Card Cultivation System

Card Cultivation System
CCS-119


__ADS_3

Han Mang menatap pisau Xika yang siap menebas lehernya. Keningnya sedikit berkerut.


"Aku membantumu membunuh pria besar itu sebelumnya dan begini balasanmu?"


"Aku membantumu agar tidak dimakan serigala."


"Apa maksudmu?"


"Bukan aku yang pertama menemukanmu. Para serigala hendak memakanmu, namun aku menghentikan mereka. Kau pikir kaum serigala akan membiarkanmu hidup setelah kau meracuni taman mereka? Karena dirikulah kau bisa bernegosiasi dengan para serigala."


Kening Han Mang masih berkerut. Ia memikirkan apa yang Xika katakan. Ia tidak tahu apa anak itu berbohong apa tidak. Kalaupun iya, Xika adalah pembohong handal yang tidak memberikan keraguan dan sangat pandai membuat ekspresi sehingga dapat menyebabkan orang lain salah paham.


"Aku harus mengetahui asal-usulmu dulu untuk dapat mengatakan apakah kita adalah kawan atau lawan."


"Masuk akal. Tapi kalau begitu lebih baik kau yang memberitahuku latar belakangmu. Biar aku sendiri yang menentukan apakah kau lawan atau kawan."


Han Mang hendak protes tapi Lang Jin telah menyalak kembali dengan buas. Xika membalas serigala itu.


"Baiklah. Aku akan bicara dengannya. Ya, kupastikan kau mendapat lima puluh lima persen. Tentu, aku akan menjaganya agar tidak kabur. Apa kau pikir ia bisa kabur dengan kondisi seperti ini?"


Lang Jin memberikan dengusan kasar. Kemudian ia pergi dengan Lang Shu. Ia meninggalkan dua serigala untuk menjaga Xika dan Han Mang. Mungkin lebih tepat untuk dikatakan mengawasi.


Xika kembali menoleh pada Han Mang. Pemuda itu menunjukkan ekspresi tak berdaya. Ia lebih memilih menghadapi para serigala dibanding Xika. Ia sudah mengetahui para serigala dan para serigalapun tahu siapa dan darimana dirinya. Berbeda dengan Xika, ia sama sekali tidak tahu apapun tentang anak itu.


"Jadi?"


"Bagaimana kalau aku menolak?"


"Entahlah. Mungkin saja tanganku tergelincir. Pisau ini cukup berat, kau tahu."


Han Mang merengut. Ia sangat kesal dengan kondisinya saat ini. Terlebih pada orang yang menyebabkannya seperti ini.


"Bagaimana aku yakin kau tidak akan membunuhku meskipun aku sudah memberitahu latar belakangku?"


Entah mengapa, Han Mang memiliki firasat bahwa Xika bukanlah tipe yang takut dengan latar belakang seseorang. Jadi ia tidak menggunakan latar belakangnya untuk mengancam Xika. Dan keputusannya itu terbukti benar.


"Tidak ada jaminan." ucap Xika sambil mengangkat kedua bahunya. "Kau tidak berada dalam posisi untuk tawar-menawar."


Ekspresi Han Mang semakin memburuk.


"Dengar, kita tidak memiliki hubungan yang buruk sebelumnya. Bahkan bisa dibilang cukup baik. Dan aku tidak berniat membuat hubungan itu menjadi buruk, oke? Tapi latar belakang seseorang cukup penting bagiku. Aku memiliki musuh yang berasal dari keluarga besar, dan aku harus memastikan apa kau ada di pihaknya atau pihakku."


"Berjanjilah kau tidak akan membunuhku setelah aku memberitahu latar belakangmu. Juga, katakan siapa musuhmu."


"Aku berjanji." ucap Xika tanpa keraguan sedikitpun. Han Mang melihat hal itu dan yakin Xika adalah pria terhormat yang akan menepati janjinya dilihat dari ekspresi wajahnya.


Tapi sayangnya Han Mang salah. Xika bukanlah pria terhormat yang ada dalam pikirannya. Xika adalah pria busuk yang tidak akan ragu untuk melanggar sumpahnya dan tidak akan merasa berdosa sama sekali. Sejak kecil, ia tumbuh dalam penghinaan. Dan ia hampir tidak memiliki kehormatan sama sekali. Meskipun begitu, ada saat dimana Xika benar-benar bersikap terhormat dan memegang janjinya dengan sungguh-sungguh. Yah, itu semua tergantung pada siapa ia berjanji.


Han Mang salah mengartikan ekspresi Xika. Ia mengartikannya sebagai ekspresi yang tidak akan melanggar janjinya apapun yang terjadi. Tapi sebenarnya ekspresi Xika itu adalah ekspresi yang tidak akan peduli sama sekali untuk melanggar apapun yang keluar dari mulutnya. Bisa dibilang Xika adalah pria brengsek sekaligus pria terhormat. Membingungkan, memang.


Han Mang menghela nafas. Ia tidak punya pilihan lain.


"Namaku bukan Han Mang. Itu hanya nama samaran. Namaku yang sebenarnya adalah Shu (署) Mang. Aku harus menyembunyikan identitasku, kalau tidak banyak yang akan mengincarku. Aku berasal Divine Array Clan. Klan yang berspesialis dalam array, formasi, simbol, matriks dan semacamnya."


"Kenapa kau tidak memberitahu klanmu tentang harta yang kau temukan? Bukankah akan lebih mudah kalau kau lakukan itu?"


"............"


Han-Shu Mang tidak menjawab. Xika tidak memaksanya. Ia bisa menebak alasannya kira-kira. Ia bukan keturunan langsung dari pemimpin klannya. Atau ia tidak memiliki status yang baik, jadi kalau bisa ia ingin menyimpan harta itu untuk dirinya sendiri. Bisa juga ia memiliki saingan berat dalam klannya dan tidak mau harta itu diketahui. Yah, yang manapun alasannya, tidak terlalu penting.


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Sekarang giliranku bertanya. Siapa musuhmu? Darimana kau berasal?"


"Siapa musuhku? Hmm......namanya siapa ya.........................Sepertinya aku tidak tahu........"

__ADS_1


Shu Mang memberikan pandangan aneh. 'Kau bahkan bermusuhan dengan orang yang tidak kau tahu namanya?' setidaknya itulah yang ingin dikatakannya.


"Ah! Tapi aku bisa mendeskripsikan ciri-cirinya. Ia terlihat sangat sombong, arogan, sialan, pria brengsek yang tidak layak hidup, dan....hmm.....apa lagi ya?"


Pandangan Shu Mang tidak berubah. Malahan semakin bingung. Apa yang dikatakan Xika lebih terdengar seperti perasaannya terhadap orang itu dibanding ciri-cirinya.


"Apa kau tidak punya ciri-ciri lain? Pakaiannya biasa, senjatanya, atau tekniknya?"


Xika berpikir sebentar.


"Ah, ya. Ia bisa menggunakan dua elemen. Air dan api. Apa itu membantu? Seharunya tidak banyak yang bisa melakukan itu bukan?"


Shu Mang melebarkan matanya. Tubuhnya tersentak ketika mendengar ciri-ciri yang disebutkan Xika dan itu membuat tubuhnya menjerit kesakitan. Memang tidak banyak orang yang memiliki dua elemen seperti itu, apalagi yang bertentangan seperti api dan air. Sebuah nama muncul dalam kepalanya. Dan bersamaan dengan itu, muncul juga berita beberapa bulan lalu yang masih menjadi perbincangan hangat sampai sekarang.


Kemudian sebuah dugaan melintas dalam pikirannya. Dugaan liar yang terlalu hebat yang bahkan dirinyapun tidak berani mempercayainya. Kemudian ia menolak gagasan itu. Tidak mungkin. Tidak mungkin itu adalah Xika.


"Hm? Melihat reaksimu sepertinya kau pernah dengar ya? Yah, itu tidak terlalu penting. Sekarang katakan, apa kau, atau klanmu, berteman dengannya atau bermusuhan dengannya?"


"............baik aku maupun klanku tidak berteman ataupun bermusuhan dengannya."


"Singkatnya netral ya? Lalu......bagaimana aku bisa yakin bahwa kau tidak berbohong untuk hidup?"


Shu Mang memberikan tawa mengejek.


"Aku lebih baik mati daripada mengemis untuk hidup. Aku tidak akan berbuat hal serendah itu."


Xika menatap Shu Mang lekat-lekat. Sebagai seorang pria brengsek, ia akan mengenali pria brengsek lainnya. Tapi Shu Mang berbeda dengannya. Ia cukup terhormat, meskipun kadang misterius dan menyembunyikan beberapa hal, tapi ia bukanlah pria brengsek. Dan Xika tahu Shu Mang mengucapkan hal itu dengan sungguh-sungguh.


Xika membuang nafas sambil menaikkan kedua bahunya. Setidaknya Han Mang bukanlah lawan, meskipun bukan kawan juga.


"Kau sudah tahu latar belakangku. Apa kau bisa singkirkan pisau ini?"


Selama mereka bicara tadi, pisau Xika tetap di tempatnya dan ia tidak memindahkannya sama sekali. Hal itu membuat Shu Mang kesulitan bicara tapi Xika beprura-pura tidak mengetahuinya. Xika melihat pisaunya sekilas dan memberikan ekspresi seolah ia lupa.


Dan ia menarik pisaunya kembali. Shu Mang bernafas lebih baik.


"Siapa kau? Darimana kau berasal?" tanya Shu Mang setelah nafasnya lebih baik.


"Siapa aku? Aku Xing Xika. Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Itu nama asliku. Aku tidak menggunakan nama samaran. Darimana aku berasal? Pertanyaan yang bagus. Aku juga ingin tahu."


Shu Mang mengerutkan keningnya. Jawaban Xika itu sama sekali diluar dugaannya.


"Apa maksudmu? Setidaknya kau bisa memberitahuku kau berasal dari klan apa."


"Klan ya........."


Xika menatap langit sebentar. Ia memikirkan pertanyaan Shu Mang.


"Aku juga ingin tahu."


Shu Mang semakin bingung. Ia berpikir Xika bermain-main dengan dirinya.


"Apa-apaan kau?! Bukannya kau sudah berjanji sebelumnya?"


"Aku bukannya tidak ingin memberitahumu, tapi tidak bisa memberitahumu karena aku juga tidak tahu darimana diriku berasal atau dari klan mana."


"Setidaknya kau bisa menjelaskan sedikit masa lalumu."


"Masa lalu ya.........


Yah, aku hidup luntang-lantung dari kecil. Aku tidak tahu atau ingat dari daerah atau klan mana diriku berasal. Aku hanya seorang biasa yang tidak punya nama dan hidup dalam penghinaan."


Shu Mang membentuk ekspresi yang berbeda. Ekspresi yang sulit diartikan. Satu kata dari Xika dan ia kembali teringat kenangan masa lalunya. Penghinaan.

__ADS_1


"Dasar anak tidak berguna! Persis seperti orangtuanya! Sialan, kenapa aku harus memiliki adik yang begitu bodoh dan keras kepala? Sudah kubilang untuk menjauhi pria itu!"


"Kau lihat anak itu? Kau tidak boleh bergaul dengannya. Ia hanya membawa pengaruh buruk."


"Minum obat ini atau kau akan menjadi seperti anak itu."


"Hei, menurutmu mengapa ia masih dibiarkan hidup sampai saat ini?"


"Entahlah. Mungkin untuk dijadikan korban suatu hari nanti."


"Hahahaha......."


"Hahaha......."


"Bocah sialan! Kau bahkan tidak memiliki bakat sama sekali. Untuk apa kau tinggal disini? Pergi sana!"


"Hei, anak setan! Pergi kau! Kau tidak boleh berada disini.!"


"Benar! Ini bukan tempatmu! Pergilah anak setan!"


"Anak tidak berguna! Kau dipukuli lagi? Sudah kubilang untuk tidak mengganggu mereka!"


"Anak itu sangat bodoh. Bakatnya sungguh buruk. Berapa lama lagi kau akan membiarkannya tinggal disini? Bahkan anak paling bodoh saja memiliki bakat yang lebih baik dari dirinya."


"Dasar anak setan! Anak setan~ Anak setan~"


"Hahahaha.....Anak setan~"


"Ada apa dengan ekspresimu?"


Shu Mang kembali tersadar. Ia teringat kenangan masa lalunya yang memilukan. Ia menatap Xika dan kembali sadar apa yang sedang ia lakukan.


"Lalu apa yang kau lakukan disini?" tanya Shu Mang.


Xika mengangkat kedua bahunya.


"Mencari jati diri." jawab Xika asal.


Shu Mang kembali terdiam.


"Jadi bagaimana? Kau akan memberikan sebagian harta itu untukku?"


"..........sepuluh persen. Aku akan membagi sepuluh persen. Tiga puluh lima persen sisanya milikku dan tidak ada pihak keempat."


Xika mengangkat kedua alisnya cukup terkejut.


"Terima kasih."


Han Mang tidak menjawab. Ia menatap bintang di atasnya dan memikirkan berbagai hal. Xika melihat hal itu dan tiduran di sebelah rumput ungu yang mengeliling Shu Mang. Pikirannya juga mengembara.


Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sibuk memandang bintang yang bersinar terang nan jauh di atas sana.


"Kenapa kau tetap disini?"


"Aku tidak akan bisa kemana-mana. Lagipula setidaknya aku bersama dengan manusia." Kemudian Xika menoleh pada Shu Mang. "Jangan terlalu curiga padaku. Tapi juga jangan terlalu percaya padaku. Kita adalah orang asing yang kebetulan bertemu. Bukan teman, bukan juga musuh."


Shu Mang menatap Xika.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Aku hanya menjawab berdasarkan apa yang kudengar. Kau bukan teman dari musuhku, yang berarti kau bukan musuh. Tapi kau juga bukan musuhnya musuhku, dan itu berarti kita bukan teman. Untuk saat ini, mari menjadi orang asing."


"Apa kriteriamu memilih teman berdasarkan hubungan mereka dengan musuhmu?"

__ADS_1


"Untuk saat ini, ya."


__ADS_2