
Di Mansion.
"Hahaha.... Lihat wajahnya kelihatan sudah pasrah." tertawa seorang pria melihat sahabatnya sedang memohon pada istrinya.
"Sayang.. Aku mohon jangan seperti ini padaku...” seorang pria memelas melihat istrinya tidak mau memaafkannya.
" Tidak! Aku tidak akan memaafkanmu! Bisa-bisanya kau mendorong aku ke kolam dan merasa tidak bersalah sedikit pun. Bahkan tidak menolongku dan kau pergi tanpa melihat ke aku. Apa kau pikir aku ini barang sampai kau tidak melihat aku terjatuh." teriak Sang Istri pada suaminya.
"Ayolah sayang... Aku kan sudah minta maaf." kata suami dengan pelan dan memelas.
Istrinya tidak melihat ataupun memperdulikan suaminya langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Sang suami melihat Istrinya masuk ke dalam dan tidak melihatnya langsung menghela nafas nya dengan pelan.
"Siapa juga kau tidak melihat Siapa yang kau jatuhkan dalam kolam itu." kata temannya.
"Kenapa Kau dari tadi hanya tertawa saja? Kau tidak menolong teman kau yang tersiksa ini."
"Kenapa aku harus membela orang yang tidak tidak tahu kalau dia menjatuhkan istrinya sendiri ke dalam kolam?"
"Aizen!!"
"Tenanglah Gale.. Kau harus meminta maaf dengan baik pada Siska. Nanti aku akan membantu mu." kata Aizen langsung menenangkan Gale.
"Aku sudah meminta maaf padanya, tapi dia tidak mau memaafkanku."
"Kau harus meminta maaf dengan lembut dan sepenuh hatimu."
"Kenapa aku merasa apa yang kau bilang itu sama sekali tidak bisa membantuku perbaikan dengan Siska."
Aizen langsung berbisik di telinga Gale. Gale merasa rencana yang Aizen kasih sama sekali tidak bisa membantunya.
"Apa kau tidak punya yang lain selain itu? Kenapa aku merasa jika aku melakukan apa yang kau katakan padaku tidak akan berhasil sama sekali, Bahkan aku merasa pasti Siska akan bertambah marah padaku." kata Gale dengan ragu.
"Jika kau tidak percaya ya sudah. Itu terserah padamu." kata Aizen dengan senyum.
__ADS_1
"Oh ya, tadi aku melihat sepertinya Siska masak makanan banyak sekali di dapur? Apakah hari ini hari spesial atau ada tamu?" tanya Aizen.
"Putri aku akan kembali hari ini, makanya Siska sangat bersemangat dan senang karena putri kita kembali. Makanya dia memasak banyak hari ini untuk putri kita." jelas Gale dengan senyum.
"Pantas saja Siska sangat bersemangat hari ini. Tapi sayangnya kau membuat moodnya buruk dan marah padamu." kata Aizen.
Gale yang mendengar kata Aizen langsung terdiam dan mulai bersedih lagi karena Siska tidak mau memaafkannya.
Sedangkan Aizen melihat sahabatnya mulai bersedih lagi hanya tersenyum dan menenangkan Gale untuk tidak terlalu bersedih.
Sedangkan di dapur Siska sedang memasak dengan pelan karena Moodnya sudah buruk karena suaminya Gale telah menjatuhkannya ke kolam.
"Apa kau masih marah pada Gale, Sis?"
"Aku memang sangat marah padanya. Bagaimana tidak? Jika dia tidak sengaja menjatuhkan aku ke kolam dan menolong aku, aku pasti akan memaafkannya. Tapi dia sama sekali tidak menolong atau memperdulikan aku, bagaimana aku tidak marah padanya." kata Siska dengan pelan.
"Tadi mu juga melihatnya kan, Hana. Setelah dia menjatuhkan aku, dia tidak menoleh atau melihat siapa yang dia dorong." kata Siska.
Hana hanya bisa diam karena memang itu semua adalah salah Gale. Walaupun dia merasakan ada yang menyengolnya, setidaknya dia harus melihat siapa yang dia dorong.
"Hari ini putri aku kembali, jadi aku ingin merayakan nya." kata Siska dengan senyum.
"Benarkah? Aku sudah lama tidak melihatnya. Aku rasa dia sangat cantik dan mirip seperti mu, Sis." kata Hana.
"Ya dia sangat cantik dan sangat mirip dengan ku." kata Siska
"Putri mu ngapain keluar negeri?" tanya Hana
"Dia pergi ke luar negeri untuk kuliah di sana. Karena di sini dia merasa tidak mendapatkan teman, jadi pergi ke luar negeri kuliah." kata Siska.
"Aku tidak sabar melihat Putri mu yang cantik itu." kata Hana dengan senyum.
Siska dan Hana berbincang-bincang sambil memasak. Kedua istri itu sangat senang bisa bicara banyak karena sudah lama tidak ketemu.
__ADS_1
***
Reyna dan yang lain sudah sampai di gerbang rumah Reyna. Calvin dan Rayna menganga melihat rumah di depan mereka.
"Rey, Ini rumah siapa?” tanya Rayna.
"Rumah mu." kata Reyna dengan senyum.
"Hah? Rumah ku? Aku tidak punya rumah sebesar ini." kata Rayna dengan terkejut. Rayna terkadang sangat polos dan terlalu percaya dengan perkataan orang.
"Tunggu sebentar di sini. Aku pergi membukakan gerbang dulu." kata Reyna langsung keluar menyuruh satpam untuk membuka pintu.
"Sore Nona, ada keperluan apa ke sini?” tanya satpam pada Reyna.
"Buka kan gerbangnya, aku mau masuk." kata Reyna.
"Maaf Nona, saya tidak bisa membukakan pintu kecuali Nona sudah meminta izin pada Tuan." kata Satpam dengan sopan.
"Apa kau tidak mengenal ku?" tanya Reyna dengan menaikkan alisnya.
"Maaf Nona, saya tidak mengenal Nona. Saya baru saja bekerja di sini 2 bulan lalu, jadi jika Nona memang ada urusan dengan Tuan, Nona harus memberikan identitas Nona dan biar saya yang bilang pada Tuan apakah Nona di perbolehkan masuk atau tidak."
Reyna akhirnya mengerti kenapa Satpam ini tidak mengenalnya. Ternyata dia adalah satpam baru jadi tidak mengenal Reyna.
Reyna langsung mengeluarkan HPnya dan menelpon seseorang. Tapi tidak di angkat, jadi Reyna langsung menelpon nomor lain akhirnya di angkat.
Setelah Reyna selesai bicara, Reyna langsung mematikan sambungannya. Setelah itu beberapa menit kemudian ada seorang wanita yang sudah agak tua mendekati Reyna.
"Maaf Nona, dia orang baru jadi dia masih belum mengenal Nona." kata Bibi dengan pelan.
"Tidak apa Bi. Sekarang buka gerbangnya, aku mau memasukkan mobil ke dalam." kata Reyna dengan pelan.
"Baik Nona." Bibi langsung menyuruh Satpam itu untuk membuka gerbang supaya Reyna bisa masuk.
__ADS_1
Satpam itu hanya menuruti perkataan Bibi langsung membuka gerbangnya.
T.B.C