
".............."
Xika terdiam sebentar setelah mendengar perkataan Liu Shang. Ia mengerutkan keningnya memikirkan sesuatu.
"Jadi, kau termotivasi karena pertarunganku? Kalau begitu, bukankah harusnya aku menjadi semacam pahlawanmu atau apalah? Kenapa kau malah berniat melampauiku? Maksudku, bukankah kau termotivasi karena aku yang seorang pemuda tak dikenal ini berhasil memberikan luka berat bagi sang jenius? Lalu kenapa sekarang kau menyebutku jenius? Bukankah kata itu identik dengan hal yang buruk bagimu?"
Liu Shang menatap kasurnya. Senyum sedih bercampur kecewa muncul di wajahnya.
"Awalnya memang begitu. Mendengar pertarunganmu membuatku berpikir, 'Kalau dia yang seorang pemuda biasa tanpa nama saja bisa memberikan luka bagi sang jenius, aku juga pasti bisa.' dan kalimat semacamnya. Aku menganggap dirimu sama denganku, dan aku ingin berteman denganmu. Berteman dengan orang hebat seperti itu pasti keren, pikirku.
Jadi ketika aku datang ke Akademi, aku sangat bersemangat untuk mencarinya. Tapi sayangnya, aku mendengar berbagai desas-desus buruk terkait pemuda tak dikenal itu. Ada yang bilang ia sombong, tak tahu diri, tak mengenal besarnya langit dan bumi, bahkan ada yang mengatakan ia telah meniduri seorang gadis cantik dan Akademi tak melakukan apapun.
Karenanya, aku jadi ragu. Mungkinkah pemuda luar biasa yang kudengar di kota itu salah? Apakah sosok sebenarnya dari pemuda itu hanyalah seorang pria brengsek? Apalagi, aku belum pernah menemuinya, jadi aku tidak bisa mengambil kesimpulan."
"Lalu? Pemuda itu ada dihadapanmu sekarang. Jadi apa kesimpulanmu?" tanya Xika sambil tersenyum.
Liu Shang ikut tersenyum mendengar pertanyaan Xika. "Entahlah, bagaimana ya? Ketika aku bertarung di arena dan baru sadar bahwa Xing Xika adalah kau, aku merasa marah. Pada saat itu, aku merasa bahwa kabar yang kudengar di kota itu salah. Xing Xika yang di Akademilah sosok sebenarnya dari pemuda itu.
Tapi sekarang........bagaimana ya? Ia memang agak menyebalkan, tapi kurasa ia bukan pria brengsek. Mengenai rumor tentang meniduri perempuan itu, menurutku itu bohong. Tapi, yah entahlah ya....." ucap Liu Shang sambil tersenyum jahil di akhir kalimatnya.
"Sialan!" Xika juga balas tersenyum.
"Ah, ngomong-ngomong Yin Xingli itu nama yang terlintas di kepalamu waktu aku menanyakan namamu, kan? Memangnya siapa dia? Kenapa namanya bisa terlintas di kepalamu?"
"Yah, ceritanya panjang. Pokoknya, kau sudah tahu namaku sekarang, jadi jangan panggil aku Yin Xingli lagi."
Melihat Xika tak mau bercerita, Liu Shang tak bertanya lebih lanjut mengenai Yin Xingli itu. Kalau dari tebakannya (dan beberapa tatapan yang menatapnya seolah orang gila tiap kali ia menunjuk Xika dan mengatakan namanya adalah Yin Xingli) tampaknya Yin Xingli itu adalah seorang gadis. Siapa yang tahu? Mungkin saja ia kekasih Xika namun mereka mengalami masalah.
Setelah itu Xika meninggalkan Liu Shang agar ia bisa beristirahat. Xika sendiri kembali ke arena untuk menonton pertandingan peserta lain. Karena ia hanya seorang diri, maka ia harus mewaspadai peserta dari sekte dan klan lain. Terutama mereka yang memiliki kekuatan setara dengan Akademi.
Ia bergabung dengan para penonton. Huo Bing memberitahunya siapa saja yang harus diwaspadai dan mengapa. Heiliao juga menambahkan beberapa hal yang dilupakan oleh Huo Bing.
"Burning Abyss Clan? Aku ragu itu bisa menimbulkan ancaman. Di Clan......tampaknya itu patut diwaspadai. Meskipun aku bisa bertanya lebih lanjut pada Di He. Immortal Pearl Pavillion......hehehe......sepertinya aku bisa melunasi dendam lama. Dan yang terakhir.....Sky Devouring Castle? Entah kenapa aku mendapat firasat buruk. Apalagi marganya......"
"Pokoknya, berhati-hatilah. Bagaimanapun juga, ini masih babak penyisihan. Mereka belum menunjukkan kemampuan mereka seluruhnya."
Xika mengangguk. Ia lanjut menonton pertandingan. Tampaknya tidak ada yang terlalu berbahaya. Tapi ini baru babak penyisihan, jadi tentu saja tiap peserta masih menyembunyikan kemampuan mereka. Yah, kebanyakan hanya dari sekte besar yang berhasil menyembunyikan kemampuan. Mereka yang berasal dari sekte kecil harus mengerahkan seluruh kemampuan mereka, jadi tampaknya tidak perlu diwaspadai.
Pertandingan berakhir ketika hari mulai gelap. Tak ada yang terlalu mencolok sampai akhir. Jing Wei memberikan pidato lagi sebelum acara hari ini selesai. Beberapa omong kosong mengenai semuanya telah bertarung dengan baik hari ini dan semoga ikatan antar sekte semakin erat.
Lalu setelah itu ia mengatakan bahwa babak penyisihan masih akan berlanjut sampai dua hari kedepan. Setelah itu barulah babak kedua dimulai.
Huo Bing mengobrol dengan Heiliao di jalan. Mereka mendiskusikan beberapa pertandingan dan peserta yang cukup menarik. Mereka juga membahas pertarungan Xika beberapa kali. Tapi tampaknya Xika tak mendengar mereka. Kepalanya terus bergerak ke sana kemari dari tadi.
Ia mencari Xingli. Apakah Xingli menontonnya? Apakah Xingli melihat pertarungannya? Sekalipun sebagian kecil hatinya tidak ingin Xingli menonton pertandingannya (karena takut ketahuan Xika meminjam namanya) tapi sebagian besar dari dirinya ingin Xingli menonton pertandingannya. Setidaknya, gadis itu tidak benar-benar meninggalkannya. Begitulah harapan Xika.
Kalau Xingli menonton pertandingannya, ada kemungkinan mereka bertemu di jalan bukan?
Tampaknya keinginan Xika terkabul. Di balik arus kemurumunan orang yang bergegas kembali, matanya menangkap sesosok gadis rupawan dengan wajahnya yang tak berekspresi.
Xika berusaha menerobos kerumunan massa. Cukup sulit memang, bahkan beberapa kali ia diprotes orang. Tapi pada akhirnya ia berhasil berdiri di hadapan gadis itu. Hanya berdua, oh-tunggu. Sialan, Heiliao dan Huo Bing ikut menguping di belakang tapi ia akan mengabaikan mereka untuk sekarang.
Ia langsung memasang senyum lebar di wajahnya tapi secepat senyum itu muncul, secepat itu juga senyumnya menghilang ketika ia mengingat pertemuan terakhir mereka. Segala pikiran negatif itu......Xingli yang meningalkannya........Kini ia jadi tak tahu harus bagaimana. Apa yang harus ia lakukan? Kenapa Xingli muncul tanpa aba-aba sih? Setidaknya beri tanda dulu agar ia bisa siap-siap.
Ngomong-ngomong, belakangan ini ia selalu bersiap bingung ketika bertemu Xingli.
"Hei.......apa kau menonton pertandingannya?"
Xingli mengangguk tanpa ekspresi. Setelah itu ia diam. Xika menunggu beberapa saat tapi Xingli hanya diam. Kadangkala gadis itu suka menyampaikan pendapatnya melalui pandangan matanya. Tapi kali ini matanya benar-benar tidak berekspresi.
Entah kenapa Xika merasa hatinya sangat sakit. Ia sudah terbiasa melihat wajah Xingli yang tak memiliki ekspresi. Tapi melihat matanya yang tanpa ekspresi itu.....ukh! Ia bisa membaca tatapan Xingli, apa yang ia sampaikan melalui pandangannya, dan Xika bangga akan hal itu.
Karena hanya ia yang bisa melakukan hal itu, ia merasa bahwa ia adalah orang yang spesial bagi Xingli. Dan memang seperti itu kenyataannya. Apalagi, Xingli kadangkala menunjukkan ekspresi unik di wajahnya yang hanya bisa dilihat oleh Xika. Tapi kali ini, melihat wajahnya yang sama sekali tanpa ekspresi, melihat matanya yang tanpa ekspresi.......Xika merasa ia tak ada bedanya dengan orang lain. Ia merasa seolah hubungan mereka telah mundur seolah ini adalah pertemuan pertama mereka. Seolah Xingli yang menyukainya tak ada lagi. Ia sudah tak memiliki kesempatan.
"Aku.........harus pergi." Akhirnya Xingli bicara.
"O-oh....begitu......K-kapan kau akan kembali....?" tanya Xika agak canggung.
Xingli diam sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya.
"A-apa......?" Xika tak mengerti arti gelengen kepala Xingli. Bukan, bukan ia tidak mengerti. Ia tak mau mengerti. Ia menatap mata Xingli. Kali ini ia bisa membaca tatapan Xingli, dan ia tidak menyukainya.
"J-jangan bilang..........kau tidak akan kembali? Ah, aku tahu! Kau akan pergi untuk waktu yang lama, ya? Beberapa tahun mungkin?"
Xingli juga balas menatapnya. Dan kali ini gadis itu memberikan pandangan yang berarti 'kau tahu maksudku'.
Xika menelan ludah di tenggorokannya, berharap bisa menghilangkan perasaan tidak enak yang muncul di hatinya.
"K-kalau boleh tahu........kemana kau pergi.......?"
".................."
Lagi. Xingli hanya diam lagi. Bahkan di saat perpisahan seperti ini, Xingli kembali diam? Bukankah terakhir ia sendiri mengatakan bahwa ia akan bicara? Kenapa malah jadi seperti ini?
__ADS_1
SWUSH!
Sekelebat bayangan muncul di belakang Xingli. Sosoknya berupa pria dewasa yang tegap. Pria itu menunduk hormat pada Xingli kemudian berbisik di telinganya. Siapa pria itu sebenarnya? Xingli tidak pernah sedekat itu dengan pria manapun selain dirinya sebelumnya.
Apa pria itu ayah Xingli? Tidak, tidak mungkin. Kalau pria itu ayah Xingli, tidak mungkin ia menunduk hormat seperti itu pada Xingli. Jadi siapa pria itu? Keluarga sudah pasti bukan. Mungkinkah pelayannya? Tapi Xika merasakan aura kuat yang tak akan dipancarkan oleh pelayan manapun di Dinasti Lin.
"Nona, kita harus pergi."
Hanya itu kalimat yang Xika dengar. Kemudian ia melihat Xingli mengangguk.
"Tunggu dulu! Sebenarnya kemana kau akan pergi? Dan siapa pria itu?" tanya Xika sambil menyentuh bahu Xingli.
"Bocah! Singkirkan tangan kotormu dari Nonaku!" geram pria itu.
"Apa?!"
Melihat Xika tak langsung melepas tangannya setelah diperingati, pria itu melambaikan tangannya. Sesaat kemudian, angin besar yang mencabik-cabik datang menghempaskan Xika.
"Xika!"
Dari tempat persembunyian mereka, Huo Bing dan Heiliao berlari keluar. Huo Bing menatap pria itu dengan amarah. Tapi sedetik kemudian pandangannya berubah menjadi tatapan waspada. Pria ini kuat! Bahkan, mungkin lebih kuat dari dirinya dan Heiliao.
Sebelum Huo Bing dan Heiliao mengambil tindakan, Xika sudah berdiri. Ia bangun dengan tatapan amarah di matanya. Kartunya melayang di samping. Xika mengambil dua buah kartu dan melapisinya dengan empat elemen.
"Second Style: Double!"
WUSH!
Dua buah tebasan berisi empat elemen terarah pada pria itu. Xika memasukkan banyak qi kedalamnya, jadi harusnya bisa melukai pria itu.
"Hmph! Dengan kekuatan selemah ini kau menginginkan Nona Mudaku?"
Lagi-lagi pria itu hanya melambaikan tangannya. Tapi kali ini angin yang lebih besar dan dahsyat muncul dan mengoyak serangan Xika sampai hancur tak bersisa. Bahkan, serangannya masih terus maju menuju Xika.
Apa? Xika tak dapat bereaksi terhadap serangan pria itu karena terkejut serangannya dapat dipatahkan semudah itu. Capsah Technique adalah teknik terkuatnya. Apalagi, ia menggabungkan teknik itu dengan kombinasi empat elemennya. Bahkan di pertarungannya dulu dengan Tian Yin, sekalipun ia memiliki perbedaan kekuatan yang cukup jauh, ia masih bisa memberikan luka berat bagi Tian Yin.
Set!
Huo Bing tiba di depan Xika dengan tangannya membentuk cakar dan mengayunkannya hingga membentuk angin sayatan. Angin Huo Bing dan angin miliki pria itu bertemu dan beradu selama beberapa saat sebelum keduanya saling meniadakan.
"Oh? Lumayan juga kau......" Pria itu menatap Huo Bing beberapa saat sebelum keningnya berkerut. "Mahkluk apa kau ini?"
"Mahkluk yang akan membunuhmu kalau membawa gadis itu pergi!" ucap Huo Bing sambil menyeringai.
Huo Bing jelas menyadari kekuatan lawannya ini, jadi ia tidak bisa bersantai. "Serigala Gosong!" teriaknya.
Heiliao juga mengerti bahwa pria di depan mereka ini bukan pria biasa. Sementara Huo Bing mengumpulkan elemen api dan es di tangannya, Heiliao mengumpulkan elemen ruang.
"Dan kau....." Kerutan di alis pria itu lebih dalam daripada ketika ia menatap Huo Bing. Ia tak sempat melanjutkan perkataanya karena Huo Bing dan Heiliao sudah menembakkan serangan mereka.
Api, es, dan ruang. Tiga elemen dengan kombinasi yang aneh menyatu menuju pria itu. Dan kali ini, pria itu juga tidak bersikap sombong seperti ketika ia menghadapi serangan Xika. Pandangannya menajam, kemudian ia mengangkat tangannya dan melapisinya dengan angin yang mengoyak.
"HEAH!"
Pria itu meninju serangan gabungan Huo Bing dan Heiliao hingga membentuk kabut di sekitar mereka. Beruntung tidak ada orang di sekitar mereka karena banyak yang cepat-cepat beristirahat untuk mempersiapkan diri untuk kompetisi esok.
Ketika kabut menghilang, muncullah sosok pria tersebut. Ia baik-baik saja. Selain sedikit goresan di lengannya, ia tidak mendapat luka apapun.
Xika menatap pria itu dengan terkejut. Huo Bing dan Heiliao menggabungkan serangan mereka dan itu masih tidak cukup untuk melukai pria itu? Tidak seperti Xika, Huo Bing dan Heiliao tampaknya sudah menduga hasil itu.
"Cih, sialan!"
".........."
"Oh? Menarik. Kalian punya kemampuan. Tidak heran kau percaya diri ingin mendapatkan Nona Mudaku, nak! Ternyata kau ditemani oleh mahkluk-mahkluk aneh nan ajaib. Tapi itu masih belum cukup bila kau ingin bersama Nona Mudaku, nak!"
Sambill berbicara, pria itu mengumpulkan angin di tangannya, kali ini dalam jumlah yang lebih besar dibanding sebelum-sebelumnya. Kemudian ia menghempaskannya menuju Xika.
Xika tak berani bersantai melihat serangannya berhasil dipatahkan dengan mudah oleh pria itu. Kali ini ia mengambil tiga kartu, dan melapisinya dengan lima elemen. Ia jarang menggunakan lima elemen karena ingin menyembunyikan kemampuannya. Tapi untuk saat ini, tampaknya ia tidak perlu menahan diri.
Sama seperti Xika yang serius, Huo Bing dan Heiliao juga bersungguh-sungguh dalam memberikan serangan mereka. Api di tangan kanan, es di tangan kiri. Kemudian Huo Bing menggabungkan keduanya hingga membentukk elemen gabungan, mirip seperti Xika. Sementara Heiliao, tatapannya menajam. Di tangannya, ruang seolah tersedot.
Kemudian pada saat yang bersamaan, ketiganya menembakkan serangan mereka.
SYUSH!
BWOSH!
SSSHHH!
Serangan mereka beradu dengan pria pelayan itu hingga menimbulkan kabut lagi. Cukup mengherankan tak ada yang datang mengingat mereka membuat keributan yang cukup besar. Setelah beberapa saat, kabut mulai menghilang dan terlihatlah Xika yang berbaring penuh luka sayat serta Huo Bing dan Heiliao yang terluka. Keduanya menatap tajam pada pria pelayan itu.
"Lumayan juga serangan kalian. Sayangnya, kalian masih terlalu lemah. Kalau kalian berada di tingkat yang sama denganku, aku pasti sudah kalah."
__ADS_1
Xika menggertakkan giginya. Di antara mereka bertiga, ialah yang paling lemah. "Huo Bing! Heiliao! Ayo kita lakukan itu!"
Huo Bing dan Heiliao terlihat kaget dan ragu. Tapi sebelum mereka mengambil keputusan, pria pelayan itu kembali bicara.
"Oh? Kalian masih punya teknik lain? Kemarilah! Keluarkan semuanya! Biar kutunjukkan pada kalian bahwa semua itu tak ada gunanya di hadapan kekuatan sejati." Ia mengangkat tangannya dan melapisi kedua tangannya dengan angin pencabik.
Melihat tak ada pilihan lain, Huo Bing dan Heiliao hanya bisa menyetujui usul Xika. Ketiganya duduk bersila dan menutup mata. Namun beberapa saat kemudian, mereka batuk hingga mengeluarkan darah. Nampaknya apapun yang hendak mereka lakukan, mereka gagal.
Namun tentu saja, pria itu tak akan menunggu mereka sampai berhasil. Apalagi, ini saat yang tepat untuk memberi pelajaran pada bajingan yang berani menginginkan Nona Mudanya. Sayangnya, sesaat ketika ia hendak menembakkan serangannya, Xingli melangkah ke depannya dan menggelengkan kepalanya.
Angin di tangan pria itu langsung menghilang. Xika terkejut melihatnya. Untuk bisa menghilangkan elemen di kedua tangan dalam waktu yang sesingkat itu menunjukkan betapa hebatnya kontrol pria itu terhadap elemennya.
Perhatian Xika teralih karena pria itu. Kemudian ia kembali tersadar ketika melihat Xingli menatapnya. Dan perasaannya semakin memburuk melihat tatapan Xingli. Gadis itu kini berekspresi. Ekpresi yang menunjukkan bahwa mereka akan berpisah, sekalipun tampaknya Xingli enggan melakukannya. Ekspresi yang Xika benci.
Huo Bing dan Heiliao juga diam menatap Xingli. Setelah beberapa saat, barulah Heiliao buka suara.
"Sebelumnya kau bilang tak akan melukai Xika. Inikah yang kau maksud?" ucapnya sambil menatap tajam gadis itu tanpa mempedulikan darah yang menetes dari sudut mulutnya.
Hebatnya, Xingli mengabaikan Heiliao, seperti yang selalu dilakukan gadis itu. Ia berjalan maju tak mempedulikan niat membunuh yang merembes deras dari Heiliao. Juga tatapan Huo Bing yang.......ia tak terlalu peduli untuk melihatnya.
Akhirnya, langkah kaki Xingli berhenti di depan Xika. Gadis itu diam selama beberapa detik, kemudian mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, di dekat lehernya. Ia menunjukkan dua buah kalung yang tergantung di lehernya yang cantik.
Kalung pertama berbentuk tetesan air berwarna perak, sementara kalung yang lain berbentuk bintang dengan garis-garis di belakangnya sehingga menimbulkan kesan bintang jatuh. Kalung yang kedua juga berwarna perak sama seperti kalung yang pertama.
Xingli melepaskan kalung yang berbentuk bintang jatuh itu dan memberikannya pada Xika.
"Ini hadiah dari ibuku." ucapnya setelah ragu beberapa saat. "Anggap saja ini kenang-kenangan terakhir dariku."
Xika menarik tangannya. Ia tak mau menerima kalung itu.
"Tidak. Kau pasti bohong. Ini bukan yang terakhir. Kita pasti akan bertemu lagi." Perasaan tidak enak yang muncul di hatinya kini semakin bertambah banyak hingga ia tak sadar telah meneteskan air mata. Sayangnya, Xingli hanya diam tak berekspresi sekalipun Xika telah mencurahkan emosinya.
Gadis itu mengambil tangan Xika. Kemudian menaruh kalung itu di tangan Xika dan menutup tangannya. Pria tegap di belakangnya mengernyitkan alisnya melihat adanya kontak fisik Nona Mudanya dengan bocah kampung. Tapi ia tak melakukan apapun, karena itu adalah kehendak Nona Mudanya.
"........Selamat tinggal." ucapnya setelah diam sekian lama. Setelah mengatakan itu, Xingli berjalan kembali ke pria itu. Xika berusaha mengejarnya tapi tertahan oleh dinding angin yang dibuat pria itu.
Pria itu memegang pundak Xingli kemudian menekuk kakinya, bersiap terbang.
SRING!
Mendadak tubuh Xika bercahaya. Ia menggunakan teknik Star Glance. Terakhir kali Xingli menumpahkan emosinya ketika ia menggunakan teknik ini.
Xingli bahkan sampai tersentak. Ia berhenti dan menoleh pada Xika yang kini bercahaya. Wajahnya bergerak-gerak beberapa kali. Nampaknya gadis itu berusaha keras agar tak menampilkan ekspresi apapun, yang pastinya sangat sulit.
WUSH!
Melihat Nona Mudanya kembali ragu, pria itu segera membawa Xingli terbang menghilang ke kegelapan malam. Ia sudah berusaha keras meyakinkan Nona Mudanya untuk pergi, ia tak akan membiarkan usahanya sia-sia hanya karena seorang bocah belaka.
"TUNGGU!"
WRETH!
SWOSH!
Angin kencang yang mencabik muncul dan menahan Xika serta Huo Bing dan Heiliao. Setelah beberapa saat, angin itu menghilang.
"Angin itu tidak melukai kita. Tampaknya ia hanya tak ingin kita mengejarnya." ucap Huo Bing.
Tapi Xika sudah tak dapat mendengar perkataannya lagi. Ia kini tengah berlutut di tanah menatap tangannya yang membungkus kenang-kenangan terakhir dari Xingli. Perlahan, ia membuka kepalan tangannya. Ia berusaha mengingat sentuhan lembut Xingli di tangannya.
Tangannya bergetar. Ia tak percaya ia tak akan melihat Xingli lagi. Ia tak percaya, setelah semua yang mereka lalui bersama, hanya kalung ini yang tersisa dari Xingli.
"Apa ini? Kau memintaku berjanji untuk tidak meninggalkanmu, tapi pada akhirnya kau yang meninggalkanku? Setidaknya......berikan aku petunjuk." ucap Xika masih sambil melihat kalung pemberian Xingli.
Kemudian, mendadak matanya menangkap sesuatu di kalung itu. Sebuah kertas. Xika membukanya dan membaca isinya.
'Hurricane Ocean. Penguasa Angin. Penguasa Air.'
Hanya itu isinya. Pesan yang singkat. Tapi Xika memegangnya erat-erat. Setidaknya ia memiliki petunjuk. Dengan begini, setidaknya ia masih memiliki kesempatan bukan?
"Apa ini artinya.....kau masih menyukaiku?" tanya Xika sambil menatap langit.
Tentu saja, tak ada jawaban. Xingli telah pergi bersama pria tegap yang sangat kuat itu.
Tes!
Setetes air jatuh ke pipi Xika. Padahal tidak ada hujan. Tapi ia tahu itu bukan air hujan. Ia juga tahu itu bukan air biasa. Itu adalah air mata Xingli.
Artinya, Xingli juga merasa sedih akan perpisahan mereka. Xingli juga pasti ingin bertemu dengannya lagi. Xingli juga meyakini bahwa ini bukanlah pertemuan terakhir mereka, sama seperti dirinya. Xingli juga masih memiliki perasaan padanya. Xingli juga masih mengingat janji mereka. Hanya setetes air, namun membawa sejuta pesan.
Xika menatap kalung di tangannya, kemudian kertas yang terselip di dalamnya. Ia memasukkan kembali kertas itu ke dalam kalung. Kemudian menggenggam erat-erat kalung itu, satu-satunya kenang-kenangan dari Xingli. Dan akhirnya, ia menyampaikan apa yang tidak berani ia sampaikan selama ini.
"YIN XINGLI, AKU MENCINTAIMU!"
__ADS_1