Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 52 – MENUNGGU SESEORANG


__ADS_3

“Apa kau yakin?” tanya Yuna.


“Iya. Nanti kita lihat tanah terakhir apakah bisa diambil atau tidak.” kata Reyna.


“Baiklah.” kata Yuna.


“Kenapa? Apa kalian sudah tidak mau dengan tanah ini?” tanya Maria dengan sinis.


“Kau menang. Tanah ini untukmu saja.” kata Reyna.


“Apa!!!” teriak Maria.


“Apa kau yakin tidak mau tanah ini? Apa mungkin kau sudah tidak punya uang?” kata Maria dengan sinis tapi hatinya sangat gugup.


“Kenapa kau begitu gugup? Apa mungkin kau tidak punya uang untuk beli tanah ini?” tanya Reyna memandang sinis Maria.


“Si-siapa yang bilang aku tidak punya uang untuk beli tanah ini.” kata Maria yang mulai gugup.


“Benarkah? Kalau memang kau punya uang untuk beli tanah ini maka aku akan memberikannya padamu. Karena masih ada 1 tanah lagi yang belum dilelangkan, jadi aku memilih tanah terakhir.” kata Reyna dengan senyum


manisnya.


“Tentu saja aku punya uang, nanti kau bisa melihatnya.” kata Maria dengan senyum paksa.


“Bagaimana ini nona? Bagaimana kita bisa membayarnya?” kata Seketaris dengan cemas dikursinya.


“DIAM! Aku akan cari cara.” bentak Maria.


“Jika tuan tau kita bisa kena marah besar nona.” kata seketaris dengan cemas dan gugup.


“Aku tau! Makanya aku akan cari cara.” kata Maria dengan berpikir keras.


Setelah 2 jam lelangnya selesai semua orang pada keluar dari ruangan.


“Ayo Yuna, kita keluar.” kata Reyna.


“Ya.” jawab Yuna.


Reyna dan Yuna keluar dari ruangan lelang. Disaat mereka diluar pintu lelang Reyna melihat Maria sangat gugup dan gelisah membuat Reyna tersenyum tipis.


‘Ini baru awalnya Maria karena kau berani menantang aku. Aku pelan-pelan bermain denganmu sampai kau puas.’ batin Reyna dengan senyum


“Reyna, aku mau ketoilet sebentar ya.” kata Yuna.


“Aku ikut.” kata Reyna.


“Ayo, kita pergi bersama.” kata Yuna sambil memegang tangan Reyna dan mereka pergi ketoilet.


***

__ADS_1


“Sial! Kenapa aku tidak menampak Rey di CCTV? Apa benar dia tidak masuk ke lelang gold?” kata Ren dengan kesal.


“Kenapa kau begitu yakin kalau Reyna ada di lelang Ren? Bukankah CCTV itu terlihat Reyna tidak terlihat? Mungkin Reyna bersama dengan temannya menikmati bazar.” kata Andrew.


“Benar kata Andrew, Ren. Jika dia ada dilelang pasti kita melihatnya.” kata Kai.


“Mungkin karena kau ingin cepat bertemu dengan Reyna makanya kau berpikir Reyna ada di lelang.” kata Andrew.


“Benarkah? Kenapa insting aku tidak berpikir begitu?” tanya Ren.


“Ren kau terlalu berhanusilasi.” kata Kai.


“Sudahlah jangan dipikirkan lagi. Aku mau ketoilet.” Ren langsung ke toliet karena harus menghindar perkataan sahabatnya yang dari tadi mengoceh Reyan tidak ada dilelang.


Disaat Ren baru masuk toilet, Reyna dan Yuna baru keluar dari toilet.


“Yuna, apa kau tidak ingin menghubungi papamu?” tanya Reyna mengingatkan Yuna.


“Ah ya, aku lupa.”


“Maaf ya, aku tidak bisa mendapatkan tanah yang kau inginkan di lelang ini. Padahal aku sudah berjanji padamu untuk mendapatkan tanah itu.” kata Reyna karena tidak menepati janjinya.


“Tidak apa, Reyna. Karena kau sudah membantu aku membalas Maria tadi sudah membuat aku senang. Kalau kita tidak mendapatkan tanah mungkin keberuntungan masih belum dipihak kita.” kata Yuna mencoba untuk senyum.


“Kau sangat baik Yuna. Aku penasaran kenapa semua orang tidak ingin berteman dengan orang yang baik sepertimu.” kata Reyna.


“Halo pa.”


“Ada apa yuna? Apakah kamu berhasil mendapatkan tanahnya?”


“Maaf pa. Yuna tidak berhasil mendapatkan tanah itu. Padahal tinggal sedikit lagi bisa mendapatkan tanah itu.” jawab Yuna dengan pelan.


Papa Yuna mendengar jawab putrinya hanya bisa menghela nafasnya.


“Tidak apa, Yuna. Kamu sudah berusaha.” Jawab Papa Yuna dengan lembut.


“Maaf  kalau Yuna mengecewakan papa.” kata Yuna mata berkaca-kaca.


“Tidak apa Yuna. Kita masih bisa mencari lagi tanah yang lain. Masih banyak tanah yang kosong.” jawab papa Yuna.


“Iya pa.”


“Papa tutup ya. Papa lagi sibuk. Nanti papa telpon lagi.”


“Iya pa.” kata Yuna air matanya sudah jatuh dipipinya.


‘Maaf pa. Yuna tidak bisa membantu papa. Yuna memang anak sial bagi papa. hiks… hiks…’ batin Yuna menangis dengan terisak-isak.


Reyna melihat Yuna sepertinya sudah selesai telp dengan papanya. Reyna ingin mendekatinya tapi langsung berhenti melihat Yuna menangis.

__ADS_1


Yuna langsung menghapus tangisannya dan bertemu dengan Yuna.


“Maaf membuatmu menunggu Reyna.” kata Yuna dengan senyum.


Reyna melihat Yuna seperti terpaksa senyum didepannya. Rayna tau kalau Yuna pasti sangat sedih karena tidak berhasil mendapatkan tanah.


“Tidak apa. Aku mau pergi jalan ke mall, ada yang mau aku beli. Apa kau mau ikut?” tanya Reyna dengan senyum.


“Aku boleh ikut?” tanya Yuna.


“Tentu saja. Aku paling suka pergi jalan dengan teman pasti akan seru.” jawab Reyna.


“Baiklah. Tapi sebelum itu kita harus mengambil tas kita dulu.” kata Yuna ingin pergi mengambil tas langsung di cegah oleh Reyna.


“Tidak usah Yuna. Tas kau sudah aku ambil.” kata Reyna mengasih tas Yuna.


“Makasih Reyna.” jawab Yuna.


“Ayo kita pergi sekarang. Nanti keburu malam kalau tidak pergi sekarang.” kata Reyna langsung menggandeng tangan Yuna dan pergi ke Mall.


***


“Baiklah nona, ini formulir tanahnya. Mohon untuk tanda tangan dan segera mentransfer uangnya.” kata Pengawas lelang.


“Em… Itu….” kata Maria dengan gugup.


“Ada apa Nona?” tanyanya.


“Apa harus ditanda tangan sekarang?” tanya Maria


“Iya nona, harus ditanda tangan sekarang juga?” kata Pengawas Lelang.


“Na-nanti saya tanda tangan. Sa-saya lagi menunggu seseorang.” kata Maria dengan gugup.


“Apa nona tidak bisa membayar tanahnya?” tanya pengawas lelang dengan curiga.


“Te-tentu saja aku akan membayarnya.” kata Maria dengan cepat dan gugup.


“Kalau begitu tanda tangan saja nona. Kenapa harus menunggu seseorang.” kata pengawas lelang.


Maria berkeringat dingin dengan pertanyaan pengawas itu.


“Aku lagi menunggu seseorang saya untuk melihat tanah yang sudah aku beli, nanti mereka yang akan tanda tangan fomulir itu.” kata Maria.


Pengawas itu curiga dengan Maria kenapa harus menunggu seseorang untuk tanda tangan fomulir tanahnya. Pengawas itu melihat tangan Maria bergetar. Pegawas itu merasa yakin pasti Maria tidak ingin membeli tanah ini.


“Apa nona tidak ingin membeli tanah ini? Harap nona tidak bercanda dengan saya, karena lelang ini nona yang membuka harganya.” tanya pengawas lelang dengan curiga dengan Maria.


“Kenapa aku harus berbohong? Kamu tunggu saja di ruanganmu nanti aku akan mengasih ke kamu. Aku masih mahasiswa tidak mungkin tanda tangan formulir tanah ini.” kata Maria dengan pasti.

__ADS_1


__ADS_2