
Rayna dan yang lain terkejut mendengar Reyna memanggil Riku dengan sebutan kakak.
"Re.. Rey..."
Reyna mendengar Rayna memanggilnya langsung menoleh ke Rayna.
"Apa?" tanya Reyna.
"Ba.. Barusan kau memanggil dia apa? Ka... Kakak?" tanya Rayna.
"Ya. Aku memang memanggilnya kakak." kata Reyna.
"Kenapa kau memanggilnya kakak?" tanya Rayna.
"Kenapa? Karena dia adalah kakak kita." jawab Reyna membuat Rayna terkejut. Calvin dan yang lain mendengarkan juga terkejut mendengarnya.
"Hm... Bukankah kau yang tinggal bersama dengan Rey? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Riku melihat Rayna dan keluarganya datang ke rumah.
"Mereka akan tinggal di sini." kata Reyna.
"Kenapa dia sangat mirip dengan mu Reyna?" tanya Gale yang baru sadar melihat Rayna ternyata mirip dengan Reyna.
"Oh, dia teman Reyna, Pa." kata Riku.
"Teman? Apa kau yakin? Kalau teman kenapa bisa sangat mirip dengan Reyna?" tanya Gale dengan bingung.
"Mungkin memang hanya mirip saja. Mereka bukan saudara Pa." kata Riku.
Siska yang mendengar Rayna bukan saudara Reyna membuat Siska terkejut.
"Apa yang kau katakan? Siapa yang bilang Rayna bukan saudara mu?" tanya Siska menatap tajam Riku.
"Kenapa? Bukankah mereka memang bukan saudara Reyna, Ma? Bahkan Reyna sudah memberikan test DNA nya padaku." kata Riku.
"Oh ya. Test DNA yang aku berikan padamu itu palsu." kata Reyna.
"APA???" teriak Riku dengan terkejut.
"Palsu? Jadi mana test DNA yang asli?" tanya Gale.
"Ini, pa." Siska memberikan amplop coklat pada Gale.
Gale membukanya dan membacanya dengan teliti. Setelah selesai membaca Gale terkejut dengan tangan gemetar.
"Kenapa Pa?" tanya Riku melihat Gale seperti gemetar.
"I... Ini apakah benar? Ini tidak bohong kan?" tanya Gale denfgan gemetar.
__ADS_1
"Tentu saja, Pa. Aku mengetest dengan bantuan teman aku." kata Reyna dengan senyum.
Gale langsung melihat ke Rayna yang dari tadi diam saja. Gale mendekati Rayna dengan pelan. Sedangkan Rayna yang melihat Gale mendekatinya langsung merasa gugup.
"Apa benar kau putri ku, nak?" tanya Gale yang sudah mata berkaca-kaca.
Rayna tidak menjawab dan melihat Gale dengan seksama.
Gale memegang muka Rayna dengan pelan dan teliti, sedangkan Rayna merasa gugup melihat Gale memegang mukanya.
Setelah Gale selesai memegang muka Rayna, tiba-tiba Gale tersenyum lebar. Gale langsung memeluk Rayna dengan lembut.
"Selamat datang kembali, Rayna." kata Gale dengan lembut.
Rayna yang mendengar kata Gale, air mata Rayna langsung terjatuh begitu saja dan menangis dengan keras.
"Hiks... Hiks...."
Gale melihat Rayna menangis hanya diam menenangkan Rayna dengan lembut. Sedangkan Calvin dan yang lain hanya tersenyum melihat Rayna sekali lagi menangis karena bertemu dengan Papa kandungnya.
"Tapi, apa Tuan yakin kalau Rayna adalah anak kandung Tuan?" tanya Calvin setelah melihat Rayna melepaskan pelukannya pada Gale.
"Tentu saja. Dilihat dari mukanya saja sudah jelas sangat mirip dengan Reyna." kata Siska.
"Dan lagi, buktinya juga ada pada Gale. gale biasanya tidak mau di sentuh siapapun. Dan kamu lihat sendiri, Gale memeluk Rayna dengan lembut. Itu menyatakan kalau Rayna adalah putri kandungnya. Jika Rayna bukan putri kandungnya, sudah dari awal Gale mengusirnya dari tadi." lanjut Siska.
"Rey, kenapa kau berbohong padaku, kalau dia adalah saudara kita?" tanya Riku ke Reyna.
Riku terdiam mendengar perkataan Reyna, dan Riku tidak ingin bertanya lanjut karena apapun yang di tanyakan pada Reyna, apsti tidak akan di jawab.
"Akhirnya keluarga kita bersatu kembali." kata Gale.
"Baiklah.. Baiklah... Kita bicarakan lagi nanti. Kita makan dulu, karena ini sudah sangat telat makan malam." kata Siska memberhentikan semuanya berhenti bicara dan pergi makan.
"Ayo, kita pergi makan. Kalian pasti capek karena perjalanan jauh." kata Gale dengan senyum.
Gale langsung berdiri, langsung melihat ke Edgar yang dari tadi hanya diam dan tidak bicara.
"Uncle? Bukankah anda Uncle Edgar? Kenapa Uncle ada di sini?" tanya Gale dengan terkejut melihat ada Edgar di Mansionnya.
"Kenapa kau baru sadar? Aku sudah berada di sini semenjak sore tadi." kata Edgar dengan santai.
Edgar melihat akhirnya ada yang mengetahui keberadaannya karena mereka hanya berfokus pada Cucu menantunya.
"Maaf, Uncle. Aku tidak menyadari Uncle. Kenapa Uncle ada berada di sini? Dengan siapa datang ke sini?" tanya Gale.
"Bersama keluarga Cucu aku." jawab Edgar.
__ADS_1
"Keluarga? Ah apa mereka Cucu Uncle?" tanya Gale melihat Calvin dan yang lain.
"Ya. Dan bersama anak mereka dan istri Cucu ku." kata Edgar.
"Istri? Anak?" tanya Gale dengan bingung. Gale langsung sadar melihat Calvin duduk di sebelah Rayna dan di sebelah Calvin ada anak kecil yang mirip dengan Rayna.
"Siapa anak kecil ini? Kenapa sangat mirip dengan Rayna?" tanya Gale langsung sadar dengan kehadiran Richie.
"Dia anak putri mu, Rayna." kata Edgar.
"APA????" teriak Gale dan Riku bersamaan. Riku juga terkejut mendengarnya.
"Itu berarti dia adalah..." kata Gale menunjuk ke Richie.
"Dia adalah Cucu mu, Gale." kata Edgar.
Gale awalnya diam mematung saja setelah itu langsung melebarkan senyumannya. Gale tidak bisa memudarkan senyumannya karena telah mendapatkan seorang cucu.
"Siapa namamu, sayang?" tanya Gale ke Richie.
"Richie." jawab Richie datar.
"Apa Gradpa boleh mengendong mu?" tanya Gale dengan senyum.
Richie awalnya tidak mau Gale mengendongnya, tapi karena dia adalah kakeknya mau tidak mau menerima gendongan Gale.
Gale sangat senang melihat Richie mau di gendongnya. Gale langsung mengendong Richie dan mencium pipi Richie dengan lembut.
"Diantara kalian siapa yang kakak?" tanya Siska.
"Richie, Ma. Mereka kembar." jawab Reyna.
"Kembar???" teriak Siska dan Gale.
"Apa dia adik mu, Richie?" tanya Gale.
"Iya, Grandpa." jawab Richie.
"Aku tidak menyangka mendapatkan seorang cucu dengan usia segini, apa lagi dapat 2 cucu." kata Gale yang sudah tidak bisa tersenyum lagi.
Bagaimana tidak? Setelah Reyna pulang ke rumah, telah bertemu dengan Rayna putrinya yang sudah di anggapnya meninggal, apa lagi mereka pulang dengan memberikan mereka cucu, apa lagi kembar, sudah pasti Gale tidak bisa menyembunyikan kesenangannya.
"Kita makan lagi ya, Pa. Setelah makan baru di bicarakan. Aku sudah lapar." kata Reyna yang sudah sangat lapar.
"Ya. Pasti anak-anak sudah kelaparan. Ayo kita pergi makan." kata Siska langsung menuntut mereka ke dapur untuk makan bersama.
Baru saja mereka semua ingin ke dapur untuk makan malam, tiba-tiba mendengar suara dobrak pintu di depan.
__ADS_1
BRAK!
T.B.C