
"Jika setiap hari makanan nya seenaknya ini aku mau pesan tiap hari." kata Mimi.
"Benar. Aku juga rasanya ingin jadi langganan, jika makannya enak banget." kata Stella.
"Syukur lah jika kalian suka. Aku juga senang." kata Rayna.
"Tapi kenapa kau malah menutup muka mu pakai masker Rayna?" tanya Mimi dengan bingung.
"I-ini..." Rayna jadi gugup.
"Rayna orang nya pemalu. Dia sangat tidak suka dekat dengan orang asing." kata Reyna.
"Tapi di sini hanya ada kita berlima, kenapa harus malu?" tanya Stella.
"Apakah kita orang asing bagimu?" tanya Mimi merasa ingin dekat dengan Rayna.
"Emm..." Rayna merasa takut jika mereka tahu wajah aslinya karena masa lalunya. Walaupun wajahnya sama dengan Reyna tapi tetap saja Rayna takut.
"Jika tidak mau buka masker, jangan di paksakan Rayna." kata Reyna tau kalau Rayna pasti merasa takut.
"Kalian juga jangan paksakan dia untuk membuka maskernya. Dia jadi ketakutan." kata Reyna ke Mimi dan yang lain.
"Maaf. Apa kita menyakiti mu?" tanya Mimi.
"Jika kau memang tidak ingin buka masker mu juga tidak apa. Jangan dipaksakan." kata Stella.
"Benar. Setiap orang pasti ada menyembunyikan sesuatu dari orang lain." kata Yuna.
"Ti-tidak apa. Maafkan aku kalau aku tidak bisa membuka masker aku, karena aku takut orang lain melihat wajah aku." kata Rayna dengan pelan.
"Tapi disini kan hanya kita berlima, tidak ada orang lain." kata Mimi.
"Mimi, walaupun di sini hanya kita berlima, tapi kemungkinan tiba-tiba ada yang datang ke sini kan." kata Reyna.
"Iya juga sih." kata Mimi.
"Jam istirahat sudah mau selesai. Kita harus bekerja lagi." kata Yuna melihat jam sudah jam 12.50.
"Maaf ya, aku ada urusan penting jadi aku minta izin kerja setengah hari." kata Reyna.
"Urusan apa Reyna?" tanya Mimi.
"Urusan keluarga. Ada saudara datang ke kota ini dan ingin aku menjemput nya sekaligus menemaninya jalan-jalan." alasan Reyna.
"Baiklah. Besok kau masuk kerja kan?" tanya Mimi.
"Ya." kata Reyna mengangguk.
"Kalau begitu sampai jumpa besok Reyna. Rayna kalau bisa menu besok ayam panggang ya. Aku suka ayam panggang campur madu." kata Mimi.
"Ok, besok aku siapkan untukmu. Jika kalian ada request bisa kasih tau ke aku, nanti aku akan masak untuk kalian." kata Rayna.
__ADS_1
"Aku ingin ikan saus pedas manis. Jika kau tidak bisa masak juga tidak apa." kata Stella.
"Tidak masalah, nanti aku akan beli bahannya." kata Rayna.
"Ok. Terima kasih Rayna." kata Stella.
"Besok kita akan bayar lebih untuk mu." kata Mimi.
"Ya. Terima kasih." kata Rayna dengan lembut.
Setelah itu Mimi, Stella dan Yuna langsung ke ruang masing-masing untuk bekerja, sedangkan Reyna ke ruangannya hanya mengambil tas dan langsung pergi sama Rayna ke rumah sakit.
"Kita naik mobil aku saja ya. Kau tunggu di sini." kata Reyna baru saja mengeluarkan kunci mobil langsung tiba-tiba melihat mobil sport tiba di depan mereka.
"Hay, nona muda. Apa kalian ingin tumpangan?"
"Kenapa kau di sini?" tanya Reyna.
"Tentu saja aku ingin berkencan dengan kedua nona muda yang cantik dan menawan."
Reyna : "......"
"Kenapa nona muda pada diam? Silakan masuk nona." orang itu membukakan pintunya.
"Reyna..." Rayna melihat Reyna hanya diam saja.
"Aku di belakang saja." kata Reyna langsung membuka pintu belakang dan masuk ke dalam. Rayna hanya mengikuti Reyna ikut duduk di belakang.
"Rumah sakit. Pastikan kendara dengan pelan." kata Reyna dengan datar.
"Baik nona muda." Orang itu langsung menjalankan mobilnya.
Sampai rumah sakit, orang itu langsung membuka pintu untuk Reyna dan Rayna.
"Kita sudah sampai nona."
"Hm..." Reyna hanya berdehem dan keluar dari mobil dan masuk kedalam.
"Ayo Rayna, kita masuk kedalam." kata Reyna. Rayna hanya mengikuti Reyna masuk sampai di ruangan Andrew.
"Apa dokter Andrew ada?" tanya Reyna.
"Ada. Dengan siapa?" tanya perawat.
"Bilang saja Reyna ingin bertemu dengannya." kata Reyna.
"Baik. Tunggu sebentar." kata perawat langsung masuk ke ruangan Andrew.
Setelah beberapa menit perawat itu keluar. "Dokter Andrew sedang ada pasien. Mohon untuk di tunggu sebentar." kata perawat.
"Ok."
__ADS_1
Setelah beberapa menit perawat keluar bersama seseorang dan langsung mendekati Reyna.
"Silakan masuk nona." kata Perawat.
"Ayo kita masuk Rayna." kata Reyna masuk bersama Rayna.
"Hay, Reyna. Bagaimana kabarmu?" tanya Andrew.
"Baik." kata Reyna.
"Apa kau tidak menanyakan aku?" tanya seseorang di belakang.
"Oh Ren, kau ada di sini juga." kata Andrew datar.
"Kenapa kau di sini? Bukankah aku bilang kau nunggu di bawah." kata Reyna.
"Kenapa aku harus menunggu dibawah?" tanya Ren.
"Bukankah kau itu supir aku? Kenapa kau malah ikut kami pula?" tanya Reyna.
"Supir?" tanya Andrew dengan bingung.
"Dia mau menjadi supir aku hari ini." jawab Reyna datar.
"Aku ini pacar mu bukan supir mu." kata Ren.
"Tapi tadi kau jadi supir bukan? Bahkan panggil kami dengan sebutan nona muda." kata Reyna datar.
Ren mendapat chat dari Andrew bahwa hasil test DNA sudah keluar. Ren siang langsung menjemput Reyna dan Rayna di Heaven Corporation. Tentu saja Ren sengaja berperan sebagai supir karena ingin mendapat perhatian dari Reyna malah di cuek kan oleh Reyna.
"Apa yang kau lakukan jadi supir Ren? Apa kau ingin menjadi supir pribadi Reyna?" tanya Andrew.
"Aku memang supir pribadinya. Aku akan mengantarkan kemanapun Rey mau pergi." kata Ren tegas.
"Cukup! Aku kesini ingin mengambil hasil test DNA bukan malah bicara tidak penting dengan kalian." kata Reyna. Reyna merasa sangat lelah melihat Ren dan Andrew bicara. Jika mereka sekali bicara yang ada tidak akan pernah berhenti, malah alasan kenapa bertemu dengan Andrew malah jadi lupa.
"Jadi hasil test DNA nya bagaimana?" tanya Ren ke inti.
"Ini hasilnya ada di dalam." kata Andrew mengasih amplop coklat yang masih tersegel.
"Kenapa kau tidak kasih tau saja hasilnya." kata Ren.
"Yang melakukan tes bukan aku, tapi teman aku. Jadi sudah pasti di masukkan ke amplop bukan?" tanya Andrew.
"Dan lagi walaupun Andrew yang melakukannya sudah pasti dia akan masukkan ke amplop juga Ren. Tidak mungkin langsung kasih hasilnya, nanti di lihat orang lain bagaimana?" tanya Reyna membuat Ren terdiam karena ada benarnya.
"Ini Rayna. Kau saja yang buka hasilnya." kata Reyna.
"Apa tidak apa jika aku yang membukanya?" tanya Rayna.
"Tentu saja. Karena kau yang ingin melakukan test DNA, jadi tentu saja kau yang melihat hasilnya duluan." kata Reyna dengan senyum.
__ADS_1
Rayna langsung saja membuka amplop dan melihat hasil test DNA-nya. Setelah Rayna membaca hasilnya, Rayna langsung saja matanya berkaca-kaca.