
Pagi hari Hana baru saja sampai rumahnya. Kenapa bisa pagi? Karena Hana di Villa membersihkan bajunya yang di bawa ke ruang rahasia, karena Aizen tidak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamar mereka.
"Nyonya, kami sudah menunggu anda." kata Pelayan di rumah Ryuujin.
"Di mana Aizen?" tanya Hana melihat sekeliling.
"Tuan sedang berada di rumah sakit, Nyonya." jawab Pelayan.
"Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa mungkin Aizen??" Hana terkejut Aizen ada di rumah sakit.
"Kalau itu kami tidak tahu nyonya. Tuan hanya berkata kalau dia ada di rumah sakit. Sampai sekarang tuan masih belum balik."
"Apa?? Kalau begitu aku harus cepat pergi melihatnya." Hana dengan cepat keluar dan menyruuh supir untuk pergi ke rumah sakit.
***
"Aizen. Aku sudah bawa sarapan mu." Hiroshi membawa kantong plastik yang berisi makanan untuk Aizen dan Gale.
"Taruk saja di meja." kata Aizen.
"Apa yang kau beli?" tanya Gale.
"Roti lapis dan kopi." jawab Hiroshi.
"Apa tidak ada yang lain?" tanya Gale. Gale tidak begitu suka makan Roti di pagi hari.
"Jika kau tidak mau, kau pergi beli sendiri saja. Di rumah sakit ini yang buka hanya ada jual Roti saja." kata Hiroshi.
Gale tanpa menunggu Hiroshi bicara langsung keluar kamar. Hiroshi melihat Aizen melihat Ren terus.
"Makan lah sedikit." kata Hiroshi memberikan Kopi pada Aizen. Aizen hanya diam saja dan tidak mengambil kopinya membuat Hiroshi menghela nafasnya.
Hiroshi tahu kalau Aizen tidak tidur karena takut Ren memberontak lagi. Tadi malam Ren bangun dan langsung memberontak, untung saja Dirinya cepat datang jadi Ren tidak bisa memberontak lagi.
Kamar Ren sudah berantakan karena akibat Ren berontak melempar semua barang yang ada di kamar.
__ADS_1
"Oh ya, aku dengar dari rumah mu kalau istri tercinta mu mau datang ke sini." kata Hiroshi membuat Aizen sadar dan menoleh ke Hiroshi.
"Apa yang barusan kau bilang?"
"Aku bilang Istri tercinta mu lagi dalam perjalanan ke sini." kata Hirsohi dengan pelan.
"Kenapa dia mau ke sini? Aku masih belum ingin Hana tahu." kata Aizen dengan terkejut kalau Hana ingin datang.
"Harusnya kau melihat Hp kau. Orang mu sudah berkali-kali menelpon mu berkali-berkali dan kau tidak mengangkatrnya. Jadi mereka menelpon ku." jelas Hiroshi.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku masih belum siap memberitahu Hana tentang Ren." Aizen langsung sakit kepalanya karena takut Hana terkejut melihat keadaan Ren.
"Memangnya kenapa kalau dia tahu? Bukankah sudah normal seorang Ibu mengkhawatirkan putranya?" tanya Hiroshi.
"Aku takut Hana syok karena dirinya tidak menghentikan Ren. Ren keluar dari persembuyian untuk melihat keadaan dan Hana tidak sempat mengentikannya karena masih ada penyusup." kata Aizen.
Hiroshi terdiam, karena dia tidak tahu kalau terjadi seperti itu. Hiroshi tidak tahu kejadiannya karena Aizen dan Gale tidak memberitahunya
"Apa benar....."
"Apa benar... Aizen..." kata Hana dengan pelan dan bergetar. Hana yang sudah sampai Rumah sakit langsung bertanya pada perawat di mana kamar pasien.
Hana berpikir kalau Aizen yang terluka, tapi Hana baru saja ingin masuk ke dalam langsung mendengar semua perkataan Aizen.
"Hana..." Aizen terkejut Hana mendengar semuanya.
"Hiks... Hikss... Kalau... Kalau saja aku bisa menghentikan Ren... Sudah pasti Ren tidak akan seperti ini..." Hana menangis.
"Hana.... Jangan khawatir.. Ren akan baik-baik saja. Dan itu bukan salah mu. Ini semua salah aku karena aku tidak bisa menjaga kalian berdua." Aizen memeluk Hana untuk menenangkannya.
Hana yang sudah tenang karena Aizen memeluknya dengan lembut.
"Apa yang terjadi? Aku tidak ingin kau mengrahasikannya padaku." kata Hana meminta penjelasan.
Aizen awalnya tidak ingin memberitahu pada Hana. Aizen melihat mata Hana sudah seperti sudah bulat seperti akan menerimanya. Aizen menghela nafas dengan pelan dan akhirnya menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Apa tidak ada cara menyembuhkan traumanya?" tanya Hana yang masih menangis melihat Ren. Hana mendekati Ren dan memegang muka Ren.
"Aku masih belum tahu. Kata Dokter kita harus menemaninya supaya trauma Ren mereda." kata Aizen.
"Apa maksudmu?"
"Hanya kita yang bisa menghilangkan trauma Ren. Dan Ren sekarang trauma dengan benda besi." kata Aizen.
Hana terkejut kalau Ren sekarang takut dengan besi. Aizen melihat Hana membawa kotak nasi langsung tahu kalau Hana membuat nasi untuknya dan Ren.
"Apa kau membuat bekal?" tanya Aizen.
"Ya. Aku pikir kau tidak akan makan, jadi aku membuat bekal dari rumah." kata Hana membuka bekalnya.
"Apa tempat bekal itu terbuat dari besi?" tanya Hiroshi melihat kotak bekalnya terbuat dari besi.
"Iya. Karena ada sup jadi sepaya tetap hangat." jawab Hana.
"Mendingan kita tukar bekalnya. Takut nanti Ren bangun dan memberontak lagi." kata Hiroshi membuat Hana sedih. Aizen yang melihat itu langsung menatap tajam Hiroshi membuat Hiroshi ketakutan.
"Bukan itu maksudnya. Maksud aku ganti tempat besinya ke piring plastik supaya nanti Ren bangun tidak takut. Bukankah sayang nanti makanannya di buang oleh Ren." kata Hiroshi dengan gugup.
"Benar juga. Aku akan minta sama perawat sekarang." Hana dengan cepat keluar kamar Ren.
"Bukankah di sini sudah ada bel? Hanya di tekan dan menyuruh perawat bawakan kan bisa." Hiroshi melihat "Hana keluar kamar.
"Tidak apa. Dia pasti lagi tidak tenang karena Ren. Jadi biarkan saja apa yang mau di lakukannya." kata Aizen memakan dengan pelan.
Hiroshi melihat Aizen memakan bekal Hana membuatnya melongo. Aizen yang tidak ingin makan roti yang di belinya tapi Hana membawa bekal langsung di makannya.
"Jika sudah ada istri langsung patuh." gumam Hiroshi dengan senyum tipis.
"Hah? Apa?" tanya Aizen seperti mendengar Hiroshi bicara.
"Tidak.. Tidak ada..." kata Hiroshi dengan cepat.
__ADS_1
T.B.C