Gadis Culun Dan Lelaki Tampan

Gadis Culun Dan Lelaki Tampan
CH. 170 - CALVIN DAN HARRY


__ADS_3

"Daddy, apa Rachel boleh tidur dengan Daddy dan Mommy?" tanya Rachel mengharap.


"Tentu saja boleh." kata Calvin dengan senyum.


"Asyik.... Rachel tidur dengan Daddy dan Mommy..." teriak Rachel dengan senang.


"Baju tidur Rachel bagaimana?" tanya Harry.


"Kalau itu tidak masalah, aku ada bajunya." kata Reyna.


"Kenapa kakak ada baju Rachel?" tanya Harry.


"Aku membelinya beberapa minggu lalu. Untuk Richie juga ada." kata Reyna.


"Apa Richie juga ingin menginap?" tanya Harry.


"Aku ikut saja paman." kata Richie dengan datar.


"Kalau begitu sudah pasti mereka akan menginap. Kalau kau bagaimana Harry?" tanya Reyna.


"Menginap saja Harry, kau bisa pakai baju kakak." kata Calvin.


"Jika aku ikut menginap juga bukankah nanti tidurnya akan menjadi sempit?" tanya Harry.


"Aku rasa jika kita semua tidur di satu kamar saja masih ada ruangan untuk bermain." kata Ren datar.


"Eh?" Harry terdiam mendengar perkataan Ren.


"Benar. Harry, kau menginap saja di sini. Bukankah apartemen kau jauh dari sini." kata Calvin.


"Jika tidak merepotkan, aku iku saja." kata Harry.


"OK. Karena sudah sepakat jadi, Rachel dan Richie langsung saja mandi ya." kata Reyna.


"Tapi Rachel kan sudah mandi. Kenapa harus mandi lagi?" tanya Rachel.


"Rachel, tadi makan juga ada bermain kan? Lihat, Rachel saja sudah mulai berkeringat." kata Reyna.


"Apa Mommy akan mandi sama Rachel?" tanya Rachel.


"Rachel, Panggil dia tante Reyna ya. Dia bukan Mommy Rachel." kata Harry.


"Jangan panggil tante. Aku ini masih muda. Panggil Aunty saja." kata Reyna menolak memanggilnya dengan sebutan Tante.


"Bukankah artinya sama saja?" tanya Calvin.

__ADS_1


"Tapi aku merasa di panggil Tante itu merasa aku ini sudah tua. Padahal aku ini masih 20 tahun." kata Reyna.


"Apa Aunty akan mandi bersama Rachel?" tanya Rachel spontan memanggil Aunty.


"Rachel mau mandi bersama Mommy atau Aunty Reyna?" tanya Harry.


Rachel melihat ke Rayna sepertinya diam tersenyum saja. Sedangkan Reyna hanya diam datar. Rachel merasa bingung mandi bersama siapa.


"Bagaimana kalau hari ini mandi sama Mommy saja dulu, besok pagi baru sama Aunty?" tanya Reyna.


"Ok. Aunty janji mandi sama Rachel?" tanya Rachel dengan muka imut.


"Tentu saja. Rayna, kau mandi sama Rachel ya." kata Reyna.


"Ya. Apa kita pergi mandi sekarang?" tanya Rayna dengan senyum.


Rachel mengangguk cepat langsung memegang tangan Rayna dan langsung pergi ke kamar mandi. Rayna merasa senang melihat Rachel mau mandi bersamanya.


"Richie bagaimana? Apa Richie tidak mau mandi bersama Mommy?" tanya Reyna melihat Richie hanya diam saja.


"Aku mandi sendiri saja Aunty." kata Richie dengan datar.


"Kalau begitu kita nonton TV dulu sampai Rachel selesai mandi ya." kata Reyna dengan lembut. Richie hanya mengangguk dan duduk menonton TV bersama Calvin dan Harry.


---- Kamar Calvin dan Rayna ----


Rayna, Rachel dan Richie tidur lelap di kasur king super size. Calvin merasa senang bisa melihat anaknya lagi.


"Har, bagaimana kabar papa dan mama?" tanya Calvin sambil melihat wajah Rachel yang sudah tidur di kasur.


"Papa dan Mama seperti biasa kak. Semuanya baik." kata Harry.


"Kita keluar bicara. Ada yang mau kakak tanyakan padamu." kata Calvin melihat Rayna dan anak-anaknya tertidur pulas dan langsung keluar kamar. Harry hanya mengikuti kakaknya keluar kamar.


"Apa papa dan mama ada pernah mencari aku dan Rayna nggak?" tanya Calvin.


"Em...." Harry merasa ragu membicarakan ini pada kakaknya, karena takut kakaknya merasa sedih.


"Jawab dengan jujur Har. Kakak tidak mau ada kebohongan di mulutmu." kata Calvin tau pasti orang tuanya tidak memikirkan mereka berdua.


"Papa dan Mama tidak pernah memikirkan kakak dan kak Rayna kak. Setelah mereka mendengar kalian berdua kecelakaan di pesawat, Mama hanya tersenyum melihat berita itu. Sedangkan Papa hanya diam seperti tidak ada perasaaan apapun." kata Harry dengan menundukkan kepalanya mengingat hari di mana kak Calvin dan kak Rayna kecelakaan di pesawat.


"Hah~.... Sudah ku duga...." Calvin menghela nafas sudah tau pasti itu reaksi orang tuanya jika tau kalau mereka ada kena musibah pasti tidak akan menolong atau memperdulikannya.


"Semenjak kak Calvin dan kak Rayna menghilang, aku yang selalu memberikan makan untuk Rachel dan Richie." kata Harry.

__ADS_1


"Dari mana kau mendapatkan makanan untuk mereka berdua? Tidak mungkin kau membawa mereka ke rumah papa dan mama kan?" tanya Calvin.


"Aku tidak membawa anak-anak ke rumah kak. Aku menyuruh Bibi di rumah untuk menyiapkan makanan untuk Rachel dan Richie. Tentu saja tanpa sepengetahuan Papa dan Mama." kata Harry.


"Apa Papa dan Mama tidak curiga padamu?" tanya Calvin.


"Tidak kak. Karena di rumah banyak pembantu mereka berpikir pasti untuk pembantu bukan aku yang bawa untuk anak-anak." kata Harry.


"Jadi semua masakan dan minuman kau bawa dari rumah?" tanya Calvin.


"Iya kak. Tapi untuk minuman aku beli sendiri karena aku sudah pindah apartemen jadi aku yang membeli minuman sendiri. Baju untuk Rachel dan Richie juga aku yang beli pakai uang pribadi aku yang di berikan oleh papa. Papa dan Mama tidak mau memberikan uang untuk mereka jadi aku terpaksa membeli pakai uang aku sendiri." kata Harry.


"Semua pakaian untuk anak-anak kau yang beli pakai uang pribadi mu semua?" tanya Calvin dengan terkejut.


"Tidak semua baju kak. Bibi juga ada kasih baju untuk Rachel dan Richie karena di rumah bibi banyak baju anak-anak yang sudah tidak di pakai lagi dan masih bagus. Juga ada pembantu lain yang memberikan baju juga untuk Rachel." kata Harry.


"Aku juga ada bekerja sampingan untuk kebutuhan anak-anak." sambung Harry.


Calvin merasa lega jika bukan semua uang pribadinya untuk membeli semua baju untuk putra putrinya. Jika semua pakai uang adiknya Calvin merasa tidak tahu bagaimana pengeluaran uangnya untuk anak-anak dan dirinya.


"Kau bekerja dimana? Bukankah kau masih SMA?" tanya Calvin dengan terkejut mendengar Harry sudah bekerja.


"Di Heaven Corporation kak. Aku bekerja hanya membantu para karyawan di perusahaan." kata Harry.


"Heaven Corporation? Kau bekerja apa membantu di perusahaan besar seperti mereka? Tidak mungkin kau bisa di terima begitu saja di perusahaan besar seperti Heaven Corporation jika kau tidak ada pengalaman bekerja, apa lagi kau masih sekolah." kata Calvin dengan terkejut seperti minta penjelasan yang jelas.


"Em... Sebenarnya aku di bantu oleh kak Reyna, kak." kata Harry. Harry akhirnya menceritakan semua kenapa dia bisa bekerja di Heaven Corporation pada Calvin.


"Maaf kak, aku tidak bisa menepati janji aku pada kakak. Tapi aku juga tidak tau mau dapat uang dari mana. Apa lagi sekarang Rachel dan Richie sudah masuk preschool. Mau tidak  mau aku harus cari kerja untuk mereka berdua." kata Harry menundukkan kepalanya takut kakaknya marah.


"Sudah tidak apa. Kalau dengan Reyna, Kakak tidak masalah karena kakak tau kalau Reyna bukan orang jahat apalagi dia adalah saudara Rayna." kata Calvin menghela nafas dengan tenang tau kalau itu adalah Reyna.


"Untuk sekarang dan selanjutnya biar kakak yang keluarkan uang untuk kebutuhan anak-anak. Kau tidak usah keluar uang untuk keperluan mereka lagi. Kakak tidak mau merepotkan kau lagi." kata Calvin.


"Kalau begitu apa aku harus berhenti bekerja?" tanya Harry dengan lesu. Harry akhirnya sudah mendapatkan pekerjaan, jika di suruh berhenti maka upaya nya untuk mencari kerja jadi sia-sia.


"Tidak usah Har. Jika kau suka bekerja maka kakak tidak akan melarang mu. Tapi kau jangan memaksakan dirimu untuk bekerja keras. Jika memang lelah bekerja berhenti saja. Kakak tidak mau kau sakit hanya karena paksa bekerja." kata Calvin dengan lembut.


"Iya kak. Harry pasti tidak akan paksa bekerja." kata Harry dengan senyum. Harry senang kalau kakaknya tidak menyuruh berhenti bekerja.


"Ayo tidur. Sudah malam." kata Calvin mengajak Harry tidur.


"Iya kak." kata Harry.


Harry dan Calvin langsung masuk kamar dan tidur.

__ADS_1


__ADS_2