
“Pagi, Rey.” kata Ren memeluk Reyna dengan lembut di belakang.
“Pagi Ren. Bagaimana tidurnya? Nyenyak?” tanya Reyna yang lagi menyiapkan sarapan pagi.
“Sangat nyenyak. Apa kau boleh tinggal disini selamanya?” kata Ren dengan senyum.
Ren awalnya tidak bisa tidur karena memikirkan muka Reyna. Setelah 20 menit berbaring dikasur langsung tidur dengan sangat nyenyak.
“Tentu saja sampai waktu itu tiba. Tapi sekarang tidak boleh terlalu sering.” jawab Reyna.
“Aku ada buat sandwich. Apa kau mau makan?” tanya Reyna menaruh sandwich dimeja.
“Boleh. Apa aku boleh minta cappucino?” tanya Ren.
“Tentu saja. Aku buatkan dulu ya.” kata Reyna langsung membuat minum yang diminta Ren.
Ren langsung mencoba segigit sandwichnya.
“Hm… Enak… Jadi ketagihan makannya.” kata Ren langsung makan lahap sandwich itu.
“Kau cepat juga makannya Ren. Aku baru 10 menit membuat minum untukmu, kau sudah habis memakan sarapanmu.” kata Reyna dengan senyum menaruh cappucino di meja Ren.
“Apa sandwichnya masih ada?” tanya Ren yang meminum cappuccino itu.
“Aku memang ada buat agak banyak. Tapi bukankah kau biasanya sarapan pagi tidak banyak makan?” tanya Reyna.
“Sandwich yang kau buat sangat enak Rey. Jadi aku ingin tambah lagi.” kata Ren mengambil sandwich dipiring Reyna dan memakannya.
“Baiklah aku buatkan lagi. Kau mau berapa banyak?” tanya Reyna menuju ke dapur.
“Empat sandwich lagi.” jawab Ren tangan menunjukkan angka empat.
Reyna terdiam mendengar Ren ingin 4 sandwich lagi.
“Apa kau tidak kenyang? Kau sudah memakan 4 sandwich di meja dengan punya aku dan kau masih ingin tambah 4 sandwich lagi.” kata Reyna sambil tangannya menunjukkan angkat empat.
“Aku makan 2 saja, sisanya aku bawa ke kampus untuk makan siang.” jawab Ren.
“Bawa ke kampus untuk makan siang, nanti sandwichnya jadi dingin dan tidak enak dimakan Ren.” kata Reyna.
“Tapi aku ingin makan sandwich buatanmu.” kata Ren dengan cepat.
“Bagaimana kalau aku buatkan bekal untukmu dari pada membuat sandwich untuk makan siang.” kata Reyna menyarankan.
“Apa kau mau buat bekal untuk aku?” tanya Ren dengan antusias.
__ADS_1
“Tentu. Karena aku juga mau buat bekal untuk makan siang nanti di kampus. Jika kau mau aku bisa membuatkan untukmu sekalian.” kata Reyna dengan senyum.
“Mau….. Buat yang banyak, Ok?” kata Ren dengan senyum.
“Baiklah tuan mudaku. Silakan tunggu sebentar.” kata Reyna berlagak seperti pelayan melayani tuannya.
Ren hanya tersenyum melihat kelakukan Reyna yang terlihat seperti pelayan.
Setelah 30 menit Reyna telah selesai membuat bekal untuk Ren dan untuk dirinya sendiri. Setelah itu mereka pergi ke kampus dan tentu saja sebelum dekat kampus tempat yang agak sepi, mereka terpisah karena tidak ingin ada yang ingin orang lain melihat hubungan mereka berdua.
“Apa kau tidak apa aku tinggalkan dekat sini? Kenapa tidak dekat kampus saja Rey? Ini masih lumayan jauh dari kampus.” tanya Ren yang sedang didalam mobil.
“Tidak apa Ren. Jalan kaki tidak begitu jauh paling 15 menit sudah sampai. Terima kasih sudah mengantarkan aku sampai sini ya.” kata Reyna langsung turun dari mobil.
“Baiklah. Sampai jumpa dikampus Rey.” kata Ren dengan agak memaksa senyum.
Ren sebenarnya bisa mengantarkan Reyna sampai kampus tapi Reyna menolak. Padahal Ren bisa bilang kebetulan ketemu dengan Reyna dijalan. Tapi Reyna bilang nanti akan merepotkan jika ada yang tau kalau mereka berdua kekampus bersama karena dengan sifat Ren yang suka dingin dan tidak suka dekat dengan wanita semua orang dikampus pasti tidak percaya hanya karena kebetulan ketemu atau membantu Reyna di jalan dan mengantarkannya ke kampus.
Setelah 15 menit Reyna sampai kampus langsung semua mahasiswi melihat ke Reyna jalan kaki ke kampus.
“Wah lihat siapa yang datang?”
“Anak kampungan jalan kaki datang kekampus? Apa aku tidak salah lihat?”
“Mungkin dia tinggal di kos kayu sampai jalan kaki ke kampus.”
“Bisa jadi.”
“Pakaiannya saja sudah kayak kampungan. Berarti memang gadis itu tidak ada uang untuk biaya taxinya.”
Banyak mahasiswa yang mengejek dan sinis terhadap Reyna. Tapi Reyna tidak memperdulikannya dan langsung masuk ke kelasnya.
Yuna melihat Reyna masuk ke kelas langsung menyapanya.
“Pagi Reyna.” kata Yuna.
“Pagi Yuna. Kenapa kau disini? Apa kau tidak masuk kelas?” tanya Reyna.
“Kelas aku juga disini. Aku dalam beberapa bulan kemarin masuk rumah sakit dan baru masuk hari ini.” jawab Yuna.
“Oh.. Berarti kita sekelas. Bagus dong aku ada teman yang diajak berbicara.” kata Reyna.
“Aku juga sama. Untuk kedepannya mohon bantuannya.” kata Yuna dengan senyum.
“Aku juga sama Yuna.” jawab Reyna.
__ADS_1
Ren dan Kai langsung masuk ke kelas dan menuju meja dosen.
“Perhatian semuanya! Ada yang mau kita bicarakan.” kata Kai bertepuk tangannya supaya semuanya melihat ke mereka.
“Ada apa ya? Apa kau tau sesuatu Yuna?” tanya Reyna ke Yuna.
“Tidak tau.” jawab Yuna menggelengkan kepalanya.
“Kalian semua tau kalau bazar kemarin sangat ramai. Walaupun bazarnya masih ada 2 hari lagi, kami mau meminta bantuan kalian semua.” kata Kai.
“Bantuan apa?”
“Kalian semua tau kan kalau kita sekarang lagi kekurangan orang untuk bazar. Karena tahun ini sangat ramai dari pada tahun sebelumnya.” kata Kai.
“Jadi kita ingin meminta bantuan kalian untuk membantu kami untuk mengurus bazar.” sambung Kai.
“Kenapa harus kelas ini? Minta ke kelas lain saja.”
“Benar. Kita kan ada kelas, tidak mungkin tidak masuk.”
“Kalau soal itu tidak perlu khawatir, karena aku sudah membicarakan kepada dosen dan aku sudah mendapatkan izinnya.” kata Ren dengan santai sambil memperlihatkan surat izin dari dosen.
“What!! Aku tidak mau.”
“Aku juga! Dari pada membersihkan atau jadi penjaga kampus mendingan masuk kelas.”
“Sama!”
Banyak mahasiswa yang menolak dan protes untuk membantu Kai dan Ren karena tidak mau membersihkan sampah yang berada di bazar karena sangat kotor membuat mereka jijik.
“Jika kalian tidak mau, kalian akan masuk kelas sampai malam.” kata Ren dengan dingin.
“Apa!!!” teriak satu kelas.
“Jangan bercanda kau Ren! Siapa yang mau kuliah sampai malam.” teriak Enzi sambil memukul meja dengan keras.
“Jika tidak mau kuliah sampai malam, kalian bantu kami. Pilih salah satu kuliah sampai malam atau membantu kami dibazar.” kata Ren dengan dingin.
“Satu lagi. Di surat izin ini sudah tertulis kalau tidak ingin membantu pengurus osis bazar maka mahasiswa akan mendapatkan kelas sampai malam.” sambung Ren.
“Aku tidak mau kedua-duanya! Apa kau yang membuat peraturan itu?” teriak Enzi dengan marah.
“Bukan aku. Dosen killer kita yang membuat ini karena dia yang bertanggung jawab semua masalah selama bazar. Itu artinya selama 2 hari ini kalian akan disuruh membantu bazar atau mengikuti pelajaran sampai malam.” jawab Ren dengan dingin.
“Pilih membantu atau mengikuti kelas sampai malam. Tentu saja itu terserah pada kalian. Oh ya, semua mahasiswa di kampus dapat pengumuman ini. Jadi jangan berpikir kalau hanya kelas ini saja yang akan disuruh.” sambung Ren dengan sikap dingin dan datar.
__ADS_1