
"Ada apa kek?" tanya Harry melihat Edgar hanya diam saja.
"Tidak. Tidak ada." kata Edgar.
"Apa kakek lelah?" tanya Clara dengan khawatir.
"Kakek tidak apa." jawab Edgar dengan senyum.
"Paman, kenapa kita tidak masuk saja ke dalam? Rachel ingin bertemu dengan Mommy." tanya Rachel. Rachel yang dari tadi ingin masuk ke dalam Mansion karena ingin bertemu dengan Rayna.
"Tunggu sebentar ya, Rachel. Mereka akan segera membuka gerbangnya." kata Harry dengan senyum.
Setelah 10 menit mereka menunggu akhirnya melihat Bibi sudah kembali dan menyuruh Satpam membuka gerbang dan membiarkan mereka masuk.
"Silakan masuk Tuan. Kalian di tunggu Nyonya dan Nona di dalam." kata Bibi dengan sopan mempersilakan Harry dan yang lain masuk.
Harry dan yang lain akhirnya masuk ke dalam. Mereka terkagum dengan taman di Mansion itu. Taman mereka di sangat luas.
Edgar yang dari tadi melihat sekeliling dengan senyum. Setelah sampai di depan pintu, Edgar melihat simbol di pintu, Edgar agak terkejut dan apa yang di pikirkannya adalah benar kalau ini adalah rumah orang itu.
Harry dan yang lainnya masuk ke dalam Mansion. Mereka terkagum dengan isi rumah itu, semuanya kelihatana mewah dan luas.
"Kalian sudah datang. Ayo duduk di sini." kata Reyna melihat Harry dan yang lainnya masuk ke dalam.
__ADS_1
"Mommy...." teriak Rachel dengan gairah melihat Rayna. Rachel dengan cepat berlari menuju ke Rayna dan memeluknya.
"Bagaimana jalannya? Apakah senang?" tanya Rayna mendudukan Rachel di pangkuannya.
"Senang Mommy, Rachel juga banyak bermain sama Kakek Edgar dan kak Richie." kata Rachel dengan senang.
"Syukurlah. Mommy senang mendengarnya." kata Rayna dengan senang.
Siska dari tadi ingin diam saja, tapi langsung terkejut melihat seorang gadis kecil yang mirip dengan Rayna dan Reyna. Bahkan Siska lebih terkejut lagi mendengar kalau gadis kecil itu menyebut Rayna dengan sebutan Mommy.
"Siapa anak gadis ini? Kenapa mirip dengan mu?" tanya Siska ke Rayna.
"Em..." Rayna merasa takut menjawab kalau Rachel adalah anaknya.
"Bukankah Mama ingin keturunan? Tanpa aku bilang, harusnya mama sudah tahu dong." kata Reyna.
"Keturunan? Sudah pasti Mama ingin memiliki cucu. Itu sudah mimpi Mama dari dulu. Sayangnya kalian masih belum menikah." kata Siska dengan berharap.
"Bagaimana kalau mimpi Mama menjadi kenyataan?” tanya Reyna.
"Hah? Maksudnya?” tanya Siska tidak mengerti.
"Mama menginginkan seorang cucu kan? Sekarang aku akan mengabulkan keinginan Mama." kata Reyna.
__ADS_1
"Anak kecil yang di sebelah itu adalah anak Rayna, Ma. Dengan kata lain dia adalah Cucu mama." kata Reyna dengan pelan.
"Apa???" teriak Siska.
Reyna sampai menutup telinganya karena Siska berteriak dengan keras.
"Apa mama tidak bisa berteriak?” tanya Reyna sampai menutup telinganya.
Siska tidak mendengar kata Reyna dan melihat ke Rachel yang berada di samping Reyna.
"Apa benar dia anak mu, Rayna?” tanya Siska ke Rayna.
"I.. Iya Ma..." kata Rayna dengan gugup.
Rayna awalnya takut melihat Siska marah, tapi tanpa. di ketahui nya kalau Siska bukannya marah tapi malah tersenyum lebar.
"Apa benar dia cucu ku??” tanya Siska menginginkan kepastian.
"Iya.. Ma." kata Rayna. Rayna takut Siska marah padanya, tapi malah terkejut Mamanya berteriak.
"PAPA..... PAPA....." teriak Siska memanggil Gale suaminya sampai semuanya menutup telinganya karena teriakan Siska.
"Apa Ma? Ada apa? Apa terjadi sesuatu? Kenapa mama berteriak?” tanya Gale dengan cepat masuk kedalam bersama Aizen karena mendengar Siska berteriak dan takut terjadi sesuatu padanya.
__ADS_1
T.B.C