
Masih di dalam lorong yang gelap, Xika berkumpul dengan tiga orang lainnya.
Mungkin karena gelap dan memberikan aura yang tidak mengenakan, jadi tidak banyak orang yang memilih lewat lorong itu.
Hal ini menjadikan lorong ini tempat berkumpul yang baik bagi Xika dan kawan-kawannya.
Tidak lama kemudian, setelah Lian Minjie mengambil rantai dari orang berpisau itu, Lin Zhu datang menyusul.
Ia dan Xika saling melakukan tos.
"Akting yang bagus."
"Terima kasih.
Kalau aku bermain drama, aku pasti akan mengajakmu, Kak Lin."
Lin Zhu hanya tertawa mendengar perkataan Xika.
Kemudian Xika menyerahkan pelindung lengan yang ia ambil dari Lin Zhu sebelumnya.
Setelah itu, mereka membahas langkah kedepannya.
"Sepertinya rencana kita berhasil."
"Tapi setelah ini kita tidak boleh terlihat jalan bersama. Sebisa mungkin kita jangan saling bertemu dulu untuk menghindari terjadinya kesalahan."
Yang lain mengangguk mendengar perkataan Qin Mo.
"Baiklah, karena aku yang pertama selesai, akan aneh bila aku pergi melalui lorong lain, jadi aku akan melalui lorong ini." kata Qin Mo karena memang dialah yang paling pertama mendapatkan artefak itu.
"Ngg......sepertinya aku harus lewat sini juga. Orang-orang hanya melihatku menghilang ke dalam lorong, tidak tahu lorong yang mana. Tapi yang pasti, aku tidak boleh berada dalam lorong yang sama dengan Kak Lin."
Lin Zhu mengangguk kemudian berkata,
"Seharusnya aku tidak akan mencolok bila pergi ke lorong yang satunya lagi, mengingat aku terbaring di tanah tanpa daya cukup lama."
"Aku sih bebas. Tapi kuputuskan untuk pergi ke lorong lainnya, agar seimbang."
"Kalian, berikan padaku kartu bintang kalian."
Mendadak Huo Bing muncul di antara mereka berempat.
Lin Zhu menyerahkan kartunya sambil bertanya,
"Untuk apa?"
Dan hanya di balas,
"Lihat saja."
Xika menyerahkan kartunya dengan mata menyipit karena curiga Huo Bing sudah tertular Heiliao dan ikut-ikutan misterius.
Yang lain juga menyerahkan kartu mereka dengan tanda tanya di wajah mereka.
Huo Bing membuat empat kartu itu melayang dan berputar di depannya.
"Sekarang alirkan qi kalian pada kartu masing-masing."
Mereka mengikuti perkataan Huo Bing meskipun tidak mengerti apa yang akan ia lakukan.
Setelah masing-masing mengalirkan qi pada kartu, Huo Bing mengambil rambut dari kepala mereka masing-masing empat helai.
"Aw! Untuk apa rambut itu?" tanya Qin Mo.
Dan lagi-lagi jawaban Huo Bing hanya,
"Lihat saja."
Tatapan Xika pada Huo Bing semakin tajam. Kalau ada yang bertanya dan Huo Bing menjawabnya dengan 'lihat saja' Xika akan berlari dan langsung memukul kepala Huo Bing agar ia kembali normal.
Huo Bing memasukkan empat helai rambut pada tiap kartu. Masing-masing kartu memiliki rambut Lian Minjie, Lin Zhu, Qin Mo, dan Xika.
Kemudian ia membuka mulutnya dan membakar keempat kartu itu.
Qin Mo tampak terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Huo Bing.
Berbeda dengan Lian Minjie yang memiliki muka cukup serius karena sepertinya mengerti apa yang dilakukan Huo Bing
Sementara Lin Zhu dan Xika hanya menatap dengan bingung, tidak tahu apa yang dilakukan Huo Bing.
Setelah di bakar selama beberapa saat, Huo Bing menutup mulutnya dan kartu-kartu itu pun berhenti terbakar.
Kartu itu masih sama wujudnya dengan sebelumnya, tapi ada simbol keriting, hati, padung, dan bintang di tiap sudut kartu.
__ADS_1
Huo Bing memberikan kembali kartu-kartu itu.
Masing-masing melihat perubahan pada kartu mereka.
"Simbol apa ini?" tanya Lian Minjie.
Huo Bing menunjuk Qin Mo,
"Padung untuk Qin Bodoh, (menunjuk Lian Minjie) Keriting untuk Lian Aneh, (menunjuk Lin Zhu) Hati untuk LIn Konyol, (menunjuk Xika) dan Bintang untuk Xing Gila."
Xika merasa agak aneh dipanggil Xing Gila, tapi yang lainnya biasa saja.
"Yah, aku menambahkan sedikit aura kalian ke dalam kartu itu. Jadi bila kalian terpisah, kalian akan mengetahui kondisi masing-masing. Bila salah satu simbol berkedip, itu artinya dia dalam bahaya, dan bila simbol itu mati...........itu berarti pemiliknya juga telah meninggal."
Empat orang itu terdiam mendengar perkataan Huo Bing sambil melihat kartu mereka yang masing-masing simbol menyala terang.
"Simbol itu menandakan seorang dari kalian. Bila simbolnya redup, maka ia dalam kondisi yang kurang baik. Semakin redup berarti semakin buruk kondisi pemiliknya."
Kemudian Huo Bing menoleh ke Lian Minjie dan berkata,
"Kuharap kau tidak keberatan aku menambahkan fungsi lain......"
"Tentu saja tidak. Justru aku berterimakasih. Ide yang bagus, jadi kita dapat mengetahui kondisi masing-masing."
"Kalau begitu, aku akan menambahkan juga."
Kemudian Heiliao menghisap semua kartu itu dan menelannya.
"..............."
"..............."
Empat orang lainnya menatap Heiliao dengan diam.
Heiliao juga balas menatap mereka.
Ketika Xika membuka mulutnya hendak bertanya, Heiliao sudah memuntahkan kartu itu kembali ke pemiliknya.
"Burung setengah matang, serang mereka dengan bulumu."
"Apa?"
"Serang saja."
Huo Bing mengikuti perkataan Heiliao meskipun ia tidak mengerti.
Bulu-bulu itu mengenai kartu mereka dan terserap oleh kartu itu.
"................"
"..............."
Kini gantian Huo Bing yang ditatap oleh empat manusia itu.
"Kartu kalian dapat menahan serangan sampai tingkat tertentu."
"Tingkat tertentu itu tingkat apa?" tanya Lin Zhu penasaran.
"Lihat saja nanti."
".................."
Setelah penambahan fungsi di kartu itu, mereka mengobrol sebentar.
"Kak Lin, kau benar-benar pandai bermain drama. Aku tidak pernah melihatmu meremehkan lawan seperti itu dan memberikan pandangan mengancam."
Lin Zhu hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya mendengar perkataan Xika.
Kemudian mereka pun saling berpencar.
Lian Minjie pergi lebih dulu, baru Lin Zhu.
Sebenarnya Lian Minjie tidak masalah pergi duluan atau belakangan karena dia yang paling 'tidak terlihat' di antara tiga orang lainnya.
Tapi Lin Zhu harus kelihatan menderita dan malang, sehingga ia akan pergi belakangan.
Lin Zhu menunggu beberapa saat setelah Lian Minjie pergi, kemudian baru menyusulnya.
Di lorong yang satunya lagi, Qin Mo yang pergi dulu.
Karena memang Qin Mo lah yang selesai duluan jadi wajar bila ia yang pergi duluan. Orang juga tidak akan curiga bila Qin Mo datang duluan sebelum Xika.
Xika juga menunggu selama beberapa saat sebelum menyusul Qin Mo.
__ADS_1
Ia berjalan selama beberapa jam sebelum akhirnya mencapai ruangan lain.
Xika tiba di sebuah ruangan luas yang cukup panas.
Ruangan itu memiliki banyak kolam lava.
Namun di tengah semua kolam itu terdapat berbagai harta berharga.
Kolam-kolam itu dikelilingi oleh kultivator. Ada yang dikeliling lima sampai enam orang, ada yang hanya dikelilingi dua tiga orang, ada juga yang tidak dikelilingi sama sekali.
Sama seperti ruangan sebelumnya, harta-harta ini juga memiliki dinding penghalang.
Dinding itu lebih sulit dipecahkan dibanding dinding sebelumnya karena ada kolam lava yang memisahkan para kultivator dengan harta itu.
"Xika. Majulah sampai kolam ke enam dari paling kanan setelah itu berbeloklah sebanyak tiga kolam dan maju lagi sebanyak dua kolam."
Meskipun merepotkan, Xika tetap mengikuti permintaan Huo Bing.
Ia sampai di kolam yang dimaksud Huo Bing.
Kolam itu tidak menarik perhatian kultivator satupun.
Mungkin karena hanya ada satu harta di dalam kolam itu namun kolam lavanya lebih besar dibanding kolam lainnya.
"Benda apa itu?"
"Dual Extreme Herb"
"Untuk apa tanaman itu?"
"Tanaman itu merupakan salah satu bahan yang diperlukan untuk membentuk tubuhku."
"Apa? Kupikir kau mengarahkanku ke harta yang bagus."
"Itu harta yang bagus tahu."
"Bukan untukmu, tapi untukku."
"Baiklah, baiklah. Bantu aku mengambil tanaman itu, nanti akan kuarahkan kau ke kolam lain yang cukup bagus."
Kemudian Xika membentuk Space Shifter menjadi tongkat tanpa terlihat oleh kultivator lain. Kalaupun terlihat, mereka akan mengira kalau Xika mengeluarkan senjatanya dari cincin spasial.
Di kota ini, cincin spasial cukup banyak dimiliki oleh kultivator, meskipun hanya tingkat terendah. Jadi tidak akan terlalu mencolok bila Xika mengeluarkan dan memasukkan barang secara mendadak.
Xika memukul dinding penghalang itu berkali-kali, tapi tidak ada yang terjadi.
Bahkan dinding itu tidak melemah sedikitpun.
Salah seorang kultivator yang berada di kolam tidak jauh dari Xika mendekatinya dan menasehatinya.
"Kawan, kolam itu sudah dicoba beberapa kali oleh kultivator lain yang lebih kuat darimu, tapi mereka semua gagal. Hentikanlah usahamu itu. Lebih baik kau memilih kolam lain saja."
"Ahaha.......terima kasih atas sarannya. Biarkan aku mencoba sebentar lagi."
Kemudian kultivator itu pun pergi kembali ke kolamnya.
Ia sudah menasehati Xika, masalah nasehatnya di lakukan atau tidak adalah keputusan Xika.
Xika mencoba melapisi Space Shifter dengan keempat elemen secara bersamaan-tanpa terlihat oleh orang lain tentunya-tapi tetap tidak berhasil.
"Huo Bing, apa yang harus kulakukan? Seranganku tidak berhasil sama sekali."
Sebelum Huo Bing menjawab, Heiliao sudah membalas Xika dengan bisikan.
"Gunakan kekuatanku."
"Heiliao? Bagaimana kau bisa mendengar suaraku?"
"............."
Xika semakin yakin bahwa Heiliao masih memiliki hubungan darah dengan Xingli mengingat betapa mirip dan menyebalkannya kedua mahkluk itu.
Ia menutup matanya sebentar.
Kemudian lubang hitam kecil muncul di ujung Space Shifter.
Xika menusukkan Space Shifter sekali lagi ke penghalang itu.
Tapi kali ini Space Shifter tidak mental dari penghalang itu seperti sebelumnya.
Lubang hitam di ujung Space Shifter itu menyerap energi penghalang itu sedikit demi sedikit.
Xika berusaha mempertahankan posisi seolah berusaha menusukkan senjatanya sekuat mungkin agar tidak membuat orang lain curiga.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mempertahankan posisi itu, dinding penghalang itu akhirnya pecah dan aroma tanaman itu langsung menyebr ke seluruh ruangan.
Dan hal itu langsung membuat kultivator yang berada di kolam lain mendekati tanaman itu.