
Di balkon atas dekat atap Jade Village, Xingli dan Heiliao berdiri bersisian. Keduanya menatap pemandangan malam yang indah di bawah mereka. Tapi keduanya masih menjaga jarak empat meter. Tak ada yang bicara untuk beberapa saat. Kemudian Heiliao membuka mulutnya.
"Apa sebenarnya tujuanmu?" Nadanya terdengar tenang dan tidak mengandung niat membunuh.
"Bukan untuk menyakiti Xika."
"Kau pikir aku akan percaya?"
"Aku mengatakan kebenaran. Percaya atau tidak, bukan urusanku."
"Benar atau tidak aku yang menentukannya." Mata Heiliao berkilat ganas ketika ia berbalik memandang Xingli.
Xingli mencabut pedangnya dan menatap Heiliao tanpa gentar sedikitpun.
Qi mulai berkumpul di tangan Heiliao, tapi sosok Xika yang tiba-tiba muncul di kepalanya menghentikanya mengumpulkan qi. Xingli tidak bereskpresi, tapi sebenarnya gadis itu bingung kenapa Heiliao tidak jadi menyerangnya.
"Apa tujuanmu mendekati Xika?"
"Aku tidak bisa menjawabmu."
Heiliao mengernyit tidak suka. Dan mendadak seluruh tubuhnya terselimuti qi ganas yang menekan Xingli.
"Dia memiliki kehidupan yang sulit, tak perlu kau tambahkan lagi. Kalau kau berani mempermainkannya, aku akan memberikanmu kehidupan yang lebih buruk dari kematian." geram Heiliao.
"Aku tidak bertujuan mempermainkan siapapun. Dan aku akan tetap bersamanya, tidak peduli kau suka atau tidak."
BRAK!
Xika tiba dan berdiri tepat di tengah keduanya. Ia menoleh dan tidak melihat adanya tanda-tanda perkelahian.
"Syukurlah. Kupikir kalian akan saling bunuh lagi." ucapnya sambil tersenyum.
Tap!
SYUT!
Xingli melompat pergi tanpa bicara.
'Apa masa bicaranya sudah habis ya?' pikir Xika ketika melihat Xingli pergi.
SYUT!
Heiliao juga pergi sama diamnya dengan Xingli.
"Hei, kau mau kemana?"
Tentu saja, tak ada jawaban.
"Kenapa malam ini semuanya jadi pendiam?" Xika bertekad akan memukul kepala Huo Bing kalau burung itu ikut-ikutan diam juga.
Untungnya, burung itu masih normal. Yah, normal untuk ukuran Huo Bing.
Ketika Xika kembali, ia menemukan Xingli sudah menutup kamarnya dan Heiliao sudah tidur, entah benar-benar tidur, atau menolak bicara. Keduanya jadi aneh sejak mereka bertemu. Ia memutuskan untuk tidak terlalu mempedulikannya selama mereka tidak saling bunuh.
Mendadak terdengar suara pertarungan di luar kamar. Dan saat Xika keluar, ia menemukan bukan hanya satu dua orang yang bertarung, tapi seluruh penghuni Jade Village kecuali dia, Xingli, dan Di He.
Xika berusaha menghentikan pertarungan. Beberapa ia kurung dengan tanah, sementara untuk sisanya ia hentikan angin di sekitar kepala mereka hingga tak bisa bernafas.
"Kau mengganggu saja, Xika."
Huo Bing muncul dari balik kumpulan penghuni Jade Village yang Xika kurung dengan tanah.
__ADS_1
"Huo Bing? Apa yang kau lakukan?"
"Melakukan beberapa percobaan." ucapnya sambil mengangkat bahu.
"Percobaan....maksudmu kau yang membuat mereka melakukan ini?"
Huo Bing memalingkan wajah sambil bersiul-siul.
"Dasar Burung Setengah Matang. Hentikan perbuatanmu."
"Kenapa?"
"Masih tanya? Kau membuat mereka terluka tanpa alasan!"
"Jadi kalau tidak terluka boleh?"
"Ya, tentu saja-maksudku, tidak!"
Tapi terlambat. Mereka yang dikurung Xika dengan tanah mulai berdansa tarian aneh. Beberapa kali mereka telihat seolah sedang mengepakkan sayap.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan?"
"Aku memilih teknik Depths Illusion yang memungkinkanku memanipulasi berbagai hal. Aku hanya sedang mencobanya."
"Tidak bisakah kau mencobanya pada siang hari?"
"Orang tidur lebih mudah dikendalikan. Lagipula tak akan ada yang melihat dan protes kalau kulakukan malam hari. Lihat."
Huo Bing melepas kendalinya pada seluruh penghuni Jade Village dan membuat mereka kembali tidur, lalu ia menggunakan tekniknya pada Xika. Matanya bersinar ungu dan tubuh Xika bergerak sendiri. Kali ini bukan karena digerakkan oleh elemen angin tapi memang tangannya yang bergerak sendiri. Setelah tangan, berikutnya kaki.
Xika terus berjalan sampai menabrak pintu kamar Xingli.
"Hei, Huo Bing, aku mengerti hebatnya teknikmu. Sekarang hentikan!"
Setelah mengatakan itu, Huo Bing berpura-pura tidak mendengar ucapan Xika lagi. Tanpa bisa dikendalikan, Xika terus membenturkan kepalanya ke pintu kamar Xingli.
Xika berusaha memfokuskan pikirannya. Matanya bersinar terang dan ia mendapatkan kendali atas tubuhnya lagi.
Cklek!
"Sialan!"
"........."
Sesaat setelah Xika mendapatkan kendali atas tubuhnya, Xingli membuka pintu sehingga Xika mengumpat tepat di depan muka Xingli.
"A-ah, anu.....aku tidak bermaksud.....ini sebenarnya salah Huo Bing....Burung itu-"
Ketika Xika menoleh, ia tidak menemukan sosok Huo Bing di manapun. Hanya ada puluhan penghuni Jade Village yang tidur di taman dan suara pintu kamar Xika yang baru saja ditutup.
"........"
Wajah Xingli tetap datar, begitu juga dengan pandangannya.
"Ck, dasar burung sialan!"
SRING!
Mendadak tubuh Xika bersinar. Kali ini bukan cahaya api, tapi cahaya bintang. Xika dan Xingli sama-sama terkejut akan hal itu. Tapi pelukan Xingli yang tiba-tiba lebih mengejutkan buat Xika.
Tes.
__ADS_1
Tes.
Di tengah kebingungan, Xika merasakan sesuatu membasahi pundaknya. Kemudian ia mendengar suara samar, samar sekali hingga ia hampir kesulitan mendengarnya.
"Hiks........hiks......."
Apa Xingli.......menangis?
"He-hei.......aku minta maaf kalau perkataanku tadi menyinggungmu, tapi sungguh itu bukan untukmu." Xika mengira umpatan yang salah sasaran itu melukai hati Xingli, tapi gadis itu malah menangis lebih keras. Apa ia salah?
"Bukan? Apa Heiliao menyakitimu? Percayalah, ia sebenarnya baik, hanya saja ia belum mempercayaimu. Ia akan berubah setelah tahu kau bisa dipercaya, kok. Tenang saja."
Tangisan Xingli semakin keras. Sepertinya bukan karena Heiliao juga. Lantas kenapa?
Beberapa orang yang tidur di taman akibat ulah Huo Bing mulai bangun karena tangisan Xingli.
"Eh, nangisnya di kamar saja ya?"
Xingli tidak menjawab, juga tidak bergerak. Seolah gadis itu tidak mendengar ucapan Xika sama sekali.
Sayangnya saat ini tangisan Xingli membangunkan semakin banyak orang. Orang bisa salah paham kalau melihat mereka seperti ini.
"Kita ke kamar dulu, yuk!"
Xika berusaha menarik gadis itu, tapi ia tetap tidak mau bergerak. Entah karena apa. Xika melayangkan sebuah batu dan melemparkannya ke pintu kamarnya, berharap Huo Bing atau Heiliao akan keluar untuk membantu.
"Huo Bing sialan! Bantu aku!"
Tidak ada jawaban dari Huo Bing. Justru teriakannya memanggil Huo Bing malah membangunkan lebih banyak orang. Tak ada kamar yang tersisa kecuali......
Xika melirik kamar Xingli yang masih terbuka.
"Maafkan aku, tapi aku tak bisa membiarkan orang banyak melihat kita seperti ini."
Xika melingkarkan tangannya di pinggang Xingli. Entah karena tidak sadar atau tidak peduli, Xingli tidak menolaknya. Padahal gadis itu dulu menolak untuk bersentuhan sekalipun hanya bersentuhan tangan.
Pelan-pelan, Xika mengangkat Xingli. Lalu membawanya masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Gadis itu tidak berhenti menangis sama sekali. Malahan, tangisnya makin hebat. Xika bisa merasakan tubuhnya yang kecil itu bergetar di dalam pelukannya.
"He-hei....Xingli........"
Xingli mengangkat wajahnya.
"..........."
Tadinya Xika hendak memberikan beberapa kata penyemangat dan menanyakan alasan kenapa gadis itu menangis. Tapi ketika melihat wajahnya......Xika tak bisa berkata apa-apa. Wajahnya yang biasa dingin tanpa ekspresi itu hilang tanpa jejak.
Kini dihadapannya hanya ada Xingli yang lemah, rapuh, dan begitu penuh dengan luka. Xika bisa merasakannya entah bagaimana. Betapa lemahnya gadis itu, apa yang ia alami selama ini, Xika bisa merasakan kesedihannya.
"Hiks.....hiks....."
Perlahan, kelopak matanya menutup dan gadis itupun tertidur. Xika membaringkannya pelan-pelan di kasurnya. Kemudian ia mundur dan keluar. Kira-kira begitulah rencananya sebelum sadar bahwa Xingli sama sekali tak melepaskannya.
Pelukannya begitu kuat. Ditambah wajahnya yang penuh dengan air mata membuat Xika jadi ragu untuk keluar. Ia ingin menemani gadis itu. Menyembuhkan lukanya. Tapi ia tak bisa melakukannya. Kalau orang banyak melihatnya seperti ini akan mengundang masalah yang tak ada habisnya.
"Xingli...........aku harus pergi........." ucap Xika dengan enggan.
"Jangan........pergi......"
Entah Xingli mengucapkannya tanpa sadar atau sengaja. Tapi melihatnya seperti ini membuat Xika benar-benar tak bisa meninggalkannya. Biarlah. Ia akan disini sampai Xingli lebih baik. Setelah itu akan langsung pergi sebelum ada yang sadar.
Rencananya memang begitu. Tapi sampai tengah malam Xingli masih tidak melepaskan Xika sama sekali. Xika awalnya bertekad untuk tidak tidur, tapi pada akhirnya ia jatuh ketiduran.
__ADS_1
Dan Xikapun menghabiskan malam bersama Xingli. Gadis dingin yang tak menunjukkan luka apapun di luar, tapi nyatanya telah melalui banyak penderitaan.