Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-196


__ADS_3

Di He. Terlahir sebagai putra ketiga dari Patriark Di Clan tidak membuatnya berbangga diri ataupun rendah diri. Ia hanya merasa dirinya bukan seseorang yang spesial, tapi juga bukan seseorang yang tak berguna. Pendeknya, ia merasa ia hanyalah orang biasa.


Selama ia tinggal di Di Clan, ia sudah menemui berbagai macam jenis manusia. Penjilat, sampah masyarakat, munafik, penjahat, nyaris tak ada satupun yang benar. Ayahnya selalu berkata bahwa terlahir menjadi bagian Di Clan adalah anugerah baginya.


Di He tidak setuju. Ia tidak merasa itu adalah anugerah, tapi juga bukan kutukan. Singkatnya ia merasa menjadi bagian dari Di Clan jugalah hanyalah hal biasa. Karena pemikirannya yang serba 'biasa' itu, banyak orang mulai tidak menyukai Di He.


Tapi tentu saja mereka tak bisa mengatakannya terang-terangan karena bagaimanapun juga Di He masihlah anak patriark Di Clan. Di He tak terlalu mempedulikan orang-orang seperti itu. Ia tak mengganggu mereka dan merekA juga tak terlalu mengganggunya.


Sekali lagi, Di He merasa hidupnya sangat biasa. Sekalipun ia tinggal di salah satu kekuatan besar di Ibukota, Di Clan. Semua hal yang ditemuinya terasa biasa. Ia tak menganggap Di Clan sebagai hal kuat, tapi juga tidak lemah. Ia banyak membaca buku untuk mengatasi kebosanannya dan hal itu membuatnya memiliki pengetahuan di atas anak seusianya.


Setelah membaca seluruh buku di perpustkaan klannya, Di He mulai merasa ada sesuatu yang lain di luar hidupnya yang 'biasa'. Ia merasakan semangat baru untuk apa yang berada di luar klannya.


4 tahun ia menunggu, akhirnya ia berhasil menginjakkan kaki di luar klannya. Banyak teman sebayanya merasa takut dan ragu, tapi tidak dengan Di He. Ia merasa bahwa mimpinya akhirnya menjadi nyata.


Klannya mengirimnya ke Mu Zhan Academy. Tempat mengajar terbaik yang diyakini semua kekuatan di ibukota. Ia dipenuhi dengan antisipasi akan hal yang baru dalam akademi. Tapi kenyataan mengecawakannya. Ia kembali merasa bosan. Terlalu biasa.


Rasanya tak ada perbedaan jauh ketika ia berada dalam klannya ataupun di akademi, hanya pindah tempat saja. Tentu saja perpustakaan akademi memuat buku-buku yang tak dimiliki Di Clan hingga menjadi daya tarik tersendiri. Tapi selain itu? Sama saja.


Ia menjalani hidupnya di akademi sama seperti ketika tinggal dalam klannya. Tidak mengganggu orang lain dan tidak diganggu orang lain. Kalau ditanyakan popularitas, maka sudah pasti Di He tidak termasuk 100 Murid Terpopuler Akademi.


Karena hidupnya yang terlalu biasa itu, ia menjadi sangat peka akan hal baru. Siapa saja murid yang baru masuk, guru yang baru masuk atau keluar dan apa penyebabnya, buku apa saja yang baru datang, paman atau bibi penjual mana yang baru datang dan apa saja menunya. Sebut saja semuanya, ia pasti tahu.


Begitu juga ketika berita mengenai murid baru yang membuat kehebohan tersebar. Ia tidak terlalu peduli dengan 'tiga murid baru terkuat' karena hal semacam itu akan selalu ada setiap tahunnya. Tapi tahun ini agak berbeda. Kabarnya banyak kekuatan besar lainnya yang memasukkan anak mereka ke dalam akademi.


Hal itu jelas berbeda dengan kasus Di He. Ia masuk ke akademi atas permintaannya sendiri, dan bukan karena ayahnya. Jadi ia mulai menaruh minat pada murid baru tahun ini. Ketika 'Tiga Terkuat' sudah diumumkan, hasilnya sudah bisa ditebak.


Ketiganya pasti berasal dari kekuatan besar. Tapi ada hal lain yang lebih mengejutkannya. Tiga orang murid yang terlambat dan seharusnya tidak bisa masuk akademi, berhasil masuk dengan mengalahkan 'Tiga Terkuat' yang berasal dari kekuatan besar.


Ada beberapa hal yang membuat murid baru itu terkenal. Pertama, kekuatannya. Murid baru itu berhasil mengalahkan murid yang berasal dari kekuatan besar. Kedua, Yin Xingli. Murid baru itu tampaknya memiliki hubungan yang tak biasa dengan Yin Xingli, gadis misterius yang tak seorangpun tahu asal-usulnya.


Ketiga, ia berhasil bertahan hidup. Ketika murid baru itu mengalahkan para murid dari kekuatan besar, Di He sudah tahu pasti murid baru itu tak akan bertahan lama. Para kekuatan besar pasti tidak akan membiarkannya damai. Tapi keesokan harinya murid baru itu muncul seolah tak ada apa-apa.


Dari sana Di He mulai tertarik dengan para murid baru itu. Ketika berita 'Xika si murid baru menantang Seratus Besar' Di He tak ingin melewatkannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Di He menyaksikan sesuatu yang tidak biasa dan mengusir hidup lamanya yang selalu biasa.


Ia terpana ketika melihat Xika menggunakan empat elemen. Dan ketika para Pelindung memanggilnya untuk mengawasi Xika, ia langsung setuju. Ia memiliki kesempatan untuk melihat Xika dan dua teman lainnya yang unik dari dekat, tentu saja ia tak akan menolak.

__ADS_1


Para Pelindung beranggapan dirinya 'tak memiliki kehidupan'. Itulah mengapa mereka memilihnya. Tentu saja ia tak mengatakannya pada mereka. Ia yakin mereka (para Pelindung) memilihnya karena berisiko paling kecil. Kalau senadainya ia gagal, kekuatan besar tempat Xika berasal akan menghabisinya, namun tak akan ada yang menyalahkan para Pelindung karena Di He tak punya pendukung.


Lucu sekali. Ia penasaran bagaimana reaksi para Pelindung itu ketika tahu ia berasal dari Di Clan. Tak banyak yang mengetahui fakta itu karena hidupnya yang terlalu biasa dan tak menarik perhatian, maka sekalipun ia mengatakan dirinya berasal dari Di Clan, tak akan ada yang percaya padanya.


Selain itu, Di He hampir tak punya teman. Oke, dia tak punya teman. Jadi penyamarannya selama di dekat Xika tak akan terbongkar oleh temannya tanpa sengaja. Itulah gunanya tak memiliki teman.


Saat ini ia sedang bersama Xika di kamar barunya. Ajaib sekali, sebelumnya Xika tinggal di Penginapan Buangan. Masih termasuk bagian akademi di mata orang luar, tapi tak ada satupun murid akademi yang menganggap tempat itu sebagai bagian dari akademi.


Sesuai namanya, itu adalah penginapan bagi murid buangan. Kamar mereka disana ditentukan oleh kekuatan masing-masing. Secara harafiah, penginapan lainnya di akademi begitu juga, hanya saja lebih memiliki etika. Di Penginapan Buangan, kau bisa kehilangan kamarmu setiap saat. Kau hanya perlu memukuli seseorang sampai tak bisa mempertahankan kamarnya, dan kau pun mendaptkan kamar. Pertarungan terjadi kapan saja tanpa bisa diprediksi.


Di penginapan yang lain, seseorang harus mengajukan tantangan terlebih dahulu dan ketika kedua belah pihak menyetujuinya barulah pertarungan memperebutkan kamar dapat terjadi. Sangat berbeda jauh dengan Penginapan Buangan.


Di He meminta Xika menantang salah satu penghuni kamar dari Jade Village. Sesuai dugaan, Xika menang mudah. Ia menawarkan Huo Bing dan Heiilao, teman Xika yang lain, untuk menantang penghuni lainnya, tapi mereka menolak.


Belum lama waktu berlalu Di He sudah menemukan hal yang menarik. Karena suatu alasan, Huo Bing selalu dipanggil Burung Setengah Matang, sementara Heiliao, teman Xika satunya lagi yang tak banyak bicara, selalu dipanggil Serigala Gosong. Xika juga sempat dipanggil Bocah Cacat beberapa kali oleh keduanya tapi ajaibnya mereka tidak tersinggung sama sekali.


Itu semua masih kalah menarik dibanding hal lainnya. Yin Xingli. Gadis itu muncul tiga tahun yang lalu dan sampai kini tak ada seorangpun yang tahu darimana asalnya. Satu hal yang pasti, gadis itu berbeda hanya kepada Xika. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Yin Xingli tidak pernah bicara pada siapapun dan menyentuh siapapun.


Ia hanya pernah bicara pada para elder atau penatua, itupun hanya sebatas anggukan atau gelengan. Tapi di hadapan Xika, gadis itu masih tak bicara tentu saja, tapi gadis itu sangat berbeda dibanding biasanya. Ia sering memberikan gelengan atau anggukan ketika Xika bicara padanya, tentu saja gadis itu juga sering memberikan tatapan yang artinya tak diketahui.


Kini mereka tengah bermain kartu di kamar Xika. Ia tak ikutan tentu saja. Mereka bermain permainan kartu aneh, apa namanya? Capsah. Ya itu dia. Itu hal yang aneh. Meskipun tak bisa dibilang ahli, tapi ia yakin seluruh permainan yang biasa dimainkan anak anak Dinasti Lin telah ia ketahui.


Jadi selama mereka, Xika-Huo Bing-Heiliao-Xingli, bermain, ia memperhatikan. Ia menyadari bahwa Xingli dan Heiliao miripi sekali. Bukan dari penampilan tapi sifatnya. Keduanya tak banyak bicara dan hanya bicara seperlunya, meskipun Xingli lebih pendiam dibanding Heiliao.


Tapi entah mengapa ia menangkap aura permusuhan yang dipancarkan Xingli kepada Heiliao, dan begitu pula sebaliknya. Ia tak bisa mengerti mengapa dua orang yang memiliki sifat sangat mirip dapat memusuhi satu sama lain sedemikian rupa.


Permainan berakhir dengan kemenangan Xika, lagi. Xika sudah memenangkan permainan itu sejak mereka mulai memainkannya. Ia tak mengerti bagaimana bisa Xika terus menerus menang. Setelah dilihat berkali-kali, Capsah memang permainan yang membutuhkan strategi, tapi faktor keberuntungan juga berperan besar.


Tentunya kemenangan Xika itu menuai tatapan tajam dari tiga pemain lainnya, Xingli sekalipun tidak terkecuali. Sementara yang ditatap hanya tertawa kaku sambil mengangkat kedua tangannya. Akhirnya setelah perdebatan panjang, ketiganya, Xika tidak diperbolehkan mengambil bagian, memutuskan untuk berhenti memainkan permainan yang selalu dimenangkan oleh Xika.


Mereka berganti permainan. Tapi sebagian besar kemenangan masih diambil oleh Xika. Hal lain yang membuatnya penasaran. Mendadak terdengar sebuah suara yang sangat ramah dari luar.


"Xing Xika sialan! Keluar kau! Aku akan membalas dendam atas penghinaan yang kau berikan padaku!"


Anehnya, daripada takut, Xika malah terlihat bersemangat. Sebelum Di He sempat menanyakan alasannya, Xika sudah bicara,

__ADS_1


"Akhirnya! Apa kali ini semut besar yang datang?"


"Heh. Tidak mungkin. Suaranya terdengar tidak asing. Kurasa yang ini lebih kecil daripada semut." Huo Bing memberikan dengusan meremehkan.


Xika tak menjawabnya dan lebih memilih keluar kamar. Sisanya mengikuti dengan Di He berada di urutan terakhir. Di luar, berdiri Han Shan dan dua orang lainnya yang mengenakan pin yang sama yang dikenakan Xingli. Keduanya adalah Murid Dalam.


Harusnya, Han Shan tak bisa berada di tempat ini karena ia bukan Murid Dalam, tapi uang dan relasi membuatmu mendapatkan segalanya.


Xika keluar dengan tatapan semangat dan melihat ke sekeliling Han Shan sebelum akhirnya mendarat pada Han Shan dan berubah menjadi tatapan kecewa.


"Kau datang sendiri?" tanya Xika kecewa.


"Heh. Tentu saja tidak. Aku ditemani kedua seniorku. Mereka akan mengajarimu pelajaran," Han Shan menoleh pada kedua pria itu, "Senior, siapapun yang berhasil mengalahkan Xika lebih parah akan mendapatkan benda ini." Han Shan memutar-mutar cincin yang berada di jarinya itu.


Dua orang pria itu memberikan senyum persaingan satu sama lain. Mereka tak melihat Xika sama sekali karena mereka tak menganggap Xika. Tapi Xika juga tidak menganggap mereka. Baginya yang datang hanyalah dua ekor anjing pengganggu.


"Hehehe......Xika, kali ini habislah riwayatmu......kuakui kau hebat berhasil bertahan sampai saat ini. Tapi memangnya kenapa? Sekarang waktumu sudah tiba!"


Dan kedua pria itu langsung menerjang Xika seolah Xika adalah harta berharga yang akan menghilang kalau mereka tak mengambilnya cepat-cepat.


Di He melihat Xika menghindari serangan keduanya dengan santai. Melalui pengamatannya, kedua pria itu berada di tahap Forming Qi 7. Dan keduanya berada dalam Seratus Besar.


"Hati-hati Xika, mereka berada di peringkat 63 dan 64 dari Seratus Besar Murid Dalam. Hehehe.....aku tak sabar melihat mereka menghancurkan wajahmu sampai tak dikenali oleh ibumu."


Sejujurnya, Xika sendiri ragu ibunya akan mengenalinya sekarang. 14 tahun telah berlalu dan ia bukan lagi anak kecil yang menangis ketika orang asing datang mengganggu. Saat ini ia akan menghajar siapapun yang mengganggunya, tidak peduli darimana asal mereka.


Han Shan menyeringai lebar melihat Xika yang hanya bisa menghindar dari tadi. Tapi Di He menyadari bahwa Xika tidak terdesak. Kelihatannya memang begitu tapi sebenarnya tidak. Xika sengaja hanya menghindar untuk menilai lawannya dulu.


Di He tak bisa untuk tidak kagum terhadap Xika. Darimana ia belajar mengamati lawan seperti itu? Dan gerakan yang ia buat setiap kali menghindar, gerakannya seolah bukan manusia saja. Akhirnya setelah yakin bahwa lawannya tak memiliki kemampuan lain yang berbahaya, Xika mengangkat kedua telapak tangannya sejajar dengan wajah kedua pria itu.


Ketika ia menutup telapak tangannya kedua pria itu terlihat seperti kesulitan bernafas. Keduanya mencakar-cakar udara berharap dapat kembali bernafas, tapi pada akhirnya keduanya jatuh pingsah di depan kaki Han Shan.


Han Shan membuat wajah yang tak akan Di He lupakan seumur hidup. Ia menganga hebat, dan matanya seolah hendak keluar untuk memeriksa sendiri pingsanya kedua orang itu. Ketika tatapannya beralih menuju Xika, tanpa sadar seluruh tubuhnya gemetar.


"Nah, sekarang........apa yang harus kita lakukan?" tanya Xika dengan senyum yang berhasil membuat Di He bersumpah tak ingin menjadikan orang itu musuhnya.

__ADS_1


__ADS_2