
Akhirnya para warga itu menyadari di pihak mana Heiliao. Tapi bukan Huo Bing yang berhasil membuat mereka sadar. Bukan juga Xika ataupun Heiliao. Melainkan sebuah sosok yang sama sekali tak diduga. Sosok yang harusnya mereka lindungi tapi kini malah berbalik melindungi mereka.
Fan Ao.
Anak itu menusukkan tombak salah satu pria dewasa yang terjatuh menuju ular yang mengincar Fu Shang. Tapi ular itu berada di tahap Red 2, bagaimana mungkin ia bisa mati semudah itu hanya dengan serangan asal anak berumur 6 tahun?
Tombaknya berhasil menembus tubuh ular itu, tapi masih jauh dari membuatnya mati. Meskipun begitu, kau tidak boleh meremehkan siapapun dalam medan perang, termasuk anak-anak.
JLEB!
Fan Ao memang tidak berhasil membunuh ular itu dengan tusukan tombaknya. Tapi bagaimana bila anak-anak lain menusukkan senjata pada tubuh ular itu juga? Totalnya ada enam anak. Masing-masing memberikan serangan tanpa henti sampai senjata yang tersisa habis.
Tapi bagaimanapun juga mereka hanyalah anak-anak biasa yang tak memiliki qi. Ular itu masih hidup, meskipun kini sekarat. Xika datang dan langsung menebas kepala ular itu.
Ia melihat keenam anak itu satu-persatu dengan seksama. Terlihat jelas air mata yang tidak sedikit sudah tergenang. Tubuh mereka gemetar hebat. Tapi yang lebih hebat lagi, tak satupun dari mereka yang mundur ataupun menangis.
Bahkan Fan Mu yang paling kecilpun tidak mengeluarkan isak tangis sedikitpun.
Xika bergegas memeluk keenamnya. Dalam pelukannya ia menyadari betapa takutnya anak-anak itu. Tapi mereka berani untuk maju melindungi paman dan bibi mereka.
Hari ini, Xika melihat definisi baru mengenai keberanian. Keberanian bukanlah tidak memiliki rasa takut. Tak ada satupun mahkluk yang tak memiliki rasa takut. Keberanian adalah dimana saat kau merasa takut tapi kau melangkah maju dan tidak menyerah. Itulah yang disebut keberanian.
Dan hari ini, keenam anak itu menunjukkan keberanian.
Para warga yang gemetar ketakutan mulai sadar. Mereka mulai melihat situasi dengan jelas. Serigala mengerikan yang hendak mereka bunuh sebelumnya kini sedang bertarung melindungi mereka. Begitu juga dengan pemuda yang mengatakan dirinya adalah anak dari penyelamat mereka.
Kini, gantian Xika yang bergetar. Tubuhnya gemetar hebat terbakar amarah. Ia benar-benar marah dengan para warga ini. Dengan tindakan kepengecutan mereka. Ia melangkah maju dan meraih kerah baju salah satu warga. Dan tanpa basa-basi, Xika melayangkan tangannya.
DUAK!
"......."
DUAK!
"BRENGSEK!"
Warga yang kerah bajunya ditarik oleh Xika itu hanya diam tanpa melawan.
"KALIAN SEMUA ADALAH PENGECUT! PENGECUT KUBILANG!"
"LIHAT MEREKA!" Xika menunjuk Fan Ao dan lainnya, "Bukankah selama ini kalian ketakutan dengan serangan hewan buas? Itu kan yang membuat kalian semua ketakutan? Aku tahu kalian mengalami trauma yang serius. Tapi aku tak pernah berpikir kalian hanya akan berdiam diri sampai anak kalian harus turun tangan.
Bukankah mereka adalah harta yang selalu kalian jaga baik-baik? Bukankah kalian tak ingin apapun terjadi pada mereka? Lalu kenapa kalian diam saja?! HAH?!"
Bruk!
Xika melemparkan warga itu ke tanah. Ia berbalik dan menatap anak-anak. Sambil memberikan senyum pahit, ia berkata,
__ADS_1
"Maaf ya. Mulai sekarang serahkan saja padaku. Kalian tunggu saja di dalam. Oke? Nanti kita main lagi setelah aku selesai. Ya?"
"Huaaaaaa!!!!"
Akhirnya tangis Fan Mu pecah. Tapi Xika salah mengerti arti tangisan Fan Mu. Ia mengira Fan Mu ketakutan dan tak dapat bertahan di tempat ini lagi. Fan Ao juga ikut menggeleng.
"Tak mau! Kalau kami ke dalam, Xing Ge tak akan kembali lagi, ya kan?"
Pada saat itu, Fan Ao juga mulai mengeluarkan tangisnya. Dan anak-anak lain menyusul. Mereka semua menangis keras-keras, bukan karena takut dengan pertempuran, tapi karena takut Xika tak kembali lagi.
Melihat hal itu Xika hanya bisa terdiam seribu bahasa. Ia benar-benar tak menyangka anak-anak itu sangat menyayanginya. Kemudian ia tersenyum dan mengelus kepala mereka satu-satu.
"Kalian ke dalam dulu. Kalau kalian tidak kembali, Xing Ge benar-benar tidak akan kembali. Kalian tidak mau kan?"
Keenamnya menggelengkan kepala mereka kuat-kuat.
"Bagus. Kalau begitu tunggu aku di dalam."
Setelah mengatakan itu Xika berbalik dan pergi. Tapi sebuah tangan kecil menahan bajunya.
"Xing Ge.......pasti akan kembali.....kan?"
"Pasti. Aku janji," Xika memberikan kelingkingnya dengan senyum. Liang Zhu mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Xika.
Xika kembali berbalik. Ia melemparkan beberapa kartu pada ular-ular yang mengelilingi Heiliao memberi sedikit ruang bagi serigala itu.
"KAU TIDAK BOLEH MATI!"
Xika tersenyum. Ia melambaikan tangannya kemudian melompat ke tengah-tengah ular. Huo Bing dan Heiliao sudah menunggunya.
"Maaf menunggu."
Keduanya hanya memberikan senyum. Dan mereka kembali bertarung. Huo Bing tidak menggunakan banyak qi. Ia hanya menggunakannya untuk membuat angin sesekali dan menerbangkan para ular sehingga Xika atau Heiliao memiliki jeda untuk bernafas.
Setelah melihat Xika dan Heiliao tidak membutuhkan bantuan, Huo Bing mundur dari pertempuran dan terbang mengintai situasi. Ia maju ke depan hendak menebak jumlah musuh. Kira-kira masih ada beberapa ribu lagi ular yang tersisa.
Entah itu hal yang baik atau buruk. Kalau beberapa ribu ular yang tersisa semuanya di tingkat Red 3 atau 4 maka itu bukanlah hal baik. Tapi kalau ternyata mereka di tingkat Red 1 atau 2, itu bisa meringankan hati Huo Bing dan ada kemungkinan mereka bisa bertahan.
Burung itu berputar beberapa kali sebelum kembali ke samping Xika dan Heiliao. Selain itu, ia melihat hal yang aneh. Xika dan Heiliao hanya berdua. Bagaimanapun mereka bertempur, mereka tak dapat menghalau semua ular. Ada sekitar beberapa puluh ular yang melewati Xika dan Heiliao.
Memang, ada beberapa ular yang menargetkan para warga, tapi kebanyakan hanya pergi dan menghancurkan bangunan ataupun alam secara membabibuta. Meskipun tak ada nyawa yang melayang, tapi mereka benar-benar menghancurkan alam sampai rata dengan tanah.
Tapi selama tidak ada korban jiwa harusnya itu baik-baik saja. Alam yang rusak bisa dipulihkan, tapi nyawa yang melayang tak dapat dikembalikan.
Saat ini Xika memegang Space Shifter berbentuk tongkat di tangan kanannya. Cosmos melayang-layang di sekitarnya siap menyerang ular yang mendekat. Xika sudah mulai menggunakan qi meskipun masih berusaha menghematnya.
Hanya dalam keadaan terdesak atau situasi yang merepotkan Xika baru menggunakan qi. Tapi semakin lama, semakin banyak situasi yang memaksanya untuk menggunakan qi.
__ADS_1
Xika membuat beberapa duri dari tanah yang berhasil mengenai ular-ular. Namun, lebih banyak ular lagi yang datang. Bahkan, ada ular yang memiliki sayap. Jenis yang paling dibenci baik oleh Huo Bing, Xika, maupun Heiliao.
Ia bertukar serangan dengan beberapa ular yang melompat dari tanah menargetkan wajahnya. Xika bisa menangkis itu. Tapi posisinya kini tak memungkinkannya menghindar dari ular-ular yang sudah membuka mulutnya hendak menembakkan racun eksplosif menuju Xika.
"Ck...sial....." Xika mengumpat dalam hati.
SLASH!
Namun racun eksplosif itu tidak pernah mengenai Xika. Karena ular-ular itu telah ditebas oleh seseorang.
Xika berbalik dan melihat para warga telah mengambil senjata mereka dan mulai bertempur. Salah seorang diantara mereka kebetulan berada di dekat Xika dan melihatnya kesusahan. Ia hanya bisa memberikan senyum minta maaf tanpa bicara ketika melihat Xika memandang dirinya.
Xika balas tersenyum kecil. Setidaknya mereka sudah sadar sekarang. Ia menoleh dan tak menemukan Fan Ao dan lainnya. Harusnya mereka sudah masuk ke dalam pertahanan yang dibuat Kepala Desa. Dengan adanya para warga, maka kemungkinan mereka bertahan hidup lebih besar.
Tapi para warga itu sudah lama tidak bertarung. Tidak, bisa dibilang mereka belum pernah bertarung. Saat serbuan hewan buas dulu, mereka tak bisa bertarung. Setelah diselamatkan Xing Taiyang, mereka masih juga tak bisa bertarung. Mereka tak berlatih bertarung sama sekali dalam puluhan tahun ini dan hanya menikmati damainya hidup mereka.
Jadi, para warga itu tak bertahan lama di tengah pertempuran. Meskipun Xika merasa ular-ular ini lemah, tapi para warga tak merasakan hal yang sama. Banyak yang menderita luka parah padahal baru beberapa saat mereka bergabung.
Parahnya lagi, lawan mereka adalah ular. Salah sedikit maka mereka bukan hanya mendapat luka tapi juga racun. Tak ada yang tahu seberapa kuat racun yang dibawa ular-ular ini. Tak ada yang sempat memeriksanya.
Xika menoleh dan melihat keadaan para warga. Kalau begini terus, mereka semua akan mati. Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Huo Bing, ambil tempatku. Ingat, jangan terlalu banyak menggunakan qi."
Setelah mengatakan itu, Xika berbalik tanpa mendengar balasan dari Huo Bing. Ia tahu burung itu mendengarnya dan sudah mengambil tempatnya saat ini.
Xika kembali berteriak. Kali ini pada para warga. Ia meminta mereka mundur yang langsung diikuti tanpa pertanyaan. Mereka mundur sampai ke depan desa. Xika memberikan pil pemulihan yang dibuat Heiliao pada para warga.
"Kalian cukup berjaga disini. Tahan para ular agar jangan masuk ke dalam desa. Kalian yang terluka, beristirahatlah. Kalian yang masih memiliki tenaga, obati luka mereka, kalau parah bawa ke dalam. Sisanya berjaga disini."
Selesai bicara, Xika memberikan beberapa botol pil pada Zheng Wei. Pria itu kelihatannya masih baik-baik saja meskipun lengannya berdarah. Kemudian Xika kembali keluar desa untuk bertempur.
Ia melihat bahwa Zheng Wei membagikan pil-pil itu dengan merata. Selain itu, mereka juga mengikuti instruksinya dengan baik. Dengan begini, Xika dan lainnya dapat bertarung dengan lebih fokus.
Mendadak Xika terpikirkan sebuat ide.
"Heiliao, kenapa kita tidak memanggil Lang Jin, Lang Yi dan lain-lain kemari? Dengan adanya mereka kita bisa bertahan bukan? Bahkan melawan balik."
"Benar juga. Kenapa aku tak kepikiran ya?"
Serigala hitam itu tak lagi bicara dan membuka mulutnya. Ia mengumpulkan qi hendak membuka lubang menghubungkan para serigala ke tempat ini.
Qi hitam berkumpul di mulut Heiliao, kemudian ia lepaskan menuju langit tinggi.
BLAR!
Namun, tidak ada lubang hitam yang tercipta. Qi yang Heiliao tembakkan tadi seolah menabrak sesuatu di langit.
__ADS_1
Dan Heiliao yang menyadari hal apa itu menunjukkan raut wajah yang buruk.