
"Bukankah kau bilang di rumah ini tidak ada orang?" tanya Lelaki baju hitam.
"Aku juga tidak tau. Bukankah kita mendapatkan informasi kalau gadis itu tinggal sendiri?" tanya lelaki berkacamata.
"Nona sendiri ngapain di sini?" tanya lelaki baju hitam.
"Aku sedang sakit. Kaki aku tidak bisa di gerakkan. Jadi aku istirahat di sini." kata Reyna yang duduk di kasur.
"Nona, apa nona tidak takut dengan kami?" tanya Lelaki baju hitam melihat Reyna hanya diam saja.
"Bukankah aku sudah bertanya pada paman? Paman siapa? Kenapa kalian bisa masuk ke sini? Bukankah pintunya di kunci?" tanya Reyna.
"Apa nona tidak mendengar keributan di luar kamar?" tanya Lelaki berkacamata. Lelaki itu meras heran kenapa Reyna tidak mengetahui kalau kita sudah masuk ke dalam Apartemen, bahkan mereka sudah membongkar semua barang di apartemen.
"Tidak. Ruangan ini kedap suara, jadi aku tidak mengetahui ada yang masuk ke dalam. Apa lagi aku sedang pakai headset jadi tidak mendengar sedikitpun." jawab Reyna dengan polos.
"Baiklah nona. Kami sedang mencari sesuatu di apartemen ini. Dan kami di suruh oleh pemilik apartemen ini untuk mencari dokumen penting. Sayangnya kami tidak tau di mana dokumen itu." kata lelaki baju hitam.
"Dokumen apa? Aku tidak tau kalau pemilik apartemen ini menyimpan dokumen penting di apartemennya." kata Reyna dengan bingung.
"Kami juga kurang tau Nona. Apa nona tau sesuatu? Seperti pemilik apartemen ini menyimpan dokumen penting?" tanya lelaki baju hitam.
"Aku tidak tau." jawab Reyna menggelengkan kepalanya.
"Kalau tempat brankas aku tau. Tapi sayangnya aku tidak tau password nya." kata Reyna teringat sesuatu.
"Dimana brangkas itu?" tanya lelaki baju hitam.
"Di lemari baju sana." kata Reyna menunjuk ke arah lemari bajunya.
Kedua lelaki itu langsung membuka lemari baju dan melihat ada brankas sedang di lemari. Mereka berdua langsung mengeluarkan brankas itu dan membukanya.
"Brangkas ini pakai password. Apa nona tau password nya?" tanya Lelaki berkacamata.
"Tidak tau." kata Reyna menggelengkan kepala.
"Apa kita paksa buka saja?" tanya Lelaki baju hitam.
__ADS_1
"Apa kita boleh paksa buka nona?" tanya Lelaki berkacamata ke Reyna.
"Jika memang darurat silakan saja." kata Reyna datar.
Mereka berdua langsung membuka brankas itu dengan paksa. Sedangkan Reyna hanya diam memperhatikan.
"Rey..."
Terdengar suara dari pintu luar, kedua lelaki itu terkejut.
"Ada yang datang, bagaimana ini?" tanya Lelaki baju hitam.
"Nona, apa kita boleh pinjam toilet sebentar?" tanya Lelaki berkacamata.
"Tentu saja." kata Reyna dengan datar.
"Jangan beritahu kalau kita berada di sini ya. Kita di suruh untuk tidak di temui siapapun." kata Lelaki berkacamata.
"Ok." jawab Reyna datar.
"Rey... Apa kau di dalam?" tanya Ren berkali-kali menekan bel. Karena tidak ada jawaban Ren langsung saja mengambil kunci di kantong celananya dan membuka pintu.
Ren yang mendengar teriakan Reyna langsung terkejut dan dengan cepat buka pintunya.
"Ada apa Rey?" tanya Ren dengan panik melihat apartemennya sangat berantakan dan banyak barang yang pecah. Ren yang masih khawatir dengan Reyna langsung saja ke kamar Reyna.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau malah tidur di kasur? Apa kau sakit?" tanya Ren bertubi-tubi dengan cepat melihat keadaan Reyna.
"Waa.... Ada orang asing yang masuk kedalam...Mereka mengancam aku...." teriak Reyna menangis ke dua tangannya memegang matanya yang sudah keluar air mata.
"Siapa yang mengancam mu? Apa yang mereka lakukan padamu Rey?" tanya Ren dengan panik dan marah melihat Reyna menangis.
"Ini... Apa yang terjadi?" tanya Calvin yang baru saja balik dari kantor.
Calvin dan Ren bersama-sama naik mobil dan langsung ke apartemen Reyna.
"Dimana mereka? Biar aku pukul mereka karena berani membuat mu menangis." kata Ren dengan dingin amarahnya sudah memuncak.
__ADS_1
"Mereka berdua di kamar mandi." kata Reyna menunjuk ke kamar mandi. Ren langsung melihat ke kamar mandi dengan tatapan tajam.
"Sepertinya mereka ingin cari mati... Bisa-bisanya bersembunyi di kamar mandi." kata Ren dengan dingin langsung ke kamar mandi.
Ren memaksa buka pintu kamar mandi sampai pintunya hancur. Sedangkan ke dua Lelaki itu terkejut melihat Ren menendang pintu kamar mandi sampai pintunya hancur.
"Beraninya kalian melukai pacar ku Hah! Biar aku kasih kalian pelajaran supaya tau kalian berlawan dengan siapa!" teriak Ren menatap tajam dengan tatapan membunuh.
Ren langsung saja memukul babak belur kedua lelaki tersebut di kamar mandi. Reyna hanya diam melihat Ren di kamar mandi memukul ke dua pria asing tersebut. Sedangkan Calvin mencari tali untuk mengikat kedua lelaki tersebut.
Setelah 15 menit Ren memukul ke dua lelaki tersebut dan calvin mengikat mereka berdua yang muka mereka berdua sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Kalian berdua siapa? Apa yang kalian lakukan pada pacarku Hah?!" teriak Ren yang masih emosi melihat ke dua lelaki yang sudah di buat babak belur olehnya.
"Ka-kami hanya di suruh oleh pemilik rumah ini untuk mencari dokumen penting." kata lelaki berkacamata dengan pelan merasa kesakitan seluruh tubuh nya, bahkan kacamata nya juga sudah rusak.
Ren dan Calvin menaikkan sebelah alis mereka dan melihat ke Reyna seperti menanyakan sesuatu. Reyna hanya diam datar.
"Apa yang kalian cari? Dan kenapa pemilik apartemen itu menyuruh kalian ambil dokumen sampai kalian menghancurkan semua peralatan di apartemen ini?" tanya Ren.
"Dilihat dari manapun mereka itu maling tau." kata Calvin ke Ren. Ren bahkan tidak mendengarnya.
"Kami juga tidak tau. Katanya dokumen itu di masukkan amplop coklat dan memiliki tanda RR di amplop itu." jawab pria berkacamata.
"Apa benar yang di katakan mereka Rey?" tanya Ren.
"Tidak. Mereka berbohong. Kau tau bahkan mereka berdua berani melukai kaki aku." kata Reyna dengan cepat.
"Apa yang terjadi pada kakimu?" tanya Ren dengan panik langsung membuka selimut yang menutupi kaki Reyna.
Ren dan Calvin terbelalak melihat kaki Reyna sudah membiru dan bahkan mengeluarkan darah. Ren langsung menatap tatapan membunuh pada kedua lelaki itu sampai kedua lelaki itu ketakutan dan gemetar melihat tatapan tajam Ren.
"Sepertinya kalian berdua sangat ingin di bunuh oleh ku ya." kata Ren menatap tajam kedua lelaki tersebut.
"Ren, dari pada kau memukul mereka, kenapa tidak telpon dokter saja? Bukankah dokter waktu itu adalah temanmu?" kata Calvin melihat Ren hanya memukul kedua lelaki yang sudah di buat babak belur untuk kedua kalinya lagi oleh Ren.
Ren terdiam dan melihat ke Calvin ada benarnya juga. Ren langsung mengambil Hp-nya menelpon Andrew untuk cepat ke apartemen Reyna.
__ADS_1
"Apa sakit Rey?" tanya Ren melihat kaki Reyna dengan cemas.
"Dari pada melihat ke aku, kenapa kau tidak tanya apa tujuan mereka ke sini? Tidak mungkin mereka hanya mencari dokumen saja kan?" tanya Reyna.