
“Yang menjadi pemeran utama pria adalah Enzi”
“APA!!!” teriak semua orang.
“Enzi, Sepertinya kau akan menjadi pangeran yang membangun putri tidur.” kata Felix tertawa.
“Apa yang kau bilang?” tanya Enzi yang sedang pakai headphone tidak mendengar percakapan Dosen.
“Kau jadi peran sebagai pangeran.” kata Felix.
“Apa pula masalahnya? Lagian cuma hanya acting.” kata Enzi dengan santai.
“Apa kau mau tau siapa putri tidurnya?” tanya Felix.
“Siapapun tidak ada hubungannya dengan aku.” kata Enzi dengan dingin.
“Apa kau yakin?” tanya Felix.
“Ya. Asalkan jangan gadis kampungan jelek itu.” kata Enzi melihat Reyna dengan sinis.
“Bagaimana kalau dia yang jadi perannya?” tanya Felix menahan tawa.
“Apa maksudmu?” tanya Enzi dengan bingung.
“Dia yang menjadi putri Enzi. Kau yang akan membangunkan dia dengan ciumanmu.” kata Felix dengan senyum.
“APA!!!!” teriak Enzi.
“Apa yang kau teriakkan Enzi?” tanya Dosen.
“Pak, apa benar dia menjadi putri?” tanya Enzi menunjuk ke Reyna dengan tatapan tidak percaya.
“Benar.”
“Apa! Aku tidak mau peran jadi pangeran kalau putrinya gadis kampungan seperti dia. Kenapa tidak Ren saja yang menggantikannya.” kata Enzi menahan marah.
“Kalian sendiri yang ingin membuat drama putri tidur. Kenapa tiba jadi peran pada protes semua.” kata Dosen.
“Sekarang tidak boleh ada yang protes lagi.” sambung Dosen dengan tegas.
“Tapi pak…” kata Enzi ingin berkata langsung dipotong oleh Dosen.
“Tidak ada penolakan!” kata Dosen dengan tegas.
Enzi hanya mengendus kesal karena dosen tidak mau mengubah perannya. Bahakan beberapa mahasiswi juga ingin protes karena ada yang suka dengan Enzi.
“Cecil, sepertinya yang jadi pangeran adalah Enzi.” kata Serena.
“Ya. untung saja bukan Ren. Jika benar Ren yang akan menjadi pangeran, maka aku akan mengutuknya jadi cacat.” kata Cecilia.
“Sekarang semuanya ke ruang pelatihan. Kita mulai pelatihannya mulai sekarang.” kata Dosen langsung membersihkan meja dan keluar dari kelas.
‘Sial! Kenapa aku yang jadi pangeran dan harus mencium gadis kampungan seperti dia.’ batin Enzi dengan kesal.
“Reyna, apa kau tidak takut?” tanya Yuna.
“Takut apa?” tanya Reyna.
“Dengan Enzi. Dia orangnya suka berantem dengan orang lain bahkan dia sangat dingin dan seram.” kata Yuna.
“Benarkah?” tanya Reyna.
“Benar. Kau harus hati-hati dengannya.” kata Yuna.
“Ok. Aku akan hati-hati.” jawab Reyna.
__ADS_1
***
“Enzi, apa kau tidak bisa melakukannya lebih baik? Ini sudah yang ke tiga kalinya.” tanya Dosen melihat Enzi tidak melakukan aktingnya dengan baik.
“Aku akan melakukannya dengan baik jika mukanya normal.” kata Enzi.
“Apa maksudmu?” tanya Reyna dengan bingung.
“Apa kau tidak bisa melihat cermin? Muka kau itu sangat jelek. Gimana bisa kau jadi putri kalau muka kau itu sangat jelek itu.” kata Enzi dengan sinis.
“Maksudmu aku harus mengubah wajah aku gitu?” tanya Reyna.
“Ya, ubah wajah yang banyak jerawat dan bekas hitam dimuka kau itu. Jika kau sudah melakukannya dengan baik, maka aku akan acting dengan baik.” kata Enzi dengan dingin.
“Sudah jangan ribut lagi. Enzi kali ini lakukan dengan benar.” kata dosen.
“Cih!” Enzi hanya mengendus kesal.
Akhirnya setelah Enzi melakukan acting dengan Reyna sampai menjelang sore.
“Baiklah, sampai disini dulu. Kalian boleh pulang. Besok kita latihan lagi.” kata Dosen.
“Baik pak!” kata semua mahasiswa.
---- Apartemen Reyna ----
“Hah~ Hari ini sangat melelahkan. Gara-gara Enzi aku jadi telat pulang karena aktingnya buruk.” kata Reyna berbaring dikursi.
~Ping
Reyna melihat ada pesan di Hpnya dan langsung melihatnya.
Yuna : “Reyna maaf, besok aku tidak bisa datang ke kampus.”
Yuna : “Aku tidak apa. Aku hanya ada masalah keluarga.”
Reyna : “Ok.”
Reyna langsung mematikan hp-nya.
~Ring
~Ring
“Kenapa Ren menelpon aku?” kata Reyna melihat Ren menelponnya dan langsung menjawabnya.
“Ada apa Ren?” tanya Reyna.
“Kau dimana?” tanya Ren.
“Di apartemen.” jawab Reyna.
Ren langsung mematikan telponnya.
“Kenapa dia mematikan telponnya?” kata Reyna melihat Hp-nya.
~Ting tong
Reyna membuka pintunya dam melihat Ren seperti tergesa-gesa.
“Kau kenapa Ren?” tanya Reyna.
Ren langsung memeluk Reyna dengan lembut dan langsung melihat muka dan tubuh Reyna dengan teliti.
“Kenapa Ren?” tanya Reyna.
__ADS_1
“Kau tidak diapa-apakan sama si sialan itu kan?” tanya Ren dengan teliti.
“Sama siapa?” tanya Reyna.
“Siapa lagi kalau bukan Enzi?” kata Ren dengan kesal.
“Apa kau khawatir?” tanya Reyna.
“Tentu saja aku khawatir denganmu. Takut kau dilakukan sesuatu sama mesum itu.” kata Ren.
“Kau tenang saja. Aku tidak apa.” kata Reyna meyakinkan Ren.
“Apa aku perlu habisin dia supaya tidak dekat denganmu?” tanya Ren yang sudah mata tajam.
“Untuk apa habisi dia?” tanya Reyna.
“Karena dia berani menciummu! Jika Kai tidak menghentikan aku, aku pasti sudah menghajar dia sampai babak belur.” kata Ren yang masih memeluk Reyna dengan erat.
"Itu hanya acting Ren. Dia tidak benar-benar mencium aku.” kata Reyna melihat Ren langsung cemburu besar.
“Tidak! Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu. Walaupun sehelai rambutmu pun akan aku hajar orang itu.” kata Ren dengan tegas dan tajam.
Reyna hanya bisa menghembus nafasnya tau sifat Ren yang sangat posesif dengannya.
“Jadi kau mau bagaimana?” tanya Reyna.
“Berhenti jadi peran putri, kau boleh jadi peran lain selain putri.” kata Ren.
“Apa aku harus jadi peran Penyihir atau Ratu gitu?” tanya Reyna.
“NO! Tidak boleh!” jawab Ren dengan cepat.
“Kenapa tidak boleh? Kau tidak memperbolehkan aku menjadi putri, penyihir, atau Ratu. Jadi aku harus jadi apa?” tanya Reyna.
“Jadi cermin.” jawab Ren dengan datar.
“…….”
“Jadi Cermin saja. Bukankah Penyihir nanti akan bicara dengan cermin dan bertanya apakah dia itu cantik atau tidak?” Kata Ren.
“Jadi maksudmu aku harus jadi pemeran tambahan?” tanya Reyna yang sudah wajah ditekuk.
“Ya. Supaya semua orang tidak bisa melihat wajahmu yang cantik itu.” jawab Ren.
“Kenapa harus wajah cantik aku? Mereka tidak tau wajah asli aku Ren. Aku kan mengubah wajah aku menjadi jelek.” kata Reyna.
“Benar juga. Tapi tetap saja aku tidak akan membiarkan kau menjadi peran sebagi putri.” kata Ren dengan santai.
“Jika aku tidak mau bagaimana?” tanya Reyna.
“Maka aku akan mengurung dan menghukummu supaya tidak bisa masuk ke kampus.” ancam Ren.
“Coba saja kalau kau bisa Ren.” kata Reyna dengan senyum menyeramkan.
Ren langsung memegang dagu Reyna dan mencium dengan ganas.
Reyna langsung terkejut Ren langsung menciumnya tanpa bilang.
“Hmph…..” Reyna memukul bahu Ren karena sudah tidak bisa bernafas.
Ren langsung menyudahi ciumannya. Setelah Reyna beberapa detik bernafas, Ren menciumnya lagi dengan lembut bahkan lebih lama dari yang pertama tadi.
“Hah… hah…..” Reyna bernafas dengan tersengal-sengal karena Ren menciumnya sangat lama.
“Aku kasih tau satu hal sama kau Rey. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu dan kau milik aku seorang.” kata Ren dengan tegas.
__ADS_1