
Reyna pagi hari sudah bersiap untuk pergi tetapi Hp nya berbunyi. Reyna melihat ada pesan dan langsung membacanya. Setelah membacanya Reyna langsung tersenyum .
“Sepertinya aku harus siap-siap.”
Setelah 10 menit Reyna mengeringkan rambutnya langsung saja Reyna pergi menemui seseorang.
***
“Apa kau menunggu lama?” tanya Reyna.
“Tidak. Aku juga baru sampai.” suara seorang lelaki.
”Ini semua suratnya.” kata lelaki itu mengasih amplop coklat ke Reyna.
Reyna langsung menerimanya langsung membuka dan membacanya.
Setelah 15 menit membaca Reyna langsung tersenyum puas melihat isi surat tersebut.
“Semuanya perfect. Kerjaan bagus Max. Setelah ini aku bisa membalas dendam sama dia.” kata Reyna terseyum .
“Tidak masalah kak Reyna.” jawab Max.
Orang yang Reyna termui adalah Max orang yang ditolongnya.
“Tapi kak Reyna terlalu hebat. Bagaimana kakak bisa mendapatkannya? Bukankah banyak orang yang menginginkannya, tapi kak Reyna mendapatkannya dengan cepat dan harga yang sangat murah.” kata Max kagum dengan Reyna.
“Tidak juga. Aku hanya menebak setelah melihat fotonya. Aku tidak menyangka kalau itu benar tanah asli.” kata Reyna dengan senyum.
“Berarti keberuntungan kakak sangat besar.” kata Max.
“Aku memang selalu beruntung.” jawab Reyna dengan percaya diri.
“Bagaimana dengan dia? Apakah dia sudah membayarnya?” tanya Reyna.
“Belum. Sepertinya di tidak ingin membayarnya. Bahkan dia selalu menghindari aku.”
“Kenapa?”
“Mungkin dia tau kalau tanah itu adalah tanah yang dia inginkan.” kata Max.
“Itu tidak mungkin. Jika memang dia ingin tanah ini, sudah pasti dia akan mencarimu. Jika tidak maka di tidak dia pasti tidak mau menghindari untuk bertemu denganmu.” jawab Reyna santai.
“Benar juga.” kata Max.
“Kau kasih dia waktu 3 hari. Jika dia tidak mau membayarnya maka jual saja rumah dan semua isi rumahnya.” kata Reyna.
“Bukankah itu 3 hari terlalu cepat kak?” tanya Max dengan terkejut.
__ADS_1
“Apanya yang cepat? Aku sudah menunggu selama 4 bulan lebih tapi dia tidak membayar sepeserpun kan? Bahkan dia ingin mengangsurnya tapi belum dibayar sedikitpun.” kata Reyna dengan santai.
“Aku yakin dia pasti tidak memberitahu ayahnya tentang tanah yang dia lelang karena takut dengan ayahnya. Jika ayahnya tau pasti ayahnya akan marah besar padanya.” sambung Reyna.
“Jadi aku ingin kau mengancamnya jika tidak membayar dalam 3 hari ke depan maka bersiap untuk semua keluarganya menjadi gelandangan.” ancam Reyna.
“OK kak. Akan aku lakukan besok.” kata Max.
“Bagaimana dengan proses pembangunannya?” tanya Reyna mengganti topic.
“Perusahaan sudah selesai 60%. Dibagian belakang untuk ruang kantin dan bagian sales, Lantai 3 sampai lantai 7 masih dalam proses. Ruangan direktur sudah selesai karena aku menyuruh mereka untuk menyelesaikannya dulu. Lantai 2 sudah selesai juga. Untuk sementara untuk semua orang bekerja di lantai 2 dulu.” kata Max.
“Cepat juga ya… Aku berpikir akan memakan waktu 6 bulan.” kata Reyna agak terkejut.
“Tentu saja kak. Aku memberitahu mereka jika mereka bisa mengerjakannya dengan cepat maka akan aku kasih bonus. Maaf kak, aku tidak memberitahu kak Reyna dulu tentang ini.” kata Max merasa bersalah.
“Tidak masalah Max. Asalkan mereka benar benar mengerjakan dengan cepat. Jika tidak, pecat saja dan jangan kasih uangnya.” kata Reyna dengan senyum.
“Aku sudah menemukan beberapa orang untuk bekerja disana. Apa kak Reyna ingin melihat kesana?” tanya Max.
Reyna berpikir dulu sebelum menganggukkan kepalanya arti tanda setuju.
“Ok, aku akan pergi melihat. Tapi sebelum pergi kita makan siang dulu karena aku sudah kelaparan.” kata Reyna melihat jam di tangannya sudah melewati jam 12.
“OK kak.” kata Max.
***
Max dan Reyna sampai diperusahaan. Reyna turun dari mobil melihat perusahaannya sudah ada reklame nama perusahaan dengan nama Heaven Corporation.
“Kak Reyna, bukankah nama yang kakak kasih ini terlalu melocok?” tanya Max.
“Memangnya kenapa? Aku memang sengaja memberikan nama itu karena aku ingin memperlihatkan pada seseorang.” jawab Reyna dengan santai.
“Siapa kak?” tanya Max dengan penasaran.
“Jangan dibahas lagi. Kita masuk kedalam.” kata Reyna langsung masuk kedalam perusahaan di ikuti oleh Max.
“Siang, mau cari siapa?” tanya Satpam melihat Reyna dan Max ingin masuk kedalam perusahaan.
“Siang, kami mau mencari pak Satya.” kata Max.
“Oh. Kalian ingin menemui pak Satya. Silakan masuk kedalam.” kata Satpam dengan sopan mengijinkan Reyna dan Max masuk kedalam.
“Permisi, apa Pak Satya ada? Kami ingin menemuinya.” kata Max dengan sopan ke resepsionis.
“Ini dengan siapa ya?” tanya resepsionis melihat penampilan Reyna dan Max dari atas sampai bawah.
__ADS_1
“Bilang saja Max ingin bertemu dengannya.” jawab Max.
Resepsionis itu menaikkan sebelah alisnya mendengar mereka ingin bertemu pak Satya.
‘Siapa mereka ini? Kenapa mereka ingin bertemu dengan tetinggi perusahaan pak Satya?’
“Ada apa?” tanya teman resepsionisnya datang.
“Mereka berdua ingin menemui pak Satya.” kata Resepsionis.
Temannya langusng melihat mereka berdua dengan tatapan bingung.
“Nona ada urusan apa dengan Pak Satya?” tanya teman Resepsionis.
“Ada yang ingin bertemu dengannya. Bilang saja Max ingin bertemu dengannya. Pak Satya pasti tau.” kata Max dengan pelan.
“Baiklah. Tunggu sebentar ya.” kata Resepsionis itu ingin menelpon Pak Satya tapi di hentikan oleh temannya.
“Apa yang kau lakukan? Mungkin mereka ingin meminta uang. Kau lihat saja penampilan mereka seperti kampungan.” kata teman nya dengan pelan menatap sinis Reyna dan Max.
“Kau tidak boleh begitu dengan mereka. Kita telp pak Satya dulu, bisa kemungkinan mereka tamu penting pak Satya. “ jawab teman Resepsionis dan langsung telp pak Satya.
“Terserah kau saja. Aku yakin mereka pasti bukan tamu pak Satya. Palingan mereka hanya berbohong.” kata Resepsionis itu dengan santai.
Sedangkan di sisi lain pak Satya lagi di lantai 2 memeriksa perlengkapan meja dan kursi yang baru saja datang.
“Terus, meja staff 25 buah, kursi biasa 25, meja eksekutif 5, kursi eksekutif 5. Coba kalian cek, apakah barangnya benar atau tidak. Juga lihat meja dan kursinya apakah ada yang rusak atau tidak.” kata Pak Satya.
“Baik pak.”
Ring~ Ring~
Pak Satya melihat ada yang menelponnya langsung dia menyuruh sisanya pada mereka. Pak satya keluar dari ruangan dan menerima telpon tersebut.
“Ada apa?” tanya pak Satya.
“Pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak.”
“Siapa?” tanya Pak Satya dengan bingung siapa yang ingin bertemu dengannya.
“Anak muda bernama Max dengan seorang gadis.”
“Baiklah. Aku akan kesana sekarang. Suruh mereka tunggu sebentar.” kata Pak Satya mematikan telponnya.
“Baik pak.” Resepsionis itu mematikan telponnya.
“Bagaimana? Apa pak Satya mengenal mereka?” tanya temannya dengan santai.
__ADS_1