
"Awas saja kau. Aku akan membalas perbuatan mu pada ku." kata Sara berdiri dan memegang mukanya karena kesakitan.
"Kau hanya pengecut saja dan tidak berani melawan ku." Reyna menatap Sara sudah tidak berdaya.
"Aku memperingati mu untuk jangan coba mendekati Ray dan anak-anaknya. Jika aku melihat kau mengganggu mereka maka aku tidak segan lagi mematahkan tangan dan jari jari mu itu." kata Reyna dengan menatap tajam dan dingin.
Sara dengan cepat pergi dari toko tersebut. Reyna langsung mendekati ke Rayna dan yang lain.
"Apa kau tidak apa?" tanya Reyna melihat pipi Rayna yang memerah.
"Tidak apa, Rey. Terima kasih." kata Rayna.
"Tidak usah berterima kasih. Bukankah sesama saudara kita harus saling membantu?" tanya Reyna dengan senyum.
"Hiks... Mommy...." Rachel sudah menangis dari tadi melihat Rayna.
"Tidak apa Rachel. Mommy tidak apa. Jangan memangis lagi, nanti cantik mu menghilang." kata Rayna menenangkan Rachel sambil menggendongnya.
"Tapi... Karena Rachel... Mommy...." Rachel bicara sambil menangis.
"Husst... Mommy tidak apa. Kita pergi cari makan untuk Rachel ya. Bukankah Rachel lapar?" tanya Rayna dengan pelan.
"Hum...." Rachel mengangguk kepala sambil menghapus air matanya.
Richie di gendong sama Siska. Rayna dan yang lain pergi mencari makan.
***
"Kenapa kalian tidak bilang kalau sudah pergi makan? Aku sudah mencari kalian di toko tadi." kata Hana mencari Siska dan yang lain di toko baju tempat Siska beli baju.
"Maaf, Hana. Tadi awalnya kami ingin menunggu mu di toko tadi tapi karena ada kejadian jadi kami mencari makan dan sekalian istirahat sebentar." kata Siska lupa memberitahu Hana.
"Kejadian? Apa yang terjadi?" tanya Hana.
"Rayna, Pipi mu kenapa? Apa terjadi sesuatu semenjak aku meninggalkan kalian?" tanya Hana melihat pipi Rayna merah.
Siska menceritakan kejadian tadi dengan singkat kalau Rayna kena tampar sama temannya karena teman lamanya bertemu dengan Rayna dan mengejeknya.
"Kenapa bisa bertemu dengannya? Dimana dia sekarang?" tanya Hana menahan amarah.
"Dia sudah pergi." kata Siska.
__ADS_1
"Kalau saja aku lebih cepat, aku pasti sudah menamparnya berkali-kali." kata Hana jika bertemu dengan Sara maka sudah di tampar berkali-kali oleh Hana.
"Tadi Reyna juga menamparnya berkali-kali sampai mukanya mau bengkak sampai pipinya mau biru." kata Siska.
"Benarkah? Bagus kalau begitu." kata Hana.
"Ray, taruh ini di pipi mu." kata Reyna yang baru saja balik dan memberikan es yang sudah di bungkus kain.
"Terima kasih, Ray." Rayna langsung menaruh es tersebut di pipinya.
"Reyna, apa benar kau sudah memberikannya pelajaran?" tanya Hana.
"Sudah, Tante. Jika dia datang lagi maka aku tidak akan segan lagi mematahkan tangannya." kata Reyna dengan santai.
"Bagus kalau begitu. Tapi entah kenapa rasanya Tante juga ingin menamparnya sekarang juga." kata Hana sangat ingin menampar Sara karena sangat geram dan marah karena yang di lakukan Sara oleh Rayna.
"Kalau dia masih ingin menemui kita."
Rayna dan yang lain sedang makan di KFC. Rachel pun sudah tidak menangis lagi karena dapat makan yang enak.
***
"Hm? Apa lagi maunya? Sepertinya dia sama sekali tidak kapok." Reyna melihat ke belakang ada Sara dengan 2 satpam bersamanya.
Reyna dan yang lain sudah selesai makan langsung balik ke Villa, tapi Sara malah membawa 2 orang Satpam bersamamnya.
"Siapa dia?" tanya Hana melihat Sara.
"Dia yang tadi telah menampar Ray, tante." kata Reyna.
"Apa??" Hana terkejut dan langsung melihat ke Sara.
"Akhirnya aku menemukan kalian." kata Sara.
"Apa lagi mau mu kemari? Sepertinya kau sama sekali tidak takut dengan peringatan aku tadi." kata Reyna dengan dingin.
"Kenapa aku harus takut? Dan lagi kalian kalangan miskin tidak bisa melakukan apa pun setelah aku melakukan ini pada kalian." kata Sara tanpa rasa takut.
"Kalangan miskin? Apa maksud dia itu kalau kita itu orang miskin?" tanya Hana menatap tajam Sara.
"Sepertinya dia sangat ingin di beri pelajaran." Hana seperti sudah tidak bisa menahan emosinya.
__ADS_1
"Pak, tangkap mereka semua, karena telah mengejek dan mempermalkukan keluarga ku." kata Sara ke satpam.
2 Satpam itu awalnya mereka ingin menangkap Reyna dan yang lain tapi mereka urungkan karena melihat Siska. Mereka sangat tahu siapa Siska itu, jadi mereka ingin masalah ini tidak di peribet.
Rayna melihat Sara balik membawa satpam langsung mundur begitu juga dengan Rachel karena takut dengan Sara. Siska melihat Rayna ketakutan langsung menenangkan Rayna dan melindunginya dari belakang.
"Harusnya kau memeriksa dulu siapa lawan mu sebelum bertindak. Jangan salahkan aku jika membuat mu dan keluarga mu menjadi gelandangan." kata Reyna dengan dingin.
"Apa yang bisa kau lakukan pada keluarga ku? Bahkan menjadikan aku menjadi budak mu saja seumur hidup tidak akan bisa." kata Sara dengan santai.
'Budak? Bahkan jadi peliharaan maupun menyuruh mu menyiksa diri sendiri saja pasti kau tidak bisa berkata apapun.' batin Reyna dengan mengejek Sara.
Reyna mlelihat kedua Satpam tidak mau bergerak sedikitpun, itu pasti kedua Satpam itu tahu siapa mereka.
"Apa kau tahu kata di atas langit masih ada langit?" tanya Reyna.
"Kenapa kau malah bertanya hal yang tidak penting seperti itu pada ku?" tanya Sara.
"Jika kau tidak tahu artinya itu berarti kau hanya lah tikus yang tidak tahu apa apa." kata Reyna dengan senyum.
"Apa katamu?" Sara langsung marah dan ingin menampar Reyna tapi sayangnya di tahan oleh Reyna.
"Apa kau tahu, kalau kau sama sekali bukan tandingan ku." kata Reyna dan menampar pipi Sara lagi dengan kuat.
Sara sampai terdorong di belakang dan di tahan oleh Satpam, jika tidak Sara akan jatuh lagi ke lantai. Tamparan Reyna juga kuat sampai hidung Sara mengeluarkan darah segar.
"Kau.... Beraninya kau menampar ku lagi." kata Sara dengan tangan gemetar dan ada darah di hidungnya.
"Waw... Aku tidak menyangka kalau Reyna akan menjadi galak jika sekali marah." Hana kagum melihat Reyna sangat berani dan tidak takut.
"Sifat Reyna seperti ini sangat mirip dengan Gale." kata Siska menghela nafas melihat sifat putrinya.
"Bukankah itu bagus? Dia tidak takut jika ada yang berani menatangnya. Aku jadi mengerti kenapa Ren suka dengan Reyna karena sifatnya ini membuat Ren menjadi jatuh cinta pada Reyna." kata Hana.
"Kau benar." kata Siska dengan senyum.
"Sangat jarang melihat ada wanita tangguh yang berani melawan seseorang seperti ini tanpa takut statusnya di bicarakan oleh orang lain." kata Hana.
"Kau sudah melihatnya di depan mata mu sendiri." kata Siska dengan senyum.
T.B.C
__ADS_1