
Reyna terbelalak melihat video tersebut yang di kirim oleh nomor asing tersebut. Rahangnya tiba-tiba mengeras dan menatap tajam video tersebut.
"Kenapa Reyna?" tanya Yuna melihat Reyna seperti sangat fokus dengan Hp nya.
"Tidak ada. Ada orang iseng memberikan chat yang tidak penting." kata Reyna dengan datar.
"Akhir-akhir ini memang sudah seperti itu. Bahkan aku seminggu yang lalu dapat juga chat dari nomor seseorang yang tidak di kenal. Tapi aku abaikan saja." kata Yuna.
"Mungkin memang hanya iseng saja. Kita balik ke perusahaan sekarang ya. Waktu istirahat sudah selesai." kata Reyna.
"Tapi, bukankah setelah ini kita sudah boleh pulang?" tanya Yuna dengan bingung. Seingat Yuna perusahaan ada meeting penting dengan perusahaan lain jadi semua karyawan di kantor sudah di perbolehkan pulang lebih awal.
"Tapi, sebelum itu kita harus menyelesaikan tugas kita dulu kan? Bukankah dokumen yang kau kerjakan akan di gunakan untuk meeting nanti?" tanya Reyna.
"Ah Iya... Aku lupa..." kata Yuna yang baru saja ingat.
Reyna dan Yuna segera cepat kembali ke perusahaan. Reyna dan Yuna segera mengerjakan kerjaan mereka yang untuk di siapkan untuk meeting Heaven Corporation.
"Tapi, kenapa kita harus kerja setengah hari ya? Apakah padahal ruangan meeting nya kedap suara." kata Yuna dengan bingung.
"Perusahaan kita meeting dengan perusahaan luar negeri, karena perusahaan luar negeri ini tidak ingin orang lain mendengar percakapan mereka dengan orang kantor." kata Reyna.
"Tapi mereka bicara di ruang meeting bukan? Kenapa harus sampai semua karyawan di suruh pulang?" tanya Yuna dengan bingung.
"Entah lah. Mungkin perusahaan itu tidak ingin orang lain melihat mukanya." jawab Reyna asal.
"Aku tidak mengerti pemikiran orang luar negeri itu." kata Yuna dengan datar.
Reyna hanya diam tersenyum tipis saja. Tentu saja Reyna tau kenapa harus semua karyawan harus pulang lebih awal. Karena bukan perusahaan luar negeri itu tidak ingin melihat wajahnya pada orang lain atau mendengarkan percakapan mereka, tapi Bos perusahaan tersebut membawa anaknya dan takut anaknya di bawa oleh orang lain selagi Bosnya lagi meeting.
Bos perusahaan tersebut sangat posesif dengan anaknya. Jika terjadi sesuatu pada anaknya walaupun hanya sedikit luka saja maka yang ada Bos perusahaan tersebut akan menuntut dan juga bisa membunuh orang yang telah melukai anaknya.
Tentu saja persyaratan ini Reyna yang mengizinkannya karena Reyna juga ingin pulang cepat dan mengurus sesuatu. Tapi sayang nya ada masalah lain yang harus Reyna pastikan dengan teliti sebelum melihat dengan matanya sendiri.
Meeting di mulai jam 4, tapi Reyna menyuruh pak Satya akan mulai jam 3 karena jika di bilang lebih awal, maka karyawan tidak akan mau pulang, mereka akan sengaja memperlambat kerjanya untuk menunggu dan melihat Bos di luar negeri tersebut.
"Ayo pulang Yuna. Apa kau sudah selesai?" tanya Reyna.
__ADS_1
"Sudah. Aku bersihkan meja aku dulu ya." kata Yuna membersihkan mejanya.
Setelah Yuna membersihkan meja kerjanya langsung pulang bersama Reyna. Reyna sampai di rumah melihat tidak ada orang di rumah. Reyna melihat jam sudah jam 14.45 tapi Reyna tidak melihat Rachel, Richie atau Rayna. Reyna melihat pasti jam 1 siang Rachel dan Richie sudah balik dari preschool.
Reyna langsung saja ke kamar dan membuka komputernya langsung melihat CCTV di apartemennya. Reyna melihat jam 9.30 Rayna pergi mengantar Rachel dan Richie, setelah itu jam 10.30 Rayna sudah balik setelah mengantar Rachel dan Richie.
Rayna sampai di apartemen langsung sapu dan pel apartemen. Bahkan kamar Reyna juga di bersihkannya. Setelah 30 menit Rayna membersihkan, Rayna menonton TV dan membuka Hp-nya. Sampai jam 12.30 Rayna ke kamarnya membawa tasnya dan keluar.
"Jam 12.30 Rayna pasti pergi menjemput anak-anak. Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh dan perasaan aku tidak enak." kata Reyna sambil berpikir dengan perasaannya sangat tidak enak.
Reyna membuka Hp-nya dan melihat video yang di kirim oleh nomor asing. Di video itu terekam Rayna sedang pergi ke tempat sepi sendirian dan tidak ada orang satupun, setelah itu tiba-tiba Rayna masuk ke gedung kosong dan dipukul dengan stun gun, setelah itu video itu langsung habis.
Reyna masih berpikir kenapa Rayna pergi ke tempat sepi sendirian bahkan tidak memberitahunya. Reyna yang masih berpikir tiba-tiba terdengar bunyi bel.
~TING TONG
"Siapa jam segini ke sini?" tanya Reyna dengan agak kesal karena Reyna sedang berpikir kemana Rayna pergi dan tidak kembali-kembali.
Reyna langsung berdiri dan keluar ingin membuka pintu. Reyna baru saja pegang gagang pintu terdengar suara yang pelan dan gagang pintunya seperti ingin di buka dengan paksa.
"Ya. Bukankah tadi kita sudah melihat alamat di Hp gadis itu?" kata lelaki.
"Kalau begitu kenapa tidak mau terbuka? Jangan bilang kalau kau salah ambil kuncinya?" tanya lelaki baju hitam membuka pintu itu dengan kunci tapi tidak bisa di buka.
"Siapa mereka berdua? Bahkan mereka punya kunci apartemen aku." kata Reyna melihat di kaca pintu kecil di tengah pintu.
Krek~
Reyna melihat pintunya sudah terbuka, Reyna dengan cepat pergi ke kamarnya.
"Kau lihat pintunya terbuka. Apa kau salah pakai kuncinya?" tanya lelaki pakai kacamata masuk kedalam.
"Aku membuka dengan kunci itu juga." jawabnya.
"Kita cari apa yang harus kita cari. Apa kau yakin dokumen nya ada di sini?" tanya lelaki berkacamata.
"Tidak tau. Makanya kita di suruh cari di sini bukan?" kata lelaki baju hitam langsung ke masuk ke kamar Rayna dan membongkarnya dengan kasar.
__ADS_1
Sedangkan lelaki yang berkacamata masuk ke kamar satu lagi untuk mencari sesuatu.
Reyna di kamarnya sedang ber make-up sambil melihat di CCTV dan memantau kedua lelaki asing yang sedang membongkar kamar dan semua peralatan di apartemennya.
"Apa yang mau mereka cari di sini? Dan dokumen apa yang mereka inginkan?" tanya Reyna dengan dirinya sendiri sambil melihat CCTV, kedua orang asing yang membongkar semua peralatannya.
"Kayaknya seperti ini sudah ok. Aku pura-pura tidak tahu saja apa yang mereka lakukan." kata Reyna melihat ke cermin dan memastikan wajahnya tidak ada masalah.
Reyna juga memberitahu Harry untuk menjemput Rachel dan Richie di preschool dan membawa mereka ke apartemen nya dulu.
"Baiklah. Aku akan melihat apa yang akan mereka lakukan pas tahu keberadaan ku." kata Reyna dengan senyum.
"Apa kau menemukan nya?" tanya lelaki baju hitam.
"Tidak."
"Kita cari di kamar ini. Jika tidak ada maka kita langsung balik saja."
Mereka berdua tidak menemukan apa yang mereka inginkan, jadi mereka berdua langsung melihat ke kamar Reyna.
"Kenapa pintunya di kunci?" kata Lelaki berkacamata.
"Di dobrak saja."
Akhirnya mereka berdua mendobrak pintu kamar Reyna. Mereka berdua memaksa buka pintu itu dengan kuat tapi tidak terbuka dan mereka mendobrak berkali-kali sampai pintu itu terbuka.
Brak!
Brak!
Brak!
Pintu kamar Reyna di dobrak dengan agak keras karena pintunya tidak bisa di buka.
"Kalian siapa? Kenapa kalian masuk ke rumah orang? Apa kalian servis bangunan?" tanya Reyna dengan terkejut yang sedang mendengarkan lagu pakai headphone tiba-tiba melihat 2 orang asing mendobrak pintu kamarnya.
T.B.C
__ADS_1