
“Apa maksud mu?” tanya Gale.
“Kau pergi urus Delvin itu, aku pergi mencari Ren.” kata Aizen.
“Hah? Kenapa aku harus mengurusnya?” tanya Gale tidak ingin mengurus Delvin.
“Kau tidak perlu membunuhnya. Kau cari saja perhatiannya sampai aku menyelamatkan Ren.” kata Aizen.
“Hah?” Gale bingung dengan perkataan Aizen.
“Aku ingin kau mengalihkan perhatian Delvin sampai aku menyelamatkannya.” kata Aizen.
“Maksudmu kau ingin aku jadi umpan?” tanya Gale menatap tajam Aizen
“Bukan umpan tapi mendapatkan perhatiannya saja.” kata Aizen dengan senyum.
“Itu sama saja sialan!” Gale memukul kepala Aizen dengan keras.
“Kau pakai ini.” kata Aizen mengasih Gale topeng.
“Kenapa kau malah menyuruh ku memakai topeng jelek ini?” tanya Gale dengan bingung.
“Jika dia melihat wajah mu bukankah dia akan tahu kalau kau memiliki hubungan dengan aku.” kata Aizen.
Gale : “……”
Gale awalnya hanya ingin diam saja tapi tersadar kalau Aizen ingin mempermainkannya lagi.
“Apa kau gila? Bukankah Delvin sialan itu tidak mengenal ku? Bahkan aku rasa kalau dia tidak tahu hubungan kita.” kata Gale menatap tajam Aizen dan melemparkan topeng ke muka Aizen.
“Ayolah… Jika kau masuk tanpa topeng dan memperlihatkan wajahmu, bukankah dia akan mengetahui ada yang tidak beres.”
“Jika kau tidak memakai topeng, bukankah dia akan mengetahui wajah mu dan mengetahui kalau ada yang tidak beres. Kau bisa melakukan apapun padanya asalkan jangan membunuhnya.” kata Aizen.
***
“Lihat saja aku akan membalas apa yang kau lakukan padaku Aizen.” gumam Gale dengan kesal.
“Siapa kau? Beraninya kau masuk ke tempat orang? Apa kau tahu siapa aku?” tanya Delvin menatap tajam Gale.
“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Sekarang aku ingin membunuhmu karena gara-gara kau aku jadi harus melakukan ini.” kata Gale menatap tajam Delvin.
Entah kenapa merasa merinding karena perkataan orang bertopeng itu. Tapi Delvin tidak ingin memperlihatkan padanya.
__ADS_1
“Memangnya kau siapa? Memangnya apa yang aku lakukan padamu sampai kau marah padaku? Apa mungkin kau orang gila?” tanya Delvin.
Gale mendengar Delvin mengatakannya Gila membuat Gale semakin marah. Aura kemarahan Gale keluar sampai anak buah Aizen sampai merinding ketakutan.
“Kalian tangkap dia. Biar aku kasih pelajaran padanya.” perintah Gale.
“Ba-baik Tuan.” anak buah Aizen langsung tersadar dan maju ke depan.
“Lawan mereka. Jangan sampai mereka berbuat sesuka mereka.” kata Delvin.
Pengawal Delvin dan anak buah Aizen langsung saja melawan satu sama lain.
***
“Di mana Ren?” tanya Aizen.
“Tuan muda ada berada di ruangan itu, Tuan. Tapi ada pengawal di depan pintu.” kata anak Buah Aizen.
“Memangnya kenapa kalau ada pengawal? Mereka bukan lawan ku.” Aizen langsung saja berdiri dan berjalan ke arah pengawal yang menjaga.
“Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” tanya pengawal itu melihat Aizen datang
Buk
Buk
Buk
“Ren!!!” Aizen melihat sekeliling ruangan dan mencari Ren.
“Kau! Cari kontak lampunya!” kata Aizen karena tidak menemukan kontak lampu.
Aizen tidak bisa melihat apapun jadi Aizen memakai lampu Hpnya. Aizen melihat sekeliling dan sampai ujung sudut melihat ada anak kecil yang sedang terbaring di lantai.
Aizen langsung tahu itu Ren dan langsung berlari kearah Ren.
“Ren!!! Kau tidak apa Ren?” Aizen memeluk Ren dengan erat dan menepuk pipi Ren dengan pelan.
Ren merasakan ada yang memegangnya langsung membuka matanya dengan pelan. Ren yang tidak bisa melihat siapa karena gelap, tapi Ren tahu kalau itu adalah Papanya Aizen.
“P.. Pa… Pa….”
“Iya Ren. Ini papa. Maafkan Papa lama datang menyelamatkan mu.” kata Aizen memeluk Ren dengan erat.
__ADS_1
Anak buah Aizen akhirnya membuka lampu di luar ruangan. Aizen yang melihat lampu Sudah di hidupkan langsung membuka matanya.
Aizen tidak percaya apa yang di lihatnya. Aizen rahangnya mengeras dan rasanya ingin marah besar pada orang yang telah membuat Ren seperti ini.
Muka Ren banyak memar dan tubuhnya juga banyak memar biru. Apa lagi Aizen tidak percaya apa yang di lihatnya yaitu punggung Ren terbakar karena panas.
“Sialan kau Delvin!! Beraninya kau melakukan ini pada putra ku!!!” teriak Aizen dengan keras sampai anak buahnya terkejut dan ketakutan karena kemarahan Aizen.
"Tu-tuan.. Bagaimana kalau kita pergi sekarang... Kita harus membawa Tuan muda ke rumah sakit..." kata salah satu anak buah Aizen.
"Ya.. Kau benar... Aku harus cepat membawa Ren ke rumah sakit. Aku akan membalas perbuatan Delvin 1000x lipat." marah Aizen.
Aizen langsung pergi bersama anak buahnya pergi keluar dari sana.
"Kenapa di sini banyak ruangan?" gumam Aizen kesal melihat banyak ruangan.
"Dimana kita masuk tadi?" tanya Aizen.
Anak buahnya juga tidak tahu di mana keluarnya. Akhirnya anak buah Aizen membuka semua pintu tersebut.
***
"Bagaimana apa kua sudah ingin mengalah?" tanya Gale.
"Si-siapa yang mau mengalah padamu?"
Delvin dan pengawalnya yang bertarung sama Gale dan anak buah Aizen langsung kalah dalam 20 menit. Delvin sedang tertunduk di lantai karena pukulan Gale juga anak buah Aizen menahannya. Sedangkan Gale sudah duduk di kursi dengan santai.
"Aku akui keberanianmu, tapi sayangnya kau sama sekali bukan lawanku." kata Gale.
"Siapa kau? Apa mau mu dengan ku?" tanya Delvin.
"Nanti kau juga tahu." kata Gale tanpa melihat ke Delvin.
Delvin berpikir keras bagaimana caranya bisa kabur dari Gale.
"Oh.. Tuan kalian sudah balik." Gale melihat Aizen sudah balik bersama anak buahnya. Gale tersenyum karena melihat Aizen membawa Ren.
"Tuan..."
Salah satu yang menahan Delvin langsung lengah karena melihat ke Aizen. Delvin menggunakan kesempatan itu langsung berdiri dan mengambil pistol nya anak buah Aizen.
"Hm... Gale... dan... Itu..." Aizen melihat ada Gale yang sedang duduk langsung melihat ada seseorang yang berdiri sambil memegang pistol dan ingin menembak ke arah Gale.
__ADS_1
DOR