Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 80 – PERINGATAN


__ADS_3

“Yuna, aku duluan ya. Ada urusan. Bye…” kata Kai ke Yuna.


“Bye.. Sampai jumpa besok.” jawab Yuna.


Yuna membersihkan mejanya baru keluar kelas. Dari tidak begitu jauh dari Yuna ada beberapa orang menatap Yuna dengan sinis dan benci.


“Apa kalian sudah siap semuanya?” tanya gadis menatap temannya.


“Tentu saja. Biar kita kasih pelajaran sama dia karena berani mendekati Kai dan Ren kita.” jawab temannya menatap benci ke Yuna.


Sedangkan Yuna sedang menunggu jemputannya menunggu di pagar kampus.


“Hm… Ini kunci siapa?” tanya Yuna melihat ada kunci di dekat pagar kampus. Yuna melihat teliti kunci itu tenyata ada tertulis inisial SG.


“SG? Apa mungkin apartemen Sky Garden?” gumam Yuna melihat inisial kunci itu.


“Ini kunci siapa? Nanti dia malah mencari kuncinya.” kata Yuna melihat sekeliling tidak ada orang.


“Apa aku kasih saja ke dosen ya? Tidak.. tidak… nanti dia tidak tau kalau aku kasih ke dosen, mendingan aku menunggunya saja.” kata Yuna akhirnya langsung duduk menunggunya.


“Lihat di lagi sendirian. Ini kesempatan kita.”


“Ayo, kita bicara dengannya.”


Para mahasiswi langsung mendekati Yuna. Yuna melihat ada yang mendekatinya langsung menoleh.


“Ada apa?” tanya Yuna.


“Kami ingin bicara denganmu. Apa kau bisa ikut dengan kami?” tanya para mahasiswi Itu.


Mereka langsung paksa Yuna mengikuti mereka.


***


“Kai, bagaimana dengan Ren? Apa dia mau ikut?” tanya Andrew.


“Entahlah.” jawab Kai santai.


“Bukankah kau tinggal bersama dengannya? Masa kau tidak tau.” tanya Andrew


“Dia tidak mau menjawab mau bagaimana? Mungkin dia tidak ingin ikut.” jawab Kai.


“Jangan sampai dia tidak ikut lagi. Nanti kita bisa kena marah lagi.” kata Andrew.


“Mau bagaimana lagi, kalau mau kau bujuk dia supaya ikut.” kata Kai dengan santai.


“Kau pikir aku bujuk dia, dia mau ikut?” tanya Andrew dengan kesal.


“Jika kau tidak bisa bujuk apalagi aku Ndrew. Nanti yang ada aku kena imbas lagi sama dia. Aku tidak mau.” jawab Kai yang tidak ingin kena marah sama Ren.


“Kau kena marah sama Ren masih mendingan. Aku lebih parah yang kena marah sama mereka.” kata Andrew.


“Bukankah sama saja. Kau kena imbas sama mereka dan aku sama Ren biar kita kena marah sama mereka semua.” kata Kai dengan santai.

__ADS_1


“Bilang saja kalau kau tidak ingin kena marah sendiri!” teriak Andrew menatap tajam Kai. Kai hanya senyum jahil.


“Bagaimana kalau kita berdua yang bicara dengannya.” saran Kai senyum.


“Aku tidak yakin akan berhasil. Dan aku tau kau pasti ingin aku juga kena marah sama Ren kan?” kata Andrew menatap Kai hanya senyum.


“Tentu saja. Kenapa harus aku saja sendiri yang kena marah. Kau pikir Ren marah itu hanya bicara saja. Kau tau Ren kalau marah bagaikan petir turun ke bumi.” kata Kai.


“Itu artinya aku kena marah sama 2 sisi. Kalau Ren marah bagaikan petir mereka bagaikan langit jatuh kebawah!” kata Andrew berpikir saja sudah ngeri.


“Jika kau ingin aku ikut bujuk Ren dan tidak berhasil, nanti kau juga ikut kena marah sama mereka.” sambung Andrew.


“WHAT!! Aku tidak mau! Kena marah sama Ren saja sudah bagaikan petir apa lagi kalau sama mereka.” kata Kai yang terkejut dan marah.


“Jika kau tidak mau kau harus mencari cara supaya Ren ikut. Jika Ren tidak ikut, aku akan seret kau ke dalam.” ancam Andrew.


“Sialan kau Andrew! Kenapa kau malah ingin mengancam aku! Aku tidak ada hubungannya dengan mereka.” teriak Kai.


“Jika kau tidak mau kau harus cari cara apapun supaya Ren mau ikut. Jika tidak kita yang akan kena marah sama mereka.” kata Andrew.


“Kau cari cara juga sialan! Jika cuma hanya aku yang berpikir aku kasih tau sama mereka kalau kau tidak ingin menbajuknya juga.” ancam Kai.


“Aku juga sedang berpikir.” kata Andrew.


Setelah beberapa menit mereka berdua tidak ada cara sampai membuat mereka berdua menyerah.


“Cara apa yang bisa membuatnya ikut?” tanya Kai.


“Ah!!!!!” teriak Kai dan Andrew bersamaan membuat mereka saling pandang.


“Apa kau berpikir yang sama dengan aku?” tanya Andrew.


“Tentu saja. Siapa lagi yang bisa membuatnya tidak bisa menolak dan patuh..” jawab Kai dengan senyum.


“Bagaimana kalau kita berdua bicara dengannya besok?” tanya Andrew.


“Tapi dia ada urusan baru beberapa hari lagi baru masuk kampus.” jawab Kai.


“Kalau begitu pas dia masuk baru bicara dengannya. Aku ingin melihat bagaimana reaksi Ren jika dibujuk olehnya.” kata Andrew.


“Sama. Pasti akan menjadi petunjukan yang menarik.” kata Kai dengan senyum.


“Jika sudah aku pulang dulu.” kata Kai langsung berdiri.


“Ok. Kau kabarin aku jika dia sudah masuk.” kata Andrew.


“OK.”


Kai langsung pamit ke Andrew dan pulang.


***


Para mahasiswi langsung membawa Yuna ke tempat yang sepi supaya tidak ada orang yang tau.

__ADS_1


“A-ada apa mencariku?” tanya Yuna terbata-bata melihat mahasiswi itu menatapnya dengan tajam.


“Aku peringatkan kau! Jangan coba dekat dengan Kai.” amcam mahasiswi.


“Benar! Jangan coba-coba kau mendekati Kai.”


Yuna langsung gemetar mendengar ancaman mereka. “Me-memangnya kenapa aku dekat dengan Kai? A-aku hanya bicara dengannya.” tanya Yuna yang ketakutan.


“Jangan kau pikir kami tidak tau apa yang kau pikirkan.” teriak mahasiswi.


“Benar! Aku tau kau dekat dengan Kai karena ingin mendapatkan perhatian Ren kan?” kata mahasiswi lainnya.


“Kami tau kau makan bersama dengan Kai di kantin tadi siang.”


“Bu-bukan….” jawab Yuna menggelengkan kepalanya.


‘Apa mereka melihat aku dan Kai makan bersama di kantin?’ batin Yuna.


“Dari pada kita bicara dengannya mendingan kita siksa saja dia.” saran mahasiswi.


“Benar. Bicara pun dia tidak akan mau mengaku.” kata mahasiswi lainnya.


Para mahasiswi itu langsung saja menarik rambut Yuna sampai Yuna kesakitan. Mereka juga menampar, mencubit, menyiram air kotor ke Yuna sampai berbekas.


“Hiks… hiks… Aku mohon hentikan…” isak Yuna menangis dengan memohon.


“Ini masih belum cukup untuk menyiksamu.” akta mahasiswi itu.


“Bagaimana kalau kita kasih lilin leleh ke dia?” saran mahasiswi.


“Boleh juga. Supaya dia tau akibatnya jika berani mendekati Ren.” kata mahasiwi yang menarik rambut Yuna.


Mahasiswi itu langsung mengambil lilin dan mancis di tasnya. Yuna melihat mahasiswi itu menyalakan lilin langsung badannya bergetar dan ingin memberontak tapi tidak bisa karena tubuh Yuna ditahan oleh mahasiswi lain.


“Tidak! Aku mohon jangan lakukan itu.” teriak Yuna dengan isakan menangis keras ingin memberontak keras.


“Diam! Atau kami menaruh lilin itu ke muka kau!” ancam mahasisiwi melihat Yuna memberontak.


Langsung saja mahasiswi itu menaruh lilin yang meleleh itu ke tangan Yuna sampai Yuna teriak kesakitan dan panas.


“Akh!! Panas!!!!” teriak Yuna kesakitan.


“Ini akibatnya kau berani mendekati Kai.” kata mahasiwi itu dengan senyum melihat Yuna kesakitan.


“Langsung saja ke mukanya supaya mukanya itu berbekas.” saran mahasiwi itu.


“Jangan…. Aku mohon…. Lepaskan aku….” Yuna menanggis dan memberontak.


Sebelum lilin itu kena mukanya langsung ada suara yang familiar mendekati mereka.


“Apa yang kalian lakukan disini?”


Para mahasiwi itu langsung menoleh kebelakang karena mendengar suara yang familiar. Mereka semua langsung terkejut siapa itu.

__ADS_1


__ADS_2