
"Apaa??? 50 Miliar?? Apa kau yakin Aizen??" tanya Edgar dengan terkejut.
"Benar Uncle. Di dalam map coklat itu ada tertulis semua. Berapa dia jual rumah Uncle? Kapan? Dimana? Jam berapa? Semuanya ada di dalam amplop coklat itu." kata Aizen dengan senyum.
Edgar langsung saja membuka amplop coklat itu dan membaca semua surat itu dengan teliti dan di baca 2 kali.
"Dasar anak tidak tahu di untung??!! Beraninya dia menjual rumah aku sebesar 50 miliar???!!!" teriak Edgar dengan marah.
"Ray, kau bawa Rachel dan Richie tidur ya. Ini sudah malam." kata Calvin menyuruh Rayna membawa anak anak pergi tidur supaya mereka tidak melihat kakek buyut mereka marah.
"Baiklah. Ayo, Rachel, Richie, kita ke kamar tidur ya." kata Rayna mengajak Rachel dan Richie pergi tidur.
"Kakek buyut kenapa marah Mommy?" tanya Rachel terkejut melihat Edgar tiba-tiba berteriak.
"Tidak apa kok. Kakek kalian hanya terkejut saja makanya kakek berteriak. Bukankah Rachel juga pernah seperti itu?" kata Calvin.
Rachel hanya mengangguk saja setelah itu baru ke kamar bersama Rayna dan Richie. Sedangkan Calvin mendekati Kakeknya dan menenangkan kakek supaya jangan terlalu emosi.
"Kakek.. Tenang diri kakek. Jangan banyak pikiran, nanti kakek sakit lagi..." kata Calvin menenangkan Edgar.
"Bagaimana bisa tenang? Sedangkan rumah kakek di jual hanya seharga 50 miliar." kata Edgar dengan emosi.
"Memangnya kenapa kalau di jual sebesar 50 Miliar? Apakah terlalu mahal?" tanya Calvin dengan bingung.
"Bukan mahal, Tapi Murah. Rumah Kakek kau sangat murah jika hanya di jual sebesar 50 miliar." kata Aizen dengan santai.
"Murah?? Apa segitu mahalnya rumah kakek?" tanya Calvin dengan terkejut.
"Hahaha... Sepertinya kau tidak tahu berapa banyak harta kakek kau." kata Aizen dengan tertawa melihat Calvin terkejut yang bukan main.
"Uncle, apa uncle tidak memberitahu soal harta Uncle pada cucu uncle?" tanya Aizen ke Edgar.
__ADS_1
"Tidak. Edward saja tidak tahu tentang ini." kata Edgar.
"Pantas saja dia menjual rumah Uncle sangat murah. Jika dia tahu, aku rasa dia bisa menjual lebih besar." kata Aizen dengan santai.
"Sebenarnya rumah kakek kau jika di jual dengan isi dalamnya bisa sampai 50 Triliun bahkan bisa lebih dari itu." kata Aizen ke Calvin.
"50 Triliun???!!" teriak Calvin dengan terkejut dan tidak percaya kalau rumah kakeknya semahal itu.
"Ya, aku yakin. Karena kalau cuma hanya rumah kosong memang seharga 40 miliar. Tapi, isi dalamnya tidak. Bukan karena isi barang di dalam rumah, tapi isi surat dokumen penting di dalam rumah kakek mu." kata Aizen.
"Dokumen? Dokumen apa??" tanya Calvin dengan bingung apa yang di maksud dengan dokumen yang disebut oleh Aizen.
"Dokumen surat-surat tanah, surat Vila, perusahaan, bahkan surat pulau yang berada di dekat negara D juga ada di dalam rumah kakek mu." kata Aizen.
"Pulau??" Calvin terkejut mendengar kalau kakeknya punya pulau.
"Apa Uncle memang tidak ada bilang apapun pada Edward tentang harta Uncle?" tanya Aizen.
"Pas di hari dia akan mendapatkan emas, malah dapat benih baru dan emasnya tidak jadi di kasih. Itu artinya tuhan lagi berpihak pada kita." kata Aizen.
"Benar. Jika aku sudah memberikannya duluan, maka aku sudah tidak akan mendapatkannya lagi." kata Edgar.
"Aku tidak menyangka tuhan sampai sekarang masih berpihak padaku. Edward menjual rumah ke Aizen tanpa dia tahu." kata Edgar dengan lega.
"Surat ini aku berikan pada Uncle. Uncle bisa melihat lagi isi rumah apakah benar Edward ada ambil harta Uncle atau tidak. Tapi aku rasa Edward tidak tahu kalau di rumah Uncle ada dokumen tanah lain, jika Edward tahu pasti dia akan menjualnya lebih besar." kata Aizen.
"Tapi, kalau surat itu papa bawa ke luar negeri bagaimana? Atau mungkin sudah di jual sama orang lain." kata Calvin.
"Kalau sudah dijual pasti aku sudah menerima kabar itu. Tapi untuk jaga-jaga besok pergi lihat saja di rumah." kata Aizen.
"Baiklah. Terima kasih Tuan telah menolong kami." kata Calvin dengan menundukkan kepalanya pada Aizen.
__ADS_1
"Tidak apa. Dan lagi jika aku tidak membantu Uncle, nanti aku bisa kena marah sama dia." kata Aizen dengan senyum.
"Dia?" tanya Calvin dengan bingung.
"Loh? Apa aku masih belum bilang?" tanya Aizen melihat Calvin bingung dengan perkataannya.
"Diam!!! Jangan beraninya kau ikut aku lagi!"
Aizen dan yang lain mendengar ada teriakan di luar langsung menoleh ke arah pintu.
"Ayolah. Aku kan sudah minta maaf."
"Tidak! Aku tidak akan memaafkan mu!"
"Kenapa begitu? Aku kan tidak sengaja atau berbohong padamu."
"Apa yang kalian lakukan di luar?" tanya Calvin membuka pintu melihat siapa di luar.
"Pokoknya aku tidak akan memaafkan mu." kata Reyna langsung masuk kedalam.
"Jangan begitu dong Rey. Aku beneran tidak berbohong padamu." kata Ren dengan melas mendekati Reyna supaya memaafkannya.
"Jangan coba-coba kau menyentuh aku, kalau tangan kau tidak mau aku patahkan." ancam Reyna sudah seperti singa meraung.
Ren langsung terdiam mendengar ancaman Reyna dan langsung menghentikan tangannya yang ingin memegang tangan Reyna.
"Waaa... Jangan seperti ini dong... Jika kau melakukan itu nanti aku tidak bisa memelukmu atau memegang tangan mu lagi..." kata Ren langsung merengek.
"Emangnya aku peduli?? Kalau bisa aku ingin hancurkan seluruh tubuh mu itu bersama otak kau itu. Bisa-bisanya kau membuat aku menunggu selama 3 jam lebih di cafe, bahkan kau melupakan aku dan meninggalkan aku sendirian di cafe. Apa kau pikir aku akan memaafkan mu. Tidak akan pernah selamanya!!!" teriak Reyna dengan marah besar.
"Ini apa yang terjadi? Kenapa kalian berdua bertengkar??" tanya Aizen melihat Reyna dan Ren bertengkar.
__ADS_1
T.B.C