
Yuna terdiam mendengar perkataan Reyna.
“Apa kau tidak ingin jadi teman aku?” tanya Reyna.
“Aku mau tapi aku merasa tidak cocok berteman denganmu.” kata Yuna.
“Apanya yang tidak cocok? Kau lihat penampilan aku saja seperti anak kampungan dan banyak juga yang menindas dan meremehkan aku.” kata Reyna.
Yuna melihat penampilan Reyna memang seperti anak kampungan berpakaian baju besaran dan kacamata besar. Yuna melihat mata Reyna seperti tidak berbohong.
“Yuna, berteman lah dengan Reyna. Papa merasa dia teman yang bisa dipercaya.” kata Papa Yuna.
Yuna memandang papanya sangat dalam seperti mengatakan apakah aku memang harus berteman dengannya.
Papanya melihat anaknya seperti tau maksudnya langsung berkata, “Papa yakin Reyna pasti bisa menjadi teman terbaikmu. Kamu hanya yakin pada isi hatimu sendiri Yuna.”
Yuna mendengar perkataan papanya dan melihat ke Reyna dan berkata, “ Baiklah, aku mau menjadi temanmu.”
“Bagus! Dengan begini ada yang menemani aku pergi jalan-jalan. Pergi jalan-jalan sendiri sangat membosankan.” kata Reyna dengan senyum dan langsung berdiri disamping Yuna.
“Senang berkenalan denganmu Yuna. Semoga kita bisa bersahabat sampai tua.” kata Reyna mengulurkan tangannya dengan senyum manis.
“Ya, jika tidak keberatan berteman denganku.” kata Yuna.
“Jangan bicara formal Yuna. Jawab seperti teman pada umumnya.” kata Reyna membuat Yuna terdiam sebentar dan langsung tersenyum.
“Ya, Reyna.” jawab Yuna dengan tersenyum.
Papa Yuna tersenyum melihat Yuna tersenyum akhirnya memiliki teman yang tulus dengannya.
‘Semoga Reyna benar-benar anak yang baik dan bisa menjadi teman yang baik untuk Yuna.’ batin Papa Yuna.
~Ring….
Papa Yuna mengangkat telpon.
“Halo…”
“Baiklah, saya segera kembali.” Papa Yuna memutuskan sambungannya.
“Ada apa pa?” tanya Yuna.
“Diperusahaan ada sedikit masalah. Papa balik ke perusahaan dulu ya.” kata Papa Yuna.
“Apa masalahnya besar pa?” tanya Yuna dengan cemas.
__ADS_1
“Hanya masalah kecil saja. Nanti papa akan balik sebelum lelang dimulai. Kamu sama Reyna dulu jalan ya.” kata Papa Yuna ke Yuna.
“Baiklah pa.” kata Yuna.
“Reyna, paman titipkan Yuna ke kamu ya. Jika ada masalah bisa menghubungi paman.” kata Papa Yuna ke Reyna.
“Baik paman.” jawab Reyna dengan senyum.
Setelah papa Yuna pergi, Reyna melihat ke Yuna seperti khawatir tentang papanya.
“Tidak apa-apa Yuna. Paman pasti akan baik-baik saja.” kata Reyna membujuk Yuna supaya tidak khawatir.
“Iya.” Yuna hanya senyum tipis, tapi hatinya sangat khawatir terjadi sesuatu dengan perusahaan papanya.
“Ayo, kita jalan-jalan sambil menikmati bazarnya. Masih banyak makanan yang belum aku coba, karena ada kamu kita bisa mencobanya bersama-sama.” kata Reyna memegang tangan Yuna dan pergi menikmati bazar kampus.
Reyna dan Yuna menikmati bazar kampus, makan baso tusuk, sate, kentang. Reyna banyak bicara dengan Yuna dan bercanda dengannya membuat Yuna senang dan menikmati bazar kampus.
“Kita ke Lelang Silver yuk.” kata Reyna sambil memakan es krim.
“U-untuk apa kesana?” tanya Yuna.
“Lihat-lihat saja. Aku sangat penasaran dengan lelangnya.” kata Reyna mengajak Yuna langsung ke gedung Lelang Silver.
“Gedungnya lumayan besar juga.” kata Yuna takjub melihat gedungnya.
“Kenapa kau bisa tau?” tanya Yuna menatap Reyna.
“Karena aku sudah melihatnya tadi pagi sebelum bertemu denganmu. Bahkan dari sini sudah terlihat gedungnya.” kata Reyna.
“Dimana? Kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Yuna melihat sekeliling.
“Disebelah kanan kau Yuna.” jawab Reyna sambil menunjuk ke kanan Yuna.
Yuna melihat kekanannya dan membulatkan matanya tidak percaya, bahwa gedung untuk Lelang Gold sangat besar bahkan lebih besar dari lelang yang lain.
“Gedung lelang gold sangat besar karena nanti akan di bagi beberapa tempat lagi karena banyak yang ingin melihat lelang tersebut. Walaupun orang yang ikut serta dalam lelang tersebut terbatas.” kata Reyna.
Yuna hanya diam mendengarkan perkataan Reyna dan melihat Gedung itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
“Sepertinya kau tidak terlalu suka melihat sekeliling kampus.” kata Reyna.
“Karena aku lebih suka sendiri. Aku tidak begitu suka keluar rumah.” kata Yuna dengan pelan.
“Tapi setelah bertemu dengan aku, aku pastikan kau akan ketagihan keluar rumah dari pada dirumah.” kata Reyna dengan percaya diri.
__ADS_1
Reyna memegang tangan Yuna dan mereka masuk ke gedung lelang silver. Reyna memesan tempat duduk dan mereka masuk ke dalam. Reyna masuk kedalam lelang ternyata Lelangnya baru saja dimulai membuat Reyna senang karena pas datang lelang baru saja dimulai.
“Reyna, papan nomor itu untuk apa?” tanya Yuna melihat Reyna memegang papan nomor.
“Untuk lelang mana tau ada yang membuat aku tertarik.” kata Reyna dengan santai.
“Apa kau pernah mengikuti lelang?” tanya Yuna.
“Tidak.”
“Apa kau tau peraturan lelang ini?”
“Tau, maka dari itu aku ingin ikut. Jika ada barang yang menarik maka aku akan membelinya.”
“Ah, lelangnya sudah dimulai.”
Setelah 1 jam lebih Lelangnya akhirnya selesai. Reyna keluar dengan wajah kecewa dan cemberut.
“Kau tidak apa-apa Reyna?” tanya Yuna melihat Reyna sepertinya kecewa.
“Aku merasa kecewa dengan barang lelang di dalam. Semua barangnya tidak ada yang menarik, bahkan bisa pula ada yang mau menjual baju yang biasa saja dengan harga 100 juta. Apa yang dipikirkan orang itu.” kata Reyna dengan kecewa dan kesal.
“Memangnya kenapa dengan baju itu? Bukankah baju itu sangat bagus bahkan ada emas asli dibaju itu.” kata Yuna.
“Emas asli? Apa kau yakin dengan perkataanmu Yuna?” kata Reyna dengan senyum.
“Apa maksudmu?” tanya Yuna dengan bingung.
“Baju itu memang ada emasnya, tapi aku lihat bukan emas asli melainkan emas palsu, bahkan bahan sutranya juga palsu.” kata Reyna.
“P-palsu? Apa kau yakin Reyna?” tanya Yuna dengan tidak percaya.
“Benar, itu palsu. Memang sudah dibuktikan oleh orang pinalti itu asli, tapi aku merasa itu palsu karena tadi kena sinar sutranya tidak mengkilap.” jelas Reyna.
“Aku seperti merasa orang yang mengecek baju itu sedang bekerja sama dengan orang lelangnya. Jika tidak, tidak mungkin harga baju itu dimulai dengan harga 20 juta.” kata Reyna.
“Kalau benar baju itu palsu orang yang membeli baju itu akan rugi besar. Apa kita tidak bisa membantu?” kata Yuna merasa ingin membantu.
Reyna melihat Yuna seperti ingin menolong orang yang membeli baju itu.
“Mau gimana cara membantunya Yuna? Sedangkan orangnya saja kita tidak tau.” kata Reyna membuat Yuna menundukkan kepalanya.
“Tidak usah dipikirkan lagi. Sekarang kita beli minum dulu ya, Aku kehausan.” kata Reyna mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah.” jawab Yuna.
__ADS_1
Reyna dan Yuna pergi beli minum. Sedangkan disisi lain Ren merasa sangat tidak bertenaga di ruang osis karena tidak dapat menemukan Reyna.