
"Ah, ngomong-ngomong siapa namanya? Musuhku. Sayang juga aku tidak mendengar dari dirinya langsung."
"........Tian Yin."
"Heh. Nama yang jelek. Persis seperti orangnya."
"Kalau boleh tahu, kenapa kau memiliki permusuhan dengannya?"
"Tidak boleh tahu." ucap Xika sambil memberikan cengiran lebar.
Shu Mang tidak bisa berkata. Ia berkata seperti itu hanya untuk kesopanan tapi ia tidak menduga Xika benar-benar akan berbicara seperti itu.
"Yah, panjang ceritanya. Dendam lama."
"Apa kau tidak bisa mengesampingkan dendam itu?"
"Tidak. Kalaupun bisa-meskipun tidak-si sialan itu juga tidak akan mengesampingkannya. Kenapa memangnya?"
"Dia bukan orang biasa. Kau tahu ia menguasai dua elemen yang bertentangan. Kenapa kau masih tidak mau mengalah? Apa kau tahu sekuat apa klan tempat dirinya tinggal?"
"Dia bukan orang biasa, ucapanmu itu benar. Tapi aku juga bukan orang biasa. Dia menguasai dua elemen? Bertentangan? Heh, apa hebatnya itu? Aku tidak mau mengalah? Aku hanya akan membungkuk sekali padanya. Yaitu didepan pemakamannya. Ia berasal dari klan yang luar biasa kuat? Aku tidak peduli."
Shu Mang menatap Xika dengan bingung. Ia tidak mengerti apa yang Xika katakan. Xika memang bukan orang biasa. Tapi apakah tidak berlebihan membandingkan dirinya dengan Tian Yin, jenius nomor satu Dinasti Lin? Lalu apa yang dikatakannya tadi? Membungkuk di depan pemakamannya? Apa ia sungguh berpikir akan hidup lebih lama dari Tian Yin? Atau ia berpikir ia bisa membunuh Tian Yin? Tidak, itu tidak mungkin. Dan ia tidak peduli dengan latar belakangnya? Alasan macam apa itu?
"Yah, kau bingung. Aku tahu. Tenang saja. Mungkin di masa depan kau akan mengerti. Mungkin juga tidak."
'Lalu kenapa kau memintaku untuk tenang?' Shu Mang ingin mengatakan hal itu tapi ia menahannya. Ia yakin tidak akan mendapatkan jawaban yang benar sekalipun berkata seperti itu.
"Ah, ngomong-ngomong, harta apa yang kau temukan?"
"................."
Shu Mang menatap Xika dengan aneh. Apa Xika benar-benar berpikir bahwa dirinya akan memberitahu tentang harta itu begitu saja?
"Yah, kau sudah bersedia memberikan sepuluh persen untukku. Bukankah tidak masalah aku mengetahui harta itu?"
"............"
"Biar kutebak. Tambang? Ekspresimu berubah saat aku mengatakan itu sebelumnya. Lalu isinya.........pasti sesuatu yang lebih berharga daripada kristal elemen. Apa ya?"
Shu Mang bingung sekaligus terkejut Xika tahu hal itu. Ia tidak menyangka Xika akan memperhatikan dirinya begitu seksama.
"Kenapa kau berpikir harta itu lebih berharga daripada kristal elemen?"
"Karena ekspresimu kembali tenang ketika aku mengatakan kristal elemen. Harusnya kalau tebakanku tepat, ekspresimu akan memburuk atau terkejut. Tapi sebaliknya, kau malah terlihat tenang. Itu berarti tebakanku salah dan harta yang kau bicarakan itu lebih berharga daripada kristal elemen."
Shu Mang mengumpat dalam hatinya. Ia cukup terintimidasi dengan keberadaan para serigala sehingga lupa mengendalikan ekspresinya. Dan sialnya, Xika memperhatikan ekspresinya.
"Jadi? Harta apa yang lebih berharga dari kristal elemen?"
Shu Mang masih diam. Ia berpikir haruskah memberitahu Xika atau tidak. Toh, pada akhirnya anak itu akan tahu. Tidak ada salahnya ia tahu lebih awal.
"Batu spasial."
"Batu spasial? Kau menemukan tambang yang berisi batu spasial? Pantas saja kau terluka seperti ini. Kutebak, pelakunya ingin membunuhmu."
__ADS_1
Kini Xika mengerti kenapa ekspresi Shu Mang lebih tenang ketika ia mengatakan kristal elemen. Karena batu spaisal memang lebih berharga dari kristal elemen. Yah, sebenarnya batu spasial juga dianggap sebagai kristal elemen. Itu adalah batu spiritual yang mengandung elemen ruang. Namun entah kenapa banyak orang lebih suka menyebutnya batu spasial.
Alasan kenapa batu spasial lebih berharga dari kristal elemen adalah karena batu spasial dapat digunakan semua orang. Batu spasial dapat diubah menjadi cincin spasial. Jadi tidak peduli apakah kau menguasai elemen ruang atau tidak, batu spasial tetap berguna bagimu karena kau bisa mengubahnya menjadi cincin spasial.
Berbeda dengan kristal elemen lainnya. Tidak semua kultivator bisa menggunakan kristal elemen. Mereka hanya menggunakan kristal elemen yang sama dengan mereka. Kultivator elemen air tidak bisa menggunakan kristal elemen api. Begitu juga dengan elemen lainnya. Paling-paling, yang bisa kau lakukan adalah menjualnya.
Shu Mang tersenyum sinis.
"Sayangnya ia gagal."
Xika tersenyum bangga.
"Dan itu berkat diriku."
Shu Mang langsung menoleh.
"Kenapa?"
"Karena aku yang menyembuhkanmu."
Shu Mang menatap Xika tak percaya.
"Kau bisa menyembuhkanku?"
"Tentu saja tidak. Ada serigala lain yang memberitahu dari samping. Kau berhutang padaku."
Shu Mang merasa benar-benar ingin memukul Xika. Tapi sayang, tubuhnya tidak mengijinkan dirinya melakukan hal itu.
"Jadi saat kau berkata tidak tahu bagaimana bisa sampai disini itu tidak bohong? Kau melarikan diri melalui celah ruang yang terdekat dan tidak tahu dimana dirimu terdampar?"
Xika mengangkat kedua bahunya.
"Batu spasial. Itu menjelaskan banyak hal."
"Lalu siapa yang menyerangmu sampai terluka seperti ini? Bagaimana ia bisa mengetahui tambang batu spasial itu juga?"
Shu Mang terdiam cukup lama. Xika berpikir pemuda itu menolak untuk menjawab.
"Ia mengikutiku sejak lama. Ia memang berniat untuk membunuhku, hanya saja sedang menunggu waktu yang tepat. Sayangnya aku baru menyadari keberadaannya saat berada di tambang. Dan saat itulah ia menampakkan dirinya."
Xika mengangguk-ngangguk. Ia kembali bertanya,
"Lalu bagaimana kau berencana membawa kami ke tambang itu? Kudengar tidak semua celah ruang itu stabil. Kadang ada yang menghilang dan muncul dengan sendirinya."
"Kalau begitu kita harus cepat." jawab Shu Mang tidak menemukan jawaban lain setelah berpikir cukup lama.
"Kurasa kalimat yang tepat adalah: kau harus cepat. Kau satu-satunya yang terluka disini, ingat?"
Shu Mang memberikan dengusan kesal sebagai jawaban.
"Racunmu itu berasal dari apa?"
"..............."
Shu Mang menolak untuk menjawab. Ia mengalihkan pandangannya, meskipun itu membuat seluruh sarafnya menjerit kesakitan.
__ADS_1
"Yah, kalau racunmu tidak diketahui maka kau tidak akan bisa sembuh."
"Kau akan menyembuhkanku?"
"Bukan aku. Para serigala."
"Kenapa para serigala mau menyembuhkan lukaku?"
"Setidaknya mereka tidak akan membiarkan kau seperti ini terus. Mungkin sedikit lebih baik. Setidaknya sampai kau bisa menuntun jalan."
Shu Mang kembali membisu. Ia tidak bicara apa-apa lagi.
"Orang yang menyerangmu.........apa ia tidak akan melaporkan hal itu pada klannya atau semacamnya?"
"Dia bukan orang yang setia. Kalau bisa, ia akan menyimpan seluruh harta yang ia temukan."
"Lalu bagaimana dengan pasukannya? Eh, apa ia punya pasukan? Atau ia hanya sendiri? Bagaimana ia berniat memindahkan semua batu spasial itu?"
Shu Mang memberikan pandangan aneh. Seolah-olah bukan serigala yang mendapat keuntungan paling besar, tapi dirinya. Yah, itu memang benar sih. Sebelumnya Lang Jin memang hanya menggeram saja. Sampai saat inipun Xika masih tidak mengerti bahasa geraman (Xika yang menamainya begitu), jadi tentu saja Lang Jin tidak akan bicara padanya menggunakan bahasa itu.
Lalu apa yang Xika bicarakan dari tadi? Kenapa ia bisa menerjemahkan ucapan Lang Jin? Yah, sebenarnya ia tidak benar-benar menerjemahkan. Sebelumnya, ia membisikkan sesuatu pada Lang Jin. Ia meminta serigala itu jangan bicara sama sekali, melainkan hanya memberikan beberapa geraman dan suara-suara yang dibuat serigala biasa lainnya. Sisanya tinggal serahkan pada dirinya. Jadi apa yang Xika bicarakan tadi, murni berasal dari kepalanya sendiri. Yah, ia benar-benar pembohong yang hebat. Sayangnya Shu Mang tidak tahu hal itu.
"Para serigala akan membunuhku kalau aku bersamamu semalaman tanpa mendapatkan informasi apapun."
Shu Mang memberikan ekspresi yang lebih baik. Alasannya yang ini lebih masuk akal.
"Ia mungkin punya beberapa pasukan. Tapi kalau kaum serigala berniat menguasai tempat itu, maka pasukannya tidak akan cukup untuk menghentikan mereka. Ia tidak harus memindahkan semua batu spasial itu. Ia hanya perlu memastikan ia benar-benar menguasai tempat itu dan tahu jalan masuk dan keluarnya."
"Apa di tambang itu banyak celah spasial?"
"Ya."
"Apa kau masuk ke tambang itu dari celah spasial?"
"Ya."
Xika mengangguk-ngangguk. Apa yang dikatakan Shu Mang itu masuk akal. Orang yang menyerangnya tidak perlu memindahkan semua batu spasial yang ada disana. Ia hanya perlu membawa batu spasial secukupnya kemudian menggunakannya untuk hal lain. Bila ia kekurangan batu spasial, ia hanya perlu mengunjungi tambangnya saja.
"Apa kau yakin bisa menemukan celah spasial itu lagi?"
Shu Mang sedikit mengerutkan alisnya.
"Kuharap."
"Bagaimana kalau kau tidak berhasil? Atau celah itu telah menghilang?"
"Kalau begitu aku hanya bisa berdoa untuk nyawaku."
Xika menatap Shu Mang. Pemuda itu sedang menatap lautan bintang yang bertebaran diatasnya yang menerangi malam. Ia bepikir apa yang akan terjadi seandainya ucapan Xika itu menjadi kenyataan.
Xika cukup terkejut mendengar jawaban Shu Mang. Ia tidak menduga pemuda itu akan memberikan jawaban jujur dan lugas seperti itu. Sebelumnya, kalaupun ia jujur, ia tidak membeberkan semua kartunya, dan menyimpan sebagian untuk dimainkan nanti. Tapi kali ini Xika merasa ia tidak menyembunyikan hal lain.
"Menurutmu, berapa lama kau akan sembuh? Atau setidaknya sampai kau bisa berjalan?"
"Entahlah. Tergantung bagaimana para serigala akan menyembuhkanku."
__ADS_1
Xika tidak bertanya lagi. Dan Shu Mangpun tidak bicara lagi. Lalu sisa hari dihabiskan dengan hening tanpa ada satupun dari mereka yang bicara lagi.