
Aizen di sofa duduk sambil cemas terdengar bunyi Hp-nya.
Ring~
Ring~
"Halo, bagaimana?" tanya Aizen.
"Aku menemukannya tapi sepertinya dia sudah tidak ada di kota ini." jawab orang seberang.
"Apa?? Kemana dia pergi?" tanya Aizen.
"Sepertinya ke luar negeri? Apa kau ingin pergi juga?"
"Tentu saja. Aku akan pergi ke tempat mu sekarang."
"Ok. Aku akan menunggu mu." kata orang di seberang telpon dan langsung menutupnya.
Aizen dengan cepat pergi pakai mobilnya. Setelah 1 jam lebi8h akhirnya Aizen sampai tujuan.
"Lama juga kau datangnya. Katanya cepat datang." kata orang itu tersenyum melihat Aizen terlambat datang.
"Diam! Aku kena macet jadi pergi jalan lain." kata Aizen.
"Hahaha... Baiklah. Apa kita pergi sekarang?"
"Tunggu. Sebelum kita pergi kau beritahu aku dulu siapa dalangnya." kata Aizen dengan cepat.
"Nanti aku juga akan beritahu kan."
"Baiklah. Orang dalang yang menyusup Villamu dan menculik putra mu adalah Delvin."
"Apa??!!! Apa dia masih belum kapok??" teriak Aizen mendengar nama teman lamanya yang menculik putranya.
"Ya. Memang dia orangnya. Mungkin dia ingin membalas dendam yang telah kau lakukan padanya."
"Cih! Memangnya apa yang aku lakukan padanya? Kejadian itu karena ulahnya sendiri." kata Aizen mengingat kejadian beberapa tahun lalu.
"Memangnya kau pikir dia mau menerimanya?"
"Gale, sepertinya kita harus membuat ide supaya bisa masuk ke wilayahnya." kata Aizen.
"Tentu saja. Apa kau pikir kita akan pergi tanpa persiapan apapun?" tanya Gale dengan senyum.
__ADS_1
Aizen menghubungi Gale supaya bisa mendapatkan infomasi yang menculik Ren.
"Haha.. Aku tahu kau pasti sudah mempersiapkannya."
"Apa kau meremehkan aku Aizen? Aku bahkan hanya dalam waktu 10 menit mendapatkan keberadaannya." kata Gale menatap tajam Aizen karena meremehkannya.
"Tentu saja tidak, Gale. Aku tahu kalau kau pasti akan sangat cepat mendapatkannya." kata Aizen.
"Kenapa kau tidak mencari saja dengan orang mu?" tanya Gale.
"Kau pikir ada waktu aku memanggil mereka. Tapi tenang saja, mereka sedang perjalanan." kata Aizen.
"Seorang mafia minta tolong pada orang lain? Aku rasa kau sudah takut menghadapinya." remeh Gale.
"Siapa yang kau bilang takut? Aku meminta tolong padamu karena ingin cepat menemukan Ren. Aku takut Hana menanyakannya." kata Aizen.
"Apa Hana tidak tau kalau Ren kena culik?" tanya Gale dengan agak terkejut.
"Tentu saja. Jika aku memberitahunya sudah pasti dia akan syok." kata Aizen.
"Harusnya kau bawa beberapa orangmu ke sini. Jadi kau tidak akan membuang waktumu."
"Itulah aku ceroboh. Aku pikir tidak akan ada musuh yang datang." kata Aizen merasa ceroboh.
"Tuan, pesawat sudah siap. Kita bisa berangkat sekarang." kata pengawal pada Gale.
"Ayo kita pergi." Gale langsung pergi bersama Aizen.
'Semoga kau baik-baik saja Ren.' batin Aizen.
***
Di suatu tempat Ren membuka matanya dengan pelan.
"Hm.. Ini di mana? Tunggu. Kenapa di sini sangat gelap?" Ren terkejut dia ada berada tempat yang gelap.
Ren merasakan ada sesuatu di matanya langsung melihat ternyata matanya di tutup pakai kain. Ren melepaskan tali yang ada di tubuhnya dan penutup matanya. Ren tidak melihat apapun kecuali gelap.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?" tanya Ren dengan bingung.
Ren berpikir sebentar dan teringat kalau dirinya kena culik.
"Aku ingat kalau aku kena culik. Apa yang harus aku lakukan? Bahkan aku tidak membawa apapun untuk menghubungi Papa." kata Ren mencari di kantong celananya tidak ada apa-apa.
__ADS_1
Ren dengan pelan mencari sesuatu di ruangan itu tapi tidak menemukan apapun. Ren melihat lama di ruangan gelap semakin bisa melihat dengan jelas yang ada di ruangan.
"Sepertinya tidak ada apapun di ruangan ini." Ren melihat sekeliling tidak ada apapun barang di ruangan tersebut hanya ada pintu besi dan karpet kecil.
Ren yang ingin ke Pintu langsung Pintu besi itu terbuka.
"Tuan, anak itu sudah bangun." kata Pengawal melihat Ren sudha bangun dan melepaskan ikatannya.
"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaan mu?" tanya pria masuk ke dalam.
"Siapa kau? Apa kau yang membawa ku ke sini?" tanya Ren melihat pria itu dengan teliti.
"Buka lampunya." kata Pria itu ke pengawalnya. Pengawal tersebut langsung membuka lampunya.
Ren melihat pengawal itu buka kontak lampu dari luar, ternyata kontak lampunya ada di luar kamar.
Pria itu melihat Ren menatap dirinya dengan dingin dan tatapan tajam. Pria itu tersenyum melihat Ren berani dengannya dan tidak takut padanya.
"Apa kau tidak takut padaku? Aku adalah orang yang menculikmu dan membawamu ke sini." kata Pria itu.
"Kenapa aku harus takut denganmu? Kenapa kau malah menculik ku? Apa kau tahu siapa Papa ku?" tanya Ren dengan berani dan tidak takut pada pria di depannya.
"Hahaha.... Kau beneran anaknya. Aku tidak menyangka kalau kau sangat mirip dengan ayahmu, bahkan sifat mu juga mirip. Aku dulu adalah teman Papa mu, nama ku Delvin." kata Delvin dengan tersenyum melihat Ren berani dan tidak takut padanya.
"Teman Papa? Kenapa teman Papa ingin menculik aku? Apa kau tahu akibatnya jika menculik ku?" tanya Ren. Ren tidak menyangka kalau orang yang menculiknya adalah teman Papanya.
"Tentu saja aku tahu. Jika aku menculik mu sudah pasti Aizen akan marah dan datang menyelamatkan mu. Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkan itu terjadi karena aku akan melakukan sesuatu padamu baru bisa melihat Aizen marah besar." kata Delvin dengan senyuim menyeramkan.
"A-Apa yang mau kau lakukan?" tanya Ren langsung mundur melihat seorang memegang sesuatu yang panas.
"Tenang saja, aku akan melakukan dengan pelan." kata Delvin dengan senyum menyeramkan.
"Lakukan sekarang. Aku akan melihat sampai selesai." kata Delvin menyuruh bawahannya melakukannya sekarang.
Pengawalnya langsung mendekati Ren. Ren ingin kabur tapi di tahan oleh Pengawal Delvin.
"Hentikan! Jika kau melakukan sesuatu padaku, papa tidak akan diam saja." teriak Ren memberontak karena di tahan sama pengawal Delvin.
"Justru itu yang ingin aku lihat. Lakukan sekarang, jangan menunggu lagi." kata Delvin dengan senyum.
Akhirnya Pengawal Delvin langsung melakukannya sampai Ren teriak kesakitan.
T.B.C
__ADS_1