
"Jika satpam memasukkan mu ke dalam penjara maka sudah tamat riwayat mu." kata Sara.
"Memangnya kau bisa memasukkan aku ke dalam penjara? Yang ada kau yang masuk ke penjara." kata Reyna.
"Tentu saja bisa. Kalian hanya kampungan tidak mungkin bisa memasukkan aku ke dalam penjara." kata Sara.
"Juga kalian duluan yang menampar ku sudah pasti polisi akan berpihak padaku." lanjut Sara.
"Duluan? Apa kau kena amnesia atau otak kau masuk lalat? Sudah pasti kau duluan yang mulai, malah bilang kami duluan yang menampar mu. Apa kau ingin aku masukkan semut supaya kau sadar?" tanya Reyna menatap tajam Sara.
"Aku tidak salah apapun dan lagi bukankah apa yang aku katakan itu adalah kebenaran kalau anak Rayna adalah anak haram." kata Sara.
Reyna mendengar Sara mengatakan keponakannya anak haram lagi membuat Reyna semakin marah. Reyna tanpa memperdulikan yang lain lagi langsung meninju muka Sara dengan kuat.
"Akh... Sakit....." Sara menangis karena mukanya sudah sangat parah karena banyak darah.
"Beraninya kau bilang keponakan kesayangan ku anak haram, sepertinya kau sangat ingin kena pukulan ku." kata Reyna dengan marah.
Reyna tanpa memperdulikan satpam yang menghentikannya yang memukul Sara dengan bertubi-tubi.
"Jangan membantu wanita itu jika kalian tidak ingin kehilangan pekerjaan kalian." kata Siska mengancam Satpam supaya tidak membantu Sara.
Kedua Satpam yang awalnya ingin membantu Sara tapi tidak jadi karena ancaman Siska. Mereka tidak ingin kehilangan pekerjaan mereka hanya karena ingin membantu Sara.
"Siapa yang kau bilang anak haram? Kalau kau tidak tahu masalah sebenarnya jangan asal bicara." kata Reyna dengan dingin.
"Bukannya memang benar kalau Rayna telah tidur dengan pria asing bahkan sampai sekarang tidak tahu siapa ayah kandung dari anak kembar itu." kata Sara yang masih kesakitan di mukanya.
"Biar aku kasih tahu sama kau kebenarannya. Suami Rayna saat ini adalah ayah kandung dari anak kembar Rayna. Jadi kau jangan bicara omong kosong lagi." kata Reyna dengan dingin.
"Ti... Tidak mungkin kalau suami Rayna adalah ayah kandung kembar itu." kata Sara dengan terkejut dan menggelengkan kepala dengan cepat.
"Percaya atau tidak itu terserah padamu, jadi jangan coba menyebut mereka anak haram, jika kau tidak mau aku hajar lagi." kata Reyna dengan marah.
Sara terkejut mendengar kalau suami Rayna adalah ayah kandung anak haramnya. Itu berarti pria itu bertanggung jawab dan menikah dengan Rayna.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Aku tidak percaya...!!!" teriak Sara tidak percaya apa yang di katakan Reyna.
Sara ingin berlari ke Rayna tapi Reyna menahan Sara dengan kuat.
"Bukankah tadi sudah aku bilang kalau kau ingin menyakiti mereka maka aku akan mematahkan tanganmu." kata Reyna dengan dingin.
__ADS_1
KREK
Terdengar suara tulang patah di lengan Sara. Sara teriak kesakitan dan memegang tangannya. Satpam terkejut melihat Reyna berani mematahkan tangan Sara.
Sedangkan Siska dan Hana hanya diam saja dan tidak memperdulikan teriakan Sara. Karena itu adalah salah Sara sendiri karena telah menghina Rachel dan Richie.
"Tadi aku sudah memberikan kau peringatan dan kau sama sekali tidak mendengar sama sekali. Jadi jangan salahkan aku." kata Reyna tidak memperdulikan teriakan Sara yang kesakitan.
"Sakit.... Hiks.. Hikss..." Sara memegang tangannya terus karena kesakitan.
"Masih untung aku berbaik hati hanya mematahkan tanganmu, bukan dengan jari jari mu juga." kata Reyna dengan dingin.
Sara hanya berbalik balik di lantai karena kesakitan di tangannya.
"Kalian bawa dia ke rumah sakit dan hubungi orang tuanya." kata Siska ke Satpam.
"Ayo, Reyna. Kita balik ke Villa. Tidak enak terus di sini hanya melihat anak yang tidak tahu diri." kata Hana.
Reyna meninggalkan Sara yang di bawa Satpam ke rumah sakit. Reyna dan yang lain langsung balik Villa dan beristirahat.
***
"Rey, apa kau tidak keterlaluan pada Sara?" tanya Rayna merasa kasihan pada Sara.
"Aku tahu maksud mu, tapi tetap saja menurutku mematahkan tangannya sudah sangat keterlaluan." kata Rayna dengan menundukkan kepalanya.
"Ray, di dunia ini juga kita harus bersikap keras terhadap orang yang telah mencelakai keluarga kita. Jika kita tidak melakukan kekerasan atau membalasnya maka mereka akan semakin menjadi-jadi menghina kita. Dan masalah tidak akan pernah selesai." kata Reyna.
"Dan juga, jangan khawatir dengan tangan dia." lanjut Reyna.
"Apa maksud mu?" tanya Rayna mengangkat kepalanya.
"Tulang tangannya itu hanya bergeser, jika di obati juga sembuh. Walaupun dia harus beristirahat berminggu-minggu." kata Reyna dengan santai.
"Jadi... Tangan Sara...."
"Ya, tangannya tidak patah. Aku masih baik terhadapnya, Ray. Tapi, jika ini di ketahui oleh Kakak dan Papa maka dia tidak akan selamat lagi dan sudah pasti akan jadi gelandangan." kata Reyna.
"Benarkah? Memangnya kak Riku dan Papa bisa melakukan hal itu?" tanya Rayna dengan terkejut.
"Tentu saja. Kau masih belum tahu seberapa besar kekuatan dan kekayaan keluarga kita, Ray." kata Reyna dengan senyum.
__ADS_1
***
Sedangkan di rumah sakit, Sara menangis keras karena tangannya sangat sakit.
"Dokter tolong tangan aku. Sakit sekali..." Sara menangis keras.
"Tenang saja. Kami akan melakukan yang terbaik." kata Dokter.
Setelah beberapa menit, orang tua Sara datang ke rumah sakit melihat Sara karena mendapat panggilan dari Satpam.
"Dimana putri saya?" tanya Papa Sara.
"Sedang di tangani Dokter, Tuan." kata Satpam.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa masuk rumah sakit?" tanya Mama Sara.
Kedua Satpam itu menceritakan semuanya dengan singkat dan jelas. Orang Tua Sara terkejut mendengarnya.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin Sara menghina orang lain!" teriak Mama Sara.
"Kami juga tidak tahu masalah awalnya, nyonya. Anda bisa bertanya nanti pada putri anda." kata Satpam dan langsung permisi dengan orang tua Sara.
"Pa, Putri kita...." Mama Sara menangis mendengar kalau tangan Sara di patahkan.
"Keluarga Pasien. " Seorang dokter keluar dari ruang USG.
"Kami Dok. Bagaimana dengan keadaan Putri kami?" tanya Papa Sara.
"Putri anda tidak apa, Tuan. Tulang tangannya hanya tergeser." kata Dokter.
"Apa tangan putri saya tidak bisa di sembuhkan Dok?" tanya mama Sara.
"Bisa, nanti silakan berkonsultasi pada dokter tulang saja. Putri Tuan sedang di persiapkan kamar untuknya." kata Dokter dan langsung permisi.
"Terima kasih, Dokter." kata Papa Sara.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tangan Sara bisa seperti ini?" Mama Sara menangis melihat tangan Sara.
"Cepat cari tahu! Aku tunggu kabar dari kalian." kata Papa Sara menyuruh bodyguardnya.
Papa dan Mama Sara sangat sedih melihat keadaan putri mereka. Tapi mereka tidak tahu kalau putri mereka melawan orang yang berkuasa.
__ADS_1
T.B.C