
Siska mematung melihat ke Rayna. Sedangkan Hana juga terkejut dan melihat ke Reyna setelah itu melihat ke Rayna karena mereka berdua sangat mirip.
"Ka... Kau...." Siska terbata-bata dengan tangan gemetar menunjuk ke Rayna.
Rayna yang dari tadi sudah menangis melihat Siska yang dari tadi gemetar seperti terkejut melihatnya. Rayna takut kalau Mamanya tidak mau menerimanya.
"Ma... Kenapa mama diam saja dari tadi?" tanya Reyna langsung menyadarkan Siska.
Siska langsung tersadar karena Reyna mensadarkannya. Siska melihat muka Rayna dengan teliti dari atas sampai bawah. Siska melihat dari mana pun, dia sangat mirip dengan Putrinya Reyna.
Siska langsung mendekati Rayna dengan pelan dan memegang mukanya dengan pelan.
Rayna dari tadi diam saja melihat Siska memegang mukanya. Rayna takut kalau Siska melukainya.
"Kau sangat mirip dengan Reyna, bahkan buka cuma hanya wajah saja, penampilan dan postur tubuhmu mirip dengan Reyna, seperti kalian adalah saudara kembar." kata Siska dengan tersenyum tipis.
"Reyna, dia siapa? Kenapa bisa mirip dengan mu? Di mana kalian bertemu?" tanya Siska.
Reyna yang mendengar pertanyaan Mamanya awalnya terkejut karena dia tidak mengetahui kalau di depannya adalah putrinya sendiri.
Reyna langsung tersenyum kecil melihat Mamanya yang sepertinya tidak tahu kalau di depannya adalah Putri mereka yang hilang.
"Biarkan mereka masuk dulu, Ma. Mereka kecapean karena perjalanan jauh." kata Reyna.
"Oh ya, Ayo masuk kedalam. Tidak enak jika kalian hanya berdiiri saja di luar." kata Siska langsung menuntut Rayna ke sofa dengan memegang tangannya.
Rayna yang melihat Siska memegang tangannya merasa tidak ada rasa ketakutan melainkan merasakan hangat dan nyaman di tangan Siska.
"Siapa nama mu, nak?" tanya Siska duduk di samping Rayna. Rayna mendengar pertanyaan Siska langsung melihat ke Reyna. Reyna hanya menundukkan kepalanya dan jawab saja pertanyaannya.
"Na-nama saya Rayna, Nyonya.." kata Rayna dengan pelan.
"Nama mu sangat mirip dengan Reyna. Tapi entah kenapa tante merasa kalau tante merasa sangat nyaman dengan mu." kata Siska.
"Sa.. saya juga merasakan hal sama Nyonya.." kata Rayna dengan senyum.
Reyna hanya tersenyum saja melihat Siska dan Rayna bicara. Reyna membiarkan mereka berdua bicara sampai mereka puas.
"Reyna, di mana kau menemukan Rayna? Kenapa mama merasa kalau Rayna ini adalah putri mama? Merasakan kalau Putri mama yang sudah meninggal sudah kembali." kata Siska dengan senyum.
Hana merasakan kalau Rayna adalah putri Siska karena Rayna sangat mirip dengan Reyna. sedangkan Reyna yang mendengar perkataan Mamanya hanya tersenyum saja. Jika dia mengatakan hal yang sebenarnya sudah pasti Mamanya berteriak bergairah dan senang sekali kalau putrinya masih hidup.
"Bagaimana jika Rayna adalah putri mama?" tanya Reyna.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Apa kau ingin Rayna menjadikan sebagai putri mama?" tanya Siska dengan polos. Hana juga melihat ke Reyna.
"Awalnya aku pikir mama akan langsung mengetahuinya setelah melihat Rayna, ternyata tidak." kata Reyna.
"Apa yang kau bicarakan?" tanya Siska dengan bingung.
Hah~
Reyna menghela nafasnya melihat Mamanya masih belum mengetahui kalau Rayna adalah putri kandungnya. Siska terkadang suka bicara polos dan seperti tidak tahu apa maksudnya.
Sifatnya Siska ini turun ke Rayna karena mereka berdua memang sangat mirip karena polosnya tidak mudah mengerti perkataan orang.
"Orang yang berada di samping Mama itu adalah putri kandung Mama, itu artinya Rayna adalah Anak kandung Mama." kata Reyna.
"APA??!!!" teriak Siska dan Hana. Mereka berdua terkejut mendengar perkataan Reyna. Apa lagi Siska yang lebih terkejut lagi langsung melihat ke Rayna dan memegang muka Rayna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Apa benar kau putri Mama, Rayna?" tanya Siska sudah menjatuhkan ari matanya dan gembira.
"Apa kau ada buktinya Reyna?" tanya Hana.
"Ini surat DNA aku dengan Rayna. Hasilnya 99,9% kalau aku dan Rayna adalah saudara kandung." kata Reyna memberikan surat hasil test DNA ke Hana.
Hana membaca hasil Tes itu memang benar 99.9% mereka adalah saudara kandung. Siska melihat ke Rayna yang dari tadi hanya diam saja dan tidak bergerak sedikitpun membuat Siska khawatir.
"Ti-tidak ada Nyonya... Hanya saja..."
"Panggil Mama, jangan panggil Nyonya... Aku ini Mama mu sayang.." kata Siska langsung memotong kata Rayna karena memanggilnya Nyonya.
"A-Apa Mama tidak marah dengan ku? Karena baru hari ini bertemu dengan mama?" tanya Rayna dengan gugup.
"Kenapa mama harus marah padamu? Bahkan Mama sangat senang kalau putri mama masih hidup dan sudah besar sampai sekarang." kata Siska dengan senyum.
"Selamat datang kembali, Rayna. Mama sangat senang kau masih hidup dan kembali ke rumah lagi." kata Siska dengan senyum.
Rayna yang mendengar kata Siska langsung mengeluarkan air matanya dengan sendirinya. Rayna menangis dengan keras dan memeluk Siska dengan erat, karena ternyata Mamanya tidak meninggalkannya.
Siska dan Rayna saling berpelukan mengeluarkan rasa rindu mereka selama 20 tahun ini.
Reyna, Hana, dan Calvin tersenyum melihat kedua ibu dan anak telah melepaskan rasa rindu dan bahagia karena akhirnya reuni ibu dan anak dalam 20 tahun akhirnya lepas.
"Kalau begitu, kita makan bersama. Sudah mau jam 7, nanti kita bicarakan pas di meja makan." kata Siska langsung pergi ingin menuju dapur dengan memgang tangan Rayna.
"Tunggu Ma. Sebelum kita makan, kita harus meunggu mereka datang dulu." kata Reyna.
__ADS_1
"Menunggu siapa? Apa masih ada yang datang?" tanya Siska.
"Keluarga Calvin, adik Calvin sedang menuju ke sini. Jadi kita makan setelah mereka datang saja Ma." kata Reyna.
"Baiklah. Apa mereka masih lama? Ini sudah mau jam 7 malam. Tidak mungkin mereka keluar sampai malam kan?" tanya Siska.
"Sebentar lagi mereka akan segera datang, Nyonya." jawab Calvin.
"Ok, kalau begitu kita menunggu mereka datang." kata Siska kembali duduk.
Sekitar 10 menit kemudian, Bibi mendekati Siska dan yang lain untuk mengatakan kalau ada tamu.
"Nyonya, ada tamu di luar." kata Bibi
"Siapa, Bi?" tanya Siska.
"Katanya mereka keluarga Calvin. Di luar ada seorang laki, perempuan, seorang kakek dan kedua anak kecil." kata Bibi.
"Oh, itu mungkin adik dan kakek aku." kata Calvin.
"Biarkan mereka masuk Bi." kata Siska yang mendengar Calin kalau itu adalah keluarganya.
"Baik, Nyonya." Bibi langsung ke luar membiarkan mereka masuk ke dalam.
***
Harry dan yang lain setelah jalan di sekeliling kota, mereka akhirnya menuju ke rumah Reyna. Mereka semua terkejut melihat rumah Reyna.
"Harry, apa benar di sini tempatnya?" tanya Edgar.
"Benar kek, kata kak Reyna mereka ada di dalam." kata Harry.
"Ini rumah atau istana kak? Apa kakak yakin di sini?" tanya Clara melihat Mansion di depannya sangatlah besar.
"Ya. Kak Reyna sudah mengshare lokasinya. Jadi harusnya benar di sini." kata Harry.
"Paman, apa Mommy dan Daddy ada di dalam?" tanya Rachel.
"Iya, Rachel. Kita akan bertemu dengan Mommy dan Daddy nanti di dalam." kata Harry.
"Tidak mungkin kan kalau Reyna dan yang lain berada di dalam Mansion ini? Apa mungkin Reyna anak pemilik Mansion ini?" gumam Edgar dengan agak terkejut setelah melihat rumah di depan mereka. Edgar juga terkejut kalau Reyna dan yang lain ada di dalam Mansion Gemstone.
T.B.C
__ADS_1