
Ren dan Rayna sedang menuju ke apartemen Andrew untuk melihat luka Rayna dan Ren.
"Apa Tuan tidak apa?" tanya Rayna melihat muka Ren berbekas dan memar.
"Ya. Kita ke tempat teman aku dulu, untuk mengobati lukamu." kata Ren.
"Tapi, apakah tidak merepotkan teman anda di rumah?" tanya Rayna.
"Tidak apa. Dia pasti ada waktu, dan juga aku sudah telpon dia, pasti dia di rumahnya menunggu kita." kata Ren.
"Aku merasa tidak enak, aku selalu merepotkan Tuan dan semuanya." kata Rayna dengan pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Jika kau tidak ingin merepotkan orang lain, kau harus kuat menghadapi mereka Rayna. Jangan memikirkan luka mereka atau rasa kasihan mu pada musuh mu. Nanti kau akan di basmi oleh mereka." kata Ren.
"Tapi... Aku tidak bisa bela diri ataupun bisa melawan perkataan orang lain. Dari kecil aku selalu sendirian dan tidak ada yang ingin memperdulikan aku." kata Rayna dengan pelan bicara tentang dirinya sendiri.
"Apa waktu kecil kau di pukul oleh teman-teman mu di panti?" tanya Ren.
"Ya. Aku sama sekali tidak ada teman, bahkan mereka tidak ada yang mau mendekati atau bicara dengan ku. Mereka berpikir kalau aku ini adalah anak sial karena setiap kali aku bermain dengan yang lain, mereka selalu kena sial." kata Rayna dengan pelan.
"Anak sial? Apa maksudmu?" tanya Ren dengan bingung.
"Di panti aku selalu berteman dengan anak-anak yang lain. Tapi, entah kenapa aku juga tidak tau, setiap aku bermain dengan salah satu anak panti, keesokan harinya mereka selalu kena sial, seperti terpeleset di kamar mandi, terjatuh di tangga, terjatuh ke dalam parit, bahkan pernah hampir tertabrak mobil di jalan." kata Rayna dengan pelan.
"Mungkin hanya kebetulan saja kan mereka terjatuh atau kena tabrak mobil. Kenapa kau begitu yakin kalau mereka kena sial karena hanya bermain denganmu?" tanya Ren.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu, Tuan. Tapi ini bukan cuma hanya sekali atau terkadang, tapi setiap hari. Setiap aku bermain atau bicara dengan anak lain, pasti mereka akan kena sial di hari yang sama atau besok." kata Rayna.
"Aku rasa tidak mungkin Rayna. Selama bertahun-tahun ini kau bersama Calvin, tapi Calvin tidak kena sial dengan mu kan?" tanya Ren.
"Aku rasa bersama dengan kak Calvin juga sama Tuan. Di saat aku melakukan malam pertama oleh kak Calvin, orang tua kak Calvin selalu marah padanya dan bahkan selalu menyalahkan aku. Karena adanya aku, Kak Calvin tidak bisa berdekat dengan orang tua nya, bahkan mereka berpisah sampai sekarang. Orang tua kak Calvin pasti tidak akan mau bertemu atau bicara dengan nya lagi." kata Rayna.
"Setiap orang pasti ada masalah Rayna. Masalah itu terjadi bukan karena kesalahan mu atau karena kau di kutuk. Buktinya kau selama beberapa hari ini kita tidak kena masalah kan." kata Ren dengan pelan.
Ren tanpa sadar tidak tahu kalau dia telah salah bicara, karena baru saja tadi siang Rayna kena culik dan membuat semua orang khawatir.
"Tapi, bukankah hari ini Tuan sudah kena memar di muka Tuan?" tanya Rayna menunjuk ke muka Ren yang ada memar.
"Ini bukan salah mu, Rayna. Ini adalah salah aku sendiri." kata Ren dengan pelan.
"Aku tidak kena sial karena mu Rayna. Aku melakukan itu karena aku ingin mengusik Rey. Bukan karena pergi menyelamatkan mu aku jadi kena pukul oleh Rey." kata Ren.
Menurut Ren, dia tidak kena sial karena Rayna, tapi karena dia terlalu obsesi dengan Reyna dan selalu suka mengusik Reyna jadinya Reyna terkadang suka kesal dan selalu memukul Ren.
"Sepertinya kita sudah sampai Tuan." kata Rayna melihat apartemen Andrew di depan.
Ren langsung mencari tempat parkir. Setelah selesai parkir mobil, Ren dan Rayna masuk ke apartemen untuk bertemu dengan Andrew untuk mengobati lukanya dan luka Rayna.
***
"Kau kenapa Ren? Tumben bisa kena hajar oleh orang lain. Aku pikir kau tidak akan bisa terluka lagi." kata Andrew langsung mengobati luka Ren.
__ADS_1
"Jangan banyak tanya dan obati saja luka ku." kata Ren dengan dingin.
Andrew hanya tersenyum dan mengobati luka Ren. Kalau Rayna, Andrew hanya kasih obat salep dan di perban.
"Selesai. Apa yang terjadi sampai Rayna juga terluka? Bahkan aku lihat sepertinya tangannya di paksa sampai terluka." kata Andrew.
"Rayna di culik, dan kami bertiga pergi menyelamatkannya." kata Ren.
"Apa??! Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Andrew dengan terkejut.
Ren langsung menceritakan semuanya dengan singkat.
"Hari ini pasti kau sangat lelah Rayna." kata Andrew ke Rayna.
"Bicaranya besok lagi. Aku mau mengantarkannya pulang. Pasti Calvin dan anak-anaknya khawatir dengannya." kata Ren langsung berdiri.
"Baiklah. Jika ada yang sakit, bisa menghubungi aku kapan pun." kata Andrew dengan senyum.
"Terima kasih Dok." kata Rayna dengan senyum lembut.
"Ayo kita pulang. Calvin pasti menunggu kita di apartemen Rey." kata Ren.
Ren dan Rayna langsung pamit sama Andrew dan pulang ke apartemen Reyna.
T.B.C
__ADS_1