
Dia menghiraukan temannya dan langsung melihat Max dan Reyna dan berkata dengan sopan, “Pak Satya akan segera datang. Mohon untuk tunggu sebentar.” mendengar itu membuat temannya terbelalak tidak percaya apa yang barusan dibilang temannya.
“Baiklah. Terima kasih.” kata Max.
“Apa kau yakin pak Satya ingin bertemu dengan mereka berdua?” tanya temannya dengan tidak percaya.
“Ya. Pak Satya akan turun menemui mereka berdua.” kata Resepsionis.
“Bagaimana mungkin pak Satya kenal dengan mereka berdua. Lihat mereka berdua seperti kampungan.” kata Temannya dengan tatapan sinis.
“Kau tidak boleh begitu. Nanti kau akan kena imbasnya.”
“Kena imbas apa? Ini perusahaan besar. Bagaimana mungkin pak Satya ingin melayani orang dibawah rata-rata seperti mereka. Lihatlah mereka berdua, berpakaian seperti kampungan.”
Resepsionis itu hanya menghela nafasnya melihat temannya hanya ingin melayani orang dengan penampilan luar saja.
Mereka berdua tidak tau kalau Reyna mendengar semua yang mereka bicarakan dan sesekali melihat mereka berdua.
“Ada apa kak?” tanya Max Reyna hanya diam saja.
“Sepertinya ada tikus masuk ke perusahaan aku.” kata Reyna dengan pelan minum teh sambil melihat kearah resepsionis.
“Maksud kakak?” tanya Max dengan bingung.
“Tidak ada. Aku hanya ingin melihat penanggung jawab perusahaan ini bagaimana memilih karyawan.” kata Reyna dengan membuka hp nya.
Pak Satya keluar dari lift dan langsung ke resepsionis.
“Dimana mereka?” tanya Pak Satya.
“Mereka duduk disana pak.” kata Resepsionis menunjuk ke arah Reyna dan Max yang duduk tidak jauh dari mereka.
Setelah Pak Satya tau langsung saja mendekati mereka berdua.
“Max.”
Max mendengar ada yang memanggil namanya langsung menoleh ke belakang. Melihat Pak Satya memanggil mereka Max langsung berdiri.
“Siang pak.” sapa Max berjabat tangan dan dibalas dengan Pak Satya.
“Siang Max. Ada perlu apa kemari? Nona ini siapa?” tanya Pak Satya dengan sopan.
“Nona ini adalah Reyna pak yang saya bicarakan beberapa minggu lalu.” kata Max memperkenalkan Reyna pada Pak Satya.
“Siang pak Satya.Senang bertemu dengan anda.” kata Reyna dengan sopan.
“Oh. Anda adalah nona Reyna. Selamat datang di Heaven Corporation.” kata Pak Satya bersalaman dengan Reyna.
“Ayo, kita bicara ke ruangan aku di atas. Kita naik lift saja.” sambung Pak Satya memandu Reyna dan Max ke ruangannya naik Lift.
‘Aku tidak menyangka bahwa orang yang Max bicarakan adalah seorang gadis muda. Aku berpikir kalau wanita yang sudah menikah.’ batin Pak Satya melihat Reyna seperti masih mahasiswa.
__ADS_1
Resepsionis yang memandang sinis Reyna dan Max melihat Pak Satya menerima Reyna dan Max membuatnya membuka mulutnya menganga tidak percaya kalau mereka benar benar tamu pak Satya.
“Lihatlah apa yang aku bilang barusan. Mereka berdua benar-benar tamu pak Satya kan. Lain kali kau jangan menilai orang dari penampilan saja. Ini pelajaran untukmu.” kata Teman resepsionis itu melihat temannya berwajah pucat dan keringat dingin.
Sampai lantai 2 Pak Satya memandu Reyna dan Max ke raungannya. Reyna melihat ada meja dan kursi baru di sebelah lift yang masih di segel. Ada beberapa orang yang memasang meja dan kursi.
“Peralatan kantor ini baru saja sampai. Ini baru sebagian, nanti akan datang lebih banyak lagi.” kata Pak Satya melihat Reyna melihat orang bekerja.
“Apakah peralatan kursi dan meja untuk direktur dan CEO sudah dipesan?” tanya Reyna.
“Untuk direktur sudah dipesan. Kalau untuk CEO masih belum karena masih belum dapat yang bagus.” jawab Pak Satya.
“Untuk CEO jangan di pesan dulu. Karena nanti semua peralatan untuk CEO aku akan pergi membelinya sendiri.” kata Reyna.
Pak Satya terkejut mendengar perkataan Reyna ingin membeli peralatan untuk ruang CEO sendirian.
‘Kenapa nona ini ingin pergi membelinya sendiri? Siapa sebenarnya nona ini?' batin Pak Satya melihat Reyna
dengan teliti.
“Apa perlu aku temani kak?” kata Max.
“Tidak usah Max. Nanti aku akan beli dengan teman aku.” kata Reyna.
Sampai di ruangan Pak Satya. Pak Satya mengasih air ke Reyna dan Max.
“Maaf saya hanya ada air putih biasa.” kata Pak Satya menaruh minum di meja.
“Pak, bagaimana dengan peralatan yang lain? Apakah sudah di pesan semua?” tanya Max.
“Sudah. Semuanya lagi dalam perjalanan. Besok kita akan memasang AC di lantai 1 dan 2.” kata Pak Satya.
“Tiap lantai pak Satya ingin pasang berapa AC?” tanya Reyna.
“Untuk lantai 1 di lobby saya akan memasang 4 AC. Kalau lantai 2 saya akan memasang 2 AC di luar karena luas
dan tiap ruangan masing-masing 1 AC.” jawab Pak Satya.
“Kalau lantai 2 saya setuju. Kalau untuk lantai 1 terlalu banyak, pasang 2 AC saja saya rasa sudah cukup.” kata Reyna.
“Kenapa? Bukankah si lobby masih ada 2 ruangan lagi? Kenapa harus pasang 2 saja?” tanya Pak Satya.
“Di lobby taruh 1 AC besar. 1 lagi taruh di ruangan tamu. Sisanya dijadikan jualan minuman atau makanan saja.”
kata Reyna.
“Untuk tempat makanan dan minuman itu tidak usah dikasih AC. Biarkan saja jendelanya dibuka supaya angin masuk kedalam supaya sejuk. Karena letaknya pas disebelah ada tempat taman kecil untuk anak-anak, supaya orang bisa mengawasinya dan angin masuk dengan kencang. Bukankah ruangan itu jendelanya besar?” sambung Reyna.
Pak Satya dan Max terkejut dengan perkataan Reyna. Apa lagi pak Satya melihat Reyna seperti mengerti hal yang
seperti ini.
__ADS_1
“Em.. Max… Nona ini sebenarnya siapa?” tanya Pak Satya melihat Reyna seperti bukan orang biasa.
“Max, apa kau tidak memberitahu pak Satya tentang aku?” tanya Reyna melihat pak Satya seperti tidak tau siapa
sebenarnya dirinya. Sedangkan Max menggaruk kan dahinya seperti lupa memberitahu tentangnya.
“Sepertinya kau lupa Max.” kata Reyna dengan senyum kecil.
“Maaf kak. Karena waktu itu aku terburu-buru ada urusan penting jadi lupa memberitahu pak Satya.” kata Max
menundukkan kepalanya dengan pelan.
Langsung saja Max melihat pak Satya dan berkata, “Pak, Nona ini bernama Reyna Richelle dia adalah orang yang
membeli tanah ini dan pendiri Heaven Corporation.” Max langsung memberitahu identitas asli Reyna pada pak Satya.
Pak Satya terkejut dan menganga tidak percaya apa yang didengarnya. Langsung saja pak Satya bersimpuh di lantai menundukkan kepalanya seperti bersujud pada Reyna membuat Reyna terkejut.
“Ma-maafkan saya nona… Sa-saya tidak tau kalau nona adalah pendiri perusahaan ini. Maaf atas semua tidak
kesopanan saya.” kata pak Satya dengan cepat dengan gugup.
“Tidak apa Pak, santai saja. Jangan bersikap seperti itu didepan saya seperti saya melakukan kesalahan besar
pada pak Satya.” kata Reyna menyuruh pak Satya untuk segera berdiri.
Pak Satya melihat Reyna menyuruhnya untuk berdiri langsung saja berdiri dan duduk takut melihat Reyna.
“Pak Satya, saya mohon jangan melihat kebawah terus, ini seperti saya sedang menceramahi bapak. Angkat kepala pak Satya dan lihat ke saya.” kata Reyna.
“Benar pak. Angkat kepala bapak, dan lagi ini juga salah saya karena tidak memberitahu bapak.” kata Max dengan
pelan.
Pak Satya dengan perlahan melihat ke Reyna dan Max dan langsung menghela nafasnya dengan pelan. Pak Satya
langsung minum satu gelas untuk menghilangkan rasa gugupnya.
“Apa sudah baikkan pak?” tanya Reyna.
“Iya. Terima kasih. Saya tidak tau kalau orang yang ingin Max kenalkan adalah Pendiri Heaven Corporation dan
ini membuat saya gugup.” kata pak Satya dengan agak pelan.
‘Aku benar-benar terkejut. Aku pikir nona ini ingin merekomendasi untuk berkerja disini. Ternyata nona ini adalah Pendiri Heaven Corporation.’ batin Pak Satya dengan terkejut.
__________________________________________________________
Jangan lupa Like, vote, comment dan gift nya. ☺️
Maaf jika ada kesalahan dalam kata.
__ADS_1