
"Hm..? Apa kau yakin dia berada di sini?" tanya Aizen melihat titik keberadaaan Delvin.
"Ya. Apa kau pikir aku kasih salah titik padamu?"
"Apa dia ingin menguburkan kuburannya sendiri? Dia beneran bodoh! Dia berada bersembunyi di tempat kekuasaan ku. Ini membuang waktu ku. Kalau begini aku tidak perlu menyuruh mu mencarinya." kata Aizen melihat merasa Delvin sangat bodoh karena bersembunyi di daerah kekuasaannya.
"Apa yang barusan kau bilang? Kau tidak membutuhkan bantuan ku? Jika aku tidak melacaknya bagaimana kau bisa tahu keberadaannya." kata Gale merasa tidak di butuhkan padahal dia yang membutuhkan bantuannya.
"Apa yang kau katakan? Harusnya kau bilang kalau di bersembunyi di negara aku, jika tahu begini aku tidak usah menunggu terlalu lama. Aku bisa memberitahu anak buah ku menyusup ke tempatnya." kata Aizen mengeluarkan Hp-nya dan memberikan pesan pada anak buahnya.
Gale merasa kesal dengan Aizen karena bilang tidak membutuhkan bantuannya. Padahal Aizen duluan yang meminta bantuannya.
"Kenapa kau begitu sombong? Jangan hanya karena dia bersembunyi di negara kekuasaan mu kau bisa menyelesaikannya sendirian." kata Gale.
"Hah! Aku memang bisa menyelesaikannya sendirian. Lihat saja! Setelah kita sampai mereka sudah kena kempung sama anak buah ku." kata Aizen dengan sombong.
Aizen dan Gale langsung pergi naik pesawat jet Gale. Tidak sampai 30 menit mereka sudah sampai tujuan.
"Bagaimana?" tanya Aizen di telpon.
"Kami sudah mengepung di sekeliling persembuyiannya Tuan."
"Aku akan sampai 10 menit lagi. Kalian terus memantau sampai aku sampai." kata Aizen langsung mematikan telponnya.
"Bagaimana?" tanya Gale.
"Aku sudah mengepung tempatnya. Dia tidak akan bisa kabur." kata Aizen.
"Jangan lupa kalau dia punya putra mu, Aizen. Nanti kita sampai dia pasti pakai Putramu untuk sanderanya." kata Gale.
"Putra ku tidak selemah itu." kata Aizen.
Gale dan Aizen telah menuju perjalanan ke tempat persembuyian Delvin.
Sedangkan Delvin sedang bersenang-senang minum bir nya. Delvin masih belum tahu kalau tempatnya sudah di kepung oleh anak buah Aizen.
"Aku tidak sabar melihat Aizen datang menyelamatkan putranya. Aku yakin dia akan sangat marah. Hahaha..." Delvin tertawa menikmati Birnya.
"Saat kau datang kau sudah melihat mayat anak mu. Aku akan melakukan hal yang sama waktu yang kau lakukan pada adik ku." Delvin tertawa puas melihat keadaan Ren.
__ADS_1
***
Di dalam ruangan Ren terkurung. Ren berbaring di lantai sambil gemetar karena kesakitan. Ren sudah tidak ada tenaga untuk bergerak.
"P.... Pa.... Papa......" Ren bicara dengan sangat lesu. Ren tidak bisa melihat dengan jelas walaupun ruangannya sangat gelap. Ren hanya bisa berharap kalau Aizen cepat menyelamatkannya.
'Pa... Cepat datang... Aku sudah tidak ada tenaga untuk bergerak lagi....' batin Ren yang sudah melemah.
***
PRANG
Hana yang sedang ingin minum tanpa sengaja memecahkan gelas. Entah kenapa Hana memiliki perasaan yang tidak enak.
"Apa ini? Kenapa perasaan ku tidak enak? Apa terjadi sesuatu pada Aizen?" gumam Hana melihat pecahan gelasnya.
"Nyonya tidak apa?" tanya pengawal melihat Hana memecahkan gelas.
"Tidak.. Tidak apa. Aku hanya merasa capek saja." kata Hana dengan senyum pelan.
"Nyonya duduk saja, biar saya bersihkan." kata pengawal.
"Tidak usah. Biar saya saja yang melakukannya." kata Hana mengambil pecahan di lantai.
'Semoga tidak terjadi sesuatu padamu Aizen.' batin Hana.
***
"Bagaimana keadaannya?" tanya Aizen yang baru sampai.
"Tidak ada perubahan Tuan. Sepertinya dia masih di dalam dan tidak mengetahui keberadaan kita." jawab anah buah Aizen. Setelah Aizen sampai langsung menyapa Aizen.
"Sepertinya dia masih seperti dulu. Dia sangat bodoh karena tidak mengetahui keberadaan kita." kata Gale merasa Delvin sangat tidak punya pengalaman seperti ini.
"Apa yang kau katakan? Aku yang hebat sampai dirinya tidak mengetahui keberadaan kita." kata Aizen dengan sombong.
"Ya... Ya... Kau memang hebat." kata Gale hanya mengiyakan saja jika mengelak yang ada Aizen tidak akan mau berhenti.
"Kita jalankan sekarang saja rencananya." kata Gale.
__ADS_1
"Kenapa harus terburu-buru. Aku ingin melihat bagaimana situasinya dulu." kata Aizen.
"Apa kau tidak ingin menyelamatkan putra mu? Aku yakin kalau Delvin sudah melakukan sesuatu pada putramu sebelum kita jalan." kata Gale membuat Aizen terkejut dan ada benarnya.
"Kalian siap di posisi kalian. Kita jalankan Rencana B." kata Aizen menyuruh anak buahnya untuk pergi ke posisinya.
"Baik Tuan." Anak buah Aizen langsung pergi ke posisinya.
"Si Brengsek itu jika terjadi sesuatu pada putra aku, maka aku tidak akan diam. Aku akan membalas 100X lipat." kata Aizen dengan tajam.
***
"Bagaimana keadaan bocah itu? Apa dia masih bernafas?" tanya Delvin.
"Dia masih lemah, Tuan. Sepertinya anak itu masih bernafas." kata pengawal Delvin.
"Nanti aku akan melakukan dengan pelan lagi. Kau jaga di luar, jangan sampai ada yang masuk ke dalam." kata Delvin.
Sebelum anak buahnya menjawab terdengar suara ledakan di sekeliling persembuyian mereka.
DUAR
DUAR
DUAR
"Suara ledakan apa itu? Kau cepat cari tahu." kata Delvin mendengar suara ledakan disekeliling persembuyiannya.
"Ba-baik Tuan." pengawal Delvin dengan cepat ingin keluar memeriksa.
Baru saja pengawal itu ingin membuka pintu, langsung saja pintu itu di rusak sampai pengawal itu kena pintu.
"Siapa??!! Siapa yang berani melawan ku??" tanya Delvin dengan marah.
"Sepertinya kau sama sekali tidak berubah." kata seseorang di luar pintu pakai topeng.
"Hmm? Siapa kau?" tanya Delvin dengan tajam.
"Cih! Kau sama sekali tidak tahu siapa? Bagaimana jika aku mengingatkan mu." kata orang bertopeng langsung masuk ke dalam dengan tenang.
__ADS_1
"Hah? Siapa kau? Aku tidak mengenal mu. Apa kau tahu jika kau berani menyusup tempat orang?" tanya Delvin menatap tajam.
T.B.C