
“Apa kau sudah selesai bicara dengan papaku?” tanya Yuna melihat Reyna keluar dari mobil.
“Sudah. Apa kau sudah membeli minum?” kata Reyna.
“Sudah. Ini untuk mu. Pa, ini untuk papa juga.” kata Yuna mengasih minuman dingin ke Reyna dan Papanya.
“Thanks Yuna.” kata Reyna langsung meminumnya.
“Apa kita pergi ke gedung Gold sekarang? Soalnya lelangnya sudah mau dimulai.” kata Yuna melihat jam.
“Ya, kita pergi sekarang.” kata Reyna.
“Oh ya, pa tiket masuknya mana pa?” tanya Yuna ke Papanya.
“Ini. Jika ada masalah bisa kasih tau sama papa.” kata Papa Yuna.
“Baik pa. Ayo Reyna kita pergi.” kata Yuna dengan senyum.
“Ya. Paman kami pergi dulu.” kata Reyna.
“Ya. Hati-hati.” kata Papa Yuna.
Setelah Yuna dan Reyna pergi. Papa Yuna melihat putrinya seperti dekat dengan Reyna membuatnya tersenyum.
“Apa aku harus mempercayaimu Reyna? Entah kenapa aku merasa aku bisa percaya padamu bisa mendapatkan tanah itu. Tapi disisi lain aku merasa takut suatu saat kau akan mengambilnya dan mencelakai keluarga paman.” kata Papa Yuna dengan pelan melihat Yuna dan Reyna pergi ke gedung Gold.
“Reyna, tadi apa yang kau bicarakan dengan papa aku?” tanya Yuna.
“Hanya bicara biasa saja. Aku ketoilet sebentar ya.” kata Reyna.
“Baiklah. Aku tunggu didepan lobby.” kata Yuna.
Setelah Reyna ke toilet, Reyna membuka Hp-nya ternyata Ren dari tadi telp dan chatting banyak dengannya.
“Jika aku beritahu Ren nanti dia pasti akan langsung datang. Tapi aku tidak ingin Ren tau kalau aku ikut lelang.” kata Reyna melihat chatting Ren sangat banyak dan ingin bertemu dengannya.
“Bilang jalan sama teman saja. Dari pada nanti bakal ribet kalau Ren tau aku ikut lelang tanah.” kata Reyna langsung membalas chatting Ren.
Setelah selesai Reyna langsung ke lobby ketemu dengan Yuna. Reyna melihat Yuna sedang bicara dengan seorang wanita dan mereka sedang beribut membuat Reyna cepat mendekati Yuna.
“Ada apa yuna?” tanya Reyna mendekati Yuna.
“Reyna, kau sudah balik.” kata Yuna melihat Reyna sudah kembali.
“Dia siapa Yuna? Apa kau mendapat teman yang ingin mendapatkan keuntungan darimu?” tanya gadis itu dengan sinis.
__ADS_1
“Bukan!” bentak Yuna.
Gadis itu hanya senyum sinis menatap Yuna.
“Dia siapa Yuna? Kenalan mu?” tanya Reyna.
Yuna ingin menjawab langsung dipotong oleh gadis itu. “Perkenalkan saya Maria teman kecil Yuna.”
“Apa dia temanmu Yuna?” tanya Reyna tanpa memperdulikan Maria.
Yuna hanya menundukkan kepalanya menandakan iya. Reyna melihat Yuna kelihatan sangat takut dengan Maria bahkan tangan Yuna sedikit gemetar.
“Sepertinya kau sama sekali tidak berubah Yuna. Kau sangat penakut bahkan tidak suka dekat dengan orang lain.” kata Maria dengan senyum.
“Ah ya. Aku kasih tau sama kau jangan terlalu dekat dengan gadis ini karena dia pembawa petaka.” kata Maria dengan senyum sinis memandang Yuna.
Mendengar kata Maria Yuna meremas bajunya dengan ketakutan bahkan menundukkan kepalanya.
“Apa maksudmu?” tanya Reyna.
“Dia pernah membuat seseorang masuk rumah sakit dan…” kata Maria langsung dipotong oleh Yuna.
“Maria! Jangan bicara yang tidak-tidak!” kata Yuna dengan keras.
“Kenapa? Apa kau tidak ingin teman kau meninggalkan kau lagi?” tanya Maria dengan sinis.
“Kau jangan ikut campur dengan urusan orang. Dengan siapa aku berteman terserah aku.” kata Yuna ke Maria.
Maria hanya senyum sinis melihat Yuna. Maria melihat ke Reyna dengan teliti ternyata Reyna berpakaian culun dan menatap Reyna dan Yuna dengan sinis.
“Pantesan dia mau berteman denganmu. Ternyata hanya gadis culun. Aku yakin kau pasti akan diperalat saja karena kekayaan mu.” kata Maria memandang Reyna dengan sinis.
“Jangan berani mengejek Reyna!” bentak Yuna.
“Sudah Yuna jangan banyak bicara lagi. Nanti kita telat.” kata Reyna melihat jam 30 menit lagi lelang akan dimulai.
Yuna melihat jamnya memang benar lelang akan dimulai sebentar lagi. Yuna tidak mau ribut karena waktunya tinggal sedikit lagi.
“Baiklah.” kata Yuna.
Maria melihat Yuna dan Reyna meninggalkannya langsung memandang sinis terhadap mereka.
“Kalian ingin kabur? Apa kalian pengecut?” kata Maria dengan sinis.
Yuna langsung menatap tajam Maria dan ingin membalasnya tapi Reyna menghentikannya.
__ADS_1
“Sudah Yuna, jangan membuang waktumu dengannya. Nanti kita tidak akan sempat ikut lelang.” kata Reyna.
“Lelang? Kalian ikut lelang tanah?” tanya Maria.
“Memangnya kenapa?” tanya Yuna.
“Jangan bilang kalau kalian ingin tanah yang baru itu?” tanya Maria lagi.
“Memangnya kenapa? Apa urusannya denganmu?” tanya Yuna.
“Hahahaha… Apa kau serius? Apa kalian tidak tau kalau tanah baru itu palsu?” kata Maria dengan senyum mengejek.
“A-apa yang barusan kau bilang?” kata Yuna dengan terkejut.
“Aku bilang tanah baru itu palsu. Apa kau tidak melihat berita di internet?” tanya Maria dengan sinis.
Yuna langsung membuka Hp-nya dan ternyata benar apa yang dibilang kalau tanah baru itu palsu membuat Yuna tidak percaya. Sedangkan Reyna hanya diam saja melihat berita itu.
“Yuna…” kata Reyna.
“Bagaimana ini Reyna?” kata Yuna dengan mta yang sudah berkaca-kaca.
“Jangan percaya dengan rumor Yuna. Belum tentu yang keluar itu adalah benar.” kata Reyna memastikan Yuna.
“Rumor itu benar, karena rumor yang keluar itu dari orang tanah itu langsung.” kata Maria dengan senyum.
“Kenapa kau bisa tau kalau itu dari orang tanah itu langsung?” tanya Reyna.
“Karena orang tua aku kenalan dengan orang menjual tanah itu.” kata Maria membuat Reyna dan Yuna terkejut.
“Tapi jika kalian ingin tanah palsu itu juga tidak masalah karena aku yakin uang kalian pasti tidak akan cukup untuk membeli tanah.” kata Maria tertawa keras.
“Yuna, ayo kita pergi sekarang. Nanti lelangnya akan dimulai.” kata Reyna ke Yuna.
“Ta-tapi Reyna…” kata Yuna langsung dipotong oleh Reyna.
“Jangan percaya dengan omongannya. Belum tentu yang dibilangnya itu benar kecuali kita melihatnya sendiri.” kata Reyna.
“Dari pada kalian ikut lelang mendingan kalian pulang saja belajar karena ini sangat sulit untuk kalian.” tanya Maria dengan sinis dan menyuruh Reyna dan Yuna pulang.
“Kenapa kami harus mendengar perkataanmu?” tanya Reyna ke Maria.
“Aku berkata seperti ini untuk kalian juga karena pasti kalian tidak akan bisa mendapatkan tanah manapun dilelang ini.” kata Maria.
“Kalau menurutmu lelang ini sangat sulit untuk mendapat tanah. Kau saja yang pulang kerumah minum susu dan tidur siang supaya otak kau itu berjalan.” kata Reyna sontak membuat Maria dan Yuna terkejut.
__ADS_1
“Apa kau bilang??” teriak Maria.
“Apa aku harus mengulang perkataan aku lagi?” tanya Reyna dengan senyum sinis.