
“Ren apa yang terjadi?” tanya Kai.
Ren hanya diam membuka Hp-nya melihat keberadaan Reyna.
“Terus, kalian kenapa berada disini?” tanya Kai ke Cecilia dan Serena.
“Kita disini jalan-jalan beli baju lah. Wanita ke mall kalau tidak beli baju ngapain lagi?” kata Serena dengan judes.
‘Heh! Beli baju mahal hanya ingin pamer.’ batin Ren tersenyum sinis.
“Kalian sendiri ngapain disini?” tanya Serena.
“Kami….” kata Kai langsung dipotong cepat oleh Andrew.
“Kami hanya ingin reflesing saja karena capek mengurus bazar.” jawab Andrew dengan cepat.
“Bazar tahun ini memang sangat ramai dibandingkan tahun kemarin.” kata Serena.
“Tentu saja karena Ren adalah ketuanya pasti akan ramai.” kata Cecilia dengan senyum.
“Benar. Jika Ren menjadi ketuanya bazar pasti akan sangat sukses.” kata Serena.
Ren benar-benar ingin pergi menemui Reyna sekarang juga karena dia sudah mengetahui keberadaan Reyna.
“Aku masih ada perlu penting. Aku pergi dulu.” kata Ren dengan cepat meninggalkan Kai dan yang lain.
“Tunggu Ren! Kau mau kemana?” tanya Cecilia.
“Aku mau kemana terserah aku. Memangnya apa urusannya denganmu?” tanya Ren dengan dingin.
“Apa aku boleh ikut?” tanya Cecilia dengan senyum menggoda.
Glek….
Kai dan Andrew langsung merinding melihat muka Ren sudah mau marah menahan emosinya.
“Kenapa kau mau ikut dengan aku? Kau pergi saja dengan urusan kau sendiri.” kata Ren dengan dingin.
“Karena lebih ramai lebih bagus.” kata Cecilia dengan senyum.
Ren mengedus kesal dengan Cecilia karena tidak ingin jauh darinya. Ren langsung saja pergi mencari Reyna dan meninggalkan Kai dan yang lain.
Ren sampai toko make up mencari Reyna tidak ketemu dengannya membuatnya menghela nafas. Ren malah kesal dengan kedua wanita yang dari tadi mengikutinya.
“Kenapa kau mengikuti aku?” tanya Ren kesal dengan Cecilia dari tadi mengikutinya terus.
“Memangnya kenapa? Lebih ramai kan lebih enak. Kau kenapa ke toko make up Ren? Apa ada yang mau kau beli?” kata Cecilia dengan senyum.
“Bukan urusanmu.” kata Ren dengan dingin.
Ren membuka Hp-nya melacak keberadaan Reyna. Ternyata Reyna sudah keluar dari toko make up bahkan sudah berada diluar Mall.
Ren tanpa melihat ke Cecilia langsung saja keluar dari toko make-up. Cecilia melihat Ren sudah keluar langsung mengikutinya.
__ADS_1
“Ren, kau mau kemana?” tanya Cecilia mengejar Ren.
Ren tidak menjawab langsung mendekati Kai dan Andrew.
“Kenapa Ren?” tanya Kai.
“Kita pulang sekarang.” kata Ren dengan dingin membuat Kai dan Andrew saling pandang.
“Apa kau tidak ingin ketemu dengan Reyna?” tanya Andrew.
“Dia sudah keluar dari Mall. Mendingan kita pulang sekarang.” jawab Ren langsung pergi meninggalkan mereka.
Andrew dan Kai mendengar Reyna sudah pulang. Mereka berdua langsung saja mengikuti Ren pulang. Sedangkan Cecilia dan Serena ditinggal begitu saja oleh mereka bertiga.
***
“Makasih Reyna, sudah mengantarkan aku pulang. Maaf hari ini sudah banyak merepotkanmu.” kata Yuna.
“Tidak apa. Baju kau jangan lupa dibawa.” kata Reyna mengasih kantong plastik yang lumayan banyak untuk Yuna.
“Ta-tapi Reyna ini terlalu banyak.” kata Yuna segan menerima pembelian dari Reyna.
“Tidak apa, kau ambil saja semuanya. Anggap saja karena sudah menemani aku belanja.” kata Reyna mengasih belanjaannya ke Yuna.
“Tapi Reyna ini beneran terlalu banyak. Aku tidak bisa menerima semua ini.” kata Yuna
“Terima atau mulai besok tidak usah bertemu dengan aku.” kata Reyna mengancam.
“Baiklah. Makasih Reyna.” kata Yuna dengan senyum.
“Sama-sama. Sampai ketemu besok Yuna.” kata Reyna melambaikan tangannya ke Yuna.
“Sampai jumpa.” kata Yuna senyum melambaikan tangannya ke Reyna.
Reyna langsung pulang ke apartemennya dengan taxi.
***
“Bagaimana? Apa ketemu orangnya?” tanya Maria.
“Tidak nona.” jawab sekretaris.
“Akh! Sial! Masa kau kerja seperti ini saja tidak becus! Gara-gara gadis kampungan itu aku harus membayar tanah yang tidak berguna.” teriak Maria ke sekretaris.
‘Bukankah nona sendiri yang membuka harganya? Padahal saya sudah mengatakan untuk jangan buka harganya lagi.’ batin Sekretaris.
“Permisi nona.” kata seorang pemuda.
“Ada apa?” tanya Maria melihat pemuda tampan mendekatinya.
“Saya mendengar nona ingin menjual tanah yang dilelang tadi? Jika nona mau saya ingin mengambilnya.” tanya pemuda itu dengan sopan.
“Benarkah? Kalau begitu kau isi formulirnya dan tanda tangan saja.” kata Maria langsung mengasih formulir ke pemuda itu.
__ADS_1
“Saya memang mengatakan ingin mengambil tanah ini. Tapi saya ingin menegosiasi harganya.” kata Pemuda dengan sopan.
“Apa maksudmu?” tanya Maria dengan terkejut.
“Saya ingin membeli tanah itu dengan harga 500 Miliar.” kata pemuda itu.
“Apa kau bilang? 500 Miliar? Apa kau bercanda?” teriak Maria dengan terkejut.
“Saya tidak bercanda nona. Jika nona tidak mau maka saya tidak akan membelinya.” kata Pemuda itu.
“Harusnya nona tau kalau tempat tanah itu tempat yang sangat jauh dari kota bahkan tempat yang buruk. Banyak preman, lingkungan dan sosial yang tidak bagus. Jadi tidak mungkin saya mengambil dengan harga 3,5 Triliun. Saya merasa 500 Miliar sudah harga yang sangat tinggi untuk tempat itu.” sambung Pemuda itu.
“Terima saja nona. Mendingan kita rugi besar dari pada tidak bisa membayar tanah itu.” Usul Sekretaris.
“Ta-tapi… Ini sama saja aku rugi besar.” kata Maria tidak menerima hanya dibayar 500 Miliar dan sisanya mereka yang bayar.
‘Apa lagi kalau papa tau aku bisa kena marah besar.’ batin Maria.
“Bagaimana nona?” tanya Pemuda itu.
Maria memandang sekretaris papanya dan sekretaris itu tau maksud nonanya langsung mendekati telinga Maria.
“Terima saja nona. Nanti saya juga akan bicara dengan tuan.” kata Sekretaris.
“Baiklah.” kata Maria walau masih tidak menerima tanah yang dijualnya harus rugi 3 Miliar.
Pemuda itu langsung mengisi formulirnya dan tanda tangan.
“Baiklah nona sudah saya tanda tangan formulirnya. Ini surat perjanjian yang harus nona tanda tangan untuk membayar sisa tanah lelang ini.” kata Pemuda itu mengasih formulir ke Maria.
“Sebelum tanda tangan mohon dicek kembali perjanjiannya nona.” sambung Pemuda itu.
Maria mau tidak mau mengisi formulir dan membaca perjanjiannya, walaupun hatinya masih sangat tidak menerima.
“Baiklah nona, kalau begitu saya permisi. Selamat sore.” kata Pemuda itu dengan sopan dan meninggalkan Maria dan sekretaris.
“Kau harus mencari cara apa pun itu untuk membuat papa tidak marah pada aku. Ngerti!” kata Maria mengancam sekretaris papanya.
“Baik nona.” jawab Sekretaris.
***
Dilorong dekat kampus ada seorang pemuda sendirian yang memegang dokumen ditangannya dengan senyum kecil. Pemuda itu langsung menelpon seseorang.
“Halo. Bagaimana? Apa dapat tanahnya?” tanya orang itu.
“Sudah. Saya sudah mendapatkan tanahnya dan membuat perjanjian. Nona itu langsung tanda tangan surat perjanjiannya.” kata pemuda itu.
“Bagus. Bawa surat tanah itu ke tempat aku sekarang.” jawab Orang itu.
“Baik.” jawab Pemuda itu.
Pemuda itu langsung menutup telponnya dan pergi.
__ADS_1
-----------------------------------------------------------------------------------------
Jika suka dengan ceritanya jangan lupa Like, Comment, dan Favorit ya. ☺️