
"A-apa yang barusan anda bilang nona?" tanya Rayna merasa dia salah dengar.
"Kemungkinan kau adalah saudara aku yang telah menghilang." kata Reyna dengan senyum membuat Rayna terdiam.
"Kenapa? Apa kau tidak percaya bahwa aku adalah saudaramu?" tanya Reyna melihat Rayna seperti tidak percaya.
"Bu-bukan.. A-aku..." kata Rayna merasa sangat gugup.
"Apa buktinya jika kau adalah saudara Rayna yang selama kau cari?" tanya Calvin.
"Sebenarnya saudara aku ini memiliki tanda kelahiran di dadanya berbentuk bulan sabit. Apa kau memiliki tanda bulan sabit di dadamu?" tanya Reyna.
"Rayna memang ada tanda bulan sabit di dadanya. Tapi kalau cuma hanya tanda kelahiran saja aku tidak akan percaya." kata Calvin.
Calvin benar-benar perduli pada Rayna dan tidak ingin Rayna terluka atau sedih, karena Calvin mencintai Istrinya itu dengan sepenuh hatinya. Jadi terkadang Calvin bisa sangat posesif jika ada yang ingin berhubungan dengan Rayna.
"Apa aku perlu melakukan tes DNA supaya kau percaya?" tanya Reyna dengan senyum dan tenang.
"Sebenarnya tanpa tes DNA pasti sudah ketahuan bahwa kau adalah saudaraku, karena wajah, penampilan, bahkan suara kita sama persis." kata Reyna.
"Sebenarnya aku juga ingin melakukan tes DNA dulu untuk lebih akurat. Karena jika tes DNA pasti tidak akan pernah salah. Bagaimana? Jika memang mau tes DNA kita bisa ke rumah sakit sekarang untuk mengetesnya." sambung Reyna dengan santai.
"Baiklah. Jika tes DNA aku akan percaya." kata Calvin.
"Kalau begitu kita pergi ke rumah sakit sekarang. Kau tidak masalah dengan ini kan Rayna?" kata Reyna dengan senyum.
Jika memang Rayna ini memang saudaranya maka orang tuanya juga akan sangat gembira mendengar kabar ini.
"Ya." jawab Rayna dengan senyum.
Rayna, Reyna dan Calvin langsung saja berdiri dan akan berangkat ke rumah sakit tapi di hentikan oleh Ren.
"Tidak! Tidak boleh ke rumah sakit!" teriak Ren menolak dengan keras dan menghentikan Reyna untuk pergi.
"Kenapa?" tanya Reyna.
"Bukankah kau ingin membantu aku mengerjakan semua tugas aku? Kenapa malah ke rumah sakit melakukan tes DNA?" tanya Ren dengan kesal.
__ADS_1
Ren merasa Reyna lupa kenapa dia di panggil oleh Ren untuk membantu mengerjakan semua tugasnya.
"Bukankah ada Kai bersama mu?" tanya Reyna.
"Apa kau pikir 2 orang bisa mengerjakan dokumen yang menumpuk di ruangan ini dalam sehari?" tanya Ren memperlihatkan dokumen dan berkas-berkas di mejanya.
"Aku rasa kau bisa mengerjakannya sendiri Ren." kata Reyna melihat berkas yang menumpuk di mejanya.
"Kau perhatikan seluruh ruangan ini Rey. Jangan kau lihat berkas di meja aku saja." kata Ren dengan lemas karena Reyna hanya fokus ke Rayna saja dan tidak fokus dengannya.
Reyna melihat sekeliling ruangan itu ternyata banyak berkas dan dokumen yang menumpuk seperti gunung di setiap tempat. Begitupun dengan Rayna dan Calvin melihat banyak berkas di berbagai tempat di ruangan tersebut.
"Ruangan ini bukankah tempat CEO? Kenapa malah dijadikan tumpukan berkas dan dokumen? Ini sudah bukan ruangan CEO lagi tapi sudah jadi gudang." kata Reyna memperhatikan semua berkas di ruangan bahkan tidak ada tempat sampai berkas tersebut taruh di lantai dan di susun seperti gunung.
"Kau baru sadar kalau ruangan ini sudah jadi gudang. Bahkan aku sudah mengerjakannya beberapa banyak tapi tetap saja tidak sedikitpun yang berkurang." kata Ren dengan kesal karena Reyna baru menyadarinya.
"Jadi kau mau aku melakukan apa? Jangan bilang kau ingin aku membantumu mengerjakan semua dokumen di ruangan ini." kata Reyna entah kenapa memiliki firasat buruk.
"Ya. Karena besok pagi semua dokumen ini mau di pakai untuk rapat." jawab Ren membuat Reyna membulatkan kedua matanya.
"Waa.... Aku mohon bantu aku Rey. Aku tidak mau menginap dan mengerjakan seharian di kantor hanya karena semua berkas ini." pinta Ren merengek seperti anak kecil.
"Kasihan juga tuan Ren mengerjakan semua berkas ini sendirian. Kalau anda izinkan kita akan membantu juga." kata Rayna seperti sangat kasihan dengan Ren.
"Kau jangan muda di tipu dari melihat dari muka polosnya Rayna. Nanti kau akan kena tanggung yang berat." kata Reyna merasa Rayna sudah kena jebakan Ren.
"Tipu?" tanya Rayna dengan bingung.
"Walaupun jika memang ingin semua berkas di ruangan di perlukan untuk besok untuk rapat. Aku rasa dia bisa melakukannya sendirian tanpa bantuan orang lain." kata Reyna dengan datar.
"Apa maksudmu aku bisa melakukan semua berkas ini sendirian? Apa kau ingin aku tidak ada istirahat dan mengerjakannya sampai besok pagi?" tanya Ren berusaha bersikap tidak tau apapun.
"Palingan kau hanya memisahkan berkas yang tidak di perlukan dan yang diperlukan untuk rapat besok dan sisanya bisa di kerjakan besok lagi. Kau hanya ingin menyuruh orang membantumu karena kau ingin cepat bersantai dan mengambil waktu luang untuk bermain." kata Reyna menatap datar Ren.
Ren : "......"
Ren mati kutu dengan perkataan Reyna dan tidak bisa mengelak apapun atau membalasnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak menjawab? Apa yang aku katakan benar kan?" tanya Reyna melihat Ren sudah tidak bisa bicara lagi.
"Mulut kau sangat pedas Rey. Dari mana kau bisa melihat aku seperti itu?" tanya Ren yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kau pikir aku tidak tau apa yang kau pikirkan?" tanya Reyna dengan datar.
"Ya. Walaupun tidak semua berkas yang akan di pakai, tapi ada beberapa berkas juga yang akan di gunakan dalam beberapa hari besok. Tentu saja aku juga harus mengerjakan semuanya juga." kata Ren dengan lemas sudah mau bersikap kekanak-kanakan.
"Baiklah aku akan membantumu. Walaupun aku seberapa banyak menolak, sudah pasti kau tidak akan mau menyerah menyuruh aku untuk membantu mu." kata Reyna menghela nafasnya dengan pelan melihat sifat Ren yang sudah mulai kekanakan.
"Itu baru Rey ku." kata Ren dengan senyum langsung mencium pipi Reyna dengan lembut.
"Apa kau sudah makan?" tanya Reyna.
"Belum." jawab Ren menggelengkan kepalanya.
"Kenapa belum makan? Ini sudah jam 1 lewat." kata Reyna melihat jam di ruangan itu.
"Bagaimana mau makan coba? Kai pergi beli makan saja tidak kembali-kembali." kata Ren dengan datar.
"Apa yang di lakukannya sampai tidak kembali?" tanya Reyna.
"Entahlah."
"Ya sudah, kau makan nasi yang barusan aku beli saja. Aku ada beli nasi dan bolu." kata Reyna mengambil kantong di sebelah sofa.
"Thanks Rey. Kau memang yang terbaik. Dari pada lelaki itu entah apa yang di lakukannya dan tidak kembali sampai sekarang. Lihat saja pas dia kembali aku akan menghukum dan mengutuknya" Ren langsung mengutuk Kai yang lama tidak kembali beli makan siang untuknya.
"Apa kalian berdua mau juga? Aku ada beli banyak." kata Reyna ke Rayna dan Calvin.
"Apa tidak apa jika kita ikut makan bersama?" tanya Rayna merasa sangat segan ikut makan bersama.
"Tidak apa. Dari pada kalian hanya diam saja." kata Reyna dengan senyum mengasih 2 bungkus kotak ke Rayna dan Calvin.
"Terima kasih." kata Rayna.
Rayna dan Calvin juga ikut makan bersama Reyna dan Ren. Setelah selesai makan mereka berempat mengerjakan berkas dan dokumen yang ada di ruangan yang bertumpuk seperti gunung sampai jam 7 malam.
__ADS_1