang putih Xingli lebih unggul. Dan itu membuat Xika sedikit panik.


Berbagai macam senjata muncul dari lubang-lubang itu, bahkan senjata aneh yang tidak pernah Xika lihat sebelumnya. Dan semua senjata itu mengincar dirinya.


Xika mengeluarkan beberapa kartu untuk menahan senjata-senjata itu sementara sisanya ia tahan dengan Space Shifter.


Namun ketika Xika selesai menahan serangan lubang putih itu, ia tidak menemukan Xingli.


Ia menoleh ke kanan dan kiri namun tidak menemukan Xingli. Kemudian ia menoleh kebelakang dan keatas, namun ia tetap tidak menemukan Xingli.


Dan dari arah belakang kiri Xika, sebuah lubang putih muncul dan Xingli keluar darinya.


Gadis itu keluar dengan melemparkan lima jarum menuju Xika dan pedang barunya mengincar perut Xika.


Xika berbalik dan menangkis tiga jarum. Satu menyerempetnya dan satu lagi menusuk pundak kirinya.


Dan ketika pedang Xingli akan mengenai perut Xika, sebuah tanah muncul dan mengubah sasaran Xingli. Pedangnya menusuk tanah yang muncul di depan Xika.


Mungkin bila dibandingkan memang elemen-elemen Xika sedikit kurang dari lubang putih Xingli. Tapi ia akan berjuang semampunya menggunakan semua kemampuan yang ia miliki. Dan salah satunya adalah racun yang belum ia tunjukkan dari tadi.


Xingli hanya melihatnya menggunakan racun ketika mereka pertama kali bertemu dan Xingli masih tidak tahu bahwa itu adalah racun sampai sekarang.


Xika mulai menggunakan elemen-elemennya. Ia menggunakan tanah untuk menahan kaki Xingli, kemudian ia mengubah arah angin agar jarum Xingli tidak tepat sasaran.


Tapi Xingli masih punya lubang putih. Dari belakang Xika muncul lubang putih dan darinya keluar sebuah tombak.


Xika menangkis tombak itu dengan Space Shifter yang berbentuk tongkat dan tombak itu jatuh.


Satu hal yang disadari Xika adalah meskipun Xingli dapat mengeluarkan berbagai senjata dari lubang aneh itu, tapi ia tidak dapat mengendalikan senjata itu seperti Xika mengendalikan kartunya. Dan Xika baru tahu bahwa Xingli mengendalikan jarumnya dengan qi, bukan hanya konsentrasi.


Jadi meskipun senjata-senjata itu menyerangnya, sekali ia tangkis maka selesai sudah, senjata itu tidak dapat menyerangnya kembali. Berbeda dengan kartu Xika yang meskipun sudah ditangkis bahkan dipantulkan dengan keras, kartu Xika masih dapat kembali dan menyerang, selama dikendalikan Xika tentunya.


Xingli berusaha menghancurkan tanah yang menahan kakinya dengan pedang, namun Xika terus memperbarui tanah yang Xingli hancurkan.


Kini simbol angin menyala di mata kanan Xika dan perlahan angin mulai berkumpul di sekitar Xingli.


Awalnya Xingli tidak menyadarinya, namun ketika ia semakin kesulitan bernafas ia baru menydari bahwa angin sudah berkumpul di sekitarnya. Dan ketika ia menyadari hal itu, ia sudah terlambat. Angin sudah semakin besar dan membuat Xingli semakin sulit bernafas.


Tapi bukan angin saja yang membuat Xingli sulit bernafas.


Tanpa sepengetahuan Xingli, Xika menebar bubuk racun dan menyebarkannya menggunakan angin. Xika yang memiliki elemen angin mendapat keuntungan karena ia tidak akan terkena racunnya sendiri dan ia dapat mengarahkan racunnya menuju Xingli.


Dan racun yang Xika sebarkan adalah racun yang menyumbat hidung dan mempersulit pernafasan. Meskipun bukan racun mematikan, tapi bagi Xika itu sudah cukup. Bila Xingli pingsan karena angin dan racunnya itu sudah dianggap kemenangan.


Kini Xingli berhenti menghancurkan tanah yang menahan kakinya. Diam saja sudah membuat dirinya sulit bernafas, apalagi bergerak.

__ADS_1


Namun tanpa sengaja, angin Xika yang semakin besar menghancurkan tanah buatannya sendiri.


Kini Xingli sudah bebas, ia bisa menggerakkan kakinya lagi, namun ia tidak memiliki tenaga untuk melakukan sesuatu.


Xingli menancapkan pedangnya dan menjadikannya tumpuan.


Sementara Xika menyaksikan Xingli dengan waspada. Teknik ini menguras banyak qi nya. Kini tinggal seperempat lagi. Xika berniat menghentikannya bila Xingli sudah kehilangan kesadaran.


Tapi Xingli melakukan hal yang mengejutkan Xika.


Ia mencabut pedangnya dan seketika melompat.


Karena angin Xika yang besar di sekitarnya, ketika Xingli melompat ia langsung terbawa angin Xika.


Sementara Xika masih bingung dengan apa yang dilakukan Xingli, Xingli melapisi kakinya dengan qi dan ia melompat keluar dari pusaran angin Xika.


Ia melompat menuju Xika dengan pedangnya yang terhunus.


"Apa?"


Xika tidak menduga Xingli akan memanfaatkan anginnya untuk melompat dan menyerangnya.


Gadis ini benar-benar penuh kejutan, pikir Xika.


Kini pedang Xingli hampir menusuk Xika dan Xika masih diam tidak melakukan apapun.


Xingli sedikit curiga dengan tindakan Xika, namun saat ini ia tengah melayang dan sudah terlambat baginya untuk berhenti sekarang.


Xika menerima tusukan Xingli dengan sempurna.


Dan menggunakan energi jatuh Xingli, Xika memutar tubuhnya dan kini ia berada di atas Xingli dan dirinya menimpa Xingli.


Pedang menusuk Xika semakin dalam namun Xika tidak berhenti.


Mereka terus berguling beberapa kali dan Xingli tidak bisa bergerak karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.


Dan ketika mereka akhirnya berhenti, Xika mengeluarkan kartu dan menempelkannya di leher Xingli dengan tersenyum.


"......."


Seperti biasa, Xingli tidak menjawab Xika, namun kali ini ia menatap Xika dengan tatapan tajam.


Dan senyum Xika semakin melebar ketika melihat tatapan tajam Xingli yang sangat mempesona dengan muka merahnya yang sangat jarang Xika lihat.


"Aku tidak akan menyingkir sampai kau berbicara."


".....................Minggir."


Xika masih tersenyum ketika mendengar Xingli bicara.


"Aku tidak akan menyingkir sampai kau mengakui aku menang."


"...................................................kau menang."


"Aku tidak akan menyingkir sampai kau mengatakan aku tampan."


"........"


"AHHHHH!!!!!"


Xingli menancapkan pedangnya semakin dalam di tubuh Xika.


Dan Xika tersenyum selebar yang ia bisa meskipun pedang di tubuhnya membuat dirinya cukup sakit. Namun ketika ia mundur dari Xingli, pedangnya tertarik keluar dan hal itu menyebabkan senyumnya langsung menghilang.


Selama berguling-guling tadi, Xingli masih memegang pedangnya meskipun sudah menancap di tubuh Xika. Dan kini ketika Xika menjauh darinya ia menarik pedangnya yang menancap di tubuh Xika dengan cepat.


"AWW...Pelan-pelan...... Itu sakit tahu....."


Dan Xingli tidak mempedulikan ucapan Xika. Sebaliknya ia malah membersihkan pedangnya dari darah Xika.

__ADS_1


"Tu-tunggu....."


Xingli tidak menoleh tapi ia berhenti membesihkan pedangnya.


"Bisakah kau menyisakan sedikit darahku di pedangmu? Semacam kenang-kenangan hehe....."


Kali ini Xingli berbalik dan menatap Xika dengan pandangan aneh. Tapi ia mengabulkan permintaan Xika dan menyisakan sedikit darah Xika.


Xika hendak duduk di tanah untuk beristirahat namun luka di tubuhnya membuat dirinya terjatuh.


"Aduh..... Sepertinya lukaku cukup parah. Kau tega juga ya ternyata."


"......."


Dan Xingli hanya diam mendengar perkataan Xika.


"Haahhhh.... baru saja membuat janji kemudian langsung melanggarnya. Hahhhh." Xika menggeleng-gelengkan kepalanya.


Ia berbicara tentang dirinya yang menang melawan Xingli dan kini harusnya Xingli menanggapinya, tapi Xingli tidak melakukannya dan hanya mengabaikan Xika.


Setelah beberapa saat kemudian barulah Xingli mengerti apa yang Xika bicarakan dan akhirnya mengangguk dengan kaku karena bingung harus menjawab apa pada perkataan Xika.


"AH!! AHHH!!!"


Xika berusaha mengubah posisinya namun lukanya mencegah dirinya melakukan hal itu, jadi lukanya terbuka semakin lebar dan kini ia dalam posisi yang enak.


"Ehh...sedikit bantuan mungkin? Lagipula kau yang menyebabkan luka ini, tidakkah seharusnya kau bertanggung jawab setidaknya dengan membantu mengobati diriku?"


Xingli sebenarnya agak tidak setuju dengan ucapan Xika, memang ialah yang membuat luka itu, tapi Xika yang menerima pedangnya tanpa perlawanan dan Xika jugalah yang membuat mereka berdua berguling-guling dan membuat pedangnya menancap semakin dalam.


Tapi ia tetap membantu Xika memperbaiki posisinya.


"Bisakah kau membantuku mengobati diriku?"


Xingli hanya diam pura-pura tak mendengar karena masih cukup kesal kalah dari Xika terlebih dengan cara yang Xingli cukup curang.


"Kita punya perjanjian bahwa kau harus menanggapiku ketika aku bicara dan kau harus menatap mataku kalau aku kalah kalau kau lupa."


Kini Xingli berbalik dan menatap langsung mata Xika. Ia berjalan mendekati Xika masih dengan tatapan pada mata Xika, yang entah kenapa membuat Xika merasakan firasat buruk.


Akhirnya mata Xingli berada tepat di mata Xika.


Selama sedetik, ketika Xika menatap Xingli, ia berpikir bahwa Xingli adalah mahkluk surga yang turun ke dunia ini karena suatu alasan. Dan detik berikutnya Xika sangat yakin bahwa Xingli adalah utusan dunia bawah yang memiliki tugas untuk mencabut nyawanya.


Xingli menginjak perut Xika dan membuat darah keluar semakin banyak. Ia masih menatap mata Xika yang menurut Xika kini semakin menakutkan. Kemudian pundak kiri Xika bercahaya dan sesuatu yang menyakitkan keluar.


Ternyata itu adalah jarum yang Xingli lemparkan sebelumnya. Xika memanggil jarum itu dengan qi sambil 'menahan' tubuh Xika.


"AWWWWW!!!!!!!"


"Tidak bisakah kau pelan sedikit? Itu sakit tahu."


Dan Xingli menggeleng.


"Hahhhhh"


Xika cukup menyesal mengatakan 'menanggapi'. Harusnya ia mengatakan 'menjawab' dirinya bukan 'menanggapi' dirinya. Karena anggukan atau gelenganpun sudah termasuk tanggapan. Dan yang Xika inginkan adalah mendengar suara Xingli bukan melihat tanggapan Xingli.


"Bisakah kau membalutku di sini?"


Xika menujuk perutnya yang berlubang dan berdarah cukup banyak akibat diinjak Xingli.


Xingli menatap Xika dengan tajam kemudian menggeleng.


"Hei, ayolah! Bantulah aku sedikit. Lagipula kau yang membuat lukaku semakin parah."


Dan Xingli mendekat dengan tatapan yang membuat Xika menyesal minta tolong.


Mungkin kelihatannya agak aneh karena Xika yang merupakan pemenang memiliki luka lebih banyak dari Xingli yang kalah darinya. Yah, selama ini Xingli hanya sedikit menahan diri, jadi ia menghujani Xika dengan serangan-serangan mematikan.

__ADS_1


Berbeda dengan Xika yang masih menahan diri dan sebisa mungkin tidak ingin membuat gadis itu mengalami luka berat. Buktinya ia berusaha mengalahkan Xingli dengan membuatnya kehilangan kesadaran kekurangan oksigen.


Jadi bisa dibilang Xika cukup beruntung mengalahkan Xingli dengan badan penuh luka sementara XIngli hampir tidak memiliki luka.


__ADS_2