
Reyna ke kamar membangunkan Ren. Reyna melihat Ren yang masih tidur langsung mendekati Ren dan membangunkannya.
“Bangun Ren. Ini sudah malam.” kata Reyna dengan pelan membangunkan Ren.
Ren tidak bangun bangun berapa kali Reyna membangunkannya. Reyna merasa ada yang aneh. Reyna dengan teliti melihat wajah Ren lebih tepatnya di matanya.
Reyna bisa melihat mata Ren bergerak-gerak. Reyna merasa kalau Ren sudah bangun, tapi Ren sendiri yang tidak mau bangun.
Reyna langsung mengambil air di kamar mandi. Reyna dengan pelan melempar air dengan tangannya ke muka Ren. Ren yang merasa ada air yang masuk matanya langsung berpindah posisi tidurnya.
“Bangun Ren. Apa kau selamanya ingin tidur?” tanya Reyna melihat Ren tidak ingin bangun.
“Sepertinya aku masih terlalu lembut sampai kau tidak ingin bangun.” gumam Reyna melihat Ren.
Reyna dengan cepat ke kamar mandi dan mengambil gayung besar dan melempar ke muka Ren.
“Akh……” Ren terkejut dan langsung terbangun.
“Kau sudah bangun.” kata Reyna melihat Ren sudah basah.
“Kenapa kau malah melempar air ke aku?” Ren merasa kedinginan.
“Itu salah kau sendiri yang tidak ingin bangun. Apa kau ingin aku lemparkan kau ke kloset kamar mandi.” kata Reyna dengan geram.
Entah kenapa Reyna merasa geram melihat Ren seperti Ren ingin mempermainkannya. Sedangkan Ren yang masih di Kasur melihat Reyna seperti marah padanya.
“Kenapa kau kelihatan sangat marah?” tanya Ren.
“Apa aku terlihat marah? Entah kenapa tiba-tiba aku ingin mencoret muka mu dengan cutter.” kata Reyna tiba-tiba mencari cutter di laci.
Ren tersentak dan sangat terkejut mendengar Reyna ingin mencoret mukanya dengan cutter. Pakai cutter bukan mencoret lagi, tapi malah membuat mukanya semakin buruk.
Ren dengan cepat berdiri dan langsung masuk kamar mandi sebelum Reyna benar-benar mencoret mukanya dengan cutter. Sedangkan Reyna yang sudah memegang cutter melihat Ren tergesa-gesa ke kamar mandi langsung diam.
“Jika aku tidak melakukan ini padamu, kau selamanya tidak akan bangun.” kata Reyna langsung menyimpan cutter.
__ADS_1
***
“Mommy, Uncle ke mana?” tanya Rachel mencari Ren dari pagi tapi tidak menemukan Ren.
“Uncle Ren di kamar sedang istirahat.” jawab Rayna.
“Apa Uncle sakit, Ma?” tanya Rachel.
“Uncle hanya capek saja.”
Reyna turun ke bawah dengan santai. Rachel melihat Reyna sudah turun langsung berdiri dan menghampirinya.
“Aunty.. Apa benar Uncle sakit?” tanya Rachel yang sudah di pelukan Reyna.
“Tidak. Uncle hanya capek saja. Sebentar lagi akan turun.” kata Reyna dengan senyum.
Rachel melihat Ren sudah turun langsung saja mereka semua makan malam.
“Ren, nanti setelah makan kau ke kamar papa. Ada yang ingin papa tanyakan padamu.” kata Aizen.
Setelah semua selesai makan, Ren langsung mendekati Reyna dan mencium pipinya dengan lembut.
“Apa kau tidak bisa berhenti mencium ku di depan orang lain?” tanya Reyna memegang pipi yang di cium Ren.
“Memangnya kenapa? Kau Wanita ku, jadi kenapa harus malu. Kau sangat manis seperti ini.” kata Ren mengeluarkan kata manis membuat Reyna tersipu merah.
“Aku akan segera kembali.” kata Ren langsung pergi ke kamar Aizen.
Ren mengetuk pintu dulu baru masuk ke dalam. Di kamar Aizen dan Hana sudah menunggu Ren.
“Apa yang ingin papa bicarakan?” tanya Ren dengan santai duduk di kursi.
“Ren, apa benar kalau kau sudah tidak tidur pakai obat tidur lagi?” tanya Aizen langsung ke inti.
“Ya, benar pa.” jawab Ren dengan jujur. Ren tahu Aizen pasti akan menayakan hal ini.
__ADS_1
“Lihat, Pa. Benarkan kata Mama, kalau Ren tidak tidur pakai obat lagi.” kata Hana dengan senang.
“Sejak kapan kau sudah tidak pakai obat tidur lagi, Ren. Mama sangat senang mendengar ini.” kata Hana dengan senang.
“Sekitar 8 bulan lalu.” jujur Ren.
“Kenapa kau tidak memberitahu kami, Ren?” tanya Aizen.
“Karena waktu itu aku merasa masih belum pasti. Pa.” kata Ren.
“Apa maksud mu, Ren?” tanya Aizen dengan bingung.
“Aku bisa tidur dengan nyenyak karena ada Rey.” kata Ren. Aizen dan Hana saling pandang merasa bingung dengan perkataan Ren.
“Apa maksudmu?” tanya Aizen dengan bingung.
“Karena ada Rey, aku jadi bisa tidur dengan nyenyak. Aku mengetahui nya pas aku pertama kali menginap di apartemen Rey. Aku merasakan rasa nyaman dan tenang saat tidur di apartemennya.” kata Ren memberitahukan alasan dia bisa tidur dengan nyenyak.
“Apa karena kehadiran Reyna kau bisa tidur dengan nyenyak? Apa itu berarti karena ada Reyna kau bisa tidur?” tanya Aizen.
“Ya. Saat pertama kali aku tidur di kamar. Aku bertanya pada Rey, apa dia ada memakai pewangi atau parfum di kamar. Rey menjawab kalau dia tidak pernah memasukkan parfum di kamar. Setelah itu Rey ingat kalau 2 hari lalu dia salah masuk kamar. Tengah malam dia salah masuk kamar dan masuk ke kamar satu lagi. Saat itu aku mengetahui kalau karena ada bau Rey di Kasur makanya aku bisa tidur dengan nyenyak.” jelas Ren dengan Panjang lebar.
“Tapi bukankah itu bisa jadi kebetulan?” tanya Aizen.
“Awalnya aku juga berpikir seperti itu, Pa. Makanya aku mencoba tidur tanpa makan obat dan ternyata aku tidak bisa tidur. Jadi mencoba membawa bantal yang aku ambil di apartemen Rey dan teryata berhasil.” jelas Ren.
“Jadi aku langsung tahu kalau selama ada Rey atau ada benda miliknya aku bisa tidur dengan nyenyak. Jadi semenjak itu aku selalu menukar bantal Reyna.” kata Ren dengan senang karena ada Reyna maka dirinya tidak perlu memakan obat tidur lagi.
Aizen dan Hana tidak menyangka karena adanya kehadiran Reyna, putra mereka bisa tidur lagi tanpa obat tidur. Aizen dan Hana sangat senang karena kehadiran Reyna yang masuk kehidupan Ren maka Ren tidak akan pernah dingin dan datar lagi.
Aizen dan Hana tahu semenjak kehadiran Reyna, Ren selalu tersenyum bahkan mereka melihat sifatnya yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Aizen langsung tahu kalau Reyna memang di takdirkan untuk Ren.
T.B.C
__ADS_1