
Xika jadi merasa agak tidak enak hati pada Liang Jihua. Bahkan dari belakang punggungnyapun Xika dapat melihat gadis itu tengah menahan malu yang teramat sangat. Lehernya terlihat sangat merah, tapi Xika curiga itu bukan karena ia kepanasan atau akibat luka pertarungan sebelumnya.
Dari pertemuan pertama Xika sudah tahu Liang Jihua bukanlah tipe wanita yang mudah bergaul dengan pria seperti Qing Hu. Bahkan, Xika curiga gadis itu mirip dengan Xingli, hampir tidak pernah menyentuh lelaki sama sekali. Dan sekarang, ia terpaksa menggendong seorang lelaki yang mengharuskan kontak fisik yang cukup banyak?
Xika dapat membayangkan perasaannya seperti apa. Selain itu, ia juga merasa kurang nyaman dengan kontak fisik ini karena terus teringat Yin Xingli. Tapi apa boleh buat, tubuhnya benar-benar kelelahan sekarang, juga pertahanan yang dibuat Xika lebih kuat dibanding pertahanan Liang Jihua.
"Tampaknya mereka masih mengejar, apa kau bisa lebih cepat lagi?" tanya Xika agak tidak enak hati. Ia tahu betapa berat bagi gadis itu untuk hanya menyelamatkan dirinya sendiri, dan kini ia juga harus membawa Xika.
".........diamlah kalau kau tidak bisa membantu."
Xika ingin protes bahwa perisai kartunya sudah lebih dari membantu, tapi ia memilih untuk diam. Sayangnya, tidak dengan lawannya.
Tujuh sosok berjubah putih itu masih setia mengejar di belakang, sekalipun panah-panah peledak berkekuatan besar tak lagi mengejar. Tampaknya mereka masih tidak terima dengan kekalahan rekan mereka.
"Aku akan coba menghabisi mereka satu persatu, berusalah agar tidak jatuh atau terkena serangan mereka."
"Ck, bicara memang mudah."
Karena para pemanah itu tak lagi mengejar dan hanya menyisakan tujuh sosok berjubah putih yang mengejar, maka perisai kartu Xika tak terlalu dibutuhkan dan ia bisa menggunakannya untuk menyerang ketujuh sosok itu.
Pertama-tama, Xika menaruh kartunya kembali ke dalam saku jubahnya untuk memberikan kesan bahwa ia sudah kelelahan dan tak bisa menggunakan kartunya lagi. Kemudian, ketika ketujuh musuhnya semakin agresif karena yakin Xika sudah kelelahan dan mulai memperpendek jarak, Xika kembali mengeluarkan kartunya.
SYUT!
BRET!
SLASH!
JLEB!
Empat orang berhasil ditumbangkan dengan luka yang cukup parah. Sisa tiganya terpana cukup hebat karena tak menyangka akan serangan dadakan Xika dan dampaknya yang begitu besar. Keterkejutan mereka cukup memberikan waktu bagi Liang Jihua untuk memperpanjang jarak.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Ketiganya sadar dan kembali mengejar Xika dan Liang Jihua, hanya saja sambil tetap menjaga kewaspadaan mereka. Kartu-kartu Xika memberikan serangan yang tak terduga dan cukup ganas. Mereka tak ingin bernasib sama seperti kawan mereka, tapi mereka juga tak bisa membiarkan kedua orang yang berasal dari sekte besar yang adalah musuh mereka melarikan diri.
Xika berhasil mengurangi jumlah musuh hingga setengahnya, tapi setelah itu yang tersisa malah semakin waspada. Kalau begini, bisa-bisa Liang Jihua kehabisan energi duluan dan setelahnya mereka akan menjadi mangsa empuk. Ia harus memikirkan strategi baru.
"Apa kau masih bisa memberikan satu dua serangan lagi?"
"................"
Kali ini Liang Jihua terdiam bukan karena sombong atau malas meladeni Xika melainkan karena ia memang sudah terlalu lelah dan tak memiliki tenaga lagi bahkan untuk sekedar menjawab atau berdebat dengan Xika.
Setelah menutup matanya beberapa saat, Xika mendapatkan ide baru. Cocok untuk menghabisi musuhnya tanpa bantuan Liang Jihua.
"Tinggalkan aku di sini, setelah itu larilah dan sembunyikan dirimu."
Liang Jihua melakukan gerak mencibir dengan bibirnya, tapi ia sama sekali tak mengindahkan ucapan Xika. Sebelumnya, Xika telah menyelamatkan dirinya padahal Xika sendiri sedang terluka. Pada saat itu, rasanya cukup mustahil menyelamatkan Xika sekaligus dirinya sendiri tapi nyatanya pria itu mampu melakukannya.
Ia mungkin tidak bisa melakukan keajaiban yang sama seperti Xika, tapi ia sudah bertekad tidak akan meninggalkan Xika. Ia tak akan menjadi beban lagi, atau hanya sekedar memikirkan dirinya sendiri.
Tapi Xika tak menyadari tekad Liang Jihua. Ia semata-mata berpikir bahwa gadis itu tidak mendengarnya, jadi mengulangi ucapannya.
"Kau bisa meninggalkanku disini. Larilah dan sembunyikan dirimu."
"Ck," Liang Jihua berdecak kesal, "Diamlah! Kau sama sekali tak membantu." Selesai bicara, Liang Jihua melompat ke samping untuk menghindari serangan yang dilemparkan salah satu sosok pengejar mereka.
Bukannya terkesan, Xika malah bingung bagaimana harus menanggapi gadis itu. Tapi rencananya tak akan berhasil kalau Liang Jihua tak meninggalkan dirinya.
"Aku punya rencana, tapi itu hanya bisa berhasil bila kau meninggalkanku disini."
__ADS_1
"Haha. Usaha yang bagus, aku tak akan meninggalkanmu."
Kalau sebelumnya Xika bingung, kali ini ia terheran-heran dengan tindakan Liang Jihua. Apa kepala gadis ini terbentur saat bertarung tadi? Kenapa gadis ini jadi berniat tak akan meninggalkannya? Kalau Liang Jihua beberapa saat yang lalu tampaknya tidak akan ragu untuk melemparkan dirinya dan melarikan diri.
"Aku tak berbohong. Dan aku tidak gila sampai rela mengorbankan diriku agar kau selamat. Tinggalkan saja aku disini."
Kini Liang Jihua jadi ragu. Xika memang bukan tipe yang akan mengorbankan diri agar Liang Jihua bisa selamat, lagipula hubungan mereka tidak seperti itu. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan meninggalkan Xika lagi. Apa yang harus ia lakukan?
BLAR!
Satu serangan lagi yang mengarah pada Liang Jihua dan berhasil dihindarinya dengan susah payah. Angin dari ledakan itu berhasil menghempaskan Liang Jihua dan Xika lumayan jauh, sekalipun gadis itu telah menghindarinya.
BRUK!
Dan keduanya mendarat dengan posisi yang tidak mengenakan. Xika di bawah dan Liang Jihua di atas. Kalau Han Feng berada di sini, nampaknya ia akan terbakar saking irinya. Sayangnya, Xika sama sekali tidak tertarik pada Liang Jihua.
Dengan kesal, ia menggeser Liang Jihua agar menyingkir dari atas tubuhnya. Akhirnya ia lepas juga dari gadis ini. Ia harus berpura-pura ditinggalkan Liang Jihua dan tampak benar-benar tak memiliki energi lagi untuk menipu lawannya dan melukai mereka.
"Sekarang pergilah. Terserah kalau kau mau kembali lagi nanti, tapi untuk saat ini kau harus pergi."
Liang Jihua memberikan pandangan ragu sebelum menggertakkan giginya dan menghilang di balik pepohonan. Ia hanya setengah percaya dengan rencana yang Xika ucapkan, jadi ia akan memulihkan dirinya secepat mungkin, kemudian kembali lagi untuk membantu Xika.
Xika tersenyum senang karena gadis buas itu akhirnya pergi. Sekarang yang perlu ia lakukan hanyalah membuat lawannya lengah dan menyerang mereka. Tapi tampaknya untuk melakukan itu ia harus menderita satu atau dua luka lagi.
Srak!
Ketiga sosok tersebut berhenti lima meter dari Xika. Mereka saling pandang karena Liang Jihua meninggalkan Xika disini. Mereka memutuskan untuk berdiskusi sebentar dan sepakat untuk menghabisi Xika lebih dulu, sebelum kembali mengejar Liang Jihua.
Sampai saat ini, Liang Jihua tidak memberikan ancaman yang terlalu berarti. Berbeda dengan Xika, bahkan di saat lemah seperti inipun rasanya pria itu masih sanggup memberikan serangan yang lumayan.
Jadi ketiganya mengelilingi Xika dan mendekatinya secara perlahan. Mereka masih menatap Xika dengan waspada. Beberapa saat kemudian kewaspadaan mereka terbukti benar. Lima belas kartu melesat dan mengincar perut mereka, yang untungnya dapat mereka hindari.
Setelah itu, Xika masih memberikan beberapa serangan lagi, tapi perlahan serangannya semakin melambat dan melemah. Ketiganya menyadari hal itu dan menduga bahwa Xika memang sudah hampir tak mampu lagi menggunakan kartu-kartunya.
BLAR!
JLEB!
SLASH!
Xika bahkan tak bergerak sama sekali dari tempatnya. Ia hanya dapat melihat ketiganya dengan pandangan tidak terima bercampur rasa sakit. Tangannya masih menggapai-gapai tapi tak ada yang terjadi.
Ketiganya kembali berpandangan, kemudian tersenyum bersamaan. Xika memang benar sudah tak memiliki tenaga lagi, kalau tidak ia pasti akan menghindari serangan mereka tadi. Tidak mungkin ia sengaja menerima serangan sebesar itu hanya untuk mengelabui mereka karena serangan-serangan mereka cukup besar dan memiliki daya penghancur yang kuat.
Jadi ketiganya mendekat dan berniat mengirim Xika kembali ke Akademi dengan mengaktifkan jimatnya. Sayangnya, mereka masih salah. Nyatanya, Xika sengaja menerima serangan sekuat itu untuk membuat mereka lengah. Meskipun harus menderita luka yang tidak ringan, tapi itu lumayan sepadan kalau bisa membuat ketiga sosok ini tumbang.
Ketika jarak antara lawan dan dirinya kurang dari satu meter, Xika memberikan senyum kemenangan. Kemudian, sebelum lawan-lawannya sempat menyadari ada yang salah, kartu-kartu yang sebelumnya tergeletak tak berdaya kembali terbang dan menembus perut masing-masing lawannya.
"Apa?!"
"UKH!"
"......"
BRUK!
Di saat ketiganya pingsan tak sadarkan diri, Xika juga melemparkan kepalanya ke tanah dan bernafas dengan lega. Akhirnya kesepuluh sosok itu benar-benar tumbang. Kini ia bisa beristirahat walau sepertinya waktu yang tersisa tidak banyak.
Harusnya pada saat itu ia bergeser lagi ke dalam pepohonan untuk menyembunyikan dirinya. Tapi qinya benar-benar sudah habis dan kepalanya juga benar-benar lelah. Mengendalikan kartu untuk menyerang dan bertahan dari tadi benar-benar menguras kesehatan mentalnya.
__ADS_1
Jadi Xika berbaring di sana dengan ketiga musuhnya masih berbaring tak berdaya tak jauh darinya tanpa perlindungan.
Atau setidaknya begitulah pikiran Xika.
Entah berapa lama ia tertidur tapi ia terbangun karena hawa dingin yang sudah tak asing lagi. Ketika membuka matanya, ia melihat Liang Jihua sedang duduk bersila di hadapannya masih dengan pakaian robek dan kulit yang penuh luka. Tampaknya gadis itu benar-benar kembali.
Srek!
Xika berusaha bangun tanpa menimbulkan suara, tapi Liang Jihua menyadari bahwa ia telah bangun dan langsung berbalik. Gadis itu langsung membuka mulutnya tapi setelah beberapa saat, tak ada suara yang keluar. Xika sendiri cukup bingung harus mengatakan apa karena jujur ia tak menyangka gadis itu akan kembali.
"Bagaimana lukamu?" Akhirnya ia memilih basa-basi biasa.
"Lumayan."
Xika tak tahu apakah yang dimaksud adalah 'Lukaku sudah lumayan, sebentar lagi akan sembuh' atau 'Lumayan, tampaknya tidak lama lagi aku akan mati'.
"Apa kau bisa bergerak? Menyampaikan pesan?"
Gadis itu melirik Xika dengan mata mengernyit. Xika bahkan belum sembuh total, tapi kelihatannya ia sudah memiliki pandangan harus melakukan apa ke depannya.
"Kenapa memangnya?"
Xika terdiam beberapa saat, kemudian berusaha untuk duduk hanya untuk menemukan bahwa perut, dada, tangan dan kakinya langsung protes. Yang lebih mengejutkan, Liang Jihua mendekat dan membantu Xika duduk, yang mengharuskan adanya kontak fisik lagi di antara mereka.
Padahal situasi saat ini tidak terpaksa, tapi kenapa gadis itu melakukannya? Xika masih penasaran dengan alasan gadis itu membantunya, tapi ada hal lain yang harus ia pikirkan saat ini. Ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian melakukan bisikan angin dengan tenaga yang lumayan sehingga dipastikan semua orang yang masih ada di babak kedua mendengarnya.
'Mundur.'
Itulah isi dari bisikan angin Xika. Tentu saja Liang Jihua tidak dapat mengerti apa yang dipikirkan Xika hanya dari satu kata seperti itu.
"Itu pesan untuk Zhen Fang dan lainnya. Kelompok lawan terlalu kuat. Kita harus bersatu untuk mengalahkan mereka."
Sebenarnya, Liang Jihua ingin membantah. Tidak mungkin mereka yang berasal dari sekte besar kalah dari perkumpulan sekte kecil dan menengah, tapi kemudian ia teringat dengan kekuatan sosok-sosok berjubah putih yang ia lawan dan segera menutup mulutnya.
"Ketika bertarung dengan mereka sebelumnya, apa kau sadar itu bukan keseluruhan kelompok mereka? Masih ada kelompok lain yang bersembunyi seperti para pemanah itu."
Liang Jihua mengangguk. Ia juga merasakan secara samar ada sosok-sosok yang masih bersembunyi dalam kegelapan sekalipun ia tidak tahu berapa banyak dan sekuat apa mereka.
"Kau mungkin melihat langkah terakhir yang kulakukan sebelum kita mundur. Ingat angin besar yang kuhempaskan? Tujuannya memang bukan untuk melukai lawan. Aku menggunakannya untuk mendeteksi ada berapa banyak musuh yang sedang bersembunyi."
Mata Liang Jihua melebar. Jadi itu alasannya Xika melemparkan angin yang begitu besar tapi tidak melukai musuhnya sedikitpun. Ia memang benar-benar tidak bisa menebak pikiran pria ini.
"Lalu bagaimana hasilnya? Berapa banyak yang kau temukan?"
"Sekitar tiga sampai empat ratus. Masing-masing berada di Forming Qi 9 kurang lebih. Dan aku menduga masih banyak yang memiliki kekuatan setara atau bahkan lebih dari sosok-sosok berjubah putih yang barusan kita lawan."
Liang Jihua membuka mulutnya kemudian kembali menutupnya. Ia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk situasi mereka saat ini. Tampaknya tiga sampai empat ratus sosok dengan kekuatan setara sosok berjubah putih cukup untuk menghabisi mereka berdelapan.
"Itulah sebabnya aku meminta Zhen Fang dan lainnya untuk mundur. Kita harus bersatu untuk mengalahkan mereka."
Sebenarnya, Liang Jihua ragu bahwa mereka bisa mengalahkan kelompok lawan sekalipun telah bersatu. Bagaimana tidak? 8 orang melawan kelompok yang beranggotakan 400 orang? Kalaupun dibagi secara merata kurang lebih mereka harus melawan lima puluh banding satu. Itupun kalau mereka berhasil berkumpul sebelum dihancurkan oleh musuh.
Menyadari kekhawatiran Liang Jihua, Xika berusaha menghiburnya. Bagaimanapun juga, mental cukup berpengaruh dalam perang. Kalau mental Liang Jihua sudah hancur sebelum berperang, maka peluang mereka untuk menang akan semakin tipis.
"Aku lumayan yakin bahwa kita bisa mengalahkan mereka bila bersatu. Tapi ada satu masalah yang harus kita khawatirkan."
".........?"
"Jadi begini, karena anggota kita hampir semuanya berasal dari sekte besar, masing-masing memiliki kebanggaannya sendiri. Li Tang dan Yun Xingzhao mungkin akan mundur karena mereka mengenali suaraku. Tapi bagaimana dengan anggota yang lain? Sekalipun mereka mengenali suaraku, apakah mereka akan mundur hanya karena satu peringatan belaka?"
__ADS_1
Liang Jihua kembali membelalakkan matanya. Ia mengerti maksud Xika. Mereka mungkin masih memiliki peluang untuk menang bila mundur dan bersatu, tapi masalahnya belum tentu anggota yang lain mundur hanya karena satu peringatan belaka. Bila mereka bersikeras menyerang kelompok lawan padahal tidak mengetahui kekuatan dan jumlah lawan, bisa-bisa mereka dihancurkan oleh kelompok lawan.
Pada saat itu, kemungkinan mereka menang akan semakin mengecil atau bahkan menghilang sama sekali.