
"Apa kau hanya diam saja melihat barang mu di hancurkan sama mereka?" tanya Calvin dengan terkejut melihat Reyna hanya mementingkan tujuan 2 orang asing tersebut.
"Kan bisa di beli lagi. Apa lagi aku nanti aku menyuruh mereka membersihkannya seperti semula." kata Reyna dengan santai.
"Bagaimana caranya kau menyuruh mereka? Bukankah kau menyuruh untuk menyerahkan mereka pada polisi?" tanya Ren dengan bingung.
"Tapi polisi masih belum datang kan? Jadi suruh saja mereka bersihkan apartemen ini sampai polisi datang. Aku bicara pada mereka." kata Reyna turun dari kasurnya.
Reyna masuk ke kamar mandi membuat Ren bertanya, "Kenapa pergi ke kamar mandi? Bukankah mereka berdua ada di luar?"
"Membersihkan diri sebentar." kata Reyna.
"Apa kau ingin mandi dengan pintu rusak seperti itu? Tidak boleh! Aku tidak akan membiarkan siapapun melihat tubuhmu." kata Ren dengan cepat.
"Apa yang kau pikirkan? Aku bilang ingin membersihkan kaki aku." kata Reyna dengan tegas dan masuk kamar mandi.
"Oh.." Ren hanya mulutnya berbentuk O.
"Apa kau pikir Reyna akan mandi di kamar mandi yang pintunya di buat rusak olehmu?" tanya Andrew dengan senyum.
"Tentu saja. Jika benar dia akan mandi, maka aku akan menyeret kalian berdua keluar dengan paksa." kata Ren dengan dingin.
"Aku rasa sebelum kau memukul kami, Reyna sudah duluan membuat mu babak belur." kata Calvin.
Ren terdiam mendengar perkataan Calvin karena ada benarnya juga.
"Kau pikir aku akan melihatnya mandi?" tanya Ren dengan dingin. Ren tidak mau mengakuinya karena terkadang Egonya sangat besar yaitu tidak mau jujur dengan orang lain.
"Kalian kenapa dari tadi di sana? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Reyna baru keluar dari kamar mandi mencuci kakinya.
"Tidak ada. Hanya hal yang tidak begitu penting. Ayo kita keluar." kata Ren mendekati Reyna dan melingkarkan tangannya di tubuh Reyna.
Reyna hanya mengangguk dan keluar dari kamarnya bersama Ren. Di ikuti dengan Andrew dan Calvin.
"Bagaimana dengan keadaan kalian? Apakah enak?" tanya Reyna melihat ke dua orang yang sudah terikat bahkan di babak belur oleh pengawal Ren.
Ren menelpon pengawalnya ke apartemen Reyna dan memberikan ke dua orang itu pelajaran karena telah berani melukai dan menakuti Reyna. Tapi sayangnya Ren di kena tipu oleh Reyna karena itu hanya sandiwaranya saja.
"Ma-maafkan kami nona... A-Ampuni kami..." kata Lelaki berkacamata karena seluruh tubuh dan mukanya kesakitan dan penuh luka lecet dan sampai ada luka memar. Sedangkan temannya satu lagi juga mendapat luka yang sama dengannya.
"Kenapa? Apa kalian sudah pasrah dengan pukulan mereka?" tanya Reyna dengan datar.
"A-ampuni kami nona... Kami janji tidak akan melakukan hal ini lagi..." kata Lelaki berkacamata meminta ampun dan memohon.
__ADS_1
"Lepaskan ikatan mereka berdua." perintah Reyna.
"Apa kau yakin Rey?" tanya Ren.
"Ya. Bukankah aku sudah mengatakan kalau menyuruh mereka membersihkan semua di apartemen ini?" tanya Reyna.
"Jika mereka kabur bagaimana?" tanya Andrew.
"Mereka tidak akan bisa kabur. Bukankah ada yabg mengawasi di sini." tanya Reyna menunjuk ke pengawal Ren.
"Bagaimana jika mereka ada yang mencuri barang kita?" tanya Calvin.
"Hanya tinggal membawa orang Gay ke sini, setelah itu baru kasih saja sama harimau atau ikan piranha, biarkan jadi satapan mereka." kata Reyna dengan datar membuat semua orang di sana terkejut kecuali Ren.
"Tunggu. Aku rasa masih terlalu ringan. Bagaimana kalau potong salah satu tangan mereka dan di jadikan satapan makan ikan piranha dan harimau, setelah itu baru di kasih ke orang Gay." kata Reyna sambil berpikir membuat semua orang di sana terkejutnya sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Kenapa kalian semua pada diam?" tanya Reyna melihat semua orang diam seperti ketakutan.
"Apa kau yakin dengan kata mu Reyna, memotong tangan mereka dan menjadikan satapan ikan piranha?" tanya Andrew dengan pelan.
"Memangnya kenapa? Jangan bilang kalau hukuman yang aku kasih terlalu mengerikan?" tanya Reyna dengan datar.
"Mengerikan Reyna, sangat mengerikan. Bahkan aku rasa kau seperti memperbudak mereka saja. Kau menyuruh mereka membersihkan apartemen mu, jika tidak maka kau akan memotong tangan mereka dan di jadikan satapan ikan piranha dan harimau? Apa menurut mu itu hukuman ringan? Aku rasa mereka hanya bisa memilih hidup menjadi budak atau pilih mati." kata Andrew panjang lebar dengan agak ketakutan mendengar perkataan Reyna.
"Terus kenapa? Bukankah tadi aku bilang kalau mereka berdua berani kabur atau menculik barang yang ada di apartemen aku? Jika mereka tidak berani, maka aku tidak akan melakukan seperti itu pada mereka." kata Reyna dengan santai.
"Tentu saja itu beneran aku lakukan jika mereka berani. Dan lagi aku tau apa yang mereka lakukan di apartemen aku selama aku di kamar." kata Reyna dengan datar.
"Memang apa yang mereka lakukan di apartemen?" tanya Ren.
"Apa kau tau kalau mereka berdua ingin mencoba memperkosa Rayna jika mereka sudah dapat dokumen yang mereka cari? Apa kau pikir aku akan memberikan mereka hukuman yang ringan setelah mendengar itu?" tanya Reyna dengan datar tapi mata Reyna penuh kemarahan.
"What!!!! Apa kau yakin dengan perkataan mu?" teriak Andrew, Ren dan Calvin bersamaan.
"Kalian lihat saja sendiri." kata Reyna memberikan CCTV di hpnya.
Flashback sekitar 2 jam lalu.
"Apa kau yakin dengan perkataan Bos, jika kita berhasil mendapatkan dokumen itu, maka kita bisa menikmati tubuh gadis itu?" tanya Lelaki baju hitam.
"Kata Bos iya, kalau kita sudah dapat apa yang Bos mau." kata Lelaki berkacamata.
"Aku penasaran dengan tubuh gadis itu? Sepertinya gadis itu masih perawan."
__ADS_1
"Tapi aku dengar gadis itu sudah menikah dan punya anak." kata lelaki berkacamata.
"Benarkah? Tapi tidak masalah jika gadis itu perawan atau tidak lagi. Yang penting aku bisa menikmati tubuhnya."
Flashback End
"Kalian berani ingin melakukan itu pada istri ku hah!" teriak Calvin menatap tajam mereka berdua.
"Ma-maaf kami Tuan.. Ampuni kami..." mereka berdua ketakutan dengan Calvin karena tatapan tajam Calvin.
"Sudah. Kalian ingin membersihkan apartemen ini atau aku membawa orang Gay, juga kalian menjadi santapan ikan piranha dan harimau?" tanya Reyna dengan datar tapi kata-katanya penuh tekanan.
"Ka-kami akan memilih membersihkan apartemen nona..." jawab kedua lelaki itu.
"Bagus. Kalau begitu kalian kerjakan sekarang juga. Jika ada barang yang pecah lagi maka aku akan bawa orang Gay ke sini." kata Reyna.
"Apa kau yakin dengan hukumannya Rey?" tanya Ren.
"Benar Reyna. Aku bahkan masih ingin memukul mereka sampai mereka sekarat atau mati pun aku tidak peduli." kata Calvin menahan amarahnya.
"Biarkan saja hukuman mereka ini saja. Dan lagi mereka juga tidak dapat apa yang mereka inginkan dan mereka juga tidak bisa memperkosa Rayna kan." kata Reyna.
"Benar juga sih." kata Ren.
"Kalau begitu kita pergi sekarang." kata Reyna.
"Kemana?" tanya Ren.
"Tentu saja menyelamatkan Rayna. Atau kalian ingin melihat mereka bekerja?" tanya Reyna dengan santai.
"Tidak. Aku ikut dengan mu." kata Ren.
"Aku juga ikut. Aku juga cemas dengan Rayna." kata Calvin dengan cepat.
"Apa kau ikut Drew?" tanya Ren.
"Tidak. Aku disini saja melihat mereka bekerja, setelah itu aku mengobati luka mereka." kata Andrew.
"Tidak masalah kan jika aku mengobati luka mereka?" tanya Andrew ke Reyna.
"Terserah padamu Andrew. Asalkan mereka membersihkan semua isi apartemennya sudah cukup bagi aku." kata Reyna dengan datar.
"OK."
__ADS_1
"Baiklah. Aku serahkan padamu. Ayo kita pergi." kata Ren langsung pergi bersama Reyna dan Calvin.
"Reyna sangat mengerikan jika ada yang berani melukai saudaranya. Jika ada yang berani melukai keluarganya maka Ratu iblis sudah mengeluarkan taringnya." kata Andrew dengan senyum kecil melihat Reyna dan yang lain sudah pergi.