
"Ray, apa terjadi sesuatu?" tanya Calvin.
"Eh? Kenapa kakak tanya begitu padaku?" tanya Rayna yang agak terkejut.
"Lihat. Aku bertanya pada mu saja kau sudah mau gugup. Pasti terjadi sesuatu kan? Jika tidak kau tidak akan bertanya balik padaku." kata Calvin.
Rayna melihat ke Calvin hanya diam saja, tapi Rayna merasa kalau Calvin mengetahui terjadi sesuatu padanya walaupun dirinya tidak mengatakan apapun.
Rayna melihat ke Reyna. Reyna hanya tersenyum saja. Melihat Reyna hanya tersenyum itu berarti ada dikeputusannya sendiri.
"Kenapa kakak merasa kalau aku ada masalah?" tanya Rayna.
Calvin tersenyum mendengar kata Rayna dan berkata, "Aku ini suami mu, Ray. Kau sudah bersama ku hampir 4 tahun, tidak mungkin aku tidak tahu dari sikap istriku sendiri. Melihat dari sikap mu itu pasti sudah terjadi sesuatu."
"Kenapa kakak selalu bisa membaca pikiran ku? Apa kakak punya kekuatan khusus sampai bisa membaca isi hatiku?" tanya Rayna dengan agak kesal.
Rayna kesal karena apa yang dia selalu sembuyikan sesuatu pada Calvin selalu cepat di baca oleh Calvin.
Baru saja Calvin datang ke Villa belum sampai 1 jam sudah bisa menebak apa yang terjadi padanya.
"Tentu saja, dong. Itu artinya aku sangat perhatian dan memperhatikan mu sepanjang waktu." jawab Calvin dengan senyum.
Rayna hanya mengembungkan pipinya membuat semua orang tersenyum melihat wajah lucu Rayna.
"Jadi benar kan terjadi sesuatu?" tanya Calvin.
Rayna agak lama sudah diam dan berpikir apakah di bilang atau tidak.
Rayna berpikir agak lama akhirnya cerita semua kejadian di mana dia dan yang lain pergi ke Mall bertemu Sara.
Sara sampai mengejek dan menghina Rayna dan anak-anak sampai Reyna menampar dan memukul wajah Sara sampai Sara di bawa kerumah sakit.
Calvin mendengar semuanya. Calvin awalnya ingin marah langsung karena Sara mengatakan Rachel dan Richie anak haram.
Calvin mendengar semua cerita Rayna sampai akhir dan mendengar Reyna memukul dan menampar Sara membuat Calvin lega karena Reyna telah membalas Sara.
Jika Reyna tidak menamparnya sudah pasti Calvin akan pergi menemuinya dan menghajarnya.
"Maaf ya, kalau aku tidak bersamamu, jika aku pergi bersama mu pasti kau tidak akan kena tampar sama dia." kata Calvin melihat pipi Rayna dimana Sara telah menamparnya.
Rayna sudah pakai es untuk menghilangkan merahnya, tapi tetap saja tamparannya masih kelihatan.
"Tidak apa, kak. Dan lagi aku sudah tidak takut lagi karena sudah ada Rey dan Mama yang melindungiku." kata Rayna dengan senyum.
__ADS_1
Calvin tersenyum dan memeluk Rayna dengan lembut. Begitu juga dengan Rachel dan Richie. Calvin merasa bahagia memiliki istri yang sabar dan baik hati seperti Rayna.
"Mau sampai kapan kau di situ, Ren?" tanya Reyna melihat Ren di ujung dinding.
Reyna bisa merasakan hawa hitam yang menyedihkan di ujung dinding.
Ren di ujung duduk sambil memegang kedua kakinya di ujung dinding. Ren merasa tidak ada muka lagi keluar rumah karena semua orang telah melihat mukanya yang jelek.
"Kenapa.... Kenapa...." kata Ren dengan pelan seperti tidak ada kehidupan di tubuhnya.
Ren seperti ingin mati saja karena semua orang telah melihat wajah jeleknya karena itu bisa membuat reputasinya buruk.
Bagaimana tidak? Ren yang awalnya sangat keren dan tampan berwibawa malah menjadi jelek karena ulah Rachel dan Richie.
"Ren merasa terpuruk disana." kata Calvin melihat aura hitam menyedihkanmenyedihkan di ujung.
"Itu karena ulah nya sendiri. Kenapa kita harus membujuknya." kata Reyna.
"Tapi bukankah hukuman yang kau kasih terlalu keterlaluan?" tanya Calvin.
"Dari mananya keterlaluan?" tanya Reyna.
"Kau mencoret muka Ren seperti itu bukannya keterlaluan?"
"Tapi itu karena kau mengajak mereka."
"Tapi tadi bukannya dia bilang sudah pergi mandi? Harusnya dia bisa melihat cermin sebelum keluar kamar. Dan lagi aku rasa semua orang di Rumah pasti bertanya pada Ren, tapi dia malah menjawab kalau dia ganteng dan tampan. Terus dari mana salahnya aku?" tanya Reyna dengan panjang.
Calvin menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ada benarnya. Ren tidak bertanya pada orang lain malah menjawab kalau dia itu ganteng dan tampan.
Rasa percaya diri Ren sangat tinggi karena memang dia tampan, maka dari itu Ren berpikir kalau orang lain menayakan tentang mukanya yang ganteng bukan muka Ren yang di hias oleh Reyna dan anak-anak.
"Waaa....... Rey kau kenapa melakukan ini padaku." Ren berteriak merengek pada Reyna. Ren langsung berdiri dan memeluk Reyna dengan erat.
"Itu karena salah kau sendiri, Ren." kata Reyna.
Ren semakin merengek dan memeluk Reyna dengan erat dan tidak mau melepaskannya.
"Kenapa aku merasa seperti melihat seorang anak yang merengek pada Mamanya?" tanya Rayna melihat kelakuan Ren.
"Aku juga melihatnya seperti itu." kata Calvin.
Ren melihat ke Reyna tapi fokus Ren malah ke bibir Reyna. Reyna merasa ada yang aneh dengan penglihatan Ren, Reyna dengan teliti melihat mata Ren ternyata fokus ke bibirnya. Reyna spontan menutu bibirnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lihat! Jangan berpikir macam-macam." Reyna langsung memukul kepala Ren yang mesum itu.
"Memangnya apa yang ku lakukan?" tanya Ren.
"Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau pikirkan." kata Reyna menatap tajam Ren.
Ren melihat bibir Reyna setelah itu melihat mata Reyna. Ren berkali-kali melihat mata dan bibir Reyna seperti mau memakannya.
"Ren, kau di panggil sama Mama mu." kata Siska yang baru saja turun tangga.
"Tuh, kau di panggil." kata Reyna melepaskan pelukan Ren.
Ren tidak menjawab hanya melihat Siska sekilas lalu melihat ke Reyna lagi.
"Pergi. Nanti Mamamu marah padamu." kata Reyna melihat Ren hanya diam saja.
Ren dengan cepat mencium pipi, dahi dan bibir Reyna sekilas langsung pergi menemui Hana. Reyna yang melihat kelakuan Ren menciumnya hanya diam saja tapi setelah Ren mencium bibirnya sekilas Reyna langsung bersemu merah.
***
"Ada apa, Ma?" Ren langsung masuk ke kamar Hana.
"Ini, Mama sudah belikan untuk mu." Hana memberikan plastik hitam pada Ren.
Ren melihat apa yang diberikan Hana padanya. Setelah melihat Ren menaikkan sebelah alisnya dan bingung kenapa Mamanya memberikan ini padanya.
"Kenapa belikan ini untuk ku?" tanya Ren.
"Bukannya kau memang butuh itu?" tanya Hana.
"Aku tidak membutuhkan ini lagi, Ma. Dan aku ingin mama jangan pernah memberikan ini pada ku lagi, karena aku tidak akan memakannya lagi." kata Ren menaruh plastik itu di meja Hana.
"Apa yang kau katakan? Kau tidak butuh lagi? Sejak kapan?" tanya Hana dengan terkejut.
"Sudah selama 8 bulan lebih." jawab Ren santai.
"APA??!! Apa kau tidak bercanda Ren?" tanya Hana dengan terkejut.
"Jika mama tidak percaya, Mama bisa tanya langsung pada orang itu." kata Ren langsung keluar kamar dan pergi menemui Reyna.
"Apa benar yang di katakan Ren?" tanya Hana dengan berpikir setelah melihat Ren sudah keluar kamar.
T.B.C
__ADS_1