
Tubuh Huo Bing bersinar. Semakin lama semakin terang.
Xika dan Heiliao melihat Huo Bing dengan tatapan terkejut. Sesaat kemudian, raut wajah Heiliao berubah menjadi buruk.
"Apa yang ia lakukan?" tanya Xika yang melihat ekspresi wajah Heiliao.
"Ia hendak meledakkan dirinya. Mungkin ia tidak bisa menghadapi kenyataan."
"Apa?"
Xika langsung mendekat dan berteriak,
"Hoi burung bodoh! Apa yang kau lakukan? Hentikan perbuatanmu sekarang juga!"
Tapi Huo Bing tidak mendengarnya. Ia sudah terlalu larut dalam kesedihannya. Baginya, ia sudah tak layak hidup. Ia hendak mengakhiri hidupnya dan tak ada yang bisa mengubah keputusannya.
Xika terus berteriak, tapi Huo Bing semakin bersinar.
"Ini gawat. Kalau seperti ini terus, sebentar lagi ia akan meledak!"
"Ck, sialan!"
Kalau perkataan tidak mempan, maka ia akan menggunakan tindakan.
Xika maju dan meninju wajah Huo Bing.
Tubuh Huo Bing berhenti sesaat. Ia tidak bertambah terang, tapi juga tidak meredup.
"Xika.............kalau kau bisa memukulku sampai mati, aku bersedia menerimanya."
"Apa? Otakmu kemana bodoh?"
Kemudian Xika menendang Huo Bing yang diterimanya tanpa perlawanan.
"Kenapa kau mengakhiri hidupmu?!"
"Karena aku sudah tidak layak hidup. Terima kasih sudah menyadarkanku."
"Ck, dasar burung setengah matang! Aku akan membuatmu 'matang'."
Setelah itu Xika menyerang Huo Bing berkali-kali. Mulai dari pukulan, tendangan bahkan sampai makian. Huo Bing benar-benar pasrah. Ia tidak bertahan atau menghindar sedikitpun.
Xika sampai kehabisan akal. Apa yang harus dilakukannya untuk menyadarkan Huo Bing?
"Tetaplah hidup, bodoh!"
"Untuk apa? Aku sudah membuat banyak nyawa melayang. Dan bagi mereka aku adalah peneyelamat mereka. Padahal aku yang telah membunuh mereka."
"Justru karena itu kau harus hidup bodoh! Kau pikir hanya dirimu yang merasa bersalah? Kau pikir kau telah membuat banyak nyawa melayang karena itu kau tidak layak hidup, jadi kau hendak mengakhiri hidupmu?"
".................."
Huo Bing diam tak bisa membalas.
"KAU HARUS HIDUP BODOH! KAU PIKIR BAGAIMANA NASIBKU BILA KAU MATI HAH?!! SIAPA YANG AKAN MENEMANIKU BERDEBAT?"
".................."
"Apa kau pikir aku akan membiarkanmu mati, HAH?! KAU MERASA BERSALAH? KALAU BEGITU TETAPLAH HIDUP BODOH! HIDUPLAH UNTUK MENEBUS SEMUA DOSAMU! KAU PIKIR APA ALASANKU BERTAHAN HIDUP DIBAWAH SEMUA HINAAN DAN MAKIAN ITU?"
Deg!
__ADS_1
Perlahan Huo Bing mengangkat kepalanya. Cahaya kembali muncul di matanya.
"Kalau kau merasa bersalah, maka hiduplah untuk menebus dosamu......................"
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku juga mengalami hal yang sama. Tapi karena itulah kita tidak bisa mati. Mati terlalu ringan bagi kita. Belum. Belum saatnya bagi kita untuk mati."
"Tapi.........bagaimanapun juga aku telah mengakibatkan banyak nyawa melayang. Aku tidak berhak menghirup udara yang sama dengan mereka."
"Tapi kau juga tidak berhak mati begitu saja. Kalau kau merasa bersalah atas nyawa yang melayang itu, tetaplah hidup. Tetaplah hidup dan balaskan dendam mereka agar mereka bisa tenang di alam sana."
Huo Bing diam mendengar perkataan Xika. Tubuhnya tidak lagi bercahaya. Tapi ia masih butuh alasan hidup.
Xika tahu hal itu. Dan ia memberikannya.
"Lagipula kau juga pernah hampir membunuhku. Kau juga telah berdosa padaku.
Karena itu, tebuslah dosamu padaku. Dengan tetap hidup. Mengerti?
Kalau itu masih belum cukup, akan kuberikan alasan lain.
Kau sudah membuatku bisa berkultivasi. Dan aku belum membalas jasamu. Perjanjian kita belum berakhir. Kau tidak bisa meninggalkanku. Apa kau berniat membuatku mengingkari janjiku?"
Huo Bing tersenyum kecil.
"Baiklah. Aku akan tetap hidup."
Selain itu, masih ada satu lagi alasan yang belum dikatakan Xika. Malam itu, ketika ia menceritakan masalalunya pada Huo Bing, burung itu berjanji didepannya. Meskipun ia tertidur, entah mengapa kata-kata Huo Bing masuk ke kepalanya. Dan ia mendengar janji Huo Bing dengan utuh.
Kau belum menepati janjimu. Bagaimana kau bisa tahu kalau aku tidak akan mengalami hal seperti itu lagi bila kau tidak bersamaku?
Setelah itu mereka duduk bersama dan menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Mereka saling berbagi kisah. Baik menyedihkan maupun menyenangkan.
Huo Bing dan Heiliao menceritakan kisah hidup mereka. Sementara Xika, ia belum hidup cukup lama untuk bisa berbagi kisah, jadi ia menceritakan kisah-kisah yang ia baca sewaktu kecil.
Baik Huo Bing maupun Heiliao mengakui bahwa anak itu berbakat dalam bidang itu. Melalui kisahnya, terlihat jelas bahwa Xika sangat menyukai buku. Terutama buku yang berisi berbagai kisah tentang kehidupan.
Malam itu, mereka berpesta dengan daging Cobra, si pemimpin. Dan dagingnya benar-benar enak sesuai dugaan mereka. Pilihan mereka untuk memakannya terakhir memang tidak salah.
Esoknya, mereka membahas mayat ular itu.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan terhadap mayat itu? Aku sama sekali tidak tahu formasi apa yang terukir di bawahnya." tanya Huo Bing sangat berbeda dengan kemarin.
Kemarin matanya tidak lagi berwarna, dan tidak memiliki alasan untuk hidup. Hari ini, matanya begitu berbeda. Matanya membawa warna semangat hidup. Begitu juga dengan nada bicaranya. Sebelumnya adalah nada kosong tanpa harapan yang menunggu kematian menjemput. Tapi sekarang, adalah nada percaya diri dan penuh antisipasi untuk menantikan apa yang akan terjadi di masa depan.
"Haruskah kita mencoba mengaktifkan formasi itu? Mungkin itu adalah kunci agar kita bisa keluar dari tempat ini."
"Tapi itu berbahaya. Baik aku maupun burung setengah matang itu tidak tahu formasi apa itu. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan formasi itu."
"Tapi bagaimana kita bisa tahu formasi apa itu bila kita tidak mencobanya?"
"..................."
"Andai saja ada mahkluk hidup lain sehingga kita bisa memintanya mencoba formasi itu."
Tapi ternyata memang ada mahkluk hidup lain. Dari tanah, keluarlah beberapa cacing kecil tapi cukup gemuk.
Huo Bing mengarahkan paruhnya mengincar cacing-cacing itu.
Grep!
Xika menahan kedua paruh Huo Bing.
__ADS_1
"A-apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar karena berusaha melepaskan paruhnya dari pegangan Xika.
"Kau tidak bisa memakan mereka. Mereka adalah harapan kita."
"Apa?"
Sementara Xika berusaha keras menahan Huo Bing, Heiliao berjalan maju kemudian membuka mulutnnya. Bola-bola hitam keluar dan menghampiri cacing-cacing itu.
Plop!
Cacing-cacing itu masuk ke dalam bola hitam buatan Heiliao. Ia berniat mengamankan cacing itu dari Huo Bing, tapi burung itu salah mengerti dan mengira Heiliao juga hendak memakannya. Padahal Heiliao tidak akan mau memakan serangga macam itu.
"Hei! Cari sendiri makan siangmu sana!"
"Apa? Jadi daging Cobra saja masih belum cukup? Apa selama ini kau memakan cacing-cacing itu?"
"................"
Huo Bing tak mampu menjawab karena perkataan Xika benar.
"Pantas saja aku dan Heiliao hampir tidak pernah melihat mahkluk hidup lain. Benar kan Heiliao?" tanya Xika pada Heiliao.
Saat Xika menoleh, ia melihat seekor kadal di mulut Heiliao.
"Hm? A-ah, iya benar."
"..................."
Slurp!
Heiliao buru-buru menelan kadal itu.
"A-ada apa dengan ekspresimu itu? Apa kau ada masalah?"
"Satu-satunya masalahku adalah kalian berdua."
Kemudian Xika mendekat dengan pandangan mengerikan.
Jadi sebenarnya, selama ini bukan tidak ada mahkluk hidup lain, tapi hampir seluruhnya sudah dimakan oleh dua mahkluk itu. Pantas saja Xika mengira tidak ada mahkluk lain di tempat itu, sebelum ia melihatnya, mereka semua telah dimakan habis.
Akhirnya Xika meminta Heiliao menangkap beberapa kadal lagi tanpa memakannya. Sepertinya hanya beberapa ekor cacing tidak cukup untuk melihat formasi apa itu. Ia meminta Heiliao karena menurutnya Heiliao lebih bisa dipercaya dalam hal ini.
Tapi ia salah. Tepat ketika pikiran itu melintas di kepalanya, ia melihat ekor yang bergerak-gerak keluar dari mulut Heiliao.
Glek!
Heiliao berusaha menelan buruannya secepat mungkin. Kemudian ia memasang tampang tidak bersalah.
"Ekhem. A-aku sudah mencarinya kemana-mana, tapi aku tidak menemukan satu ekorpun."
"Oh ya? Aku sudah menemukan seekor." ucap Xika dengan senyum di wajahnya.
"Benarkah? Di mana?" tanya Heiliao sambil menolehkan kepalanya kanan-kiri.
"Baru saja kau makan." ucap Xika dengan senyum yang sama dengan sebelumnya, tapi entah kenapa kali ini membuat Heiliao merasakan firasat tidak enak.
"Be-benarkah? Sayang sekali......Tidak ada yang bisa dilakukan kalau begitu."
"Tidak, masih ada yang bisa dilakukan."
"Eh? Apa yang mau kau lakukan?" tanya Heiliao yang melihat Xika mendekati dirinya dengan tatapan yang semakin lama semakin menyeramkan.
__ADS_1
"Membelah perutmu untuk mengambil kadal yang baru saja kau makan. Kalau cepat, mungkin dia masih hidup."
"!!!!!!!!!!!!!"