
Setelah beberapa saat...
Hiroshi di dalam operasi akhirnya selesai.
"Huft... Akhirnya... Kalian bereskan semuanya." kata Hiroshi.
"Baik Dokter." para perawat lain langsung membereskan peralatan.
Hiroshi langsung keluar sambil melepaskan maskernya. Aizen mendenagr suara pintu langsung melihat Hiroshi baru saja keluar.
"Bagaimana Hiroshi?" tanya Aizen langsung mendekati Hiroshi.
"Operasi berjalan lancar. Tapi aku tidak menyangka kalau lukanya sangat parah." kata Hiroshi.
"Parah? Apa maksud mu?" tanya Gale.
"Luka di punggungnya bukan cuma hanya luka bakar, tapi ada juga pecahan tajam di dalam." jelas Hiroshi.
"Awal aku memeriksa di rumah sakit, aku sudah merasa ada yang aneh, jadi pas di pindahkan ke sini aku scan tubuhnya. Pas di periksa ternyata benar kalau ada benda tajam di punggungnya."
"Untung saja tadi aku scan dulu tubuhnya, jika tidak sudah pasti benda tajamnya masih berada di tubuhnya dan akan mengakibatkan infeksi." jelas Hiroshi dengan panjang.
Aizen dan Gale terkejut mendengar penjelasan Hiroshi. Gale merasa tepat memanggil Hiroshi untuk memeriksa Ren, jika tidak sudah pasti Ren tidak akan selamat.
"Putra mu sudah bisa di pindahkan. Aku rasa dia akan lama di rumah sakit, karena aku ingin memeriksa lukanya sampai mambaik." kata Hiroshi.
"Tidak apa, Hiroshi. Asalkan Putraku bisa sembuh, aku tidak perdulikan berapa biayanya, dan lagi rumah sakit ini adalah milik ku." kata Aizen.
"Hahaha... Aku tahu kau pasti akan menjawab seperti itu." tertawa Hiroshi.
Ren akhirnya di pindahkan ke ruang perawatan. Aizen juga menjaga Ren dengan baik.
"Apa kau sudah memberitahu Hana?" tanya Hiroshi membuat Aizen tersentak.
Aizen benar-benar lupa dengan Hana. Hana sudah pasti khawatir. Aizen dengan cepat menelpon anak buahnya di Villa dan menyuruh bawa Hana ke sini. Aizen menelpon Hana di luar kamar Ren supaya tidak membangunkan Ren.
"Hana..." Aizen menelpon Hana dan Hana dengan cepat mengangkatnya.
__ADS_1
"Aizen... Kenapa kau tidak mengabari ku? Aku sudah mati-matian mencemaskan mu." Hana teriak dengan keras.
"Maaf Hana... Di sini banyak yang harus aku lakukan. Kau keluar saja dari temapt persembuyian dan pengawal mu akan membawa mu ke sini." kata Aizen.
"Memangnya kau di mana sekarang? Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik Hana. Aku tidak punya waktu memberitahu mu. Kau datang saja ke sini, ya."
"Baiklah." Hana tahu kalau Aizen punya seseuatu yang di sembuyikan tapi Hana tidak bertanya lagi. Sampai bertemu baru Hana tanyakan.
"Kenapa? Apa yang Hana katakan?" tanya Gale.
"Aku rasa Hana datang nanti dia pasti akan mengamuk." kata Aizen mematikan sambungan telpon.
"Ya kau tidak memberitahu padanya. Tapi aku rasa dia akan mengerti." kata Gale.
"Ren, anak mu sudah bangun." Hiroshi keluar kamar Ren.
"Apa? Ren sudah bangun." Aizen terkejut Ren sudah bangun.
Aizen dengan cepat masuk ke dalam bersama Gale. Aizen melihat Ren sudah membuka matanya dengan pelan.
Ren mendengar suara familiar langsung menoleh. Aizen senyum tipis melihat Aizen.
"Apa ada yang sakit Ren?" tanya Aizen.
"Ini di mana Pa?" tanya Ren melihat sekeliling bukan rumahnya.
"Kau sedang di rumah sakit. Apa ada yang sakit? Biarkan dokter memeriksa mu dulu ya."
"Hiroshi coba cek Ren." Aizen menyuruh Hiroshi memeriksa Ren.
Hiroshi mendekati Ren dan ingin memeriksa tubuh Ren.
Ren yang melihat dokter yang ingin memeriksanya hanya diam saja tapi setelah melihat alat Stetoskop di leher Hiroshi membuat Ren ketakutan.
Ren langsung mengingat kejadian Delvin melakukan hal itu membuat Ren ketakutan. Ren dengan cepat melempar alat di tangan Hiroshi dengan cepat dan berteriak.
__ADS_1
"JANGAN MENDEKAT!!! JANGAN MENDEKAT!!! PERGI!! PERGI!!" teriak Ren dengan histeris. Ren melempar bantal maupun barang di ada di sisinya ke Hiroshi.
"Kenapa Ren? Tenang. Tenang Ren." Aizen dengan cepat menghentikan Ren. Sedangkan Gale melihat Hiroshi.
"Apa kau tidak apa?" tanya Gale ke Hiroshi karena dahinya berdarah karena Ren melemparkan benda ke Hiroshi.
"Tidak apa." Hiroshi melihat Ren memberontak.
"Tenang Ren. Dia tidak akan melakukan apapun padamu." Aizen dengan cepat menenangkan Ren yang masih ingin memberontak. Aizen memeluk Ren dengan cepat dan mengunci kedua tangan Ren karena ingin melempar barang ke Hiroshi.
Hiroshi dengan cepat mendekati Ren dan menyuntikkan bius penenang. Setelah beberapa menit Ren akhirnya memulai tidur.
"Apa yang kau berikan pada Ren?" tanya Aizen memeriksa Ren dengan cepat.
"Tenanglah Aizen, hanya obat penenang. Aku merasa kalau ini akan terjadi, jadi untuk jaga-jaga aku membawa obat penanang." kata Hiroshi.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia tiba-tiba memberontak?" tanya Gale melihat Aizen menidurkan Ren.
"Aizen. Aku rasa putra mu kena trauma. Nampak jelas dari kelakuannya tadi kalau dia ketakutan dan mengingat kejadiannya." kata Hiroshi dengan pelan.
"Trauma?" tanya Aizen.
"Ya. Aku rasa dia takut melihat alat ku ini, makanya dia menyerangku." kata Hiroshi memegang Stetoskop.
"Kenapa dia takut dengan alat itu?" tanya Gale dengan bingung begitu juga dengan Aizen.
"Ujung Stetoskop. ini ada besi, jadi mungkin dia takut melihat besi."
"Hebat juga kau tahu kalau dia takut itu." kata Gale dengan kagum.
"Karena aku melihat dia fokus ke alat aku, jadi aku menebaknya." kata Hiroshi.
"Apa traumanya bisa di sembuhkan?" tanya Aizen.
"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau aku tanya teman aku nanti." kata Hiroshi.
"Baiklah."
__ADS_1
Aizen terus di sisi Ren. Takut Ren terbangun dan berontak lagi dan tentu saja Gale menemaninya juga. Sedangkan Hiroshi langsung menelpon temannya untuk berkonsultasi.
T.B.C