
3 hari akhirnya berlalu. Waktu Reyna dan yang lain untuk balik ke luar negeri sudah tiba. Gale dan Siska mengantarkan Reyna dan yang lain ke bandara.
Siska tidak menyangka kalau waktu bisa begitu cepat, padahal dirinya sangat ingin bersama dengan putri dan cucunya.
Siska juga tidak bisa melakukan apapun karena cucunya memang sudah waktunya sekolah.
“Jangan sedih, Ma. Jika mama ada waktu datanglah ke tempat kami. Aku yakin cucu mama pasti akan senang.” kata Reyna dengan senyum supaya Mamanya tidak sedih.
“Benar, Grandma. Atau Grandma ikut sama Rachel dan Mommy saja?” tanya Rachel memegang tangan Siska supaya ikut bersama dengan mereka.
“Baiklah. Jika urusan Grandma sudah selesai, Grandma akan menemui kalian.” kata Siska dengan senyum.
Siska tahu kalau Gale tidak bisa meninggalkan perusahaannya. Apalagi Riku juga sangat sibuk karena membantu Gale.
Rachel langsung senang karena Siska akan menemuinya di sana. Rachel langsung memeluk Siska dengan erat, Siska juga membalas dengan lembut.
“Jika sudah sampai Rumah beritahu Mama langsung. Mama tidak akan tenang jika kalian tidak memberi kabar.” kata Siska.
“Tentu Ma.” Reyna langsung memeluk Siska dengan lembut.
Rayna juga ikut memeluk Siska karena akhirnya bertemu dengan Mama kandungnya. Walaupun Rayna masih ingin bersama dengan Siska tapi dirinya juga tidak bisa membiarkan anaknya tidak masuk sekolah.
“Terima kasih Gale. Kasih salam ku pada Ray.” kata Edgar.
“Tentu, Uncle.” kata Gale dengan senyum.
Edgar, Harry dan Clara juga ikut dengan Rayna dan yang lain. Setelah Reyna dan yang lain lepas landas. Siska dan Gale hanya melihat pesawat itu sampai menghilang.
“Jangan sedih, Kau juga akan bertemu dengan putri mu lagi di sana.” kata Hana dengan senyum.
“Ya. Kau benar.”
“Kenapa kalian masih di sini? Apa masih belum cukup liburan kalian?” tanya Gale ke Aizen.
“Tidak, liburan sudah cukup. Hanya aku ingin bilang sesuatu padamu.” kata Aizen. Aizen dan Hana tidak ikut dengan Reyna dan yang lain karena Aizen ingin mengatakan sesuatu pada Gale.
“Kenapa tidak dari kemarin saja?” tanya Gale.
“Sebenarnya ingin tentang putri bungsu mu.” bisik Aizen ke Gale supaya Siska dan Hana tidak mendengarnya.
Gale yang mendengar putri bungsunya langsung berwajah serius dan bertanya apa yang terjadi. Tapi sayangnya Aizen tidak memberitahunya karena tempatnya sangat tidak cocok.
__ADS_1
“Kita ganti tempat. Aku tidak ingin orang lain mendengarnya termasuk Wanita kita.” kata Aizen dengan pelan.
“Baiklah. Kita bicarakan ini di ruangan kerja ku.” kata Gale.
Gale dan yang lain langsung balik Mansion memakai mobil Gale. Tentu saja Gale sendiri yang mengemudi.
“Pa, apa yakin kita tidak pulang?” tanya Hana.
“Tidak masalah, Ma. Kita baru pulang lusa karena pas-pasan hari minggu.” jawab Aizen yang duduk di sebelah Gale.
“Kenapa mereka ingin cepat pulang? Bukankah anak-anak masih ada waktu 3 hari lagi.” tanya Siska dengan bingung.
“Mungkin mereka ingin membersihkan rumah mereka, Ma. Mereka kan sudah beberapa hari meninggalkan rumah mereka, sudah pasti kotor. Kalau mereka pulang hari Minggu takutnya mereka tidak sempat membersihkan rumah mereka.” jawab Gale.
Siska hanya mengangguk mengerti karena membersihkan rumah pasti sangat capek. Siska pernah dengar dari Reyna kalau dia membeli apartemen yang bagus di sana dan sekalian Rayna dan keluarganya tinggal bersamanya.
“Oh ya, kenapa Uncle Edgar tidak tinggal di Mansionnya saja? Bukankah lebih luas dari pada tinggal di apartemen?” tanya Hana dengan penasaran.
“Dengar dari cerita Calvin kalau Uncle pernah di tinggalkan oleh Menantunya itu di bandara. Mungkin dari awal lelaki itu dari awal memang ingin meninggalkan Uncle di bandara dan menjadikannya tunawisma.” jelas Aizen.
“Apa??!” Siska terkejut mendengar Edgar di tinggal oleh menantunya. Bukan hanya Siska tapi Hana juga terkejut mendengarnya.
“Kenapa Papa tidak memberitahu Mama tentang hal ini??” Hana langsung menatap tajam Aizen. Hal penting tentang Edgar tidak di kasih tahu padanya.
“Kapan? Bukankah pas Papa pulang dari apartemen Reyna waktu itu, Papa langsung saja ke perusahaan setelah Makan malam.” kata Hana.
Aizen langsung memukul jidatnya karena melupakan hal itu. Waktu itu Aizen ingin memberitahu Hana tentang Edgar tapi sayangnya ada telpon dari perusahaan membuat Aizen langsung ke perusahaan setelah makan malam.
“Kenapa suami kita selalu lupa hal penting sih?” tanya Hana.
“Entahlah. Yang mereka pikirkan hanya kerja saja. Keluarga mereka tidak ada di pikirkan mereka.” kata Siska.
“Siapa yang mementingkan keluarga?” tanya Aizen dan Gale dengan serempak.
“Lihatkan. Mereka sangat kompak. Otak mereka sama saja.” kata Siska.
“Apa Mama sedang mengejek kami?” tanya Gale merasa Siska mengejeknya.
“Tidak. Aku tidak mengejek. Tapi hanya mengatakan kalian itu bodoh.” jawab Siska dengan santai.
Gale : “…….”
__ADS_1
Aizen : “……”
Para suami istri hanya diam di dalam mobil sampai mereka di Mansion Rayden.
“Kalian pulang? Bagaimana dengan liburannya?” tanya Rayden yang sedang menonton TV melihat Gale dan yang lain sudah balik.
“Aku merasa masih belum puas, Pa. Putri dan Cucu ku sudah pergi semua. Aku kesepian.” Siska langsung mendekati Rayden dan memeluknya dengan manja.
“Dari pada kau mengoceh melulu, kenapa tidak pergi bersama mereka saja?” tanya Rayden dengan santai.
“Aku mau saja, tapi banyak hal yang harus aku lakukan.” jawab Siska.
“Memangnya kau kerja apa? Bukankah kau hanya bersantai di rumah?” tanya Gale mendengar Siska ada kerjaan.
Siska langsung menatap tajam Gale. Gale hanya biasanya karena sudah biasa dengan sikap istrinya.
“Pa, apa kau tahu kalau putra Papa satu ini telah mengejek aku. Bukan hanya aku, Hana juga di ejek sama Aizen.” ngadu Siska ke Rayden.
Gale terkejut mendengar perkataan Siska, begitupun juga dengan Aizen. Aizen berpikir kenapa dirinya di masukkan ke dalam permasalahan mereka.
“Hm… Kau ke atas saja, bukankah kau lelah karena perjalanan Panjang?” tanya Rayden dengan lembut.
“Ok.” Siska dengan patuh langsung kekamar bersama Hana.
Setelah Rayden melihat Siska dan Hana sudah naik keatas langsung saja menatap tajam Gale dan Aizen. Gale dan Aizen pun terkejut melihat Rayden seperti marah pada mereka berdua padahal mereka tidak ada salah apapun.
“Gale, apa yang kau lakukan pada putriku?” tanya Rayden dengan tajam.
“Hah? Aku tidak melakukan apapun padanya.” jawab Gale dengan cepat.
“Dan lagi sejak kapan Siska menjadi putrimu? Bukankah dia adalah menantu mu?” tanya Gale.
“Memangnya kenapa? Semenjak dia masuk ke rumah ini, aku sudah menganggapnya sebagai putri kandungku sendiri.” jawab Rayden dengan datar.
“Bukankah aku putra kandungmu, Pa?” tanya Gale sambil menunjuk dirinya.
“Siapa yang bilang? Aku tidak punya putra yang tidak bisa membahagiakan putriku.” kata Rayden langsung ke kamarnya.
Perkataan Rayden membuat Gale tersentak terkejut. Gale merasa kalau di keluarganya tidak ada seorangpun di pihaknya termasuk putrinya.
“Jangan khawatir, aku juga merasakan hal yang sama sepertimu.” kata Aizen sambil memegang bahu Gale.
__ADS_1
Aizen mengajak Gale ke ruang kerja Rayden. Walaupun Gale menolak tapi Aizen tidak perduli karena hal yang ingin di katakan Aizen sangat penting. Gale mau tidak mau akhirnya mengikuti Aizen.
T.B.C