
“Apa ada yang salah dengan mataku? Aku merasa harus ke dokter mata untuk melihat apa yang aku lihat adalah hanusilasi.” kata Carlos melihat adegan didepannya merasa sangat berhanusilasi.
“Aku juga sama. Apa aku juga harus ikut denganmu pergi ke dokter mata?” tanya Elard.
“Sama juga. Aku merasa seperti mimpi melihat Ren membujuk pacarnya yang sedang marah padanya.” kata Aderald.
“Kalian tidak sedang bermimpi atau mata kalian yang rusak, karena memang Ren yang sedang membujuk Reyna yang sedang marah.” kata Andrew yang membuat ketiga temannya memandang Andrew dengan mata terbelalak.
“Apa!! Jadi kita memang mata kita tidak salah melihat Ren sedang membujuk pacarnya?” tanya Aderald, Carlos, dan Erald dengan serempak.
“Apa yang kalian lihat adalah asli kenyataan. Apa mau aku cubit atau aku pukul kalian baru tau kalau ini adalah kenyataan?” tanya Kai.
Carlos dan yang lain hanya mengangguk menandakan kalau apa yang dilihat mereka adalah mimpi. Kai langsung saja mencubit pipi Carlos dan yang lain sampai mereka kesakitan. Kai juga menginjak kaki mereka karena melihat Carlos merasa tidak cukup.
Carlos dan yang lain merasa kesakitan di pipi dan kaki mereka ternyata mereka sedang tidak bermimpi melihat Ren sedang membujuk Reyna. Sedangkan Felicia masih mematung melihat kelakuan Ren yang belum pernah dilihatnya.
Ren yang masih membujuk Reyna supaya tidak marah padanya langsung membujuk dengan berbagai cara supaya Reyna tidak marah padanya.
“Rey, jangan marah lagi. Aku benar minta maaf. Aku benar-benar tidak tau kalau itu kau Rey.” kata Ren dengan lembut.
“Jadi kalau bukan aku kau akan memukulnya juga?” tanya Reyna menatap tajam Ren.
Ren langsung terdiam mendengar kata Reyna merasa dia salah bicara.
“Jika kau ingin marah padaku, kau salahkan sama pak tua itu.” kata Ren menunjuk ke arah Riku.
Riku yang mendengar Ren memanggilnya pak tua langsung menatap tajam Ren. “Siapa yang kau bilang pak tua bocah sialan!” teriak Riku ke Ren.
“Lihat! Dia masih marah padaku. Mendingan kau marahin sama pak tua itu karena dia yang memulai duluan bukan sama aku.” kata Ren menyalahkan Riku.
“Coba kau panggil aku pak tua lagi. Aku akan membunuhmu bocah sialan!” kata Riku menatap tajam Ren.
Reyna : “…….”
__ADS_1
Reyna hanya diam melihat Ren dan Riku yang masih saja beradu mulut. Awalnya Riku yang mulai sekarang Ren yang mulai. Reyna rasanya malas menghentikan dua orang yang sedang bertengkar beradu mulut dengan hal yang kecil saja. Walaupun sudah dihentikan, tapi tidak sampai 5 menit mereka mulai bertengkar lagi.
Reyna rasanya ingin keluar dari lingkaran dua orang yang bertengakar bersifat seperti kekanakan. Reyna ingin menjauh tidak bisa karena Ren dari tadi sudah memeluknya dengan erat dan tidak mau melepaskan Reyna. Akhirnya Reyna hanya pasrah melihat mereka berdua bertengkar sampai mereka reda.
20 menit kemudian akhirnya Ren dan Riku sudah mulai mereda. Reyna melihat mereka berdua seperti sudah selesai bicaranya akhirnya membuka suaranya.
“Apa kalian berdua sudah selesai?” tanya Reyna.
“Rey, bantu aku melawan pak tua ini. Dia sangat keras kepala tidak mau berhenti melawanku.” kata Ren manja seperti meminta permen sama mamanya.
Reyna : “…….”
“Sudah cukup! Kalian berdua jangan bertengkar seperti anak kecil lagi. Apa kalian tidak malu dilihat orang?” kata Reyna.
“Apa pula masalahnya? Dan lagi pak tua ini yang mulai duluan.” kata Ren membela diri membuat Riku menatap tajam Ren.
“Tuan Riku, apa anda bisa menganggap hal ini tidak melihat.” tanya Reyna.
Riku menatap Reyna dengan teliti dan ternyata benar mukanya sangat mirip dengan orang yang sangat dirindukannya.
“Reyna.”
Riku terkejut ternyata namanya sanma persis dengan orang yang di carinya. “Nama nona benar-benar sama persis dengan orang yang ku cari, bahkan muka nona sama dengannya? Apakah nona benar bukan orang yang ku cari?” tanya Riku.
“Didunia banyak memiliki wajah dan muka yang sama tuan. Mungkin tuan salah mengira sampai saya adalah orang yang tuan cari?” kata Reyna dengan senyum.
“Apa yang nona Reyna katakan? Apa dia tidak ingin mengungkapkan jati dirinya pada Bos? Dan lagi bos kenapa bisa jadi bodoh jika menyangkut nona Reyna. Bahkan orang yang dicarinya selama beberapa bulan ini ada didepannya sendiri.” gumam Rui melihat kebodohan Bosnya.
Rui ingin sekali memberitahukan bahwa orang yang dicarinya selama beberapa bulan ini ada didepan matanya sendiri. Tapi Rui juga tidak bisa memberitahu karena dia sudah janji sama nona Reyna untuk tidak memberitahukan keberadaannya.
“Benarkah? Tapi aku merasa kau sangat tidak asing. Penampilan, cara bicaramu, bahkan aura kau sangat mirip dengannya.” tanya Riku.
“Mungkin hanya perasaanmu saja tuan.” kata Reyna dengan senyum gugup.
__ADS_1
Reyna jadi senyum gugup karena Riku tau dia karena pas Reyna marah padanya cara bicaranya sangat persis.
Ren yang melihat Riku seperti orang bodoh, padahal orang yang dicarinya pasti adalah Reyna, karena Ren tau pasti Riku ingin mencarinya karena Reyna kabur dari rumahnya dan pindah ke kota ini.
‘Aku baru pertama kali melihat tuan muda Richard yang sangat teliti dan dingin menjadi sangat bodoh tidak bisa
mengenali Reyna. Aku kagum dengan kemampuan acting Reyna bisa membohonginya.’ batin Ren dengan senyum melihat kelakuan Riku.
“Mungkin memang benar Cuma hanya perasaanku. Maaf nona aku jadi tidak enak bicara lama denganmu.” kata Riku dengan senyum lembut.
Riku merasa sangat aneh pada dirinya sendiri. Biasanya dia sangat dingin dengan orang yang baru pertama kali bertemu. Tapi setelah melihat Reyna cara bicaranya sangat berbeda dari biasanya. Biasanya yang suka bicara dingin dan datar sekarang malah menjadi sangat lembut saat bicara dengan Reyna.
“Tidak apa.” kata Reyna dengan senyum. Riku melihat senyuman Reyna benar-benar mirip dengan orang yang dirindukan dan di carinya.
“Rui, kita pergi sekarang.” kata Riku ke Rui yang dari tadi hanya diam melihat saja.
“Baik Bos. Kalau begitu kami permisi nona.” kata Rui ke Reyna.
Reyna hanya mengganguk senyum. Setelah Riku dan Rui pergi diikutio oleh Elvano hanya merasa lega karena dia orang yang tidak ingin dia temui pergi juga dan tidak mengenalinya. Ren yang di sebelah Reyna yang masih memengang tangan Reyna tidak mau lepas hanya tersenyum melihat Reyna lega melihat Riku pergi.
“Apa kau merasa lega karena orang yang tidak ingin kau temui pergi?” tanya Ren dengan senyum.
“Lega aku hanya sementara. Aku masih merasa takut jika dia akan mengenalku.” jawab Reyna.
“Kenapa kau tidak ingin bertemu dengannya? Apa dia tidak mengabulkan keinginanmu untuk pergi kuliah ke luar negeri sendirian?” tanya Ren senyum melihat ke arah Reyna.
“Kau tau saja Ren.” jawab Reyna.
“Ya, kau benar. Dia tidak mau membiarkan aku pergi kuliah keluar negeri sendirian sampai dia mengurung aku di kamar dan tidak boleh keluar rumah. Tapi untungnya aku pintar dan bisa keluar dari rumah itu dan pergi kuliah keluar negeri sendirian.” sambung Reyna.
“Bukankah dia melakukan itu karena cemas dengan mu? Pergi sendirian ke luar negeri pasti dia sangat cemas dan takut terjadi sesuatu denganmu. Jika itu aku pasti aku juga melakukan hal sama, tapi bukan seperti dia yang mengurungmu di kamar. Aku yang akan pergi ikut denganmu keluar negeri.” kata Ren dengan senyum.
“Hahaha…. Kau pastikan 100 persen benar-benar ingin ikut jika aku pergi ke luar negeri.” kata Reyna dengan senyum.
__ADS_1
“Tentu saja aku akan ikut denganmu. Aku akan menemanimu walaupun kau mati. Karena jika kau tidak berada disisiku, yang ada aku hanya kesepian dan tidak akan merasa bahagia. Aku ingin kau menjadi satu-satunya orang yang menjadi pendampingku seumur hidup.” kata Ren dengan senyum tulus.