
Xika terdiam mendengar perkataan Huo Bing.
Bukannya ia tidak mau memberi tahu Huo Bing, tapi ia ragu apakah dirinya sanggup menceritakan kejadian itu. Memang, 10 tahun sudah berlalu, tapi ingatan Xika masih sangat jelas seolah baru kemarin terjadi, ditambah lagi, 3 bulan yang lalu ia mengalami kejadian yang serupa, yang semakin membuat dirinya tertekan.
Melihat Xika yang diam saja, Huo Bing berpikir ia tidak mau menceritakannya.
"Tak apa kalau kau tak ingin bercerita. Aku tak memaksa."
".......tidak..... Sepertinya sudah saatnya bagiku membagi kisah ini pada seseorang."
Huo Bing diam mendengarkan.
"Hari itu, 10 tahun yang lalu tepat ulang tahunku.
Ibuku memasak makanan kesukaanku, sementara ayahku masih merahasiakan hadiahnya. Katanya aku masih belum genap berumur 5 tahun karena aku lahir pukul 7 malam.
Aku menunggu dengan penuh harap.
Ayah dan ibuku mengundang semua warga desa. Ia memasak porsi yang cukup untuk satu desa. Para warga desa memberikanku ucapan selamat dan hadiah.
Usai makan siang, kami mengobrol. Waktu itu suasananya sangat bahagia, tidak akan ada yang menyangka akan terjadi sebuah tragedi beberapa saat kemudian.
Sesekali seseorang akan menceritakan pengalaman mereka waktu muda dulu, dan ayahku turut bercerita. Setelah bertukar cerita, kami bermain kartu.
Ayahku memiliki dek kartu yang cukup banyak untuk satu desa bermain. Ibuku dan aku pun turut ikut bermain. Kami bermain permainan favoritku, capsah. Sesekali, kami akan berganti pemain.
Kami semua sangat bahagia saat itu.
Ketika hari semakin gelap, kami menyudahi permainan itu, dan para warga desa pulang ke rumah masing-masing, ingin memberikan kami bertiga waktu pribadi.
Aku dan ayahku mulai membantu ibuku memasak. Tepat pukul 7 malam kami selesai memasak, waktu yang sama ketika diriku lahir. Aku bertanya kembali pada ayahku tentang hadiahku, tapi ia bilang akan memberikannya selesai makan malam.
Kami makan malam dengan bahagia, penuh dengan canda dan tawa.
Usai makan malam, ketika aku hendak bertanya kembali pada ayahku tentang hadiahku, lonceng peringatan bahaya terdengar."
Suara Xika mulai bergetar, namun ia tetap melanjutkan.
"Ayahku keluar untuk memeriksa keadaan sedangkan ibuku tetap bersamaku.
Ayah pergi cukup lama, ketika ia kembali, ia meminta ibuku pergi dengannya, sedangkan aku sendiri di rumah. Awalnya ibuku menolak, ia tidak mau membiarkan diriku sendiri. Kemudian ayahku mengajak ibuku berbicara di belakang agar aku tak mendengar.
Akhirnya ibuku setuju, sementara aku masih bingung dan agak takut ditinggal sendiri.
Ibuku memelukku dengan air mata yang berlinang, ia berkata akan selalu menyayangiku kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun diriku.
Aku semakin takut mendengar ibuku berbicara seperti itu dan aku menangis. Ayahku berusaha membujukku namun tangisanku semakin kuat.
Kemudian ayahku mengeluarkan dek kartu tanpa kotak dari balik jubahnya. Dek kartu yang selalu ia pakai ketika bermain denganku dan dek kartu yang selalu ia bawa setiap kali kami kedatangan tamu.
Ia berkata,
"Xika anakku sayang, selamat ulang tahun. Inilah hadiah dariku yang sedari tadi kau tanyakan."
Ia mengambil tanganku dan meletakkan dek kartu itu di tanganku. Kemudian ia melanjutkan perkataanya, namun kali dengan air mata yang mulai mengalir.
"Berjanjilah Xika. Berjanjilah bahwa kau tidak akan melupakan kami dan akan mencari kami oke?"
Aku bingung mendengar perkataan ayahku, namun tangisku sudah berhenti ketika aku menerima dek kartu kesukaanku itu.
"Temui ayah sepuluh menit setelah ayah pergi oke?"
Aku mengangguk.
Ayah dan ibuku memelukku dengan air mata dan menciumku, seolah sudah tahu bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami.
Kemudian mereka keluar, dan itulah terakhir kali aku melihat mereka."
Air mata mulai mengalir di wajah Xika tanpa ia sadari, tapi ia tetap melanjutkan ceritanya.
"Aku mendengar suara pertarungan di luar jadi aku lari ke kamarku dan melihat-lihat dek kartu hadiah ulang tahunku.
Tanpa terasa, sepuluh menit berlalu. Suara pertarungan sudah tidak terdengar.
Aku memberanikan diriku untuk keluar.
Tepat sebelum aku keluar pintu aku mendengar suara anak yang sepertinya usianya tidak berbeda jauh dariku.
__ADS_1
Suara itu berkata,
"Apa pasangan itu sudah pergi?"
Sementara suara yang menjawabnya terdengar menjawab dengan penuh hormat.
"Sudah tuan muda"
"Bagus."
Aku tidak tahu pasangan yang mana yang mereka maksud karena memang banyak pasangan di desaku dan aku semakin takut mendengar pembicaraan itu. Rasanya aku tidak ingin keluar dan menunggu kedua orangtuaku datang mencariku.
Tapi aku ingat janjiku, bahwaku aku harus mencari mereka.
Jadi aku keluar dengan lutut yang gemetar.
Dan pemandangan yang pertama aku lihat adalah desaku yang sebelumnya penuh sukacita, kini sudah terbakar di mana-mana dengan mayat disekitarnya.
Kemudian aku mendengar suara yang akrab memanggilku.
"Xika? Kenapa kau disini?"
"Paman Lin?"
Yang memanggilkku adalah Lin Wen, atau yang biasa kupanggil paman Lin.
Aku bermain kartu dengannya siang tadi dan aku menang. Aku mengingat wajahnya yang tertawa bahagia meskipun ia kalah, namun aku tidak melihat kebahagiaan sedikitpun di wajahnya saat ini.
"Cepatlah pergi Xika, aku akan menahan mereka!"
"Tidak, aku tidak mau pergi. Aku harus mencari ayah ibuku dulu."
Paman Lin memiliki ekspresi yang sulit ketika mendengar perkataanku.
Kemudian beberapa warga desa yang kukenal datang menghampiri kami, salah satunya adalah Bibi Ling, istri dari paman Lin. Mereka berpelukkan, bersyukur bahwa masing-masing dari mereka selamat.
Belum sempat kami bicara atau sekedar mengucapkan ucapan 'syukurlah, kau masih hidup', beberapa orang berpakaian aneh dengan lambang yang sangat kuingat sampai sekarang. Lambang naga dan burung yang sedang bertarung.
"Tutup matamu, Xika"
Aku menutup mataku dan suara pertarungan kembali terdengar."
Air mata Xika mengalir semakin deras.
"Ketika aku membuka mataku yang kulihat hanyalah tubuh paman Lin dan Bibi Ling serta beberapa warga desa lain yang tadi menghampiri diriku kini sudah tak bergerak, dengan masing-masing memiliki luka di tubuhnya.
Dan aku langsung berteriak,
"TIDAKKKKKKKK!!!!!"
Nafasku mulai berat dan pandanganku mulai kabur penuh dengan airmata. Aku kembali berteriak
"PERGILAHHH!!!! PERGI KALIAN!!!!"
Kemudian seorang pembunuh maju dan mengambil salah satu tubuh warga desa yang berjarak tidak jauh dariku.
Ia menyejajarkan kepala warga desa itu dengan kepalaku, kemudian ia memotong kepala warga desa itu, dan aku langsung jatuh terduduk.
Pikiranku mulai tidak jelas, samar-samar aku mendengar tawa para pembunuh itu.
Dan salah seorang yang mengenakan baju biru maju dan menampar pipiku beberapa kali sambil mengucapkan kata yang tidak masuk ke kepalaku.
Kemudian seorang dari mereka yang mengenakkan baju hitam melempar batu padaku.
Itu cukup sakit, namun aku menahannya.
Aku pura-pura pingsan.
Seseorang mendekatiku, dan langsung kupukul wajahnya. Kemudian aku berlari dan mencari pertolongan.
Dan aku menemukannya.
Saar itu, aku tidak ingat sama sekali tentang pembicaraan yang kudengar sebelum aku keluar.
Aku menemukan seorang anak yang berusia tidak jauh dariku, mengenakan baju merah dengan simbol yang naga dan ular yang sedang bertarung.
Aku mendekatinya berharap ia akan memberikanku pertolongan, namun yang kudapatkan malah sebaliknya.
__ADS_1
Anak itu menatapku dengan tatapan yang seolah mengatakan bahwa aku tak layak hidup, kemudian ia berkata,
"Jauhkan dia dariku"
Aku sangat terkejut dan tidak terima dengan nasibku saat itu.
Aku memukul beberapa orang lainnya, namun pukulanku tidak berguna.
Salah seorang yang mengenakan pakaian biru maju dan menendangku.
Perutku sangat sakit.
Dan sebuah petir datang menyambarku yang membuat kesadaranku samar-samar.
Setelah itu yang kuingat hanyalah sakit, panas, sesak nafas, dan takut, kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.
Paman menemukanku beberapa hari kemudian.
Awalnya aku tidak mau berbicara. Setelah sebulan penuh paman mengajakku bicara, barulah aku mulai berbicara dan dimulailah kehidupanku di Shaking Card.
Kehidupan yang penuh dengan hinaan namun aku tetap bahagia karena bersama pamanku.
Sampai aku bertemu denganmu dan hari itu datang."
Selesai berbicara, Xika menutup matanya dan mengelap air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir.
Setelah air matanya berhenti, ia membuka matanya dan melihat Huo Bing yang kini disekelilingnya sudah penuh dengan api dan es.
"..........aku turut berduka cita.
Untuk dirimu dan masa lalumu, untuk warga desa yang telah meninggal dan untuk ayah dan ibumu."
Xika kembali menutup matanya.
Ia baru membuka matanya setelah beberapa saat kemudian.
"Tidak.
Ayah dan ibuku belum mati.
Paman tidak menemukan mayat mereka.
Lagipula mereka sudah berjanji padaku. MEREKA SUDAH BERJANJI."
Xika kembali kehilangan ketenangannya, air mata kembali mengalir.
"Tenanglah Xika, tenanglah."
Huo Bing memeluk Xika dengan sayapnya. Dan saat Huo Bing ingin memeriksa kondisi Xika, Ia menemukan Xika sudah tertidur kelelahan.
Air mata menetes di wajah Huo Bing. Dari tadi ia berusaha menahannya, namun setelah Xika tidur ia mengeluarkan air matanya tanpa menahan.
Akhirnya ia tahu masa lalu Xika.
Dan ia cukup menyesal menanyakan masa lalunya melihat Xika begitu tertekan ketika menceritakannya.
Sekali lagi Huo Bing marah pada dunia. Ia tidak terima anak yang baru berusia 5 tahun sudah mengalami kejadian yang begitu mengerikan. Dan lagi, 10 tahun kemudian kejadian itu terulang kembali.
Dunia ini benar-benar tidak adil.
Huo Bing setuju dengan ucapan itu. Sangat setuju.
Bahkan ia sempat beberapa kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menahan kehilangan yang begitu dalam. Selama ini ia merasa bahwa ia sendiri. Tidak ada orang didunia ini yang sama seperti dirinya. Setiap kali ia melihat sepasang kekasih ia begitu iri.
Tapi tak pernah terpikirkan oleh dirinya bahwa anak yang bahkan tidak sepersepuluh umurnya memiliki nasib yang sama bahkan lebih menyedihkan dibanding dirinya.
Ia berkata pada Xika yang kini sedang tidur.
"Xika, tenanglah. Aku berjanji kau tidak akan mengalami kejadian seperti itu lagi. Yang sebelumnya adalah salahku, andai saja aku turun tangan, maka kau tidak akan berpisah dengan pamanmu.
Tapi aku berjanji. Dua kali adalah batas maksimum.
Kau tidak akan mengalami hal seperti itu lagi.
Aku berjanji.
Dan kau dapat memegang janjiku"
__ADS_1