
Hana membawa Ren ke pantai lagi untuk memandikan Ren.
"Apa aku boleh pulang Ma?" tanya Ren.
"Tidak Ren. Kita masih agak lama pulang ke villa." kata Hana.
"Jika mama memang tidak ingin bersama aku jangan mengajak aku, Ma." Ren merasa sangat bosan jika bersama Hana.
"Tidak Sayang. Kita pergi bersama Papa mu juga." kata Hana.
"Memangnya mau ke mana, Ma?" tanya Ren.
"Ke pesta."
Ren mendengar kata pesta langsung memutarkan kedua bola matanya karena Ren paling tidak suka pergi ke pesta.
"Kenapa tidak Mama dan papa saja yang pergi?" tanya Ren.
Ren merasa pergi ke pesta itu sangat membosankan karena akan banyak gadis gadis yang dekat dengannya.
Ren sejak kecil sudah populer di banyak gadis. Ren waktu berusia 2 tahun Ren ke pesta bersama Aizen dan Hana, Ren sudah banyak gadis-gadis yang mendekatinya
Para gadis-gadis itu suka mendekati Ren dan membuat Ren tidak nyaman. Bahkan mereka dengan sengaja terjatuh di depannya karena ingin mendapatkan perhatiannya.
Ren paling tidak suka gadis-gadis itu menggoda atau membicarakan hal yang membosankan di depannya. Maka semenjak itu Ren tidak suka pergi ke pesta.
"Jika begitu kau akan sendirian di Villa. Mama tidak mau." kata Hana.
"Bukankah ada pembantu dan pengawal di Villa? Kenapa aku jadi sendirian?" tanya Ren.
"Para pembantu tidak menginap di Villa kita dan hanya ada pengawal saja."
"Memangnya kenapa kalau aku sendirian di Villa?" tanya Ren.
"Apa kau tidak takut tinggal sendirian?"
"Kenapa harus takut?"
Hana melihat kalau Ren sangat tidak takut tinggal sendirian.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Hana dan Ren melihat Aizen mendekati mereka.
Aizen menunggu Ren dan Hana tidak pergi menemuinya akhitnya Aizen pergi mencari Hana dan Ren.
"Putra kau satu ini tidak mau ikut kita ke pesta." kata Hana.
Aizen melihat ke Ren sudah seperti cemberut karena tidak ingin ikut pesta.
"Kenapa tidak ingin ikut Ren? Di sana banyak gadis cantik loh. Mungkin kau bisa mendapatkan calon istrimu." kata Aizen.
Bugh...
__ADS_1
"Apa yang kau katakan pada Ren, Hah??!!" Hana memulkul Aizen dengan keras.
"Kenapa kau memukul ku Sayang?" Aizen merasa memegang kepalanya walupun tidak sakit.
"Kau jangan mengajari Ren yang tidak-tidak."
"Aku hanya bercanda."
"Aku tidak mau ikut, Pa. Aku rasa ikut pesta hanya akan membosankan." kata Ren.
"Kenapa membosankan? Di sana banyak makanan yang enak loh." kata Aizen.
"Pokoknya aku ingin pulang." tegas Ren dan tidak ingin di tolak.
"Bagaimana kalau kau dengan Ren saja pulang ke Villa dan aku sendiri yang pergi." kata Aizen ke Hana.
"Tapi....."
"Kita paksa Ren ikut juga yang ada nanti Ren menghilang Hana. Aku rasa Ren akan berkeliaran entah kemana jika Ren merasa bosan. Mendingan Ren pulang saja dari pada nanti akan menyusakan kita." kata Aizen
Hana terdiam. Barusan saja Ren di tinggal sebentar saja sudah pergi ke Mall tanpa sepengetahuannya.
"Baiklah." Hana merasa sangat tidak enak jika tidak ikut pesta karena pesta itu adalah pesta kolega Aizen.
"Tidak apa. Nanti aku akan bilang pada kolega ku." kata Aizen dengan lembut karena Aizen tahu apa yang di pikirkan Hana.
"Ayo Ren.." Hana ingin mengendong Ren tapi Ren tidak mau.
"Tidak! Aku tidak mau di gendong!" kata Ren dengan tegas.
"Ppfff....." Aizen hampir ketawa.
"Kenapa kau sangat mirip dengan Papa mu. Ayo sini!" Hana sudah kesal dengan putranya.
"Tidak! Papa! Hentikan Mama!" teriak Ren menyuruh Aizen menghentikan Hana yang sudah mengendongnya.
"Ren.. Mama mengendongmu karena ingin cepat pulang. Bukankah kau ingin cepat pulang?" tanya Aizen.
"Tidak! Tetap saja aku tidak mau di gendong!" teriak Ren.
"Aku sudah besar dan tidak ingin di gendong." lanjut Ren ingin memberontak.
"Diam! Kau masih anak kecil. Dari mana kau sudah dewasa!" Hana tidak mau melepaskan Ren dan pulang.
"Hahaha..... Ren benar benar mirip denganku. Itu baru anak ku." Aizen tertawa melihat Ren yang tidak ingin di gendong Hana. Aizen bisa merasakan kalau Gen nya turun ke Ren.
***
"Ma! berhenti mengendong ku!" teriak Ren.
"Diam! Kita sudah mau naik mobil."
Hana sampai di mobil dan menurunkan Ren. Ren yang di turunkan Hana langsung berlari ke depan mobil.
__ADS_1
Supir langsung jalan ke Villa Aizen. Sampai di Villa Ren langsung berlari ke kamarnya. Hana hanya diam melihat Ren langsung ke kamar.
"Kenapa putra aku satu ini mirip dengan suami ku? Entah kenapa aku ingin seorang putri." Hana menghela nafas dan pergi ke dapur.
***
"Apa kau yakin kalau di Villa itu hanya ada anak dan Istrinya?"
"Ya. Pengawal mereka pun hanya ada 2 saja di pintu. Kita pergi ke belakang."
"Apa kita pukul saja pengawal itu?"
"Tidak! kita pakai tembak bius saja biar orang di dalam tidak tahu terjadi sesuatu."
"Ok!"
Tidak jauh dari Villa Aizen ada beberapa orang yang memperhatikan Hana dan Ren. Mereka seperti ingin melakukan sesuatu tanpa Aizen tahu.
***
"Hmm... Kenapa aku merasa ada yang memperhatikan aku?" gumam Ren langsung berhenti dengan komputernya.
Ren ke jendela dan melihat luar. Ren melihat tidak ada siapapun kecuali pengawal di depan gerbang, tapi Ren merasakan ada yang memperhatikannya.
"Oh ya, aku cari saja di komputer. Kalau tidak salah Papa sudah mengajarkan aku cara mendeteksi orang." Ren langsung mengotak atik komputernya.
"Dapat! Hm... Ada apa ini? Kenapa banyak orang di dekat rumah aku?" Ren terkejut melihat ada beberapa orang di sekeliling rumahnya.
"Sepertinya aku harus menghubungi Papa." Ren langsung menelpon Aizen.
Ring~
Ring~
Ring~
"Kenapa tidak di jawab?" kesal Ren.
Ren tidak mau putus asa dan terus menelpon Aizen. Ren yang sedang menelpon Aizen langsung saja di bawah terdengar suara keras.
BRAK
"Sepertinya aku terlambat." kata Ren dengan pelan mendengar suara keras dari luar kamarnya.
"Ren.... Kita harus pergi sekarang. Ada yang menerobos Villa kita." Hana menerobos kamar Ren dengan keras.
"Astaga Mama mengejutkan aku saja." Ren terkejut Mamanya masuk tanpa ketok pintu.
Ren langsung menekan tombol di bawah mejanya langsung terbuka pintu di lemari baju Ren.
"Ma... Ayo masuk kedalam." kata Ren.
"Hm... Sejak kapan di Villa ini ada ruangan seperti ini?" tanya Hana dengan terkejut.
__ADS_1
T.B.C