
“Baiklah. Kita bahas topic lain.” kata Reyna melihat pak Satya sudah tidak gugup.
“Topik lain?” tanya pak Satya dan Max serempak dengan bingung melihat Reyna.
'Apa lagi yang mau dibahas? Jangan bilang peralatan yang aku pilih tidak bagus?’ batin pak Satya dengan ketakutan.
“Ini soal karyawan. Kalau boleh saya tau siapa yang interview dan menerima karyawan di perusahaan?” tanya Reyna.
“Kalau interview karyawan semua saya nona.” jawab pak Satya.
“Termasuk bagian resepsionis dibawah?” tanya Reyna.
“Kalau kedua resepsionis dibawah di interview oleh kepala HRD. Karena waktu itu saya lagi diluar. Apakah ada masalah dengan mereka berdua nona?” tanya Pak Satya yang merasa terjadi sesuatu.
“Dibilang ada masalah ya tidak, bahkan saya saja tidak ribut dengannya.” jawab Reyna dengan santai.
“Ja-jadi apa masalahnya nona?”
“Sebenarnya saya tidak suka kelakuan wanita yang rambut panjang itu. Walaupun dia tidak ribut denganku.” kata Reyna dengan pelan.
“Kelakuan? Apakah mereka tidak melayani kalian dengan baik?” tanya pak Satya.
“Wanita yang berambut panjang itu sepertinya tidak ingin menerima kita. Karena dia melihat pakaian kita seperti orang biasa jadi dia merasa tidak ingin melayani kami bahkan menyindir saya dan Max. Dia beruntung karena temannya pas datang langsung menerima kita. Jadi aku ingin pak Satya memberitahu pada resepsionis itu jangan
hanya ingin melayani orang dari penampilan saja, jika tidak maka reputasi perusahaan ini akan jadi buruk.” kata Reyna.
“Ini bukan cuma hanya untuk resepsionis saja, tapi untuk semua karyawan di perusahaan. Walaupun penampilannya biasa saja belum tentu mereka itu orang tidak punya uang. Asalkan mereka membuat masalah di perusahaan. Saya tidak ingin melihat hal seperti ini terjadi lagi pas saya datang ke perusahaan ini.” sambung Reyna.
Pak Satya sangat terkejut ternyata resepsionis tidak ingin melayani nona Reyna dan Max. Bahkan Max juga terkejut ternyata wanita tadi tidak ingin melayani kita.
“Ma-maafkan saya nona. Nanti saya akan memberitahukan mereka dan menghukum mereka.” kata pak Satya dengan cepat.
“Kasih peringatan saja pak, jangan dihukum.” kata Reyna.
“Kak Reyna hebat ya, bisa mengetahui semua itu. Aku saja tidak tau kalau dia menyindir kita.” kata Max kagum dengan Reyna.
“Nona Reyna benar-benar rendah hati.” kata Pak Satya.
Pak Satya melihat Reyna benar-benar rendah hati dan baik. Awalnya pak Satya mengira Reyna akan marah dan memecat resepsionis itu, tapi dia hanya kasih peringatan.
Tok… Tok….
Mendengar suara di pintu, langsung ada seorang wanita masuk kedalam.
“Siang pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak.”
__ADS_1
“Saya lagi kedatangan tamu, suruh tunggu saja diluar sebentar.” kata Pak Satya.
“Tidak apa pak, suruh saja mereka masuk kedalam. Saya dan Max tidak akan mengganggu bapak.” kata Reyna dengan pelan.
“Baiklah suruh mereka masuk.” kata Pak Satya karena Bos sudah berkata mau tidak mau harus menurutinya.
“Maaf nona, saya akan menyelesaikannya dengan cepat.” kata pak Satya ke Reyna.
Setelah 10 menit datang 2 orang wanita masuk kedalam memberi salam dan duduk disofa. Reyna dan Max duduk di kursi yang disediakan oleh karyawan lain.
“Siang, ada perlu apa bertemu dengan saya.” kata pak Satya dengan sopan.
“Kita ingin mengajukan kerja disini pak.” kata wanita yang mengasih berkas-berkas nya pada pak Satya.
Pak Satya menerimanya dan membacanya. “Melihat review kalian, kebetulan kita sedang mencari orang dalam bidang ini. Apa kalian pernah terjual hasil karya kalian?” tanya pak Satya.
“Pernah pak, walaupun tidak banyak.”
Setelah beberapa pertanyaan di ajukan Pak Satya mereka berdua dijawab dengan jujur.
“Baiklah. Saya akan menerima kalian masa percobaan dulu selama 3 bulan. Jika hasil kerja kalian bagus, maka kalian berdua akan jadi karyawan tetap di Heaven Corporation.” kata pak Satya.
“Terima kasih pak.” kata kedua wanita itu dengan gembira.
“Mimi, kita di terima kerja disini.” kata Stella dengan gembira.
“Ya. Aku juga senang kita bisa bekerja di perusahaan besar ini.” kata Mimi dengan gembira.
Reyna mendengar percakapan mereka dengan senang langsung saja Reyna tersenyum kecil. Reyna langsung keluar mengambil minum.
“Tunggu.” kata Stella.
“Ada apa?” tanya Reyna mendengar Stella memanggilnya.
“Apa kau bisa mengambil kami minuman?” tanya Stella.
“Stell, kau tidak boleh begitu dengannya. Jika kau haus, kau pergi ambil sendiri.” kata Mimi.
“Tidak apa mi, aku lihat dia juga ingin pergi ambil minum. Benar tidak?” tanya Stella menatap Reyna.
“Ya, tidak apa. Kebetulan aku juga ingin ambil minum.” kata Reyna dengan senyum dan langsung keluar dari ruangan pak Satya.
“Kau lihat sendirikan dia mau pergi ambil.” kata Stella dengan santai.
“Walaupun begitu kau tidak boleh begitu dengannya. Mana tau dia juga ingin bekerja di perusahaan ini.” kata Mimi.
__ADS_1
“Bekerja? Apa dia ingin berkerja jadi bagian kebersihan? Itu sangat cocok dengannya. Kita hanya tinggal menyuruhnya untuk memberikan kita minum.” kata Stella dengan santai.
“Stell, jangan sampai kelakuan kau dilihat karyawan sini. Nanti kau akan kena masalah besar.” kata Mimi yang tidak ingin kena masalah di hari mereka telah diterima di perusahaan besar.
“Tenang saja. Nanti aku akan memperingatinya.” kata Stella dengan santai.
Max yang mendengar pembicaraan mereka hanya diam dan menggelengkan kepalanya.
Reyna langsung masuk kedalam dengan mambawa kantong plastik yang isi dalamnya minuman dan cemilan.
“Silakan. Ini juga ada cemilan dan kue, silakan dimakan.” kata Reyna dengan sopan
“Terima kasih. Ini semua berapa, biar aku yang bayarkan semuanya.” kata Mimi dengan sopan mengeluarkan dompetnya.
“Tidak usah nona. Ini juga tidak seberapa.” kata Reyna dengan halus menolak.
“Sudahlah Mi, dia bilang tidak usah. Jangan dikasih tips untuknya. Dan lagi ini memang pekerjaannya.” kata Stella dengan santai.
“Tapi….”
“Benar tidak apa nona. Saya iklhas.” kata Reyna dengan senyum dan kembali duduk dikursinya.
“Kak, kenapa kakak tidak ambil saja uangnya. Tadi wanita itu mengejek kakak.” kata Max yang tidak
“Mengejek apa?”
“Mengejek kalau kaka itu tukang bersih dan kerjanya hanya disuruh saja.” kata Max menahan emosinya karena Stella telah menghina kakaknya.
“Sudah Max tidak apa.” kata Reyna dengan pelan.
Stella melihat Reyna berbincang dengan Max bahkan mereka duduk di kursi yang mahal membuatnya iri. Akhirnya Stella memiliki ide ingin mengerjai Reyna.
Stella mengambil kopi hitam dan berjalan ke arah Reyna dengan santai seolah ingin mengamati ruangannya. Sesudah dekat dengan Reyna, Stella dengan sengaja terpeleset dan menjatuhkan kopinya ke muka dan baju Reyna.
“Akh…… Panasss…….” teriak Reyna yang kepanasan akibat kena kopi panas.
“Kak Reyna…. Kakak tidak apa?” tanya Max dengan cepat mengambil tissue membersihkan muka dan baju Reyna.
“Maaf, aku tidak sengaja. Kau tidak apa-apa kan?” tanya Stella dengan wajah melas dan ikut membantunya.
“Stell, kau harus hati-hati berjalan.” kata Mimi dengan cepat juga membantu membersihkan Reyna.
Reyna membersihkan mukanya dan melihat sekilas ke arah Stella yang senyum kecil yang seperti sengaja melakukan ini.
‘Apa dia sengaja melakukan ini?’ batin Reyna melihat Stella hanya berdiri diam saja setelah Mimi membantunya. Reyna juga melihat sekilas kalau Stella merasa dendam dengannya.
__ADS_1