Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 159 - AMARAH REN


__ADS_3

"Maaf tuan. Dokternya lagi ada urusan mendadak jadi mohon datang besok lagi." kata Perawat.


"Apa??!! Memangnya dokter itu kemana?" tanya Ren dengan terkejut.


"Saya kurang tau tuan." kata perawat.


"Kenapa Ren?" tanya Reyna.


"Dokternya ada urusan mendadak jadi tidak bisa melakukan tes DNA." kata Ren.


"Jadi bagaimana kita bisa tes?" tanya Calvin.


"Aku juga bingung." kata Ren.


"Apa Andrew bisa membantu kita nggak? Bukankah dia dokter di sini?" tanya Reyna.


"Benar juga. Coba aku tanya sama perawat." kata Ren.


"Kenapa kau tidak telpon dia saja?" tanya Reyna merasa Ren telah menjadi bodoh.


"Em... Hp aku sepertinya tertinggal di mobil." kata Ren dengan menggaruk kepala dengan pelan.


Reyna    : "......"


"Pakai punya aku." kata Reyna mengasih Hpnya. Ren langsung saja telpon Andrew pakai Hp Reyna.


"Kenapa tidak di angkatnya?" Ren kesal Andrew tidak mengangkatnya dan menghubunginya berkali-kali.


"Permisi, apa dokter Andrew ada?" tanya Reyna ke perawat.


"Dokter Andrew yang mana ya Nona?" tanya Perawat.


Reyna terdiam karena dia tidak tau Andrew kerja jadi dokter apa di rumah sakit.


"Andrew Anderson. Dokter bedah." kata Ren.


"Dokter Andrew sedang banyak pasien Tuan. Tuan ada perlu apa sama dokter Andrew?" tanya Perawat.


"Bilang padanya kalau Ren ingin bertemu dengannya sekarang juga." kata Ren dengan agak maksa.


"Ba-baik Tuan. Tunggu sebentar." kata Perawat agak ketakutan melihat Ren dengan agak maksa dan langsung menelpon ke ruang Andrew.


Di sisi lain Andrew yang baru selesai memeriksa pasien langsung duduk dengan letih.


"Akhirnya selesai juga." kata Andrew merasa sangat lelah. Andrew melihat Hp nya ada yang telpon tapi di biarkan saja karena tidak ingin di ganggu istirahatnya.


Ring~ Ring~


"Ada apa? Jika ingin memeriksa atau ingin bertemu bilang saja besok. Karena jam kerja shift sudah selesai." kata Andrew.

__ADS_1


"Em.. Dokter, ada yang ingin bertemu dengan dokter." kata Perawat.


"Bilang saja besok. Hari ini pekerjaan aku sudah selesai. Aku tidak ingin menerima pasien atau bertemu dengan siapapun." kata Andrew ingin menutup sambungan tapi terhenti mendengar suara lelaki.


"Siapa yang bilang pekerjaan kau sudah selesai? Kau masih ada tugas lagi." suara lelaki di sebrang dengan dingin mengambil gagang telpon dari Perawat.


Andrew terdiam mendengar suara yang familiar. Dia melihat ke gagang telpon itu dan berpikir siapa itu.


"Ini siapa ya?" tanya Andrew menaikkan sebelah alisnya.


"Sepertinya kau sangat suka membuat masalah dengan aku Andrew Anderson. Atau kau kena amnesia? Atau mungkin kau ingin aku turun kan jabatanmu, dan menyeret mu ke dokter amnesia?" tanya ujung telpon dengan ancaman dan dingin.


Andrew terdiam dengan suara yang familiar apa lagi ancaman yang terdengar mengerikan baginya.


"Saya beneran tidak tau anda Tuan. Mungkin anda salah orang. Shift saya sudah selesai, jika tuan ingin bertemu silakan datang lagi besok ke rumah sakit." kata Andrew langsung menutup sambungan dan bersiap pulang.


Sedangkan di sebrang telpon sana sudah menahan emosi karena Andrew telah berani menutup sambungan tanpa persetujuannya.


"Dimana ruangannya?" tanya Ren yang menahan emosinya dan memukul gagang telpon itu dengan kasar.


Betul, yang telpon barusan adalah Ren. Ren mendengar apa yang di katakan Andrew lewat speaker langsung mengambil gagang telpon dari Perawat dan memarahinya malah Andrew telah membuatnya semakin emosi.


"Em... Apa yang mau tuan lakukan?" tanya Perawat merasa akan terjadi pertengkaran jika mempertemukan Ren sama Andrew.


"Itu bukan urusanmu. Sekarang kau beritahu di mana ruangan pria ini." kata Ren menahan emosi.


"Sudah Ren jangan emosi. Kita tunggu saja di sini. Nanti juga ketemu dia karena dia pasti lewat sini." kata Reyna dengan pelan.


Setelah beberapa menit langsung Andrew keluar dari lift dan ingin pulang tapi di tahan perawat.


"Dokter Andrew."


"Ada apa? Bukankah aku sudah bilang kalau shift aku hari ini sudah selesai?" tanya Andrew.


"Tapi tuan ini sangat ingin bertemu dengan Dokter. Katanya sangat penting." kata Perawat.


"Aku tidak perduli siapa orang penting itu. Karena aku ada janji sama orang setelah ini." kata Andrew langsung meninggalkan perawat itu.


"Apa segitu penting nya janji kau sama orang itu dari pada bertemu dengan ku?" tanya seorang lelaki dengan dingin.


Andrew terdiam mendengar suara yang familiar. Andrew seperti pernah mendengar suara itu, langsung saja menoleh ke belakang.


Andrew langsung terkejut dan langsung muka pasi melihat siapa yang bicara dengannya, bahkan lelaki tersebut menatapnya dengan sangat tajam dan tatapan membunuh menahan emosi.


"Kenapa kau diam? Apa segitu penting nya kau pergi menemui orang lain dari pada bertemu dengan aku?" tanya lelaki itu lagi.


"Em... Sepertinya disini ada kesalahpahaman." kata Andrew dengan senyum kecil merasa agak ketakutan melihat lelaki di depannya menatap tajam dan membunuh.


"Dimana kesalahpahaman nya?" tanya lelaki itu dengan tajam.

__ADS_1


Ada yang tau siapa itu? Benar itu Ren. Ren dan yang lain sedang menunggu Andrew di lobby karena Andrew pasti pulang akan lewat lobby.


"Ren, sepertinya beneran di sini ada kesalahpahaman." kata Andrew dengan ketakutan.


"Dokter? Apa Dokter mengenal lelaki ini?" tanya Perawat.


"Ya. Dia teman aku." jawab Andrew yang melihat Ren sudah menahan amarahnya.


"Kita bicara di ruang aku. Jangan disini, karena akan menggangu ketenangan orang lain." kata Andrew melihat sudah banyak yang memperhatikan mereka.


Andrew langsung mengajak Ren dan yang lain ke ruangannya naik lift.


Sampai di ruangan Andrew. Andrew di jalan selalu ketakutan karena Ren menatap tajam dirinya.


"Em... Kalian ada perlu apa ketemu dengan ku?" tanya Andrew yang takut melihat Ren karena Ren masih menahan emosi dan tatapan tajam yang tidak mereda-reda.


"Sepertinya kau beneran tidak ingin bertemu dengan ku sampai aku menelpon mu tidak diangkat sama sekali." kata Ren menatap tajam Andrew.


Ren rasanya ingin memukul wajah Andrew karena jika tidak memukulnya Ren amarah nya tidak akan mereda.


"Telpon? Aku tidak melihat kau ada telpon aku?" tanya Andrew dengan bingung.


"Siapa yang menelepon mu beberapa menit lalu?" tanya Ren.


"Tadi memang ada yang telpon, tapi aku tidak menjawabnya." jawab Andrew.


"Kenapa tidak angkat?" tanya Reyna.


"Aku pikir pasien aku. Karena shift aku sudah selesai dan aku ada janji, makanya aku sengaja tidak menjawabnya." kata Andrew.


Reyna : "......"


"Kenapa kalian bertanya? Dan kenapa kalian tau kalau aku ada panggilan masuk?" tanya Andrew dengan bingung.


"Em..." Reyna ingin menjawab tapi Ren sudah bicara duluan.


"Kenapa kau tidak telpon balik saja nomor itu?" kata Ren menatap tajam Andrew.


Andrew merasa bingung, tapi langsung membuka hp nya. Andrew tanpa rasa curiga sedikitpun atau tanpa berpikir dulu langsung telpon nomor panggilan terakhir.


Ring~ Ring~


Terdengar suara ringtone dari saku Reyna. Reyna langsung mengeluarkan HP-nya dan menaruhnya di meja.


Andrew terkejut melihat nomor yang tertera di HP Reyna. Itu adalah nomornya. Andrew melihat nomor yang di HP nya adalah panggilan terakhir.


Andrew melihat ke Reyna hanya diam sedangkan Ren menatap tajam Andrew. Andrew langsung menelan Saliva nya dengan gugup.


Ren yang sudah tidak tahan lagi langsung berdiri dan memukul kepala Andrew dengan keras untuk melepaskan amarah nya.

__ADS_1


BUK..


"Sekarang kau tau kan siapa yang kau telpon. Bisa-bisanya kau tidak mengangkat panggilanku. Bahkan kau berani mematikan duluan sambungan telpon saat aku belum selesai bicara." kata Ren akhirnya melepaskan amarah dan emosinya pada Andrew.


__ADS_2