
Reyna di kantor seperti tidak bisa focus bekerja. Apa yang di pegangnya bahkan tidak bisa focus satu huruf pun. Reyna banyak berpikir tentang Rayna di apartemen.
Reyna berpikir takutnya Rayna di rumah tidak bisa tenang dan tidak bisa tidur karena kejadian tadi pagi.
Reyna yang sama sekali tidak fokus satu kata pun langsung saja menaruh berkas yang di pegangnya dan pergi ambil minuman.
Reyna melihat jam di dinding menunjukkan angka 11 ternyata masih pagi. Reyna berpikir pasti Rayna tidak bisa mengantarkan makanan ke perusahaan karena melihat dari keadaannya tadi pagi pasti masih berada di kamar dan gemeteran sendirian.
Reyna tanpa berpikir panjang lagi langsung saja meletakkan gelasnya langsung ke ruangannya membersihkan mejanya dan bersiap untuk pulang karena takut terjadi sesuatu pada Rayna.
"Reyna, kenapa kau membersihkan meja mu? Kau mau kemana?" tanya Yuna melihat Reyna membersihkan mejanya.
"Aku ada urusan mendadak, jadi aku pulang duluan ya." kata Reyna langsung mengambil tasnya dan pergi tanpa mendengar Yuna bicara.
Entah kenapa Reyna memiliki perasaan yang buruk yang terjadi sama Rayna. Rayna langsung tancap gas dan pulang cepat ke apartemen.
20 menit Reyna sampai ke apartemennya langsung keluar mobil dan langsung masuk ke apartemennya.
Reyna masuk ke apartemennya dan langsung mencari Rayna. Reyna tidak melihat Rayna di dapur langsung ke kamar Rayna.
Reyna langsung kaget apa yang di lihatnya pas masuk ke kamar Rayna. Reyna melihat kamar Rayna sangat berantakan dan banyak barang yang rusak dan pecah.
Reyna mencari Rayna tidak ada di Kasur lagnsung mencari Rayna di sekeliling kamar. Mata Reyna langsung tertuju pada Rayna yang duduk meringkuk dengan ketakutan di ujung kamar.
Reyna dengan cepat langsung mendekati Rayna dan memeluknya dengan pelan tapi di pukul oleh Rayna.
“Jangan mendekat!” teriak Rayna dengan ketakutan.
“Ray, kau kenapa?” tanya Reyna mendekati Rayna tapi di dorong oleh Rayna.
__ADS_1
“Jangan mendekat… Jangan pukul aku lagi… Jangan pukul aku lagi….” kata Rayna dengan ketakutan dan gemetar.
Rayna tidak tahu di depannya adalah Reyna. Rayna ketakutan dan lebih ketakutan jika ada yang memegangnya. Rayna juga tidak mau bergerak sedikitpun dan duduk saja di situ dengan ketakutan.
Reyna menghela nafasnya melihat kelakuan Rayna yang sangat ketakutan dan gemetar. Reyna tanpa memperdulikan Rayna mendorongnya atau melukainya langsung memeluk Rayna dengan agak erat supaya Rayna tenang.
“Tenang lah Ray… Tenang…” kata Reyna dengan lembut tanpa memperdulikan Rayna memukul badan Reyna supaya tidak mendekatinya.
Rayna yang merasa ketakutan langsung saja mengigit tangan Reyna dengan kuat sampai keluar darah. Reyna yang melihat Rayna mengigit tangannya hanya menahan sakit dan membiarkan Rayna mengigit tangannya.
“Tidak apa… Tidak apa Ray…. Jika kau merasa tenang mengigit atau memukul aku maka aku akan memberikan sebanyak yang kau mau sampai kau puas.” kata Reyna membiarkan Rayna memukul dan mengigit tangannya.
Rayna hanya diam mengigit tangan Reyna. Setelah beberapa lama Rayna akhirnya mulai tenang dan melepaskan gigitan di tangan Reyna dan melihat Reyna dengan intens.
“Re.. Rey….” kata Rayna dengan pelan.
“Apa kau sudah tenang?” tanya Reyna dengan senyum lembut membersihkan keringat di muka Rayna.
Rayna sepertinya tidak tahu apa yang terjadi padanya, bahkan dia tidak tahu kalau Reyna yang telah menenangkannya.
“Aku hanya ada yang ketinggalan di apartemen. Makanya aku pulang dan sekalian melihat keadaanmu. Apa kau baik-baik saja? Apa kau merasa Lelah atau pusing?” tanya Reyna dengan senyum.
“Aku tidak apa. Kenapa kamar begitu berantakan? Apa terjadi sesuatu?” tanya Rayna terkejut melihat kamarnya sangat berantakan bahkan ada kaca yang pecah.
“Apa kau tidak ingat?” tanya Reyna dengan terkejut.
“Ingat apa? Aku hanya ingat kalau aku istirahat di kamar saja setelah itu aku tidak ingat apapun.” kata Rayna dengan bingung.
Reyna agak terkejut mendengar perkataan Rayna. Padahal tadi Rayna berteriak dan memukulnya bahkan mengigit tangannya, dan Reyna mendengar kalau Rayna tidak ingat apapun.
__ADS_1
Reyna berpikir kalau trauma Rayna bukan trauma biasa. Reyna berpikir kalau trauma Rayna sangat serius sampai dia tidak ingat apa yang telah di lakukannya beberapa menit lalu.
'Sepertinya aku harus bertanya pada Calvin. Sepertinya ada sesuatu masalah yang serius sama masa lalu Rayna sampai Rayna mengamuk dan ketakutan seperti tadi.' batin Reyna.
“Rey…”
“Ah.. Tidak… Aku hanya mengingatkan kau jangan lupa untuk mengunci pintu di depan.” kata Reyna dengan pelan.
“Mengunci pintu? Apakah ada maling yang datang ke sini?” tanya Rayna dengan terkejut.
“Ya. Maka dari itu aku bilang jangan lupa mengunci pintu. Untung saja aku pulang karena ada yang ketinggalan di apartemen, jika tidak maka kau sudah bunuh sama penculik itu. Lihatlah tangan mu bahkan terluka." kata Reyna dengan memperlihatkan tangan Rayna yang terluka.
"Maaf kan aku Rey." kata Rayna dengan pelan dan merasa tidak becus menjaga rumah.
"Tidak apa. Lain kali kau harus ingat untuk tutup pintu ya." kata Reyna. Rayna hanya mengangguk mengerti.
"Oh ya, kakek ke mana? Aku tidak melihat kakek di rumah?" tanya Reyna yang tidak melihat kakek Edgar.
"Kakek pergi. Katanya mau pergi melihat rumah nya." kata Rayna.
Reyna hanya mengangguk mengerti. Pantas saja Rayna mengamuk di kamar dan tidak ada yang menghentikannya, ternyata Kakek Edgar sedang pergi melihat rumahnya yan di jual oleh Edward suami Celestia Putri Edgar.
"Ayo kita bersihkan dulu kamar mu." kata Reyna langsung berdiri.
"Tanganmu kenapa Rey?" tanya Rayna melihat Tangan Reyna terluka.
"Oh ini. Tadi kena pecahan kaca.” kata Reyna dengan alasan.
"Ayo aku obati dulu luka mu setelah itu baru membersihkan kamar." kata Rayna langsung mengambil P3K dan mengobati luka Reyna.
__ADS_1
Reyna hanya tersenyum dan mengangguk saja. Setelah Rayna mengobati luka Reyna dan lukanya, mereka berdua langsung membersihkan kamar Rayna yang berantakan.
T.B.C