Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-63


__ADS_3

Teriakan kesakitan, jeritan kematian, dan darah memenuhi ruangan.


Saat ini keadaan sangat kacau.


Serangan datang dari semua arah, dan kau akan langsung terbunuh bila tidak cukup kuat.


Xika yang saat ini berdiri di tengah ruangan mencoba bergerak.


Ia hendak pindah ke bagian ujung dekat dengan dinding. Setidaknya tidak akan ada serangan dari belakang bila ia menempelkan punggunggnya di dinding.


Cukup sulit memang, tapi akhirnya Xika berhasil sampai di dinding.


Di sana ia menemukan Qin Mo yang cukup kesulitan.


Ia diincar karena memiliki artefak palu.


Xika segera bergerak membantu Qin Mo dengan membunuh beberapa orang disekitarnya kemudian bergerak ke arah lain.


Saat ini, ruangan begitu penuh dengan pertempuran. Tidak akan ada yang menyangka Xika membantu Qin Mo bila ia tidak bicara dengan Qin Mo. Orang hanya akan mengira ia berusaha mempertahankan nyawanya dengan membunuh orang lain.


Setelah membantu Qin Mo, Xika tidak lagi membunuh. Sebisa mungkin ia tidak ingin membunuh. Bukan karena takut, tapi ia punya alasan lain.


Pertempuran ini harus dihentikan secepatnya. Xika tidak tahu apa rencana Tuan Kota dan tiga ular itu, tapi yang pasti ia tidak bisa membiarkan seluruh pola di lantai tersiram darah. Pada saat itu, akan terjadi hal yang mengerikan yang bahkan Xika tidak tahu apa. Selain itu, setiap nyawa yang ada disini dapat menjadi tenaga tambahan untuk melawan Tuan Kota dan tiga ular itu.


Sebelumnya ia membunuh karena terpaksa, tapi saat ini ia sudah pindah tempat dan tidak lagi harus membunuh.


Xika berpikir keras bagaimana caranya menghentikkan pertempuran ini.


Terlintas sebuah ide di kepalanya. Ide yang cukup berbahaya, tapi hanya itu yang terpikirkan.


Rencananya, ia akan bergerak menuju tempat Tuan Kota dan menarik jubah dari tiga mahkluk aneh itu. Bila wujud mereka terlihat, maka apapun yang dikatakan Tuan Kota tidak akan dapat memengaruhi kerumunan lagi.


Xika mulai bergerak menuju Tuan Kota.


Tapi belum sampai setengah jalan, ia sudah menyadari kekurangan dalam rencananya.


Tuan Kota tidak akan membiarkan siapapun mendekati tiga mahkluk berjubah itu. Ia juga berdiri di depan mereka, jadi menyelinap tidaklah memungkinkan.


Akhirnya yang ia bisa hanyalah berteriak. Sama seperti Bai Feng. Meskipun ada kemungkinan ia akan menemui akhir yang sama dengan Bai Feng.


"Tunggu! Berhenti sebentar! Pria tua itu memang sudah membuktikan bahwa formasi itu menyala ketika terkena darah. Tapi bagaimana kita bisa tahu bahwa itu adalah formasi untuk membuka jalan keluar? Selain itu, Tuan Kota belum menjawab identitas tiga orang di belakang anda." ucap Xika sambil menunjuk tiga orang di belakang Tuan Kota.


Tuan Kota menutup matanya sebentar, kesal karena lagi-lagi ada pertanyaan menyebalkan.


"Baiklah, aku akan membiarkan kalian melihat identitas para senior ini."


Kemudian ia mundur dan bicara pada tiga orang itu. Xika tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi firasatnya sudah cukup buruk sebelumnya, dan kini semakin bertambah buruk.


Tiga orang itu maju dan membuka tudung yang menutup wajah mereka.


Terlihatlah tiga wajah tua yang cukup penuh dengan keriput.


Tapi tidak ada dari mereka yang bicara.


Sebaliknya, Tuan Kota lah yang berbicara memperkenalkan mereka.


"Biar kuperkenalkan! Di sebelah kiri-"

__ADS_1


Selagi Tuan Kota sedang bicara memperkenalkan tiga orang di belakangnya, Xika melihat lantai dan menemukan bahwa hampir seluruh pola telah menyala. Ia terpaksa harus bertindak sekarang.


"Hoi ular tua! Hentikkan sandiwaramu itu."


Xika memotong ucapan pria itu dan membuka kebohongannya. Ia tidak bisa membiarkan ular-ular itu menjalankan rencananya.


Tuan Kota mengernyitkan alisnya.


"Apa?"


Xika melempar bubuk asap di sekitarnya untuk mengalihkan pandangan.


Ketika asap hilang, Xika sudah berdiri di samping Tuan Kota.


Ia menampar Tuan Kota sekali kemudian memegang kepalanya agar tetap memperlihatkan bagian belakang kepalanya.


"Tidakkah kalian merasa aneh dengan Tuan Kota? Selama ini ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan baik hati. Bagaimana mungkin sosok seperti itu dapat meminta rakyatnya untuk saling bunuh?"


Beberapa orang mengangguk mendengar perkataan Xika.


Salah satu dari orang tua berjubah itu hendak maju, namun yang lain menghentikannya.


"Kita lihat dulu apa yang ingin dia lakukan." kata pria yang menahan dengan tatapan penasaran pada apa yang akan dilakukan Xika.


Tapi jauh di dalam hatinya, ia yakin dengan sangat bahwa rencananya akan berhasil dan tidak akan ada yang bisa menggagalkannya. Jadi ia hanya ingin melihat apa yang bisa dilakukan semut kecil seperti Xika.


Xika menyadari apa yang mereka bicarakan kemudian melompat ke tengah kerumunan sambil membawa Tuan Kota.


Kultivator lain menyingkir memberikan ruang bagi Xika untuk mendarat.


"Heh, aku sudah tahu tipuanmu ular tua!"


"Lihatlah ini!" kata Xika sambil memperlihatkan dua buah lubang di leher Tuan Kota.


"Apa kalian tahu lubang apa ini?"


Salah seorang menjawab,


"Terlihat seperti gigitan ular."


"Tepat.Tuan Kota sudah diracuni oleh tiga ular tua di belakangku itu. Melalui racun, mereka mengendalikan Tuan Kota dan membimbing kita ke perangkap ini. Tempat ini bukanlah makam burung suci yang penuh dengan harta, tapi perangkap agar kita menyerahkan nyawa kita."


"Lalu untuk apa semua harta itu?"


"Tentu saja untuk memikat kita datang. Itulah umpan yang disediakan mereka. Setelah membantai kita semua, mereka akan mengambil harta kita dan menggunakannya untuk menjalankan rencana mereka."


"Rencana apa?""Kenapa kau tidak tanya ke mereka saja?" ucap Xika sambil melihat tiga orang tua yang masih diam di tempatnya.


"Apa kau tidak mau buka mulut ular tua?"


Orang tua yang berdiri di kanan sudah memiliki ekspresi marah, namun orang yang berdiri di tengah memiliki ekspresi tenang.


"Hei nak! Apa kau memiliki bukti atas seluruh perkataanmu itu?"


"Bukti ya........."


Xika diam sebentar kemudian menjawab dengan penuh percaya diri.

__ADS_1


"Aku tidak punya bukti. Tapi kau yang akan membuka semua tipu muslihatmu sendiri."


Kini tiga orang tua itu sama-sama mengerutkan alisnya tidak menduga jawaban yang dikeluarkan Xika.


Di saat Xika selesai bicara, Lian Minjie, Lin Zhu, dan Qin Mo melihat 'kegilaan' terpancar di mata Xika.


Kemudian Huo Bing muncul untuk sesaat.


Kemunculan Huo Bing membuat terkejut semua orang yang ada di ruangan itu.


Baik para kultivator di belakangnya, maupun tiga orang tua di depannya.


Kerumuan itu melangkah mundur karena terkejut. Lin Zhu, Lian Minjie, dan Qin Mo juga memiliki pandangan yang sama terkejutnya dengan kemunculan Huo Bing. Mereka bingung kenapa Huo Bing menampakkan dirinya disini.


Sementara tiga orang tua itu menatap Xika dengan penuh nafsu membunuh.


Sebelumnya mereka agak ragu dengan identitas Xika dan ingin memastikannya lebih jauh. Tapi kini Huo Bing sendiri muncul dan mengkonfirmasi dugaan mereka.


Salah seorang dari mereka bertiga tidak tahan lagi dan menjulurkan lidahnya.Kerumunan itu terkejut melihat lidah yang bercabang dua keluar dari mulut pria tua itu. Tidak hanya itu saja, leher mereka pun memanjang dan menujukkan bahwa mereka memanglah bukan manusia.


"Jadi?"


Hanya orang tua yang ditengah yang masih bisa menahan dirinya, tapi ia juga menatap Xika dengan nafsu membunuh.


"Heh, kau benar-benar nekat. Aku mengakui bahwa kau benar.Kami bertiga memancing kalian semua kesini untuk membangkitkan kembali Tetua Agung. Dan untuk itu diperlukan darah yang cukup banyak. Meskipun rencanaku sudah terbongkar, tapi darah yang terkumpul sudah cukup banyak.Terima kasih pada kalian semua. Terutama untukmu, nak. Kalau kau bicara lebih awal sebelum ada darah tertumpah, pasti rencana kami akan gagal. Tapi kau dengan bodohnya mengucapkannya di detik terakhir."


Raut wajah Xika berubah buruk.


Ia tidak menyangka bahwa ia masih telat untuk menghentikan rencana ular tua itu.


"Sekarang, saksikanlah! Recessum in Abyssum irent (Abyss Absorption)!"


Setelah mengatakan itu, mereka bertiga tertawa, dan tubuh mereka berubah.


Semakin lama semakin panjang dan lentur, sampai akhirnya berubah menjadi ular sepenuhnya.


Tiga pria tua itu kini telah berubah menjadi ular besar.


Kemudian mereka membuka mulut dan mengumpulkan qi.


Xika lansgung menyadari apa yang hendak dilakukan ular-ular itu.


"Hentikan mereka!"


Kultivator lain langsung bergegas menuju ular-ular itu.


Tapi sudah terlambat.


Ular-ular itu sudah selesai mengumpulkan qi dan kini mereka menembakkannya ke tengah lantai.


Kultivator yang tidak beruntung berada di jalan serangan itu langsung mati tanpa menyisakan mayat sedikitpun.


Serangan dari ketiga ular itu mengenai lingkaran di bagian tengah lantai dengan tepat.


Lingkaran itu menyala. Kemudian bagian sekitarnya juga menyala, dan diikuti dengan bagian lainnya.


Perlahan-lahan, seluruh pola yang ada di lantai itu menyala.

__ADS_1


Bersamaan dengan menyalanya pola di lantai, para kultivator merasakan perasaan buruk yang semakin mendekat.


__ADS_2