Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 272 – MASA LALU REN 8 – TERTANGKAP


__ADS_3

“Hm…. Gale… dan itu… “ Aizen melihat Gale sedang duduk langsung melihat ada seseorang yang berdiri.


“Bukankah itu Delvin?” Aizen melihat Delvin sudah memegang pistol dan ingin menembak ke Gale.


“Itu memang Delvin, Tuan.” kata anak buah membenarkan perkataan Aizen.


“Si sialan itu ternyata tidak kabur. Biar aku kasih peringatan padanya.” Aizen menatap tajam Delvin.


“Keu pegang Ren sebentar, aku akan mengurus penghiatan ini dulu.” Aizen mengasih Ren kea nak buahnya dan langsung mengambil pistol dan menembak ke arah Delvin.


DOR


“Akh….”


“Hm.. Aizen…” Gale melihat Aizen menembak Delvin.


“Kenapa kau malah santai duduk di sana!” teriak Aizen.


“Bukankah kau yang akan menembaknya?” tanya Gale dengan santai. Gale tahu kalau Aizen pasti akan menembaknya karena Gale sudah melihatnya.


“Kenapa kau begitu percaya diri aku akan menembaknya?” tanya Aizen.


“Hahaha…. Kau sama sekali tidak mau jujur.” Gale tertawa melihat kelakuan Aizen yang tidak mau jujur.


“Ka.. Kau….” Delvin terkejut siapa yang menembaknya


“Kenapa Hmm… Apa kau pikir aku tidak akan datang ke sini?” Aizen tersenyum melihat Delvin terkejut.


“Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Aku tahu, pasti karena penyusup tadi masuk kau juga ikut masuk juga. Apa kau tidak malu membiarkan orang lain menyusup dan kau hanya masuk saja.” Delvin menatap tajam Aizen.


“Hah?” Aizen dan Gale saling pandang dan melihat ke Delvin.


“Hahaha…. Apa kau pikir aku masuk ke sini tanpa persiapan apapun? Seperti biasa kau sangat bodoh Delvin.” Aizen tertawa.


“Hanya orang bodoh yang berpikir seperti itu.” kata Gale.


Delvin bingung kenapa Gale dan Aizen menertawainya.


“Dan juga… Kenapa kau masih memakai topeng jelek itu? Apa kau suka?” tanya Aizen ke Gale yang masih memakai topeng.


“Ah… Aku lupa.” Gale langsung membuka topengnya.


Delvin melihat muka Gale awalnya hanya diam saja tapi setelah melihat dengan teliti Delvin terkejut.

__ADS_1


“Ka-Kau…” Delvin menunjuk ke Gale dengan tidak percaya apa yang di lihatnya.


“Kenapa? Apa kau mengenalnya?” tanya Aizen pura-pura terkejut.


Delvin menatap tajam Aizen karena tidak tahu siapa Gale. Siapapun yang melihat Gale sudah pasti tidak akan tidak ada yang tahu keluarga Richard.


“Ke-kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Delvin dengan gemetar.


“Memangnya kenapa kalau aku di sini? Apakah tidak boleh?” tanya Gale yang melihat Delvin sudah gemetar ketakutan.


“Hahaha… Dia gemetar bahkan bicara pun sudah tidak bisa karena melihatmu.” Aizen tertawa melihat


Delvin sudah tidak bisa bicara lagi.


“Ap-apa yang kau katakana?? Siapa yang tidak tahu pewaris Richard? Apa kau ingin di bunuh?” teriak Delvin pada Aizen.


Aizen melihat ke Delvin sudah gemetaran langsung melihat ke Gale hanya diam saja.


“Kau sangat pengecut tahu! Bagaimana bisa kau takut hanya dengan kehadirannya saja.” kata Aizen.


“Kenapa kau bisa setenang itu di hadapannya?” Delvin melihat Aizen tidak takut pada Gale.


“Kenapa aku harus takut pada pak tua lemah ini?” kata Aizen sambil menunjuk ke arah Gale.


“Kenapa? Bukankah kau memang sudah tua?” tanya Aizen.


“Kau juga tidak ada bedanya pak tua!” Gale membalikkan kalimat Aizen.


“Aku tidak tua! Aku masih muda!” Aizen tidak mau di katakan tua.


Anak buah Aizen yang sedang menjaga Ren hanya diam melihat permbicaraan Aizen dan Gale. Padahal putra tuan mereka sedang sekarat, mereka malah bicara yang tidak penting.


“Tuan…” salah satu anak buah Aizen memberanikan diri bicara.


“Apa??!! Jika kau bicara omong kosong aku potong kepala kau!” ancam Aizen pada anak buahnya.


“Bu-Bukankah kita harus segera ke rumah sakit? Tu-Tuan muda Ren sudah banyak kehilangan darah.” kata anak buah Aizen dengan terbata-bata.


“Astaga! Aku lupa!!” Aizen kelupaan kalau Ren harus di bawa ke rumah sakit.


“Kenapa kau tidak biarkan saja anak mu itu? Biarkan dia tidak bisa merasakan rasa sakit lagi.” kata Delvin.


Aizen yang mendengar kata Delvin langsung menatap tajam Delvin. Aizen tanpa menunggu langsung menembak perut Delvin.

__ADS_1


DOR


“Akh….” teriak Delvin kesakitan.


DOR


DOR


Delvin merasakan kesakitan yang luar biasa. Aizen juga menembak tangan dan kaki Delvin tanpa rasa ragu ataupun kasihan.


“Jangan coba bicara lagi jika kau tidak mau ada lubang di kepala kau.” kata Aizen dengan dingin dan tajam.


“Kalian bawa di ke markas. Dan kau bawa Ren ke rumah sakit sekarang juga.” perintah Aizen.


“Kenapa tidak dari tadi saja? Kau membuat anak kau kesakitan lebih lama.” kata Gale.


“Diam! Dan lagi itu karena kau sendiri yang hanya diam saja.” teriak Aizen.


Delvin melihat pembicaraan Aizen dengan Gale merasakan ada yang aneh.


“Apa kalian saling kenal?” tanya Delvin yang merasa penasaran.


“Memangnya ada urusan apa dengan mu?” tanya Aizen dengan dingin.


“Hah! Tidak mungkin kau bisa mendapatkan bantuan dari tuan Gale. Aku yakin kau pasti karena kau telah memberikan tanah karena ingin menyelematkan putra mu kan.” kata Delvin.


“Apa kau gila? Ngapain aku harus mengeluarkan tanah untuk meminta bantuannya Dia. Bahkan aku rasa aku mengasih warisan aku pun dia tidak akan mau menerimanya.” kata Aizen dengan senyum sinis menatap Delvin.


Delvin terkejut kalau Gale tidak mau menerima apapun dari Aizen. Itu tidak mungkin! Apa keluarga Richard tidak ingin mendapatkan harta Aizen.


“Sepertinya dia sangat terkejut.” kata Gale melihat Delvin terkejut.


“Aku kasih tahu sama kau kenapa Gale ingin membantu ku….” Aizen menatap Delvin.


“Itu karena….. Aku dan Gale adalah sahabat. Makanya Gale tidak mau menerima seperserpun harta dari ku.” kata Aizen dengan senyum. Aizen puas melihat Delvin yang tidak percaya apa yang di dengarnya.


“Itu tidak mungkin!!” Delvin tidak mau percaya apa yang di dengarnya.


“Kalian bawa dia ke markas. Pastikan jangan sampai dia kabur. Kalau dia kabur, kalian akan tahu konsekuensinya.” kata Aizen menyuruh anak buahnya cepat membawa Delvin.


Sedangkan Aizen dan Gale pergi ke rumah sakit karena ingin cepat memeriksa Ren.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2