
Reyna dan yang lain sedang naik mobil menuju ke bandara.
“Bagaimana dengan Harry dan Clara?” tanya Reyna.
“Nanti kita ketemu di bandara karena jika kita menjemput mereka juga nanti tidak akan sempat.” kata Calvin yang sedang mengemudi.
Reyna hanya mengangguk mengerti. Reyna melihat Rachel dan Richie sepertinya sangat senang bisa pergi jalan jalan bersama Mommy dan Daddy mereka.
“Rey, kau tidak ketinggalan kan tiket pesawatnya?” tanya Rayna.
“Ya, Sudah aku bawa.” jawab Reyna.
1 jam kemudian Reyna dan yang lain sudah sampai Bandara Internasional.
“Kak.. Di sini..” teriak Harry melihat Calvin dan yang lain sudah sampai.
“Apa kalian baru sampai?” tanya Rayna.
“Tidak kak, kami sudah di sini 30 menit lalu. Jalan sangat macet jadi kami pergi lebih awal.” jawab Harry.
Harry dan Clara sudah tiba 30 menit lalu karena jalan sangat macet. Reyna dan yang lain naik pesawat di hari minggu, jadi sudah pasti jalan sangat macet karena banyak mobil yang pergi jalan keluar.
“Apa sudah semua kak?” tanya Harry membawa troli karena barang Calvin dan yang lain sangat banyak.
“Sudah. Ayo kita masuk, nanti kita telat.” kata Calvin. Calvin dan Harry membawa troli sedangkan Reyna dan Rayna membawa tas dan kue di kantong untuk makan di dalam nanti.
“Kita ke mana Reyna?” tanya Calvin.
“Kita langsung saja masuk ke dalam ruang tunggu.” kata Reyna dengan santai.
“Hah? Ruang tunggu? Apa kita tidak mengambil tiket nomor duduk pesawat dulu?” tanya Calvin dengan terkejut.
__ADS_1
“Ya. Aku sudah menyuruh seseorang untuk tiket masuk kita.” jawab Reyna dengan santai.
Calvin dan yang lain hanya mengikuti Reyna saja. Reyna langsung di luar ruang tunggu tapi Reyna dan yang lain tidak masuk. Reyna menelpon seseorang dan menyuruhnya untuk datang karena dirinya sudah sampai.
5 menit kemudian tiba tiba ada seorang lelaki yang mendekati Reyna dan yang lain.
“Nona Reyna.” kata pria itu menundukkan kepalanya.
Semua orang terkejut melihat tiba tiba ada pria yang medekati Reyna bahkan menundukkan kepalanya pada Reyna.
“Apa sudah siap semua?” tanya Reyna.
“Sudah nona. Kami sudah siap 30 menit yang lalu. Hanya tinggal menunggu Nona dan yang lain sampai dan kita bisa berangkat kapan saja.” jawab Pria tersebut.
“Ok. Kau bantu mereka membawa barang mereka, karena barangnya sangat banyak. Jika hanya mereka berdua saja nanti bisa lama.” kata Reyna menyuruhnya untuk membawa troli yang di bawa oleh Calvin dan Harry.
“Biarkan mereka yang bawa barang kita semua. Kita langsung naik pesawat.” kata Reyna menyuruh Calvin dan Harry memberikan Trolinya pada orang itu.
“Baiklah.” Calvin hanya menurut.
Calvin dan Edgar merasa kalau Reyna bukan orang biasa karena melihat mereka langsung naik pesawat tanpa tiket. Reyna tinggal menyuruh orang itu dan mereka hanya menurut perintah Reyna.
“Cal, apa kau tidak tahu identitas Reyna?” tanya Edgar yang merasa tidak bisa menyenbunyikan rasa penasarannya tentang Reyna.
“Tidak kek. Aku dari awal bertemu dengan Reyna juga sangat penasaran dengan identitas Reyna, karena Reyna memiliki tempat apartemen yang mahal bahkan ada 2 ruangan utama.” kata Calvin.
Biasanya kalau di Apartemen rata-rata memiliki 2 ruangan dan tidak begitu besar. Sedangkan Apartemen Reyna sangat besar, bahkan kamar utamanya ada 2 kamar.
Calvin tidak pernah tanya berapa harga di apartemen Reyna, karena di lihat dari luas dan besarnya pasti sudah bernilai 50 miliar keatas.
“Benar juga, bahkan kakek melihat kamar kakek saja sudah besar bisa di tempati 3-4 orang. Kalau di lihat dari luas apartemen Reyna bisa sampai 20 meter persegi.” kata Edgar.
__ADS_1
“Nanti setelah sampai di luar negeri, aku juga ingin bertanya pada Reyna kek. Karena apa yang Reyna miliki sangat tidak logis. Dia tinggal sendirian, tapi tinggal di tempat yang luas itu.” kata Calvin.
“Daddy… Daddy….” teriak Rachel.
“Apa?” tanya Calvin agak terkejut mendegar Rachel tiba-tiba teriak.
“Kata Aunty Reyna kita naik pesawat yang besar Daddy. Itu pesawatnya.” kata Rachel menunjukkan pesawat yang di kasih tahu sama Reyna.
Calvin dan Edgar melihat pesawat yang di tunjuk oleh Rachel. Semuanya tidak bisa terkejut dan menganga melihat pesawat yang akan mereka naiki, apalagi Calvin dan Edgar lebih terkejut dari pada yang lain. Ternyata pesawat yang mereka naiki sangat besar bahkan bisa 2x lipat dari pesawat biasa.
Entah kenapa Edgar merasa identitas Reyna sudah seperti anak konglomerat kaya. Edgar langsung tahu setelah melihat pesawat yang akan mereka naiki sudah pasti pesawat pribadi.
“Apa yang kalian lihat dari tadi? Ayo kita naik, apa kalian ingin tinggal di sini saja?” tanya Reyna.
Reyna melihat tidak ada seorang pun yang jalan. Mereka semua seperti patung hanya karena melihat pesawat yang akan mereka naiki.
Reyna mendekati Rayna dan menyadarkan Rayna yang dari tadi diam saja, Reyna mencubit sedikit tangan Rayna karena tidak menjawab atau berbicara.
“Aw…” Rayna langsung sadar karena ada yang mencubitnya.
“Kenapa kau diam saja dari tadi. Apa kita tidak jadi berangkat?” tanya Reyna dengan pelan.
“Jadi. Aku hanya merasa bermimpi saja karena kita akan naik pesawat yang besar itu.” kata Rayna dengan pelan.
“Ini bukan mimpi, tapi nyata Ray. Kau sadarkan mereka semua karena kita tidak akan jalan jika mereka semua hanya berdiri saja di situ.” kata Reyna menyuruh Rayna untuk menyadarakan semua orang, kecuali Rachel dan Richie yang dari tadi di gandeng oleh Reyna.
Rayna langsung saja menyandarkan semua orang, dan mereka semua langsung naik pesawat. Mereka semua langsung terkejut dan menganga lagi melihat di dalam pesawat itu. Di dalamnya sangat mewah bahkan tempat duduknya sangat empuk dan bisa di jadikan tempat tidur.
Setelah semuanya naik pesawat, Reyna langsung menyuruh pilotnya untuk terbang. Akhirnya Reyna dan yang lain terbang menuju kampung Reyna.
T.B.C
__ADS_1